
Adit dan Sena mengitari buffet breakfast di resto hotel yang menyajikan makanan standard hotel bintang lima, tentu saja dengan makanan Jepang yang menjadi keunggulan. Dan sushi menjadi point nya. Sushi sendiri merupakan bentuk set dari nasi cuka dengan toping lauk yang bermacam-macam.
Sushi yang disajikan oleh Keio Plaza Hotel sangat istimewa. Mulai dari nigiri sushi yaitu nasi cuka kepal yang diatasnya diberi ikan, chirashi sushi yang berupa nasi cuka disajikan di atas mangkuk lalu diatasnya ditaburi ikan, hingga makisuhi yaitu nasi cuka yang digulung dengan ikan dan rumput laut, dan banyak lagi lainnya.
Sena si penggila makanan Jepang tentu kalap. Ia mengambil setiap jenis sushi. Total ada 17 sushi yang berhasil berpindah tempat ke piring di tangannya.
"Aku makan banyak ngga apa-apa kan?"
"Loh memang harusnya begitu. Ini buffet kan? Jangan sampai rugi udah bayar mahal."
Jawaban Adit membuat senyuman Sena semakin lebar. Memang semudah itu membuat perempuan senang, pikit Adit.
Sena juga mengambil semangkuk miso soup, grilled salmon, sayuran tumis sejenis kailan dan semangkok kecil nasi.
"Yabai. Banyak banget makan aku." (Yabai : gila)
Sena baru sadar setelah melihat tumpukan piring bekas makannya.
"Kamu tau darimana kata yabai?"
"Dari youtuber yang suka aku tonton. Aku kekenyangan asli."
"Nambah?"
Adit bertanya dengan tersenyum. Di luar dugaannya Sena bisa makan sebanyak itu.
"Mas curang banget makannya dikit."
Adit yang sudah sarapan, hanya mengambil beberapa sushi, roti-rotian dan jus.
"Tadi aku udah sarapan."
Sejujurnya makanan Jepang bukan favourit Adit, ia lebih suka sarapan nasi goreng atau mie mawut dengan segelas susu putih hangat seperti menu sarapannya di rumahnya. Dan setahun terakhir hampir setiap hari ia makan sushi, membuat Adit semakin biasa saja terhadap sushi. Namun melihat Sena makan dengan lahap, di luar kontrolnya bibirnya tersenyum.
"What's your favourite?"
"Oinarisan I think." (oinarisan : sushi yang dibalut kulit tahu)
"The real fans sushi. Sampai nama nya kamu hafal."
"Lumayan."
Sena tersenyum mendengar ucapan Adit yang baginya adalah sebuah pujian. Setelah semuanya habis, Sena menutup sarapan pagi hari ini dengan salad sayur dan saus thousand island berwarna orange di ujung piringnya.
Adit memberanikan diri mencium pipi Sena sekilas. Mumpung tidak dilihat Mita.
Selembar tisu Adit ambil untuk mengusap saus thousand island di sudut bibir Sena. Detak jantung Sena tentu saja menjadi tidak karuan. Meskipun Adit juga sama, namun ia berusaha memanipulasi ekspresi wajahnya dengan senyuman.
"Mas cobain deh salmonnya."
Pisau daging berwarna gold Sena gunakan untuk memotong daging salmon. Lalu menyuapkan kepada kekasih tercinta.
"Lumer banget."
Kunyahan demi kunyahan Adit nikmati.
"Enak kan..."
Menjadi kebahagiaan sederhana ketika sesuatu yang kita sukai, disukai juga oleh orang lain. Terlebih orang yang kita cintai.
__ADS_1
"Enak banget."
Tidak mau kalah, Sena pun mengusap sisi-sisi bibir Adit dengan tisu karena bekas-bekas minyak dari salmon.
"Jangan pake tisu."
"Pake apa atuh?"
Adit hanya tersenyum memainkan alisnya untuk menggoda. Tentu memiliki arti yang bisa bikin orang-orang tersenyum.
Seorang pelayan restoran mendekati keduanya membawa piring berisi kue.
