
Adit
Selesai ia menelpon Mita, ternyata Putri sudah berdiri di samping pintu. Sepertinya mendengarkan semua obrolannya dengan Mita.
"Ohh, pulang karena lagi marahan. Kalau ngga marahan ngga bakal pulang kan?"
Kakak nya ini, rasa ingin tahu nya memang sangat tinggi alias kepo akut.
"Apa sih Mbak."
"Cantik ngga aslinya?"
Putri menarik kursi tepat di samping kirinya.
"Menurut Mbak gimana? Mbak pasti stalking IG kan?"
Ia letakan laptopnya yang tadi berada di pangkuannya.
"Lumayan."
"Ih apa lumayan, kayak bidadari gitu."
Dasar cewek pikirnya, terkadang memuji perempuan lain sesulit itu. Gengsi.
"Alah kamu nyari cewek aja pinter. IPK mu piro?"
Ia tertawa mengingat IPK nya sendiri. Meskipun ia bukan anak yang bodoh, tapi dibandingkan dengan kedua kakaknya jelas ia berada di bawah. Ditambah dengan kesibukannya di luar kampus, sedikit banyak mempengaruhi nilainya juga.
"Lumayan lah masih di atas tiga. Nggak bodoh banget aku Mbak."
Ia mengeluarkan vape dari kantongnya. Mengepulkan asap ke udara.
"Gaya mu ki loh."
Ia memang lebih dekat dengan Putri dibanding dengan Abi. Dan sifat Putri yang mudah mencairkan suasana, membuatnya lebih nyaman bercerita.
"By the way, temenku ada yang baru opening villa di Bali minta kamu promosiin. Kapan kamu bisa ke Bali? Akhir tahun?"
Ia tampak berpikir.
"Professional ngga? Aku males kalau yang cuma say thank you doang. Aku butuh uang."
Hari gini, semuanya butuh uang !
"Ih kamu nih, itung-itungan sama temen Mbak sendiri."
"Aku kan kesana pake ongkos Mbak, ngga jalan kaki."
Ia mendengus kesal.
"Tiket, akomodasi villa, voucher makan dia yang tanggung tenang aja."
"Dua orang."
Ucapnya asal namun dari hati. Ia tidak ingin pergi sendiri. Ngapain?
"Sama siapa?"
"Pacarku lah, masa sama Mbak."
"Macem-macem kamu, berdua ke Bali mau honeymoon?"
"Terus aku sendiri? Emoh." (emoh : nggak mau)
"Kalau ngga bisa berdua, yowis bertiga. Aku ajak adeknya yang cowok."
__ADS_1
"Umur berapa adeknya? Kamu ajak anak TK sama aja."
Ia mengerutkan kening, ngapain ngajak anak TK? Mau ngasuh?
"Mungkin 17 tahun."
"Yowis Mbak bilang dulu. Pisah kamar loh kamu."
Putri mendorong keningnya dengan telunjuk tangannya.
"Ya iyalah. Aku belum mau berkembang biak."
Kali ini bener-bener asal xixixi.
''Mbak ikut aja lah. Dia sekamar sama Mbak aja. Daripada ngajak Adeknya mending Mbak aja ya kan. Liburan gratisss."
"Yoga aja lah Mbak adeknya Mita."
Ucapnya sedikit keras, ngapain sama Mbaknya ini. Ngga asik.
"Kalau Mbak emang kenapa? Ngga bisa bebas kan kamu? Otak mu nih kotor, mengko tak marang Mbak Narti kumbah!" (nanti aku suruh Mbak Narti cuci).
"Aku ngga pernah ngapa-ngapain Mbak suwer."
"Ngga percaya aku tuh. Itu kosan kamu yang punya, pacarmu kos disitu juga. Kamu bebas lah ngapa-ngapain. Kis sing pernah toh?" (kis sing : ciu man)
"Kis sing opo toh? Demi Allah aku tuh paling banter cium tangannya aja, itu dia udah geli malu terus. Mana bisa aku cium yang lain."
Putri tetap mencibir tak percaya.
"Sama mantanmu yang ja lang itu pernah kan?"
"Belum sempet." ucapnya ketus.
Ia hanya pacaran dengan Sheryl dua minggu, karena ia memergoki pacarnya selingkuh dengan om-om. Lebih tempatnya Adit lah selingkuhannya. Sheryl baru mengakui setelah di desak olehnya.
"Ih enak aja."
Putri yang salah tingkah langsung bangun dari kursi nya, hendak meninggalkannya ke kamar.
