
Di perjalanan menjelang Maghrib, Rama bertanya karena rasa ingin tau yang tidak dapat dibendung lagi.
"Sayang, kamu kapan terakhir haid?"
"Kapan ya? Aku lupa."
"Periksa ke dokter ya?"
Mita diam, beberapa kali tes kehamilan menggunakan tespek dengan hasil negatif membuatnya semakin takut.
"Kalau aku ngga hamil juga gimana? Abang mau poligami?"
Selalu nyambung ke poligami, pikir Rama.
Rama meletak pulpen dari genggamannya.
"Kamu ngga malu ngomong gitu ada Pak Karman?"
Rama memegang kepalanya.
"Bapak kalau istrinya kayak gini gimana Pak?"
Tatapannya kini menatap Pak Karman yang posisi nya berada di depan.
"Harus sabar, Den..."
"Tapi apa susahnya periksa? Ngga mau ke dokter ya periksa dulu sendiri di rumah. Dan ngga usah nyambung ke poligami, dimana korelasinya? Ucapan itu doa, Mita. Jangan kasih pilihan lain yang bahkan ngga terlintas di pikiran aku."
"Kamu ngomong kayak gitu karena ngga pernah ngerasain jadi aku. Aku perempuan, istri, dimana pusat kehamilan ada di aku. Kamu kaya nge-push aku untuk hamil, what should I do? Kalau Tuhan belum kasih?"
"Kamu mah omongannya suka kemana-mana."
Rama tidak pernah merasa push Mita untuk hamil. Yang ia lakukan selama ini hanya sebagai bentuk usaha untuk memiliki anak.
"Tanpa Abang suruh, aku juga suka periksa sendiri tanpa sepengetahuan Abang. Hasilnya apa? selalu negatif. Aku juga mau punya baby, bukan kamu aja. Tapi semakin banyak hasil negatif yang aku terima, semakin bertambah ketidakpercayaan diri aku. Aku juga belum siap ke dokter, aku takut hasilnya semakin membuat kamu kecewa. Aku takut kamu kecewa dan ninggalin aku."
Mita menutup matanya sambil terisak, tangisannya mengiris hati siapapun yang mendengar. Tidak peduli dengan kehadiran Pak Karman di tengah-tengah mereka.
Pak Karman mengurangi kecepatan laju mobil, tidak tega melihat Mita menangis. Sementara Rama membalikan badannya tidak ingin melihat Mita menangis tapi juga tidak ada usaha untuk menenangkan sang istri.
"Neng Mita nya tenangin dulu, Den. Saya kasihan dengarnya."
"Disini ngga ada yang kasihanin saya?"
Rupanya kadar egois Rama sedang meningkat.
Mita menangis sampai tertidur di mobil. Lelah seharian berbelanja, lalu menangis membuatnya merasa butuh istirahat.
"Kamu kuat, kamu hebat, semangat sidang di depan mata !"
Mita menuliskan instagram story sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.
Sena yang membaca IGS Mita, meng-capture lalu mengirimkan kepada Rama.
"Kalian oke?"
"Sayangnya nggak."
Rama membalas pesan Sena singkat, jelas dan padat.
"Maaf Den kalau saya ikut campur. Kunci dari pernikahan yang langgeng itu sifat mengalah dari suami, Den. Hal-hal seperti ini sangat sensitif buat perempuan."
Pak Karman berusaha menasehati Rama yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
"Tapi ngga ada yang ngertiin posisi saya, Pak. Istri sendiri bahkan ngga bisa ngerti permintaan sederhana saya. Maaf Pak Karman, saya tinggal tidur dulu. Saya capek, Pak."
Rama pun lelah, seharian pikiran dan tenaganya terkuras karena pekerjaan dan karena menuruti kebanyak mauan Mita juga.
Mita yang setengah sadar masih bisa mendengar ucapan Rama kembali menangis.
Begitu sampai apartemen, Rama langsung berganti baju, shalat lalu bersiap tidur. Malam ini ia tidak ingin memeriksa dokumen apapun. Meski ingin memeluk Mita dengan mata sembabnya, namun ego nya sebagai laki-laki kali ini ingin ia tunjukan.
Rutinitas malam pasangan pasutri ini biasanya minum segelas air putih sebelum tidur. Begitu papasan di pantry, dengan segenap keberaniannya Mita menarik tangan Rama untuk memeluk, namun Rama menolak. Penolakan pertama dalam hidupnya dari laki-laki. Rasanya sakit.
