Cinta Mita

Cinta Mita
Malam yang dingin


__ADS_3

Selamat sore pembaca setia, mohon maaf akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan. Padahal Adit sama Sena lagi nari-nari di kepala.


Lop you banyak-banyak semuanya 💞💞


*****


"Haid kamu belum beres apa Yang?"


Rama merangkul Mita sambil menikmati udara dingin Space Needle malam hari yang menusuk. Kalau bukan karena permintaan Mita, Rama malas harus membelah Seattle malam itu.


"Baru tiga hari Abang."


"Lamanyaaa."


Ini adalah kali pertama selama usia pernikahannya dengan Mita, Rama harus menahan rindu karena terhalang haid. Biasanya saat di Tangerang, setidaknya satu hari sekali Rama akan mendatangi Mita diperaduan mereka. Bahkan terkadang sehari dua kali seperti perjanjiannya dengan Mita waktu itu.


Sesaat kemudian matanya tanpa sengaja melihat Sena dan Adit yang saling menatap penuh cinta. Bercanda berdua sambil menggenngam. Meski tangan keduanya berbalut sarung tangan tebal untuk menetralisir dingin, namun hal tersebut nampaknya tidak menghalangi pasangan kekasih tersebut untuk berbagi rasa hangat melalui genggaman tangan.


"Ke Sena yuk."


Masih ada perasaan yang sulit dijelaskan di hati Rama hingga mata Rama tidak lepas dari Sena dan Adit yang tengah asik menikmati malam yang entah kapan lagi bisa mereka rasakan bersama.


"Udah sih Bang disini aja. Biarin mereka berdua, berapa hari lagi udah pisah lagi. Jangan egois kenapa sih, Adeknya juga bahagia."


Sena duduk di salah satu sisi dari menara Space Needle, sementara Adit berdiri tepat dihadapan Sena. Memandangi kekasihnya secara detail dari atas, terkadang berlutut dihadapan Sena agar sejajar.


"Duduk aja Mas, pegel kayak gitu."


"Enakan gini, jadi puas liat kamu nya."


Sudah seperti ini masih tidak yakin bahwa ia mencintai Sena?


"Kita lulus bareng kan berarti?"


"Iya 1,5 tahun lagi."


"Mas mau kemana abis lulus?"


"Kemana ya? Kerja mungkin, I'm not really. Nanti lah itu." (aku belum yakin)


"Ngga mau ke rumah aku?"


"Ke rumah kamu? Nanti aku main."


Sena mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Adit tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.


Melihat Mita yang bisa selalu bersama Rama, ada sedikit perasaan ingin hal yang sama di hatinya, tentunya dengan Adit.


"Mas pulang kan ke Tokyo, nanti ngga mau pulang ke Jakarta?"


"Kamu kok jadi posesif sih."


Adit sesekali mengusap hidungnya yang meler karena alergi dingin.


"Aku ngga posesif, just asking." (cuma nanya)


Adit gemas melihat wajah Sena memerah.


"Nanti aku pulang."


Adit mengusap lembut pipi Sena. Perasaan yang sempat hilang kini mulai ia rasakan kembali. Ternyata cinta memang bisa tumbuh karena terbiasa.


"Aku masih disini, udah nyuruh pulang ke Jakarta."


"Cuma nanya."


"Kakak ngeliatin kita dari tadi."


Adit menyadari tatapan menyelidik Rama di Salah satu sudut. Sedangkan Yoga tengah asik mengabadikan moment, terkadang memotret dirinya dan Sena, sesekali memotret Mita dan Rama.


"Biarin aja dia mah rese, ngga bisa liat aku seneng."

__ADS_1


Adit tertawa.


"Dia gitu karena sayang kamu, mau ngelindungin kamu."


"Kakak kaya gitu karena ngga percaya sama kamu. Keterlaluan, kamu baik gini masih dicurigai."


"Kalau kamu percaya sama aku?"


"Percaya dong, buat apa komitmen kalau aku ngga percaya?"


Adit ingin memeluk Sena malam itu, memastikan bahwa kini hanya Sena yang menetap di hatinya.


"Makasih ya Sen, karena kamu kepercayaan diri aku tumbuh lagi."


"Yang kayak gini kerennya bisa krisis kepercayaan diri? Impossible." (ngga mungkin)


Satu lagi perbedaan Sena dan Mita di matanya. Mita yang cenderung datar, sedangkan Sena tanpa sungkan akan memuji secara tulus tanpa melebih-lebihkan.


"Aku keren?"


"Harus aku jabarkan? Coba cek DM nya ada berapa perempuan yang terang-terangan mengagumi seorang Aditya Wiraguna."


"Kamu berlebihan, kaya pernah baca DM aku aja." Adit tertawa.


"Aku nebak aja. Cewek sekarang kan kebanyakan gitu."


"Udah siap baca DM aku?"


"Emangnya udah percaya sama aku?"


"Kapan aku bilang aku ngga percaya kamu?"


Sena mengingat-ngingat, rasanya tidak juga. Adit hanya belum yakin.


"Mau baca sekarang?"


Adit mengambil tempat duduk di samping Sena, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Kamu inget-inget. Ini password HP aku."


Sena terkejut, keinginannya yang sempat terlintas di kepalanya. Kini Adit benar-benar memberikan akses masuk ke kehidupannya.


"Passwordnya sama kayak pin ATM aku, kalau kamu nanti mau belanja jadi ngga ribet. Pin mbanking aku juga sama. Itu tanggal pernikahan orangtua aku, nanti aku ganti kalau kita udah nikah ."


