Cinta Mita

Cinta Mita
Baper?


__ADS_3

Tidak terasa sebulan sudah usia pernikahan Rama dan Mita. Perjalanan masih terasa mudah karena aroma pengantin baru masih tercium.


Saat sedang menonton tayangan Netflix bersama dengan bumbu kecupan-kecupan mesra, pesan whatsapp dari Fery masuk ke ponsel Rama.


"Bos kalau lagi ngga ngadonin kesini, ada yang mau gua omongin."


Sepertinya sedikit penting, batin Rama.


"Aku ke bawah dulu ya, kalau kamu ngantuk tidur di kamar aja." Rama mencium kening Mita.


Beberapa kali Rama dan Fery mengerjakan beberapa urusan kantor sepulang kerja selesai terlalu malam, membuat Mita yang kini mudah lelah tertidur di sofa.


"Ngapain?"


"Fery ngajak ngobrol."


Mita mengangguk, ia menuju dapur.


"Buat Fery, tinggal di hangatin di microwave."


Mita memberikan wadah berisi spaghetti carbonara kesukaan Rama untuk Fery.


Rama langsung masuk ke apartemen yang ditinggali Fery tanpa kesulitan input password, karena ia sendiri yang membuat passwordnya. Xixixi.


"Makan belum Fer?"


Dilihatnya Fery sedang duduk diatas karpet memakai kaos dan celana pendek sedang menonton serial Netflix, serial yang sama dengan yang ia tonton beberapa menit yang lalu.


"Perhatian banget ke bujangan nanyain makan."


Fery menarik nafas, ia mengerti tatapan Rama meminta nya langsung bicara ke inti karena Rama tidak suka berbelit-belit.


"Rena minta gua Jumat udah di rumah. Gimana menurut lu bisa ngga?"


Rama duduk dengan beralaskan bantal di sofa, nampak berpikir serius.


"Rena ngga mau kerja disini aja? Kalau Rena mau, banyak posisi yang bagus buat dia. Apartemen mah anggap aja punya lu. Tagihan biaya bulanan tetep ke rekening gua. Anak mah atur-atur aja."


Rama mencoba memberi saran terbaik yang ia bisa.


"Dia udah berat ninggalin Bandung. Nyokap gua juga kasian kalau gua stay disini. Teh Elin ikut suaminya tugas ke Purwakarta."


Fery memang sama dengan Rama, hanya dua bersaudara. Dengan kakak perempuan bernama Elinda yang kini menetap di Purwakarta.


"Kalau lu keberatan gua ngga full kerja disini, ngga apa-apa juga kalau lu mau hire orang buat gantiin posisi gua. Gua..."


Belum selesai Fery berbicara, Rama melempar bantal sofa ke arahnya.


"Ahh t*i lu mau playing victim. Bilang aja lu mau resign tapi nyari cara biar gua yang pecat lu duluan kan?"


Fery menggaruk kepalanya.


"Ngga betah kerja sama gua? Gaji nya kurang? Mau gaji berapa sih hah?"


Rama kesal karena merasa sudah memberikan yang terbaik untuk Fery, dengan harapan Fery betah bekerja dengannya. Tapi nyatanya? ****.


"Bukan masalah gaji, demi Allah kalau gaji mah cukup. Rumah di Bandung udah rapi, Rena juga udah punya mobil sendiri, semuanya dari mana gua beli kalau bukan karena kerja disini."


Fery memperbaiki posisi duduknya, mengumpulkan keberaniannya untuk berkata jujur.


"Gua cuma pengen aja liat lu sama Mita enak banget tiap hari bareng. Nah gua di rumah bisa 24 jam aja juga udah sukur."


"Emang dasar manusia banyak ngga bersyukurnya. Lu atur-atur ajalah, mau resign juga bodo amat."


Rama bangkit menendang kesal bantal sofa yang tadi ia duduki.


"Ehh lu mah ngambekan, hire orang lagi aja 1 orang buat bantuin gua. Gua kerja sampe Jumat siang. Sore balik ke Bandung."


Fery bangun menyusul Rama yang berjalan menuju pintu ingin keluar dari apartemen.


"Atur-atur aja, gua capek. Itu spaghetti makan, istru gua yang bikin."


Rama menunjuk spaghetti yang tadi ia simpan dekat kulkas lalu keluar apatemen dengan membanting pintu. Meski marah, Rama tetap memperhatikan makan Fery. Meskipun Rena selalu membekali Fery makanan, terkadang Rama tetap memesankan makanan atau membawakan masakan Mita untuk Fery.


Rama masuk apartemennya dengan wajah tidak bersemangat, langsung menuju kamar. Sadar ada yang tidak beres, Mita menyusul Rama.


"Kenapa Bang?"


"Tolong bikinin teh anget, aku pengen tidur cepet."