Ini adalah pertengkaran terbesar nya selama 5 bulan menikah dengan Rama, bahkan selama menjalin hubungan dengan Rama.
"Bang, aku minta maaf kalau ada kata-kata aku yang salah."
"Aku capek, Mit. Aku mau tidur."
"Besok aku ke kampus ya, aku mau laporan magang dan persiapan sidang, aku bawa mobil ya?"
"Lakukan yang pengen kamu lakukan."
Bahkan Rama tidak mencegahnya membawa mobil. Dua bulan lalu Mita belajar mobil karena ingin bisa nyetir agar bisa berangkat ke kampus tanpa perlu diantar Rama ataupun supir.
"Kan ada supir, ngapain nyetir sendiri?"
Saat itu Rama tidak setuju Mita nyetir sendiri, karena menurutnya berbahaya dan buang-buang waktu.
"Aku ngga terbiasa merepotkan orang lain, Bang."
"Jadi aku ngerepotin Tarjo?"
"Nggak, Pak Tarjo kan kamu gaji. Tapi kalau aku bisa nyetir sendiri kan Pak Tarjo bisa melakukan pekerjaan lain. Dulu aku terbiasa naik motor lho Bogor Cianjur."
"Beda dong Mita sekarang sama dulu."
Saat itu Rama sudah malas berdebat mengenai setir-menyetir. Akhirnya dengan terpaksa Rama mendaftarkan di lembaga kursus setir profesional agar keamanan Mita terjaga.
Keesokan pagi nya Rama bangun lebih awal, menyiapkan baju dan sarapan sendiri. Hingga membuat Mita kesal kembali.
"Aku semalam udah mencoba ngalah sama Abang. Tapi sampai pagi ini Abang masih marah sama aku."
Rama tidak menjawab, bahkan terlihat semakin sibuk melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan Mita. Padahal setiap harinya, untuk sekedar segelas air saja Rama meminta Mita ambilkan untuknya.
"Fer, gua ikut mobil lu ke kantor."
Rama menghubungi Fery karena sedang tidak mood membawa mobil. Sialnya mood nya belum membaik pagi ini.
"Aku berangkat duluan."
Tanpa kecupan hangat pagi hari, air mata Mita mengalir kembali. Saat sedang mencuci piring bekas spageti bolognes buatan Rama, ponselnya berdering berharap permintaan maaf dari Rama.
"Bestie semalam nyampe jam berapa?"
Sayangnya harapan hanyalah harapan.
"Jam 8 kayanya Sis."
"Are you oke with my brother?"
"Ngga tau. Btw, aku mau siap-siap ngampus. Nanti malam aku video call ya, sis sibuk ngga?"
"Mohon maap bukannya saya tidak sopan, tapi kalau malam jadwalnya Ayang."
Bibir Mita mengkerut, membayangkaïn malamnya akan suram jika Rama masih marah namun tak ada teman bicara.
Selesai membereskan pakaian yang akan di laudry dan menyapu apartemen seperlunya, Mita segera bersiap ke kampus.
Sedikit senyum simpul terlukis di wajahnya.
"Finally, bawa mobil sendiri."
Meski dengan cara yang tidak diinginkan.
Namun begitu mendekat ke arah mobilnya, Mita keheranan karena lampu mobil menyala. Padahal ia tidak memencet tombol apapun di remote kunci mobil.
Tak lama keluar Pak Tarjo hendak membukakan pintu untuk Mita.
__ADS_1
"Pagi Neng, Aden nyuruh saya anter Neng Mita ke kampus."
"Semalam katanya Abang terserah, ih gimana sih."
"Belum bisa Neng. Neng Mita belum punya SIM."
Meski sebal karena tidak jadi nyetir sendiri, namun Mita merasa senang karena ternyata Rama tidak seacuh yang ia pikirkan.
Sesampainya di kampus, Mita menemui teman-teman kelompok persentasi laporan magang dan sidangnya karena tidak terasa waktu datang begitu cepat. Mendaftarkan diri lalu melihat persyaratan apa saja yang harus ia siapkan.
"Kita harus dateng persentasi temen kita 5 orang dan sidang 5 orang gitu maksdunya?"
Mita membaca persyaratan sidang dari poin a sampai dengan k.
