Cinta Mita

Cinta Mita
Budak corporate


__ADS_3

Tidak lama Rama sampai di apartemen, Rena pamit pulang ke Bandung dengan menggendong Alita, anak Fery dan Rena.


"Alita pulang dulu ya Om. Nitip Papi Fery, kalau nakal pecat aja sekalian." Rena terlihat serius.


"Jangan dong Yang."


"Papi macem-macem mah Om usir, Mami sama Alita tenang aja."


"Oleh-oleh buat Alita nyusul bulan depan ya Om balik dulu ke Amerika." Rama mencium pipi Alita gemas. Ia terus merutuki diri sendiri karena lupa oleh-oleh untuk keluarga Fery.


"Ih dibahas wae, ngga apa-apa Om. Alita juga kado dari kamu secara nggak langsung."


Rama mengeluarkan dompet yang masih berisi banyak dollar. Uang rupiah nya yang tidak seberapa sudah habis ia pakai di pantai tadi.


"Maaf Om keabisan uang, anak 100 juta jajan pake dollar aja ya."


Rama memberikan Alita dua lembar uang 50 USD. Dimana tiap lembarnya senilai 700 ribu rupiah.


"Anjir bos aing. Lu mau ngasih apa mau pamer?"


"Pamer dong." Meski tidak ada niat pamer, melihat Fery kesal adalah kesenangan bagi Rama.


"Kamprett."


Rama tertawa.


Selesai mengantar Rena sampai masuk mobil, Rama kembali ke apartemen memeriksa isi kulkas.


"Ada makanan ngga Fer?"


"Banyak, tinggal pilih."


Rama membuka kulkas dengan model side by side lalu memilih wadah thin wall yang di atasnya tertulis "Iga bakar".


Fery berinisiatif menyalakan microwave dan mengambil wadah yang Rama pegang.


"Nuhun." Kata yang biasa Rama lontarkan saat Fery membantunya. (nuhun, hatur nuhun : terima kasih)


"Belum makan dari kapan? Anda terlihat lapar sekali."


Rama membuka rice cooker untuk kedua kalinya. Iga bakar yang sudah ditumis dengan bawang, cabe, tomat membuatnya tidak merasa cukup hanya dengan sepiring nasi. Nambah yang ia inginkan dari Mita tadi, Rama lampiaskan pada makanan di hadapannya.


"Tadi sarapan bubur, siang makan seafood. Laper mulu gua sekarang."


"Emang tadi belum kenyang?" Fery meledek.


Rama menengok ke arah Fery memastikan raut wajah temannya itu. Kenyang yang Fery maksud kali ini tentu berbeda dengan arti kenyang seharusnya.


"Baru tester doang." jawabnya asal.


"Anjir tester." Fery tertawa.


Rama masih menikmati makan sore ditemani Fery yang sibuk dengan laporan dan laptop sambil tetap memantau pergerakan Rena melalui akun google Rena yang terhubung di ponselnya. Secanggih itu zaman sekarang.


Semalam Fery berinisiatif mengajak Rena belanja aneka buah, daging dan sayur di supermarket untuk bahan eksekusi di Minggu pagi.


Setiap Minggu jika Fery pulang ke Bandung, Rena kerap kali membawakan suaminya bekal makanan siap saji untuk dibawa kembali ke Jakarta sebagai stok makan satu minggu. Sehingga saat lapar, Fery tinggal menghangatkan di microwave. Tidak perlu order makanan online ataupun memasak.


Berbeda dengan kali ini, karena kesibukan Fery yang banyak akhirnya Rena yang menyusul Fery ke Jakarta. Meski ini sudah yang ketiga kali nya, tapi tetap terasa sedikit merepotkan untuk Rena sehingga ia tidak sempat memasak untuk bekal Fery di apartemen. Rena memutuskan memasak di apartemen.

__ADS_1


"Yang... masakin iga bakar, ayam kalasan, pepes ikan sama gudeg."


"Kamu nyuruh aku bikin rumah makan?" Rena mencibir.


"Jadi seminggu ke depan aku makan apa? Apa aku minta teteh resto aja yang masakin?"


"Aku aja yang masakin. Mau apa lagi?"


Fery tertawa, lalu mencium Rena.


Selesai makan Rama terlihat sibuk mencari sesuatu di tas selempang miliknya.


"Neangan naon?" (nyari apa?)


"Earphone gua ketinggalan di mobil kayaknya. Pinjem yang lu Fer."


Fery yang masih memeriksa laporan keuangan terpaksa bangun untuk mengambil earphone miliknya di kamar.


Ternyata Rama video call dengan Pak Romi.


"Pah, Rama Mau nikahin Mita besok bisa ngga? Kalau bisa Rama ke Cianjur. Nikah di KUA sana aja sekalian biar ngga ribet."


