
Rama
Semalam selesai makan malam, ia, Sena dan Mama saling bercerita di ruang tengah. Merebahkan kepala di pangkuan Ibunya seperti yang biasa ia lakukan jika sedang bersantai di Jakarta.
Keluarga tersebut tengah menanti panggilan video dari Sang Ayah yang katanya juga rindu. Sang Ayah kala itu sedang di rumah sakit menanti waktu istirahat.
''Rudy jauh ngga rumahnya? Mama bawa oleh-oleh juga buat Rudy dan istrinya. Siapa nama istrinya?"
"Nama istrinya Rebecca. Ngga jauh sih, nanti kita ke sana.''
Tak lama foto keluarga dengan formasi lengkap berempat sebagai foto Profil akun Whatsapp ayahnya muncul di ponsel Ibu nya, sebagai tanda bahwa Ayahnya sudah menelpon.
"Papa gimana kemarin lancar?"
Ayahnya dua minggu ini tengah sibuk mengurus konfrensi Jantung internasional. Sebagai dokter senior, ia menjadi salah satu penanggung jawab kesuksesan acara tersebut.
"Lancar Ma tinggal capek nya. Rama mana? Lagi ngapain dia?"
"Aku lagi tiduran."
Kamera diarahkan ke arahnya yang sedang bersantai berbantalkan paha Sang Mama.
"Mama bilang kamu main sosor aja anak orang di ruang publik. Maksudnya gimana?"
Mita yang sudah masuk kamar tidak ikut berkumpul di ruang tengah kala itu. Ia merasa bukan siapa-siapa sehingga sungkan untuk bergabung. Terlebih tadi sore Mama nya mengatakan bahwa Sang Ayah ingin menelpon.
"Spontan itu Pah. Saking kangennya."
"Saking kangennya apa saking pengennya? Kamu kebelet kawin apa gimana?"
Sontak ia tertawa mendengar kata "pengen" dan "kawin" terucap dari mulut Sang Ayah.
"Kebelet ini Pah. Harus cepet-cepet dituntaskan."
Mama hanya geleng kepala melihat suami dan anak lelaki nya yang sudah dewasa se-frontal itu. Sena yang sengan menggunakan headset seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar.
"Kamu ajak Mita nikah. Dia mau ngga sama kamu?"
Rama memang duplikasi persis dari Ayahnya, penuh dengan intruksi yang harus dilaksanakan dan tidak menyukai bantahan.
"Papa serius ngga? Nanti aku udah seriusin ternyata bercanda
"Nikah bukan buat candaan. Kamu udah siap belum nikahin anak orang? Kebablasan malah dosa dan bikin malu keluarga."
"Kalau istri nya Mita mah Rama siap lahir batin dengan segenap jiwa dan raga."
''Kamu lamar aja dulu. Setidaknya kamu udah mengikat dia biar ngga diambil orang. Kalau pacar-pacaran itu level nya masih temenan."
Ia tertegun, ayahnya sudah memikirkan sejauh itu.
"Tapi inget jangan kamu DP duluan."
Yang awalnya terharu, ia menjadi tertawa sejadi-jadinya karena bahasa yang Ayahnya gunakan. DP duluan? What? Hahahah
"Aku udah serius mau makasih ke Papa karena udah ngerestuin Rama sama Mita, malah bahasa DP duluan."
"Tetap makasih juga dong. Tanpa restu Papa kamu mau nge-gas?"
Ayahnya ini meskipun sudah senior tapi karena banyak di kelilingi dokter-dokter muda, dan lingkungan nya pun banyak dosen yang dekat dengan mahasiswa membuatnya sedikit banyak tau istilah-istilah yang digunakan zaman now.
''Makasih banyak Papa, restu Papa dan Mama sangat berarti buat Rama. Rama lamar Mita besok, doain ya..."
Ayahnya kini tampak lebih serius. Ada haru yang menyilap di hatinya saat mendapatkan restu dari Ayahnya.
"Cincinnya udah ada?"
__ADS_1
"Ada, Mama bawa cincin untuk calon menantu Mama."
Reflek ia menatap tak percaya kepada Mama nya, karena ternyata sudah menyiapkan cincin untuk calon istrinya.
Kini ia menatap sambil memeluk Mama nya yang ternyata sudah sejauh itu berpikir untuk dirinya.
"Udah dewasa anak kita Pah, mau lamar anak orang."
Mama nya kini sudah dengan airmata haru mencium hidungnya.
"Udah Ma, udah bisa ngasih cucu. Jago nanti dia."
