
Adit dan Sena keluar hotel jam10 pagi. Setelah sarapan dan berselancar mencari "Must places to visit in Tokyo" sesaat sebelum berangkat tadi.
Mita hanya mengejek, "Mahasiswa lokalnya aja ngga tau apa-apa lho payah."
Adit yang memang tidak suka kemana-mana hanya bisa berlindung dibalik kata "introvert". Mau bagaimana kalau lebih nyaman di kamar?
Hingga akhirnya Si paling introvert - menjadi ejekan dari Mita untuk Adit.
"Jadi kemana?"
Dengan pakaian berwarna senada, Adit dan Sena tampak serasi. Hari ini Sena menyesuaikan outfit nya dengan outfit yang Adit kenakan. Membuat siapapun yang melihat tau bahwa keduanya adalah sepasang kekasih.
"Ke taman kemarin itu aja. Apa namanya?"
"Yang kemarin? Shinjuku Gyoen National Park?"
"Iya kesana aja, di sana juga nyaman tempatnya."
"Kamu ngga pengen kemana-mana mumpung disini? Aku temenin."
"Tujuan aku kesini untuk ketemu Mas. Tempat jadi ngga terlalu penting, yang penting sama Mas nya."
Definisi sederhana dari sebuah cinta. Tidak penting kemana kita pergi, namun dengan siapa kita bersama.
"Serius apa gombal?"
Adit mengeratkan genggamannya di tangan Sena di tengah jalanan Shinjuku yang ramai dengan para pejalan kaki.
"Aku ngga bisa gombal. Kalau Mas yang ngomong gitu ke aku, bisa jadi itu gombal ya?"
"Sama, aku juga ngga jago gombal."
Adit merapikan anak rambut Sena yang bersapu angin. Cuaca sudah tidak begitu panas karena menuju peralihan, dan angin musim gugur mulai terasa.
Sebelum masuk ke taman, Adit menyempatkan membeli makanan dan minuman untuknya dan Sena. Dua bungkus takoyaki berbeda topping dan air mineral sudah berada dalam tas ramah lingkungan yang selalu Adit bawa.
Adit memilih duduk di atas rumput. Di sekitarnya ada beberapa keluarga, kumpulan anak muda, hingga pasangan seperti dirinya dan Sena yang sedang menikmati akhir dari musim panas.
"Aku mau bilang makasih."
Sambil menikmat takoyaki langganan Adit, keduanya saling bertukar suapan layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
"Buat?"
"Udah mau ke sini."
Adit meletakan bungkus takoyaki yang tinggal setengah lalu mengambil tangan Sena, dan ia genggam erat. Tatapan mata Adit yang dalam membuat Sena gugup.
"Sama-sama. Makasih juga lho udah menerima kedatangan aku."
Demi menutupi rasa gugupnya ditatap sedemikian rupa, Sena menjawab dengan jawaban yang tidak perlu.
"Makasih udah ada di hidup aku."
Adit melanjutkan ucapan terima kasihnya. Membuat Sena akhirnya diam, seolah terhipnotis dengan ucapan yang keluar dari mulut Adit.
"Makasih waktu itu kamu mau mendekat padahal aku sendiri belum yakin."
Meski dengan terbata, Sena merasakan ucapan Adit terlampau tulus.
"Makasih mau menerima aku saat itu. Di saat kamu bisa dapet laki-laki yang hatinya lebih dari aku, tapi kamu pilih untuk bantu aku sembuh."
Hingga Adit pun tidak menyadari airmatanya ikut menegaskan perasaannya hari itu.
"Makasih untuk kebahagiaan yang banyak ini. Bahkan jauh lebih banyak dari kebahagiaan yang pernah aku rasakan waktu itu. Makasih untuk semuanya. Kamu dan keluarga aku adalah hal terbaik yang ada di hidup aku."
Sena tersenyum haru mendengar segala terima kasih dari Adit.
"Peluk boleh?"
Sena membuka tangannya agar Adit mendekat.
__ADS_1
"Lebih juga boleh."
Adit menghujani Sena dengan ciuman di rambut dan punggung sebagai ekpresi cinta. Tidak peduli ia sedang di muka umum. Bahkan ada sepasang mata yang mengikutinya sejak dari hotel tadi. Orang tersebut memilih duduk di kursi taman dengan jarak 200 meter, agar tidak terlalu kentara.
"Sekarang gimana perasaannya ke aku?"
"Sekarang aku siap nikahin kamu. Ngapain lagi?"
Perasaannya plong, setelah perasaan di hatinya ia utarakan. Namun kini perhatian Adit teralihkan pada sebuah keluarga yang sedang berlibur sama seperti Sena. Dari jarak 100 meter dari tempat keduanya duduk, tedengar seorang ibu paruh baya memarahi perempuam muda menggunakan bahasa Indonesia.
"Kalau kerja yang bener, b*go banget!"