Fery yang mendengar obrolan Rama sama kagetnya dengan Pak Romi.


Gila apa besok? Namun sayangnya Fery tidak bisa mendengar jawaban Pak Romi.


Pak Romi yang saat itu sedang santai mengisi waktu libur nya dengan membaca buku di tepi kolam ikan rumahnya kaget mendengar permintaan Rama.


"Kenapa tiba-tiba minta nikah besok? Kamu pikir nikah kaya pesen Gofood?"


"Ya emang kenapa kalau nikah besok? Mau nanti juga sama kan nikah juga?"


"We just kissed." (kita baru ciuman)


Fery menggeleng, tidak menyangka Rama akan seterus terang itu kepada Ayahnya.


Rama terpaksa jujur, ia tidak mau disangka sudah perawani anak gadis orang.


"Kamu jangan bercanda. Yang bener kamu udah apain Mita? Harusnya kamu ngga usah pulang sampai Mita lulus. Kasihan dia anak baik-baik kamu rusak."


Lalu dirinya? Dianggap bukan anak baik-baik?


Bu Lia sedang fokus menonton berita merasa terusik dengan suara omelan suaminya yang terdengar sampai ruang tengah.


"Kenapa telepon ribut banget?"


"Tanya anak ini, anak orang udah diapain sama dia?"


Bu Lia merebut ponsel yang di genggam suaminya.


"Kenapa Kak? Mita kamu apain?"


"Mita ngga kenapa-kenapa, Papa lebay banget."


"Kamu dimana?"


"Di apartemen."


Ponselnya diambil kembali oleh Pak Romi saat mendengar kata "apartemen".

__ADS_1


"Sama siapa kamu disana? Sama Mita?"


Pikiran Bu Lia dan Pak Romi sudah dipenuhi banyak pertanyaan, mengingat jarak apartemen yang hanya 30 menit dari pabrik. Mita di apartemen Rama menjadi sangat mungkin.


"Sama Fery, Mita di kosannya. Takut banget aku bawa kesini." tanpa sadar Rama membuka kulkas untuk melihat isinya, lalu mengambil jeruk yang sudah berembun karena dingin.


Fery yang mulai mengerti situasi tertawa.


Pak Romi menarik napas, sedikit lega.


"Papa pasti ngerti kebutuhan biologis laki-laki. We just kissed this morning, nothing more." (Kita cuma ciuman pagi tadi, nggak lebih).


Perbincangan Rama dengan Pak Romi terdengar menarik, Fery melupakan laporan ya sejenak. Memasang telinga nya baik-baik.


"Then?"


"And she's cried." (dia nangis)


"Kenapa nangis?" Bu Lia ikut dalam perbincangannya dengan Pak Romi.


"Dia perempuan baik-baik Mah. Dia mau mempersembahkan ciuman pertamanya untuk suaminya. Rama jadi ngerasa bersalah karena tadi khilaf ngeliat dia makan es krim."


Jadi Adit ngga dapet apa-apa? bener-bener cuma dijadiin supir dan Kang ojeg selama pacaran sama Mita? Fery merasa prihatin. Ckckck.


"Rama mau nikahin Mita Pah. Bisa ngga besok?"


"Ngga bisa dong Kak. Kamu emang udah pernah dateng ke rumahnya? Ketemu Ibu nya aja belum kan? Tiba-tiba mau nikahin anaknya. Emangnya Mita lahir dari batu?"


Rama merenungi dalam-dalam ucapan ibunya.


"Kalau gitu besok Rama ke Cianjur sendiri, ngomong sama orangtuanya. Tolong Pak Karman anterin plastik oleh-oleh yang di dalem koper Rama ke apartemen, sama baju celana Rama."


Salut. Untuk Mita, Rama se-detail itu.


"Pak Karman udah berangkat nganter Sena ke Bandung Kak. Tarjo juga ngga ada."


"Tarjo dibutuhin aja ngga ada. Sesar aja suruh kesini."


"Sesar tadi pergi kayaknya bawa motor."


"Haduh kenapa semua ngga ada sih pas dibutuhin."


"Hire supir lagi bosss." Fery bicara pelan. (hire : rekrut)


Rama melihat ke arah Fery. Sasaran selanjutnya.


"Fery aja yang ngambil ke rumah. Bentar lagi dia berangkat."


Tatapan meledek Fery berubah menjadi tajam.


"Bangkeeee gua juga mau istirahat."


"Sorry Fer gua ngantuk, belum tidur banget." Meski kata maaf yang Rama katakan, namun wajahnya polos seperti tidak merasa bersalah.


Rama meninggalkan Fery ke kamar. Masa bodoh dengan umpatan Fery.


"Lu mau pake mobil gua juga boleh, kunci nya di samping TV."


"Nasib budak corporate."

__ADS_1


__ADS_2