
Adit
"Pagi Neng sayang." ia menyapa Mita yang sedang menyiapkan sarapan untuknya di dapur umum.
Minggu pagi biasanya Mita akan membuat nasi goreng spesial untuknya. Lengkap dengan suwiran ayam, bakso dan irisan ati ampela.
Ia yang sudah mandi sedang menunggu Raffi datang.
"Pagi Mas. Mas udah mandi, aku masih pake baju tidur. Mau liat motor jam berapa? Aku mau siap-siap."
"Neng mau ikut? Mas sama Raffi aja ya?"
"Kak Raffi ajak, aku juga."
"Kamu ngga bakal ngerti. Motor mah urusan cowok." ia yang tidak bermaksud apapun seolah disalahartikan oleh Mita. Mita pun masuk kamar tanpa menoleh ke arahnya lagi.
"Neng, sarapan Mas ngga diambilin?" tapi pertanyaan nya tidak dijawab oleh Mita. Ia ditingal di dapur sendiri. Salah apa?
Ia sarapan di gazebo menanti Mita keluar kamar. Mita pun keluar kamar dengan pakaian rapi seperti hendak pergi.
"Jadi ikut?"
"Aku mau pulang." ia ditinggal kedua kalinya hari ini. Pasti ada yang salah, batinnya menerka-nerka.
"Neng." ia mengetuk pintu kamar Mita.
"Neng." masih belum dibuka, kenapa sih? Pagi-pagi udah marah, batinnya kesal. Belum sempat ia mengetuk untuk yang ketiga, pintu sudah dibuka.
"Kemarin kamu ngga bilang mau pulang. Kenapa mendadak? Aku jadi ngga bisa nganter."
__ADS_1
"Ngga apa-apa aku sendiri."
"Nunggu motor dateng aja pulangnya ngga bisa?"
"Motor yang mana?" wajahnya jadi berubah menyebalkan.
"Kok motor yang mana? motor yang mau Mas beli."
"Oh, motor yang mau Mas beli sama Raffi. Mas ajak aja Raffi naik motornya. Motor kan urusan cowok, aku ngga bakal ngerti." Mita membalikan badan hendak meninggalkan nya untuk yang ketiga kali namun segera ia tarik tangannya.
"Kok marah? Semalam katanya boleh. Mas udah janjian sama pegawai showroom hari ini mau liat unit nya."
"Beli nya sama siapa aku tanya? Raffi kan? Yaudah pakai aja sama Raffi."
"Aku ngga ngerti salah aku dimana. Kamu jangan pulang, ikut ke showroom tunggu Raffi datang." dengan kesal ia meninggalkan kamar Mita. Perempuan sesulit itu. Tinggal bilang mau ikut apa susah nya, batinnya meradang.
Mita
Sepanjang jalan ia dan Adit diam. Hanya Raffi yang sesekali mengajak nya bicara.
"Ini gua ngga lagi berada di tempat dan waktu yang salah kan?" Raffi terlihat tidak nyaman.
"Coba diomongin lagi pelan-pelan. Ini motor harganya mahal loh. Jangan sampe tabungan nikah kalian kepake." Raffi sudah memikirkan hal yang belum ia pikirkan.
"Aku mah bolehin beli motor. Pakai uang Mas juga bukan uang aku. Tapi tadi kan Mas bilang mau liatnya sama Kak Raffi aja, aku mah ngga ngerti motor. Tapi mau pulang ngga boleh. Gimana coba?"
Adit hanya membuang muka ke luar jendela.
"Ahhh Lu nih bilang kerok, ngerusak mood cewek aja. Yang pake itu motor kan Lu sama dia, dia harus ikut dong."
__ADS_1
"Tinggal bilang apa susahnya sih Pii ngga usah pake kode. Mas, aku mau ikut titik. Beres kan? Ribet ya perempuan." Adit seolah sedang mengadukan ia kepada Raffi.
"Aku ngga jadi ikut. Aku ke kosan aja naik ojeg."
"Pulang aja ke Cianjur sekalian. Bilang ke temen lu, gua ngga jadi beli. Nganter Mita balik." Adit yang setengah berteriak memberhentikan mobilnya, melihat ke arah Raffi dengan wajah menahan marah.
"Mas mah gitu." ia menangis sesegukan melihat Adit yang marah.
"Lagian kamu dari pagi kode-kode ngga jelas. Mas mana tau, kalau kamu pengen ikut."
"Tadi aku bilang mau ikut."
"Mas kira ngga wajib. Kalau wajib yaudah ngga apa-apa ikut. Mas cuma takut kamu kaget sama harganya."
Semua terdiam beberapa saat .
"Jadi gimana lanjut atau pulang. Kalau pulang gua kabarin temen gua takut dia nungguin."
"Ngga usah aja ya? Kamu juga ngga mau naik motornya, aku ngga mau beli kalau cuma buat aku pake sendiri." Adit membalikan badannya, menatapnya meminta maaf.
Ia yang masih sesegukan, belum ingin bicara.
"Tadi suara Mas keras ya? Mas minta maaf." Adit melembut, menggenggam tangannya.
Tangisnya semakin mengahru biru, seolah sedih yang teramat dalam.
"Kita pulang ya. Anter Raffi dulu." Adit ingin menyalakan kembali mobil.
"Ke showroom, aku yang milih."
__ADS_1