
Rama
"Fer, lagi ngapain?''
''Sarapan. Siap-siap ngantor, nyari duit buat bayar cicilan. Kenapa?''
****** jujur amat batinnya terkekeh.
''Rena kapan lahiran?"
Slow but sure aja lah, puter-puter dahulu. Lama-lama juga nyampe. Xixixi
"Perkiraan dokter seminggu lagi."
Ia mengambil nafas, mencoba rilex. Ternyata tidak mudah, mengutarakan maksud melalui jalan alternativ.
"Gini.. Gua lagi nyari orang buat handle kantor jabodetabek bantuin Fima. Lu ada kandidat bagus...."
Belum selesai ia menyelasaikan kalimat nya, namun Fery sudah memotong.
"Ngga usah berbelit-belit, gua kenal lu bukan baru sebulan dua bulan. Langsung aja lu berani bayar gua berapa?"
"Bangsat, bahaya gua punya anak buah kaya lu. Bisa baca pikiran gua anjir."
Mereka tertawa bersama. Memang nyata adanya, Rama tidak bisa menutupi isi otaknya jika sedang berbicara dengan Fery.
"Tapi gua ngga enak, Rena kan mau lahiran masa lu tinggal." lanjutnya.
Fery tampak berpikir lama. Ia takut ditolak. Huhuhu.
"Mertua gua mau nemenin Rena disini sekitar sebulan. Gua juga puasa Ram ngga bisa enak-enak."
Ada makna terselubung dari ucapan Fery, ia sedikit lega. Feeling nya Fery tidak masalah harus LDR sementara dengan Rena.
"Gua libur seminggu dua kali bisa ngga? Kamis sama Minggu. Uang bensin tolong diperhitungkan."
Fery menjelaskan secara rinci hal-hal yang menjadi konsennya. Request yang semestinya bisa ia approve, karena keputusan kantor ada di tangannya.
"Yaudah atur-atur sama Fima. Dia yang lebih ngerti teknisnya nanti. Gaji ajuin aja ke Fima. Apartmen gua bisa lu isi."
"Kalau mertua udah balik, gua ajak Rena ngga masalah berarti ya di apartemen? Dia kan cuti tiga bulan, pas mertua gua balik dia ikut ke Jakarta."
"Beres, atur-atur aja. Selama kerjaan kantor ngga ada masalah gua oke aja. Clear ya gua jadi ngga pusing lagi nyari orang. Proses resign berapa lama? Harus segera jalan soalnya, ada tiga resto yang mau di renov. Fima mau kawin, dia mulai sibuk."
"Anjay, sadar juga dia kalau ngarep Lu mah ngga mungkin."
Ia tertawa. Sejak kuliah Fima memang menaruh perhatian khusus kepadanya. Berteman dekat bertiga dengan Fery, nyatanya membuat Fima menyukainya. Seperti yang pernah ia katakan kepada ibunya, bahwa tidak ada pertemanan tulus antara perempuan dan laki-laki. Setidaknya ada salah satu dari keduanya yang menyimpan rasa, dan itu terjadi padanya dan Fima.
Fima yang selalu bicara apa adanya tidak pernah menutupi perasaannya suatu saat pernah mengajaknya ngobrol berdua tanpa Fery. Ia yang pulang kuliah kala itu tidak berpikir apa-apa.
"Ram, kita temenan udah lumayan lama. Ada ngga perasaan lebih buat gue?"
"Lebih gimana?" Setelah pembicaraan Fima yang lebih banyak menjurus, ia mulai menebak arah pembicaraan Fima.
"Gue suka sama lo. Kita bisa lebih dari sekedar temen ngga?"
"Jangan macem-macem deh Fim. Gua nganggep lo pure sebagai teman. Gua nyaman kayak gini, bertiga sama Fery."
"Kalau emang gitu, kenapa lo belum punya pacar? Bukan karena ngarep gue?"
Ia tertawa, ternyata kadar percaya diri Fima tinggi.
"Perkara gua belum pacaran, karena gua emang belum mau aja. Kalau suka ada beberapa cewek yang gua suka. Tapi ya gitu doang suka nya.''
__ADS_1
Lamunannya tentang masa lalu buyar, Fery mengagetkannya.
"Dua minggu gua usahain udah siap-siap kerja di kantor bos Rama."
"The best, nuhun Fer." (nuhun : terima kasih)
Ia meregangkan otot-otot tangannya. Satu masalahnya telah selesai.
"Si cinta gimana?"
Ahh... dia lupa menanyakan progress visa pada gadis itu.
"Januari dia kesini."
"Udah putus sama itu bocah?"
Ia terkikik, putus? bodo amat!
"Kayaknya belum."
"Bajingan, pacar orang Ram. Sinting bener si Rama."
