Cinta Mita

Cinta Mita
Overthinking (2)


__ADS_3

"Tetehhhh."


Suatu siang Sena menelpon Mita yang sedang bersiap persentasi kepada para supervisor mengenai kegiatan yang sudah ia lakukan selama magang di RM Food. Setelah persentasi, kepala supervisor yang dijabat oleh Pak Rizal akan memberikan nilai yang nantinya digunakan sebagai acuan kelulusan Mita di kampus.


"Kenapa cinta?"


Meski seumuran, kini Mita merasa Sena adalah adik manjanya. Mungkin karena pengaruh dari Rama yang kerap memperlakukan Sena seperti anak kecil, hingga ia pun memperlakukan Sena demikian.


"Pulang dong, aku mau pulang tapi males kalau sepi."


"Kamu kapan pulang?"


"Jumat pagi berangkat, mumpung ngga ada kelas."


"Oke, aku Jumat sore ya pulang kantor suamiku."


"Jelas amat nyebut suaminya. Suamimu adalah Kakak ku."


"Biar yang disana juga cepet punya suami."


Mita memang sangat menjaga pergaulan, takut jika dua insan yang sedang dimabuk asmara khilaf. Terlebih Sena perempuan yang ekspresif cenderung agresif, tidak berbeda jauh dengan Rama.


"Aamiin yang paling aamiin."


Sena menjawab doa kakak ipar dengan serius.


Hari yang dimaksud Sena akhirnya tiba. Jumat sebelum waktu dzuhur, Sena sudah mendarat dengan cantik di kediaman kedua orangtua nya.


Seperti biasa, di hari kerja waktu siang rumah selalu sepi. Sena jadi teringat dengan percakapannya terakhir dengan Rama saat di Bandung tempo hari mengenai kemungkinan bahwa Mita hamil.


"Teteh jadi hamil ngga ya?"


Tanya nya dalam hati. Pertanyaan yang terlalu sensitif jika ditanyakan langsung kepada Mita. Mungkin akan ia tanyakan kepada Rama nanti.


"Mas, lagi ngapain? Sepi banget hanphone aku kaya jomblo."


Meski sedang menyelesaikan gambar-gambar buatannya, nyatanya Sena selalu teringat Adit. Sudah lebih dari 24 jam pesannya belum di respon Adit.


Video call pun terjadi, ternyata ponsel Adit nyelip ! Terlihat seperti alasan yang dibuat-buat, namun tidak ada alasan untuk tidak percaya Adit.


Selepas Isya, Rama dan Mita baru sampai saat Sena dan Bu Lia sedang makan malam. Sementara Pak Romi, tentu saja masih di rumah sakit melayani pasien-pasien tercinta. Seringkali menjadi pertanyaan kedua anaknya,


"Apa ngga capek?"


Pak Romi hanya menjawab,


"Itu yang dinamakan pengabdian dokter. Kami sudah disumpah untuk itu."


Hingga tidak terlintas dibenak keduanya untuk mengikuti jejak sang ayah.


Begitu masuk rumah melalui pintu samping yang terhubung dengan garasi mobil dan ruang makan, pandangan Mita langsung tertuju pada bolen pisang yang sudah terbuka di atas meja.


"Assalamualaykum. Lagi makan malam apa nih."


Rama mencium pipi Bu Lia yang sedang menaruh tempe goreng ke dalam piringnya yang sudah berisi nasi hangat dan acar mentimun. Sementara di samping piring sudah tersaji semangkok sop kambing yang masih mengepulkan asap untuk menghangatkan tubuh malam ini.


Suara Rama mengagetkan Sena yang sedang fokus dengan ponselnya. Sena sedang mengamati kamar Adit yang berbeda dengan biasanya. Meski demikian Sena tidak banyak bertanya, ingin tau sejauh mana Adit jujur kepada dirinya.


"Makan belum Kak? Makan bareng sini, udah lama ngga makan bareng."


Bu Lia menarik dua kursi untuk anak dan menantunya. Mita mencium tangan dan cipika cipiki dengan ibu mertua dan adik ipar menanyakan kabar.


"Bumil makan yang banyak."


Rama mengarahkan Mita untuk duduk di kursi sebelahnya.


"Bumil?"


Bu Lia belum nyambung dengan ucapan Rama.


"Siapa bumil?"


"Rama dong. Ya Mita atuh, Mah."


"Ya Allah, alhamdulillah jadi juga. Kata Mama juga apa, ngga perlu program hamil. Kalau sudah waktunya Mita pasti hamil."