"Lo kemana aje sayang? Sibuk banget dah."
Irma menjawab pertanyaan Mita dengan heran. Persyaratan dasar kayak gini aja ngga tau? Kemana aja lo !
"Tempat aku PKL ngasih banyak banget kerjaan, ngga sempet ke kampus."
"Lo jujur sama gue ya, Mita. Lo udah nikah kan?"
Deg.
"Kata siapa?"
Mita masih mencoba berkelit untuk menutupi pernikahannya.
"Kata Bu Dewi. Anjim banget lo nikah sama yang punya pabrik kan? Gila, gua harus berguru sama lo."
Mita teringat Bu Dewi, salah satu dosennya yang beberapa bulan supervisi ke pabrik.
"Bukannya lo balikan sama Rama ya?" Niken merapatkan duduknya. Rindu dengan Mita yang sudah lebih dari 5 bulan tidak bertemu karena kesibukan magang.
"Ini."
Mita menunjukan cincin pernikahan di jari manisnya sambil tersenyum.
"Oamygatttt bagus banget. Beda sama cincin gua."
Irma membandingkan cincinnya dengan cincin yang Mita gunakan.
"Ini."
Tak lama Mita juga menunjukan foto di ponselnya. Foto yang diambil beberapa bulan lalu sesaat selesai akad dengan Rama. Foto yang tidak pernah ia publikasikan.
"Ini mah Rama bukan? Katanya yang punya pabrik. Bu Dewi berita nya ngga valid nih."
"Valid kok, Rama yang punya pabrik."
"Hah? yang boneng lu?"
"Gilaa, lu pake pelet apaan Mita? Mau lah gua juga bos nya kaya gini mah. Hoki banget ya Allah !!!"
Mita tertawa melihat Niken yang seperti tidak ikhlas ia menikah dengan bos seperti Rama.
"Tapi guys, tolong jangan di sebar dulu ya. Yang lain nanti-nanti aja dikasih tau nya. Aku lagi ngga pengen banyak diwawancara, fokus sidang dulu."
Selesai mengurus semua administrasi, Mita kembali ke parkiran. Namun bingung karena mobil yang ia naiki bersama Tarjo tadi sudah berganti menjadi mobil kantor dengan plat khusus.
"Pak Tarjo kenapa ganti mobil kantor? Mobil kita tadi mana?"
Begitu masuk ke dalam mobil, wangi mobil berubah. Ia mencium bau Rama.
"Tadi Tarjo langsung pulang. Udah beres? Kemana lagi?"
Kaget, karena yang duduk di balik kemudi adalah Rama, bukan Pak Tarjo.
"Abang kok disini? Ngga kerja?
"Kerjaan aku tinggal. Mau kemana lagi?"
"Aku duduk di depan sendiri aja begini kaya supir?"
Mita baru sadar bahwa duduk di belakang Rama, seolah Rama supirnya.
"Eh iya."
Mita turun dari kursi penumpang menuju kursi di samping supir. Setelah menggunakan seat bealt, Rama tidak segera menginjak gas untuk berangkat.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"
"Kamu ngga mau ngomong apa-apa sama aku?"
Mita mengerti arah pembicaraan Rama. Sejak pagi Rama tidak bisa fokus bekerja. Saat Fery meminta berkas yang ia perlukan untuk follow up beberapa pekerjaan, Rama belum menyelesaikannya juga. Hingga akhirnya Fery menyuruh Rama menyusul Mita ke Bogor.
"Semalam aku udah minta maaf tapi belum dimaafin sama Abang."
Mita menunduk.
"Kenapa minta maaf? Salah kamu apa?"
Sikap Rama masih terdengar dingin, walau sudah lebih bersahabat. Sebegitu inginkah Rama bahwa ia harus mengakui bahwa bersalah?
"Abang mau aku tes kehamilan? Kalau masih negatif gimana?"
"Bukan masalah, aku cuma mau memastikan."
"Di depan sana ada apotek, aku tes di rumah aja. Aku ngga mau ke dokter."
"Kalau suami marah harus gimana?"
Masih ada perasaan yang mengganjal di hati Rama. Mita pun mendekat, memeluk erat.
"Jangan marah lagi, aku sedih."
Airmatanya membasahi punggung Rama. Rama seketika melunak, tangannya kini sudah membalas pelukan Mita.