Mita kembali ke dapur untuk membuatkan Rama teh hangat. Lalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan besok. Kegiatan menyiapkan bahan makanan pada malam hari sudah menjadi kebiasaannya. Terlebih besok pagi ia harus ke kampus, karena ada ujian dan pelaporan selama kegiatan magang kepada dosen pembimbing tugas akhir.

__ADS_1


"Besok ke kampus jam berapa?"


Rama bertanya dengan memejamkan mata. Rama bingung harus bagaimana jika Fery tidak bekerja lagi untuknya.


"Kalau Abang banyak kerjaan, besok aku ke kampus sama Pak Tarjo ngga apa-apa Bang."


Mita mendekati Rama dan mengusap lembut rambut Rama, yang ia tahu sedang tidak baik kondisi hatinya.


Rama mengusap perut Mita. Berharap segera ada kehidupan di dalam sana. Saat ia begitu menginginkan anak dalam kehidupan rumah tangga nya seperti Fery, Fery juga ternyata menginginkan kehidupan yang ia punya.


"Kenapa sama Fery?"


"Fery kayaknya cape kerja sama aku."


Mita terdiam, mencoba memahami posisi Fery. Dengan jam kerja yang luar biasa, Senin - Sabtu sore, dimana tak jarang waktu malam pun tetap digunakan untuk meeting berdua dengan Rama di apartemen. Dan tidak ada istri yang menemani.


Mita teringat dengan nasihat dari ibunya, bahwa sebisa mungkin ia selalu berada di samping Rama. Karena istri dan keluarga lah yang dibutuhkan laki-laki melepas penatnya bekerja.


"Fery butuh cuti sayang, dia bukan robot. Coba kasih cuti 7 sampai 10 hari biar pulang ke Bandung."


Rama tersadar sesuatu, selama ini ia memang terlalu membebankan banyak pekerjaan kepada Fery, meskipun Fery tidak pernah mengeluh tapi ia tahu sahabatnya itu ada di tahap suntuk dengan rutinitas kantor.


Rama mengeratkan pelukannya, bersyukur Mita yang menjadi istri nya. Hal-hal yang tidak terpikirkan ternyata dipikirkan oleh Mita.


"Besok lu balik aja ke Bandung, ngga usah ngantor."


Rama menelpon Fery langsung ke inti.


"Gua tetap ngantor, demi Allah gua ngga niat resign. Gua cuma lagi suntuk aja."


"Manfaatkan sebaik mungkin, lu gua bebas tugaskan."


"Pundungan ah." (ngambekan)


Dua minggu lagi Rama akan ke US, pekerjaan Fery akan semakin bertambah dengan ketiadaannya di kantor. Memberikan Fery cuti selama 7 hari ia harapkan bisa me-refresh pikiran Fery sebelum nantinya kembali fighting mengurus pabrik tanpa kehadirannya.


"Duit udah gua transfer, semoga cukup buat biaya libur panjang sampai nanti lu kerja lagi."


"Heh bangkee, gua bilangin ngga ngerti-ngerti, kenapa sih jadi emosi mulu bawaan lu? Heran. Ngga dikasih jatah berapa hari sih? Gua 2 minggu belum dapet jatah biasa aja. Duit, duit apa maksudnya? Pesangon?"


Rama tertawa dalam hati, namun kasihan mendengar Fery ngomel sedemikian panjang karena kesal.


"Cuti? Gua dapet cuti nih serius?"


"Banyak nanya, ngga mau yaudah ngga usah."


"Eh mau lah. Itu duit maksudnya duit apaan?"


"Buat foya-foya. Gua tau duit gaji lu, ngga bakal lu pakai buat foya-foya jadi gua kasih. Kurang bae gimana gua hah?"


Awas aja masih nyuruh hire orang lagi, batin Raka kesal. Karena Rama memiliki ritme kerja yang jarang bisa dimengerti orang lain sehingaa sulit mencari orang yang bisa mengikuti ritme kerjanya.


"Anjay gua demen nih. Oke gua balik ya bos."


"Dua minggu lagi gua ke US, gantian gua yang cuti."


"Aman bos aman."


"Bas bos bas bos. Cuti sama duit aja lu girang."


"Lu kenapa sih jadi kayak emak-emak? Sensi sama ngomel mulu."


"Berisik."


Setelahnya Fery benar-benar memanfaatkan jatah cuti dari Rama. Fery pun meminta Rena izin dari kantornya bekerja.


"Kalau bos kamu ngga mau ngasih izin, resign aja sekalian. Di RM juga banyak lowongan buat kamu."


Mau tidak mau Rena menuruti permintaan Fery. Kaduanya memanfaatkan cuti dengan berlibur ke Labuan Bajo bersama bayi 100juta.