Semudah itu Adit menyinggung pernikahan? Terdengar seperti candaan di telinga Sena.


"Mas kayaknya berlebihan kalau ATM."


"Ngga berlebihan karena isinya juga ngga banyak, ngga sebanyak isi ATM kakak, tapi cukup buat kamu. Ini aplikasi mbanking aku, ada tiga bank."


Adit mulai membuka beberapa aplikasi keuangan tempatnya menyimpan uang. Menjelaskan secara rinci setiap aplikasi yang ia pakai berikut penggunaannya.


"Mana HP kamu?"


Adit ingin membuka ponselnya juga?


Namun ternyata salah, Adit log in akun instagram dan twitter di ponsel Sena.


"Kalau ada DM masuk ke IG dan Twitter kamu boleh balas. Boleh sebagai aku, boleh sebagai pacar aku. Apa lagi yang kamu pengen dari aku?"


Rasa haru menyelimuti hati Sena malam itu, seakan tidak percaya Adit mempercainya seutuhnya.


"Aku pengen peluk."


Adit melihat ke arah Rama yang Masih mengawasinya.


"Kak sorry, Sena yang minta peluk."


Adit berteriak agar didengar Rama. Ia acuh dengan pandangan pengunjung lain yang pastinya tidak mengerti ucapan ya yang ia katakan.


Adit membuka lebar lengannya bersiap menerima pelukan dari Sena. Per sekian detik Sena pun jatuh ke dalam pelukan Adit.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, sayang banget sama kamu. Energi positif kamu nular ke aku bikin aku nyaman. Mungkin bukan hanya sayang, tapi butuh."


"Aku juga sayang kamu."


Banyak yang ingin Sena katakan, namun pikirannya blank dengan segala perlakuan Adit malam ini. Hingga tanpa sadar airmatanya menetes tanpa permisi.


Rama melihat pemandangan itu seolah ikut merasakan perasaan Sena. Rama tersenyum, meski tidak tahu apa yang dibicarakan Sena dan Adit. Hatinya seolah lega, munchkin Adit memang yang terbaik until Sena saat ini.


"Dit, makan sini."


Akhirnya dua sweet couple dan Yoga menikmat santap malam di restoran SkyCity sambil menikmati pemandangan gemerlap keseluruhan pusat kota Seattle. Dari ketingian 160m tersebut juga bisa melihat Pegunungan Oliympic, Pegunungan Cascade, Gunung Rainier, Gunung Baker, Elliott Bay hingga pulau-pulau di sekitarnya.


Setelah dirasa kenyang Sena mengajak Adit naik ke puncak menara dengan menggunakan elevator yang berkecepatan 16 km/jam. Perjalanan naik setinggi 160 meter ini memakan waktu 43 detik. Namun belum lama di puncak menara, Adit merasakan dingin yang sangat. Alergi dingin yang sudah lama tidak kambuh, malam itu harus Adit alami juga.


"Mas muka kamu pucat


banget."


Adit terlihat pucat dan menggigil, hidungnya entah sudah berapa puluh kali bersin hingga ia merasakan lelah.


"Iya ini dingin banget, nusuk-nusuk dinginnya."


"Di Tokyo itu gimana kalau lagi salju tapi kamunya kayak gini?"


"I'm okay."


"You not okay. Pulang ya."


Sena memutuskan segera turun lalu mencari keberadaan Rama dan Mita, namun tidak terlihat. Sedangkan Yoga masih menikmati dessert sesekali memeriksa hasil jepretannya di kamera.


Akhirnya Sena menuju mobil, setidaknya Adit butuh penghangat yang tersedia pada fitur mobil di negara-negara beriklim dingin.


Menarik nafas panjang, ternyata sang kakak sedang asik bercum bu dengan istri nya di dalam mobil.


"Paket..."


Sena mengetuk kaca mobil minta dibukakan pintu mobil.


Hari ini dua kali sudah Rama dan Mita terpergok ciu man. Pertama di kedai kopi oleh orangtua nya, sekarang oleh adiknya.


"Kenapa Dek?"


"Adit kedinginan. Pulang sekarang aja kayaknya."


"Lu ngga kenapa-kenapa?"


Frekuensi bersin Adit membuat Rama khawatir.


"Harusnya lu ngga usah ikut."


"Sorry acara malemnya jadi kegangu."


"Lu ngga bilang alergi dingin. Tapi seris ngga apa-apa? Ke apotek dulu kali beli obat."


"Ngga apa-apa. Balik aja, sorry ya Teh."


Kini Adit meminta maaf kepada Mita, karena Mita lah yang paling semangat dengan acara malam ini.


"It's oke. Aku stay disini masih lama, karena aku sama Abang mau extend. Nanti bisa kesini lagi."


Rama mengendarai kecepatan mobil lebih dari biasanya karena panik, berpikir Adit butuh selimut tebal secepatnya karena kasihan melihat Adit yang menggigil.


Begitu sampai di apartemen sebelah, seperti biasa para orangtua tengah bersantai.


"Adit permisi ke kamar duluan ya Pah, Pak. Kurang enak badan."


"Ambilin Adit air anget Sen."


Bu Rini memperhatikan anak-anaknya satu per satu, namun ia merasa ada yang kurang.


"Yoga mana?"

__ADS_1


Mita, Rama, Sena dan Adit saling bertukar pandang karena satu personil the boys ternyata tertinggal di restoran.


"Yogaaaaaa."


__ADS_2