Entah apa yang terjadi dengan ayahnya selama ditinggal Mama dan Sena ke Amerika, hingga bisa mengeluarkan jokes yang luar biasa absurd.
*****
Sepulang dari Golden Gardens Beach Park senyum tak lepas dari wajahnya. Sepanjang jalan ia memandangi kencantikan Mita yang menakjubkan baginya.
"Kamu itu satu, tiga, empat, lima." usahanya kali ini mencoba meniru gombalan receh yang ia lihat di YouTube dan konten-konten Instagram.
"Aku udah tau gombalan kamu."
Mita tersenyum merasa menang.
"Apa?"
"Ngga ada dua nya kan?"
Ia tertawa receh, ternyata ia memang tidak jago gombal.
''Anak itu suka gombalin kamu ya? Aku kalau set ini.''
Ia kembali teringat Adit yang seringkali Rama sebut sebagai "anak itu".
Kemana Adit? Sejak kemarin Adit tidak menghubunginya.
Ia memancing Mita dengan topik yang ingin ia ketahui sejak kemarin. Apakah Mita benar-benar tidak menyadari bahwa ada seseorang mengikutinya? Yang ia pikir itu adalah Adit. Siapa lagi? Semua tanda Dan ciri-ciri mengarah pada laki-laki itu.
Namun ia tak masalah, lebih baik jika begitu bukan ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri.
****
Mita
"Dari mana aja tadi?"
Begitu sampai ia disambut dengan harumnya masakan, pasti Bu Lia sudah memasak pikirnya. Calon menantu macam apa malah calon mertua yang memasak?
"Dari pantai Ma. Mama ngga pergi sama Sena?"
Di meja makan sudah tersaji berbagai jenis menu seafood.
"Udah tadi jalan-jalan ke Pike Place Market. Mama pengen ngerasain seafood disini, Mama udah masak banyak."
Bu Lia memperhatikan cincin di tangannya ketika ketika ia salim , lalu tersenyum namun tak banyak bicara. Semoga itu menjadi tanda bahwa Bu Lia senang akan hubunganya dengan Rama.
Berbeda dengan Sena ketika melihat cincin yang diberikan Rama tadi.
"Wah wah pulang-pulang ada yang jadian nih."
''Calon istri." Rama mencium pipi nya singkat.
Ya Tuhan ...
"Rama..." ia mendelik ke arah Rama.
__ADS_1
Bu Lia dan Sena seketika melihat ke arahnya seakan ada yang salah.
"Sayang. Sekarang manggil aku sayang."
Ahh... ia tau kesalahannya sekarang.
"Kakak aja." jawabnya singkat.
"Emang kamu Sena manggil aku Kakak? Sayang aja."
Rama menarik kursi makan untuknya di samping kursi Rama.
"OMG aku kok geli liat Kakak gini."
"Geli kenapa? Belum pernah ada yang romantisin ya? Kasian kasian kasian."
Ia tersenyum simpul melihat kakak dan adik yang kerap melempar ejekan-ejakan ringan sebagai tanda kedekatan mereka berdua.
''Pas ngga cincinnya?"
Bu Lia bertanya tentang cincin yang ia kenakan.
Rama membuka piring yang masih telengkup di hadapannya.
"Pas kok Bu."
"Hebat kan Mama beli cincinnya? Bisa pas sama kamu."
Ia tertegun, Bu Lia yang sudah membelikannya cincin? Ya Tuhan... sungguh diluar perkiraan nya.
"Ibu yang beli?"
Ia bertanya penasaran.
Rama mengangguk, dan Bu Lia tersenyum.
"Suka ngga?"
"Suka banget. Aku belum pernah liat cincin secantik ini."
Ia melihat kembali cincin yang sejak Rama memakaikan di jarinya, tak pernah lepas dari pandangannya.
"Kamu mau apa?"
Ia mencoba membuka diri di hadapan keluarga Rama. Mencoba berbaur sepertinya tidak terlalu sulit.
"Aku suka udang buatan Mama."
Bu Lia dan Sena memandangi ia dan Rama.
"Kulitnya dimakan atau dibuang?"
"Dibuang, biar nanti aku buang sendiri."
"Sini aku yang bukain."
"Ehmmmm. aku kaya liat live drama Korea."
Sena berdehem mengagetkan.
"Sirik ya pengen dibukain juga? Jomblo mohon bersabar. Belajar aja yang pinter.''
''Semoga kalian akur, tahan-tahan godaan ya Kak. Harus bisa jaga diri dan jaga Mita."
''Mita nya juga cuma seminggu disini Ma..."
__ADS_1
Jadi pengen cepet-cepet kawiiiiin