Sementara Rama di Tangerang kesibukannya bertambah-tambah sejak Fery cuti. Untuk makan siang pun, Mita harus memaksa untuk menyimpan berkas-berkas yang harus ia baca, dan tanda tangan.


"Tolong suapin aja sayang."


Rama Masih enggan menyimpan kertas-kertas penting tersebut.


"Aku bisa tipes kayaknya kalau kerja tiap hari begini."


Mita tertawa. Sekarang Rama semakin menghargai keberadaan Fery yang membantunya.


Rama update mengenai keberadaan Fery.

__ADS_1


"Ngga tau diri, gua aja belum kesana."


Rama mengetikan komentar untuk foto yang Fery unggah ke Instagram. Foto di atas bukit kecil dengan latar belakang hamparan lautan biru. Meski kesal namun hatinya senang, karena sahabatnya itu tengah quality time kembali dengan keluarga kecil nya.


Sejak Rama sibuk, Mita pun kena imbasnya. Ia beberapa terpaksa ke kampus diantar Pak Tarjo. Rama harus sadar dengan kondisi badannya yang tidak memungkinkan jika dipaksa untuk antar jemput Mita Tangerang Bogor.


"Aku bisa anter kamu, aku nunggu di kosan."


Barang-barang Mita memang Masih di kosannya. Entah seberdebu aoa kosannya kini karena tidak tersentuh beberapa bulan.


"Temenku kan ngga ada yang tau kita udah nikah sayang. Apa kata orang kamu nunggu di kamar aku?"


"Aku book hotel, kerja dari hotel."


"Ngga usah, nanti kamu kecapean, ribet dan boros. Diantar Pak Tarjo juga cukup."


Tidak terasa magangnya sudah berjalan selama tiga bulan lebih, artinya semakin banyak laporan-laporan dan ujian yang harus ia kerjakan dan lalui. Kampus, perpustakaan dan toko buku akan lebih sering ia kunjungi beberapa hari ke depan sebelum ke US. Dengan berbekal buku-buku, Mita sudah berencana mulai menyusun tugas akhir di US.


Di bumi bagian Bandung, Sena sedang uring-uringan begitu melihat story Adit yang berisikan endorsement online shop.


Ternyata imbas dari ucapan Rama berarti banyak untuk Adit. Kekasihnya sekarang menuliskan kembali keterangan endorsement di bio Instagram nya. Padahal sejauh yang ia tau, Adit tidak ingin melanjutkan karir nya sebagai selebgram.


"Mas sibuk ngga?"


"Aku lagi belajar Sen mau ada ujian, bentar ya tanggung. Nanti aku video call."


Desember sepertinya menjadi bulan sibuk seluruh mahasiswa sebelum libur akhir tahun, tak terkecuali Adit.


"Kangen?"


"Nggak."


"Aku doang berarti yang kangen."


"Kangen siapa?"


Sena ingin mendengar Adit menyebut namanya. Selama berhubungan bahkan Adit belum pernah mengungkapkan perasaan sayangnya untuk Sena.


"Kangen orang yang ngga kangen aku."


"Teteh?"


"Mulai..."


"Ya aku kan ngga tau siapa orang yang kamu kangenin. Mungkin aja teteh kan?"


Adit sebenarnya lelah, tubuhnya terasa tidak enak akibat suhu Jepang yang sedang di musim dingin.


"Iya mungkin."


Sakit, hati Sena. Sena hanya ingin mendengar sekedar kata rindu untuknya.


"Nanya aku sibuk atau ngga cuma mau nanya ini?"


Adit bangun dari kursi belajarnya mengambil ipad yang tergeletak di kasur.


Sena menarik nafas, mengumpulkan stok sabar di dalam dada nya. Mungkin jika yang sedang dihadapannya Damar, Sena akan tetap dengan ego nya, tidak mau mengalah. Namun kini di hadapannya Adit, laki-laki yang kini sangat ia sayangi.


"Mas open PP lagi? Katanya ngga mau open lagi." (PP, paid promote : promosi berbayar)


"Demi orang yang katanya biasa pake barang brended."


Adit masih kesal disinggung soal Mita, hingga enggan menyebut Sena dalam kalimatnya.


"Aku?"


"Siapa lagi? Mita? Bisa ngga sih kamu jangan hubungin aku sama masa lalu lagi? Aku serius ngomong ini. Bisa ngga?"


"Mas marah?"


"Iya aku marah."


Sena memutuskan sambungan video call, karena matanya terasa perih, ingin menumpahkan air di belakang kelopak matanya.


*****


Tanggung ya ceritanya 😂😂


Komen, like, vote dulu yuk hari ini aku UP dua Kali deh 😁


Sukabumi hujan dari subuh, pengennya selimutan sambil scroll IG aja ini the 😌

__ADS_1


__ADS_2