"Tuh kan kabur. Bu ini Mbak nikahin aja Buk bareng Mas." Adit berteriak, tertawa melihat Putri yang salah tingkah.
Ia kembali mengepulkan asap di balkon lantai dua. Menyelesaikan kembali skripsi yang baru saja di revisi dosen pembimbing nya tadi siang.
Gangguan kedua datang kembali. Kali ini Mas nya.
"Nge-vape sekarang ngerasa udah gede."
Abi mendatanginya, melihat yang ia lakukan dengan melipat tangan di dada. Rasanya ia seperti sedang dikuliti oleh kakak nya ini, memastikan ia tidak melakukan hal aneh.
"Ngeliatin nya ngga usah kayak gitu. Otak ku wis ngebul, ngga sempet bandel-bandelan. Nge-vape doang." ia mencibir ke arah kakaknya.
"Kalau mau bandel aku ajak Mas. Mas jago nya toh?"
Abi tertawa meledek.
"Raimu kisut." (muka my kusut)
Abi yang tampan seperti biasa mengacak-ngacak rambutnya.
"Mumet Mas, aku mumet. Jangan ganggu."
Ia menepuk bokong kakaknya menyuruhnya pergi.
Kakaknya tertawa puas, mungkin berpikir ia pusing karena skripsi. Padahal ada hal lain yang lebih memusingkan.
__ADS_1
Bukannya pergi, Abi kembali duduk di kursi yang tadi ditempati Putri.
"Cewek kan mesti. Aku wis khatam."
Abi pun mengeluarkan benda sama seperti yang ia pegang.
Ia pun diam. Ia jarang sekali berbicara sebagai laki-laki dengan kakaknya ini. Mungkin karena sebentar lagi akan menikah, ia merasa perlu mendekatinya.
"Siapa pacarmu? Aku pernah sekali dikasih liat Puput di story mu."
"Mita, anak IPB."
"Mas pernah cemburu sama Mbak Memes?" lanjutnya
Memes adalah calon istri Abi. Ia pernah beberapa kali bertemu dengan Memes saat datang ke rumahnya beberapa waktu lalu.
"Kamu cemburu sama siapa?"
Bukan nya menjawab pertanyaannya, Abi malah balik bertanya.
"Dia tuh anak beasiswa Mas. Dibantu juga sama keluarga Bu Lia. Beliau dosen, suaminya dokter. Ternyata temennya Ayah kuliah dulu...."
Ia pun menceritakan secara lengkap semua hal tentang Mita. Abi hanya mendengarkan sembari ikut mengepulkan asap.
"Berat kisahmu. Siapa nama cowok nya?"
"Kalau Mas kenal namanya Rama. SMA nya di 70 juga kayak Mas."
"Rama Yuda?"
"Mas kenal?"
"Keluarga kita tuh kenapa selalu berurusan sama keluarga mereka kalau soal perempuan?"
Ia mengangkat alisnya. Maksudnya?
"Ayah tuh mantannya Bu Lia. Dulu, sebelum nikah sama Pak Romi pacaran lama sama Ayah. Eh ditikung langsung nikah. Tapi akhirnya ketemu Ibu, lahirlah kita."
"Dan si Yuda alias Rama itu, cinta pertamanya Mbak Memes. Mereka deket pas kuliah, sekarang kerja di kantornya. Mas dulu cuma pelarian dari Rama. Tapi akhirnya nikah juga."
Memes yang Abi maksud adalah Fima Pramesty, teman semasa kuliah Rama dengan Fery.
"Gila."
Ia tercenung mendengar penuturan Abi. How come? Kok bisaaaa !!!!
*****
Rama
Selepas menelpon Fery, ia menelpon Mita. Lalu sekarang giliran nama adiknya yang ia cari history chat nya.
"Sen, gimana sih belum bilang ke Mita masalah visa."
Begitu terhubung ia langsung ngomel kepada Sena.
"Dia harus ikut emangnya? Aku kok kasian sama pacarnya."
"Harus lah, dia ngga ikut kamu ngga usah kesini. Paketin aja sambel sama mie instan."
Bukannya bantuin kakaknya, malah kasihan ke orang batinnya kesal.
"Ih aku mau liburan enak aja."
"Makanya bantuin Mita urus paspor sama visa. Sekarang."
__ADS_1
Tanpa banyak kata, ia putuskan sambungan telepon. Malas ia berdebat lagi dengan Sena, tugasnya masih banyak.