"Aku udah ngga marah. Jangan nangis."
Rama mengecup kening sang istri.
Mita menarik kepalanya lalu merapatkan dahinya dengan dahi Rama.
"Tau kan alasan aku ngga mau cek? Bukan karena ngga nurut atau ngga sayang kamu, aku cuma takut kamu kecewa."
"Aku ngga apa-apa, tes aja ya."
Rama mencium bibir sang istri, hingga kedua nya larut dalam pusara rindu karena pertengkaran sehari semalam. Begitu panas di tengah rindangnya pohon di salah satu area parkiran jurusan Mita. Hingga tidak sadar bahwa banyak mata yang melintasi parkiran memperhatikan keduanya dengan seksama.
"Itu si Mita? Edan kalem begitu ternyata."
Satu dari tiga mahasiswa laki-laki berkomentar.
"Jangan salah, yang kalem malah kadang menghanyutkan."
Ketiga nya pun tak henti membicarakan Mita, bahkan kepada sesama nahasiswa lain. Hingga sampai di telinga Niken.
"Lo kalau ngga tau apa-apa ngga usah nyebarin yang nggak bener ! Mulut lo kaya cewek !"
Niken si blak-blak an memperingat lali-laki yang biasa dipanggil Iyan. Kalau bukan karena Mita yang meminta nya "silent" tentu ia akan mengatakan bahwa Mita dan Rama sudah menikah.
*****
Damar menatap atap-atap langit kamar flat nya. Flashback semua kenangan bersama Sena yang tidak mungkin ia rasakan kembali.
"Apa aku bisa lupain kamu, Sen?"
Damar berdialog sendiri. Seolah Sena ada di hadapannya, berharap tangan Sena di genggamannya.
__ADS_1
"Susah banget ya Allah !!!"
Damar teriak, kesal dengan diri sendiri. Lalu merenung, beberapa bulan ini ia meninggalkan shalat, ia pun menangis kembali. Persis seperti tangisan pertama di hadapan Pak Gunawan tadi.
Sekian lama tidak bersujud, Damar ternyata rindu Tuhan-Nya. Begitu sujud, tangisannya pecah kembali. Damar mengangis sesegukan hingga sajadah yang ia gunakan basah oleh airmata. Tapi anehnya, tagisan dalam sujud membuat hatinya plong. Rasanya pun berbeda dengan menangis biasa yang membuat matanya berat dan membengkak. Sedangkan kini, matanya tidak merasa berat sama sekali.
Damar melirik kalender di meja belajarnya. Memastikan bulatan-bulatan yang sudah ia lingkari. Lalu mengambil keperluan pribadinya berupa beberapa helai pakaian, laptop, charger, kamera. Done.
"Bismillah aja dulu."
Damar bersiap untuk pulang.
"Yah, besok tunggu Damar."
Pesan yang ia ketikan untuk kapten yang akan menerbangkan pesawat boeing A330-300 buatan Eropa menuju Jakarta besok siang.
Pak Gunawan menarik nafas panjang, segala usaha sudah ia lakukan untuk Damar tapi sepertinya belum berhasil. Meski demikian, ia sudah menyiapkan alternatif lain untuk pendidikan Damar.
Setelah semalam Damar berkemas untuk kepulangannya hari ini, kini ia sudah siap untuk membereskan kamarnya, yang ia baru menyadari sangat berantakan. OMG.
"Kamar siapa sih ini, kandang ayam !"
Damar menggerutu sendiri melihat pakaian kotor dan sampah tersebar di beberapa titik. Lalu ia membungkus pakaian kotor untuk dikirim ke laundry. Damar juga menyalakan vacuhm cleaner untuk membersihkan debu di sofa, karpet dan tempat tidur nya. Ia lupa sudah berapa bulan tidak melakukan bersih-bersih seperti ini.
"Lu sibuk apaan sih, Mar !"
Lagi-lagi Damar bicara pada dirinya sendiri.
Setelah semua dirasa bersih, Damar bersiap ke bandara dengan menenteng pakaian kotor yang akan ia simpan di laundry apartemen. Meski masih ada waktu 3,5 jam, Damar ingin menunggu di bandara saja.
Begitu menunggu ayahnya dekar counter check in, Damar seperti melihat orang yang ia kenal. Perempuan muda seumuran dengannya.
"Liv, ngapain ?"