Paha dari perempuan muda yang terlihat seperti pembantu menjadi sasaran tendangan dari Ibu paruh baya tersebut yang disaksikan oleh keluarganya dan pengunjung lainnya.
"Kenapa itu Mas?"
Wajah Adit seketika berubah.
"Ini HP mahal tau ngga gobl*k ! Gaji you enam bulan baru bisa kebeli ini HP!"
Kini rambut sang pembantu yang menjadi sasaran.
"Ih ih sakit banget itu."
Sena merespon seolah-olah rambutnya yang ditarik.
"Gila ada orang kaya gitu."
Dengan setengah berlari, Adit hendak membela si pembantu.
"Maaf Bu, jangan gitu ke orang."
"Kamu siapa??"
"Saya manusia, sama kayak Ibu, sama kayak pembantu ibu."
"Saya ngga ada urusan sama kamu. Urusan saya sama pembantu saya. Dia udah bikin HP Saya pecah."
"Saya ganti ! Tolong Ibu jangan kasar. Apalagi perempuan, Ibu juga perempuan."
Keluarga tersebut akhirnya meninggalkan area taman dengan tetap memarahi si pembantu dengan berbagai umpatan yang berjalan di belakang majikan. Dengan sigap Adit mengambil uang dari dompetnya dan memasukan ke dalam tas selempang si pembantu. Namum si pembantu tersebut baru menyadari perubahan di dalam tasnya setelah berjalan lumayan jauh, setelah tidak lagi melihat Adit.
"Kasian banget nasibnya. Kalau cuma buat dimarahin ngapain ngajak pembantunya kesini."
Adit masih melihat ke arah keluarga kaya sombong yang tidak memiliki hati.
"OKB biasaya. Uang cash Mas masih ada?"
"Habis. Aku kasih semua ya tadi?"
Adit tersenyum, menyadari di dompetnya sudah tidak ada lagi uang.
"Terlalu baik jadi begini. Punya nya siapa ini?"
Tangan Adit menjadi sasaran empuk kegemasan Sena.
"Yang penting ada kamu, ngga ada uang ngga apa-apa kan?"
"Taksi sama makan kita gimana?"
"Taksi bayar pakai e-money, makan juga bisa."
Adit dan Sena melanjutkan duduk-duduknya setelah kejadian miris tadi.
"Dit."
Rupanya Reychan, mahasiswa Indonesia sekaligus tetangga apartemen Adit.
"Tokyo kecil banget, lu lagi lu lagi. Bosen banget."
Reychan memperhatikan perempuann di sisi Adit yang baru pertama kali ia lihat.
__ADS_1
"Temen yang mana lagi ini?"
"Hati-hati kalau ngomong."
Adit meninju kecil perut Reychan.
"Bercandaa elah..."
"Non, ini temen aku."
Tanpa perlu Adit menyebut nama asli perempuan di sisinya, Reychan sudah tau nama perempuan yang Adit panggil dengan "Non".
"Ada berapa perempuan yang Adit panggil Non, Kak?"
Meski terlihat sebaya, demi kesopanan, Sena memanggil Reychan dengan "Kak".
Reychan tertawa kecil, pancingannya berhasil. Di matanya Sena gadis cantik yang menarik. Adit pintar memilih perempuan.
"Tuh kan, lu sih."
"Ada 1 perempuan yang dipanggil Non sama selebgram ini. Namanya Sena. Nama Mbak nya Sena bukan?"
Sena masih memasang wajah datar. Persis seperti Adit, suasana hatinya tergambar lewat ekspresi.
"Aku Reychan, tetangga apartemennya Adit."
"Ngga usah sok imut pake aku segala."
Adit menarik Sena agar tidak dekat Reychan. Adit yang tidak banyak bicara, ternyata begitu menjaga perempuannya.
"Anjir posesif. Lu kok ngga ke event?"
"Dapet libur. Mana yang katanya anak organisasi ? Ngga ada tuh muka nya di event."
"Gua males ada lu, udah kalah saing duluan sama selebgram ibukota."
"Masuk PPI buat cari mangsa doang. Sinting !"
"Gua duluan ya, Men."
"Mau kemana?"
"Biasa anak muda."
"Kuliah Chan !"
"Iya, besok-besok."
"Kampr*t."
Reychan meninggalkan Sena dan Adit. Tidak menjawab ucapan Adit hanya mengirimkan pesan singkat.
"Men, ajak ke apartemen."
Satu kalimat sederhana dari Reychan masuk ke ponsel Adit, mengganggu konsentrasinya seharian.
"Capek ngga?"
"Mayan banget jalam kesini tadi. Kurang olahraga kayaknya ini."
"Ke apartemen ya?"
"Ngapain?"
"Pijitin kamu."
"Ngga balik ke hotel aja?"
"Dari sini lebih deket ke apartemen, dari apartemen aku baru ke hotel naik taksi."
"Yaudah."
__ADS_1
Meskipun Adit sudah dengan pikiran khas laki-laki, namun hatinya deg-degan luar biasa.
"Bangs*ttt Reychan."