Beberapa kali Rama bertanya kepada Pak Romi tentang dokter yang bagus untuk program hamil tanpa sepengetahuan Mita. Namun kedua orang tuanya meminta Rama untuk lebih bersabar, menunggu Mita hamil dengan alami tanpa program apapun.


"Abang kan ngga percaya aku, Mah."


"Bukan ngga percaya. Hmmmm."


Awalnya ingin membela diri, namun ia urungkan demi menyudahi perdebatan.


"Bolen siapa ini?"


Mita tak kuasa menahan rasa ingin pada bolen yang mengganggu konsentrasinya sejak awal masuk.


"Aku bawa dari Bandung. Cobain, enak deh."


Sena mendekatkan bolen ke arah Mita agar bisa lebih mudah Mita mengambil.


"Makan yang banyak, di perut ada calon cucu Mama yang juga butuh makan."


Mita mengangguk, meng-iyakan ucapan Bu Lia.


"Kemarin aku dibuat mencret gara-gara baso aci."


Rama mengingat kembali malam dimana ia harus makan yang menurutnya ngga banget.


"Kok bisa?"


"Ibu hamil ini ngasih aku makan baso aci. Ngga dipakein sambel ngga enak, akhirnya aku pakein cabe-cabean."


"Cabe bubuk Sayang, bukan cabe-cabean yang suka boncengan bertiga itu."


"Iya itu, cabe bubuk. Rasanya better, cuma jadi mules. Demi ngidamnya Bu Mita." (better : lebih baik)


Bu Lia tersenyum, sementara Sena tertawao puas.


"Ngga ikhlas?"


"Ikhlas sayang, aku cuma cerita."


Rama menggelengkan kepala dengan setiap respon Mita yang menurutnya ngegas.


"Abang sih makanannya yang steril-steril doang. Sekalinya makan street food sakit perut."


"Ya bagus, jadi terjaga asupan makanannya. Ngga ada bakteri-bakteri jahat."


"Terkadang tuh kita perlu juga, biar perutnya ngga kaget kalau tiba-tiba harus makan. Aku ngga mules, karena udah ada antibodinya."

__ADS_1


Bicara melawan perempuan terlebih sedang hamil memang tidak akan pernah menang, pikir Rama.


Tiba-tiba Pak Romi muncul, menambah suasana menjadi lebih ramai.


"Kapan sampai?"


"Belum lama, Pah."


Rama bangun, mencium tangan dan memeluk laki-laki yang sudah membesarkan dirinya.


"Calon Kakek baru pulang."


Bu Lia melirik ke arah Rama, mengisyaratkan kepada Pak Romi bahwa Mita sedang hamil.


"Mita hamil? Alhamdulillah. Selamat mau jadi ibu."


Pak Romi mengusap rambut Mita, menantu kesayangan.


"Aamiin, makasih Pah."


Rupanya ia sedang mengandung anak yang ditunggu-tunggu keluarga Rama, senyum Mita bahagia.


"Kan sudah Papa bilang, ibarat main bola kalau kita ngga goal yang salah itu bukan gawangnya, tapi pemainnya. Tapi sekarang kamu sudah teruji permainannya."


"Ada Sena, Pah."


Bu Lia mengingatkan Pak Romi agar tidak terlaru jauh membahas soal ranjang


"Ngga apa-apa, sekalian aku belajar juga. Biar nanti udah siap kalau ada yang datang meminang."


"Pinang dibelah dua kali."


Rama mengejek kiasan Sena.


"Dijaga kandungannya, Mit. Kontrol nya di rumah sakit Papa aja, ke dokter Nila. Rumahnya disini juga, jadi kalau ada apa-apa gampang. Biar Rama juga sering pulang."


"Iya Pah."


"Adit kapan pulang Sen?"


Pak Romi mengambil emping yang tersaji di dalam toples, teringat Adit karena Sena menyinggung soal pinangan. Sementara Mita teringat sesuatu. Ia belum share location kepada Adit.


Mita diam-diam mengambil foto Sena yang duduk tepat di sebrang kursinya lalu memgirimkan kepada Adit. Tak lupa mengirimkan lokasi rumahnya, agar besok Adit tidak salah alamat. Adit hanya tersenyum melihat Sena yang sedang menyuapkan sendok berisi nasi dan sop ke dalam mulutnya.


"Lagi sibuk Pah. Kuliahnya udah mulai bimbingan untuk tesis, kerjaannya juga numpuk."