Adit melihat Olivia, teman SMA nya yang juga teman dekat Sena.
Seseorang yang dimaksud Damar, menoleh ke arah suara.
"Damar? Di Jakarta ngga pernah ketemu, sekalinya ketemu disini. Gua mau balik. Lo mau balik ke Jakarta?"
"Gua jarang balik. Lu ngapain disini? Abis jalan-jalan?"
"Jalan-jalan sambil usaha."
Oliv tertawa.
"Usaha apaan?"
"Gue buka jastipan, sebulan sekali gua ngebolang kesini."
"Eh iya bawaan lu udah kaya yang mudik. Jastipan semua? Kepikiran anjir, gua yang kuliah disini ngga kepikiran. Cewek sekarang kreatif-kreatif, salut."
Oliv mengangguk tersenyum.
"Lumayan lah hasilnya. Hobby gue kan belanja, tapi kalau gue balanja mulu kan tekor. Terpikirlah untuk belanjain orang, bonusnya dapet cuan sekalian healing. Anyway, feel sorry buat lo sama Sena ya."
Meski tidak sedekat saat SMA, namun Sena, Oliv dan Dinda masih tetap saling berbalas story ataupun
M. my
"It's oke, gua sekarang udah lebih baik. Sama cowok lo yang waktu itu masih?"
"Yang mana? Si kampret?
Damar tertawa, bertemu teman lama membuatnya merasa lebih baik.
"Anjir jadi kampret. Udahan?"
"Udah lama sih 2 tahun kali ya. Lu tau kenapa gua putus?"
"Anjir seru nih. Kenapa?"
"Dia ngehamilin cewek lain. Gila kan !"
Emosi Oliv tersulut kembali mengingat kejadian 2 tahun lalu.
"Hah?? Yang bener?? Terus gimana?"
"Astaga, bener lah. Ya kali gua ngada-ngada."
"Anjir, bisa-bisa nya."
Damar benar-benar tidak habis pikir.
"Jangan-jangan lu udah di apa-apain sama cowok lu? Ya Allah ngga nyangka gue."
"Najis, enak aja. Alasan dia begitaun sama itu cewek, karena gua ngga mau begitaun sama dia. Dia pikir gua semurahan apa? Gua bandel-bandel gini masih tau batas. Mendinga gua patah hari sebulan dua bulan, daripada hamil duluan. Amit-amit dah."
Damar tertawa melihat Oliv yang bercerita penuh dengan semangat.
"Awalnya gua kesini karena trip patah hati, eh jadi kepikiran jastip. Yaudah sekalian."
Damar mengangguk-menangguk mendengar cerita Oliv. Lalu ponselnya bergetar, telepon masuk dari Pak Gunawan.
"Aku deket counter check in, Yah. Ini ketemu temen. Iya aku nunggu disini."
"Bokap lo disini juga?"
"Gua ikut flight bokap gua, hari ini dia kaptennya."
Oliv tampak mengingat-ngingat.
"Ohh iyaa, bokap lo kan pilot ya? Enak lah lu bisa terbang kapanpun."
Damar tertawa.
"Nggak lah, lu kira bokap gua supir angkot."
Seorang pria baruh baya dengan pakaian pilot menggeret koper berwarna silver menuju Damar dan Oliv. Oliv yakin bahwa orang tersebut adalah Ayah Damar.
"Ini Oliv, Yah. Temen SMA aku, ngga sengaja ketemu disini."
Oliv membungkukan badan sambil mengulurkan hendak salaman.
"Siang, Om."
"Siang."
Pak Gunawan tersenyum.
"Kamu ikut Ayah, karena kamu masuk manifest Ayah, bukan penumpang umum."
Damar mengangguk mengerti, lalu pamit kepada Oliv.
"Semoga ketemu lagi ya di pesawat. Eh lu pake GA kan?" (GA \= Garuda)
"Iya."
Setelah meninggalkan Oliv cukup jauh, Pak Gunawan merangkul seraya berbisik kepada Damar.
"Lumayam, pepet lah."
Damar tertawa.
"Apaan sih, temen doang. Lagian kita beda, Yah."
"Beda apanya? Sama-sama manusia."
"Tuhan memang satu, kita yang tak samaaaaaa."
__ADS_1
Damar bernyanyi dengan sumbang yang disambut dengan tawa Pak Gunawan.