Ia tak terlalu memperhatikan pembicaraan Fery. Dia mengambil laptop, mengerjakan kembali tugas yang tadi sempat ia tunda karena pikirannya yang terus memikirkan kantornya di Jakarta.
"Gua sambil ngerjain tugas Fer. Kerjaan gua banyak gini, urusan receh gitu mah bodo amat gua ngga ngurusin."
"Gimana lu lah, enjoy your perfect life.'' (selamat menikmati kehidupan yang sempurna)
"Perfect dari mana kampret. Perfect tuh kalau gua udah kawin sama Mita. Perfect hidup gua."
"Bodo amat, terserah lu."
*****
Perkuliahan sudah mulai longgar, karena sudah masuk minggu-minggu ujian tengah semester. Selesai membereskan kamar dan mandi, ia membuka buku untuk mengulang materi yang sudah disampaikan dosen di kelas.
Adit yang sejak kemarin pulang ke rumah, belum ada memberi kabar kepadanya. Namun ia biarkan, ia berpikir Adit akan menghubungi nya jika suasana hatinya sudah membaik.
Belum banyak materi yang masuk ke otaknya karena sebagian memikirkan Adit, panggilan video dari Rama masuk, namun ia biarkan. Ia kembali fokus pada buku di hadapan nya.
Panggilan video kedua masuk kembali masih dari orang yang sama. Ia angkat, ia letakan ponselnya di depan jam meja yang ia gunakan sebagai pengganjal.
"Lagi apa?"
"Belajar."
"Ganggu dong aku?"
Ia tak enjawab pertanyaan yang seharusnya Rama sudah tau jawaban nya, karena memang sangat mengganggu. Ujian di depan mata Rama! batinnya kesal.
"Gimana visa kamu udah kamu urus?"
"Visa apa sih? Sena ngga bilang."
"Ya ampun anak itu ya. Paspor kamu udah ada belum?"
"Belum."
"Kapan kamu libur? Sena udah libur UTS seminggu."
"Aku baru UTS besok."
"Selesai UTS urus paspor ya, aku suruh Pak Karman antar ke imigrasi."
__ADS_1
"Pak Karman mana? Supir kamu?"
"Iya, masa Pakai Karman dosen aku di Jakun."
"Pak Karman kan di Jakarta, ngga sekalian kamu suruh temen kamu yang di Bandung buat anter aku?"
"Mau dianter Fery?"
"Ih ngga nyambung."
"Urus dong Mita sayang. Biar kamu bisa kesini, aku kangen."
Ia menarik nafas dalam. Rama belum juga berubah. Setahun lebih tidak bertemu, tidak banyak yang berubah dari Rama bahkan masih sama. Masih ngeyel!
"Rama, aku tuh udah ada Adit. Kamu kaya ngga ngehargain dia."
"Aku harus ngehargain dia berapa?"
Ia melihat ke arah ponselnya menghentikan aktivitas membaca, ternyata Rama sedang melakukan hal yang sama dengannya.
"Aku serius Rama."
"Aku lebih serius. Kamu boleh pacaran sama siapapun, tapi setelah kamu lulus aku bakal pulang untuk nikahin kamu."
"Kamu ngaco."
"Kamu jangan mau diapa-apain, inget jaga diri."
Rama terdengar serius memberi peringatan.
"Aku terlihat seperti perempuan yang mau diapa-apain?"
"Ngga dong, makanya aku percaya sama kamu. Karena itu juga aku ngebiarin kamu pacaran sama laki-laki lain, dia cuma kaya supir yang nganter kamu doang kan?"
Ia tertegun. Ia berharap Adit tidak memikirkan hal yang Rama pikirkan
*****
Adit
Hari ini ***** makannya menghilang, dua hari ini Mita tidak menghubunginya.
"Kamu ngga kangen aku?"
Akhirnya ia hubungi Mita karena Ibunya sudah ngedumel sejak tadi.
"Kenapa sih Dek, daritadi uring-uringan."
Mood nya berantakan.
"Percuma juga kan kalau aku bilang kangen. Percuma juga aku chat, telepon, ngga ada yang Mas jawab. Aku juga lagi ujian, ngga ada waktu mikirin hal yang cuma bikin aku nangis. Cape mata aku Mas."
"Mas bikin kamu nangis? Kenapa?"
"Karena Mas ngga percaya aku."
"Aku percaya kamu, cuma aku ngga percaya laki-laki itu."
"Kalau Mas percaya aku, Mas ngga bakal marah. Buat apa, toh aku udah lupain dia. Aku udah milih Mas bukan?"
Ia terdiam. Ia teringat kembali teringat ucapannya kepada Rama sebelum laki-laki itu berangkat. Seperti sedang berkaca.
Ia sedang tidak percaya diri.
__ADS_1