Kue berbentuk persegi dengan tulisan,
"Enjoy your stay with loved ones."
"Arigatou gozaimasu."
"With my pleasure."
Bahasa Jepang Adit dijawab dengan bahasa Inggris.
"Dikiranya Mas ngga bisa bahasa Jepang kali ya."
Adit hanya tersenyum.
"Mereka bisa tau ya kita couple."
"Mungkin mereka merasakan getaran cinta kita."
"Eaaaaa."
Adit tidak mampu menahan tawanya.
Untuk kedua kalinya Adit mencium Sena pagi ini. Andai bisa setiap hari. Ahhh !!!
Sekilas Sena melihat seseorang yang kenal memperhatikan ke arahnya. Namun ia tepis karena merasa tidak mungkin.
"Kenapa?"
"Ngga."
Selesai sarapan Sena dan Adit kembali ke kamar. Membuat siapa saja yang melihat akan mengira bahwa Sena dan Adit menginap bersama. Terlebih mereka sedang berada di hotel dan sarapan bersama.
"Hari ini enaknya kemana?"
Lengan tangan Adit tidak lepas dari rangkulan di pundak Sena. Kapan lagi bisa begini?
"Disneyland maybe?"
"Disneysea aja. Mas udah kesana belum?"
"Belum, aku belum kemana-mana."
"Bukannya waktu itu pernah bilang mau keliling?"
"Belum ada waktu. Sekalinya ada waktu mendingan dipake tidur."
Begitu sampai di kamar, Mita sedang makan dengan layanan room service. Sarapannya tadi tidak memuaskan karena terlalu banyak makanan hingga Mita bingung harus mengambil apa.
__ADS_1
"Udah sarapannya? Lama amat."
"Aku kalap sumpah."
"Non, Disneysea sekarang harus beli online untuk tiketnya. Tiket hari ini udah closed. Gimana?"
"Besok bisa?"
"Besok sisa dua orang."
Adit dan Sena menatap Mita secara bersamaan. Memikirkan hal yang sama.
"Kalian aja. Aku mau tiduran aja di kamar. Kalau bosen jalan-jalan sekitar hotel aja."
"Serius ngga apa-apa."
"Kenapa harus apa-apa? Enjoy your time. Kita balik lusa kan?"
"Jangan lusa please. Lusa aku full di festiv."
Adit memotong sesaat sebelum Sena menjawab.
"Yaudah besok."
"Jangan besok atuh Teh..."
Kini Adit memelas meminta dikasihani.
"Besok malem aja. Kamu masih ada waktu lebih dari 24 jam."
Mita degan isengnya mengerjai Adit. Padahal semalam ia dan Sena sudah sepakat untuk pulang Senin sore.
"Parah, tidak berprikebucinan."
Adit melepas topinya. Sena tersenyum dengan ekspresi kesal Adit.
"Senin aja, aku mundurin sehari."
Setelah bersiap 15 menit lamanya, Sena telah selesai dengan celana kulot semata kaki berwarna coklat muda, kaos putih dan topi untuk melindungi diri dari teriknya matahari Tokyo di musim panas.
"Ke Tsujuki Outer Market mau?"
"Itu fish market kan?"
"Pinter pacar aku."
Sena sudah beberapa kali mengunjungi Tokyo, dan Tsujuki Outer Market adalah tempat yag harus dikunjungi jika pergi dengan Bu Lia.
"Ya Allah Mas, aku kenyang banget. Sore aja kesana bisa kan?"
"Jadi sekarang mau kemana?"
"Kemana kaki melangkah aja yang penting sama Ayang. Aku lagi pengen jalan kaki."
"Yakin?"
"Tapi kalau aku capek gendong ya?"
Sena menyadari pertanyaan alay nya didengar oleh Mita hanya menyerngitkan dahi.
__ADS_1
"Dengan senang hati."
Begitu hendak keluar hotel, ternyata ada seseorang yang sudah menunggu Sena dan Adit di lobi hotel dengan wajah tertutupi topi dan masker.