"Banyak-banyak nabung untuk masa depan, kasih tahu Adit. Di Jepang kan serba mahal, jangan terlalu boros."


"Adit mah boros. Sena dikirim uang 10 juta. Tiap bulan kan Sen?"


Sena menghentikan pergerakan sendok di tangan, kini tatapannya menatap Rama tajam.


"Bener kan?"


Rama tidak merasa bersalah telah membocorkan masalah transferan Adit.


"Uang buat apa?"


Pak Romi penasaran. Uang sebanyak itu untuk anak kuliahan terbilang besar untuknya.


"Kata Mas Adit buat pegangan aku, kalau aku mau beli sesuatu ngga harus minta Papa Mama. Kalau ngga kepake disuruh tabungin. Aku ngga minta, sumpah demi Allah. Aku juga suka beliin barang buat dia pakai uang itu."


Pak Romi terdiam memikirkan sesuatu. Sepertinya tak lama lagi ia akan menggelar hajat untuk Sena. Mendapatkan menantu seperti Adit saat ini bukan perkara mudah.


Bu Lia juga tidak setuju memgenai transferan dari Adit.


"Aku cuma menghargai pemberian dari Mas Adit. Niat dia baik, mau belajar untuk tanggung jawab sebelum menikah. Katanya... meski nominalnya belum penuh seperti jatah untuk aku kalau sudah jadi istrinya nanti, setidaknya dia sudah harus belajar memenuhi kebutuhan aku."


Pak Romi menganggukan kepala.


"Papa dulu kasih Mama berapa waktu awal nikah?"


Pak Romi membandingkan jatah yang ia berikan untuk Bu Lia saat awal menikah dengan jatah dari Adit untuk Sena.


"Berapa ya, tiga juta kayaknya. Belum dipotong ini itu. Bayar kuliah master Mama, spesialis Papa, rumah, bensin motor, ah pusing deh kalau dulu."


Bu Lia tertawa mengingat perjuangan awal pernikahan, menghemat pengeluaran agar bisa sekolah lagi.


"Belum nikah udah dikasih jatah. Adit ngga suka minta jatah kan?"


Rama bertanya sambil mengambil nasi piring kedua.


"Jatah apaan?"


Sena santai meski pembicaraan Rama sedikit memancing kekesalannya.


"Imbalan, minta PAP misalnya."


"PAP kan ngga selalu negatif Kak. Adit suka minta PAP aku. PAP pas aku belajar, pas aku makan, pas di jalan. PAP juga kan itu. Adit ngga pernah minta PAP macem-macem. Mungkin itu Kakak dulu sama Teteh, kita mah NO ! Coba bersihin Teh, otak suaminya. Kotor terus pikirannya."


Sena kesal, mengaduk-ngaduk sop kambing miliknya.


"Iya ih, Abang julid terus ke Adit."


"Cuma nanya..."


Rama menjawab santai. Sementara Sena bangun, tidak menghabiskan nasi di piringnya.


"Mau kemana? Makannya belum habis."


Pak Romi heran dengan kelakuan anak perempuannya.


"Papa habisin ya. Aku mau video call Adit. Aneh ini dia dimana ngga bilang, kasurnya beda sama apartemennya di Tokyo."


Mita tersedak bolen pisang, kaget dengan pertanyaan Sena.


Sena bergegas masuk kamar sambil menekan tombol video call Adit, namun panggilan kedua baru diangkat.


"Lagi ngapain, Non?"


"Lagi nunggu kabar. Kalau ngga aku call, kayanya Mas ngga akan inget aku."


"Kata siapa? Aku rindu setengah mati."


Adit tadi sedang makan malam dengan keluarganya. Menyebabkan ia lama mengangkat panggilan dari Sena.


"Bohong."


"Aku ngga suka dibohongin, jadi aku ngga suka bohong."


"Mas ngga mau ngomong ke aku?"

__ADS_1


"Ngomong apa? Non mau ngomong?"


"Mas yang ngomong, bukan aku."


"Aku ngga ada cerita apa-apa."


"Oh."


"Oh doang?"


Adit deg-degan, khawatir Sena marah. Namun ia harus komitmen, tinggal menunggu besok untuk memberi Sena kejutan.


"Aku jadi ngga enak perasaan. Uang jajan masih ada?"


Jiwa suami idaman mulai tertanam di diri Adit. Memikirkan jatah untuk pasangan meski masih belum menjadi tanggung jawabnya.


"Masih."


"Mau di transfer lagi? Aku transfer lagi ya?"


"Ngga usah. Aku cuma pengen denger Mas ngomong, jujur sama aku."


"Ngomong apa? Aku dari tadi ngomong sama kamu."


"Mas lagi dimana?"


"Gimana?"


Adit berharap pendengarannya salah.


"Mas lagi dimana? Ngga lagi di apartemen kan?"


Adit belum memikirkan alasan jika Sena bertanya dengan pertanyaan tadi. Padahal ia sudah memilih tiduran di kasur agar Sena tidak sadar dengan background nya saat ini.


"Aku lagi di kamar."


"Kamar siapa? Mas ngga cerita kalau lagi ngga di apartemen."


"Ini kamarnya Hiro. Dia sekarang tinggal di apartemen, jadi tetanggaku."


Adit asal menyebut nama temannya di kelas bahasa Inggris.


"Mana Hiro nya? Aku ngga denger suara siapa-siapa dari tadi."


Sena yakin Adit tidak sedang di kamar Hiro.


"Lagi keluar, beli makan. Emang kamu pikir aku lagi dimana? Kamar perempuan?"


"Kalau bukan di kamar perempuan kenapa Mas ngga jujur. Mas harusnya lebih tau lagi dimana."


"Aku di kamar... Sumpah ngga bohong."


"Ya ya ya."


"Non lagi capek? Jadi overthinking. Lagi banyak tugas?"


"Aku pengen nangis, pengen marah, pengen tutup video call nya, tapi ngga bisa, aku kangen. Itu bukan kamar Mas, bukan juga kamar Hiro. Hiro lagi ngga di Tokyo kan? Dia lagi di Kyoto aku liat story nya."


Adit tersenyum tipis, seketika sadar bahwa Sena orang paling detail dengan ingatan yang baik yang ia kenal.


"Sok nangis, aku liatin. Aku juga kangen, pengen peluk."


"Mas mah jahat."


"Aku ngga jahat, aku jujur. Siapa laki-laki yang lebih jujur dari aku? Ngga akan ada."


Sena menangis, kecewa dengan jawaban Adit. Sena benar-benar yakin Adit menutupi sesuatu darinya.


"Pengen hapus airmata kamu, tapi ngga bisa."


"Aku ngga mau di sentuh orang yang ngga jujur. Orang yang bikin aku nangis."


"Kamu nangis karena pikiran kamu, bukan karena aku."


Sena menutup wajahnya yang memerah, membuat Adit tidak tega.


"Aku tau Mas ngga bohong, tapi Mas ngga jujur. Sesusah apa bilang lagi dimana."


"Aku di kamar Non Sena sayang, aku udah bilang dari tadi bahwa aku di kamar. Aku melakukan yang menurutku benar."


"Sejak kapan ngga jujur sama pasangan jadi hal yang benar."


Sena bertanya dengan lirih. Rindu namun kesal dan marah. Ingin rasanya memukul-mukul Adit saat itu juga.


"Udah nangisnya. Aku sayang kamu, Non."


"Sayang tapi ngga mau jujur. Kok bisa ?"


"Khusus aku, bisa... Udah nangis nya... Nanti aku bolos kuliah demi terbang buat hapus airmata kamu."


Adit tidak tega, sekaligus tidak sabar ingin memeluk Sena.


"Dit..."


Terdengar suara perempuan memanggil Adit. Tentunya suara perempuan muda. Adit panik, sementara Sena kaget bertambah curiga.


"Itu suara siapa, Mas?"


"Aku call kamu lagi nanti. Kamu tidur, jangan mikir macem-macem. Besok kita jadi kondangan. Udah ya Non."


Setahun terakhir kenal dengan Adit, membuat Sena mengerti bahwa "Ya Sen" ataupun "Ya Non" adalah sebuah kalimat pendek berisi perintah dari laki-laki berbudi baik yaitu Adit. Sena tidak berani membantah.


"Iya Mas."


Sempat-sempatnya membahas kondangan, pikir Sena. Sena tidak sadar dengan ucapan Adit yang menyebutkan kata "kita" karena larut dalam kecewa.


Meski overthinking menghantui Sena, Sena mencoba berprasangka baik kepada Adit.


"Aku mencoba percaya kamu."


Ucap Sena pada diri sendiri.


*****


Hallooo, meski telat tapi ngga apa-apa daripada ngga.


Selamat Idul Fitri teman-teman 😍😍


Terima kasih sudah setia membaca novel "Cinta Mita" sampai episode ini.


Semoga ngga ngebosenin. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen & vote nya ya.

__ADS_1


Nuhunn


__ADS_2