
Adit
Malabar 10 yang kala itu sedang barbeque party entah yang keberapa kali saking seringnya mereka kumpul, kembali heboh ketika secara terang-terangan ia memanggil Mita dengan sebutan "sayang" setelah dua bulan ia resmi menjadi sepasang kekasih.
"Neng sayang mau apa?" ia menawari Mita hasil bakaran sendiri. Ia sudah menyimpan di piring hasil daging, sosis dan potongan jagung bakar spesial untuk Mita.
Beberapa anak yang mendengar terdiam sesaat, kemudian tersadar sesuatu.
"Wahhh gila sih ada couple baru. Hot couple." Vira menjadi orang pertama yang menyadari hubunganya dengan Mita.
Raffi yang sedang menikmati jagung bakar sambil menonton channel YouTube otomotif pun berkomentar.
"Mantap go public bosque." Raffi yang sudah tau hubungannya tersenyum.
''Uuuuu tayang." Rani pura-pura mengelus Citra demi menggoda ia dan Mita.
"Apa sih hot couple, biasa aja aku mah." Mita tampak malu-malu.
"Mas Adit curang, pacaran sama anak kosan. Tapi kita disini ngga boleh bawa pacar." Vira kembali protes.
"Kalau saya kan ga mungkin macem-macem di sini. Kalau kalian mungkin aja." ia tidak mau kalah.
Mita protes karena malu.
"Mas mah, aku malu." wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Mas kan emang sayang." ia hanya tersenyum senang melihat semu merah di pipi kekasihnya.
Dua bulan menjalin kasih, ia mulai sering menunjukan perhatiannya di muka umum. Mengantar jemput Mita saat ia tidak ada jadwal atau pekerjaan, yang paling baru ia memberikan buket bunga mawar merah saat akan mengantar Mita praktikum di kampus dramaga yang jaraknya lumayan jauh.
Saat itu ia mengetuk pintu kamar Mita. Mita yang sudah siap berangkat terkejut dengan buket mawar merah di hadapannya.
"Buat sayang nya aku."
"Makasih Mas." Saat itu ia menggunakan mobil mengantar Mita. Ia yang tengah kurang enak badan memaksa mengantar, sehingga Mita tidak membolehkan ia naik motor.
"Mau Mas antar naik grabcar?"
Mita saat itu terdiam memikirkan sesuatu.
"Naik mobil Mas aja."
Pertama kali nya Mita mau naik si ganteng. Angin yang masuk ke badannya kali ini lumayan bermanfaat.
"Bonus dari aku karena hari dapet bunga."
"Kalau gitu aku tiap hari ngasih bunga." ia menggoda, Mita hanya menjawab "Nggak bisa, khusus hari ini."
Mita pun tak kalah mencoba menunjukan perhatiannya. Hal sederhana yang membuat ia semakin cinta. #eeeaaaa
Membawakan bekal ke kampus, beberapa kali membelikan dosen pembimbing skripsi nya makanan dengan yang hasil gaji nya sendiri. Meskipun sepasang kekasih, ia dan Mita tetap bekerja secara professional sebagai manager dan talent.
__ADS_1
"Mas harus berterima kasih karena dipermudah, proses skripsi Mas termasuk cepat."
"Mas perlu kasih tau dosen ngga, kalau bingkisannya dari calon istri?"
"Ngga perlu." ia selalu senang dengan respon Mita saat di goda. Mood booster terbaik yang pernah ada.
*****
Mita
Malam minggu kali ini suasana barbeque party menjadi lebih menyenangkan karena cinta yang bersemi di hati nya. Tak ada yang menyenangkan hari selain bersambutnya cintanya untuk Mita.
"Aku udah lama ngga liat Mas nge-vape."
"Udah ada kamu. Aku ngga perlu lagi."
Ia yang sedang di awang-awang merasa tersanjung. Seindah ini rasanya dicintai. Dengan Rama ia merasa takut saat Rama menunjukan perasaannya. Cinta nya untuk Rama ternyata masih kalah dengan minder nya. Dengan Rama perasaan dicintai datang bersamaan dengan rasa rendah diri. Dengan Adit ia tidak merasakan hal negatif, bahkan ia merasa dibutuhkan karena Adit menjadikan ia sebagai manager.
"Neng... Mas beli motor yang gedean boleh?" saat gigitan kedua jagung bakar masuk ke mulutnya Adit menatap nya meminta izin beli motor baru.
"Kenapa nanya ke aku? Beli nya pakai uang Mas, ngga perlu nanya ke aku." ia tidak ingin membalas tatapan Adit. Ia heran kenapa laki-laki seringkali membeli barang yang tidak terlalu penting? Motor, mobil dengan harga ratusan juta hingga milyaran. Tidak cocok dengan jalan berpikirnya.
"Aku takut kamu ngga mau aku anter pulang pake motor gede." Tangannya sudah dalam genggaman Adit sekarang. Adit benar-benar meminta izin.
"Aku ngga nyaman jadi pusat perhatian, Mas kan tau. Lagian mahal-mahal buat apa toh ngga masuk akal harganya, yang ada juga masih bisa dinaikin." nadanya mulai naik sedikit. Saat ingin melanjutkan omongannya, Adit sudah memotong.
"Yaudah jangan marah. Aku nanya, kalau ngga boleh yaudah aku ngga jadi beli, ngga usah diperpanjang." Adit pergi meninggalkannya, ia tersenyum kecut.
Adit mendekati Raffi yang masih asik nonton YouTuber otomotif terkenal yang membahas motor.
Pembicaraan nya masih tentang motor yang sama sekali ia tidak mengerti.
"Ngomongin apa Kak?" tanya nya pada Raffi.
"Neng ngga akan ngerti..." Adit yang sedang makan sambil jongkok
menatapnya sedikit mendelik.
"Tapi aku mau tau."
"Couple baru dilarang ribut. Ini motor bagus Adit suka. Ngga boleh beli ya sama nyonyah." Raffi tertawa mengejek ke arah Adit.
"Mas mau beli motor?"
Sifat mengalah Adit yang meminimalkan konflik, membuat ia dan Adit jarang terlibat pertengkaran. Tapi kali ini sepertinya ia perlu mendengarkan alasannya.
"Kalau boleh, kalau ngga boleh ngga usah dibahas lagi. Aku lebih butuh kamu dari motor gede." Adit melembutkan suaranya.
Raffi yang mendengar sedikit melipir ke arah meja, mengisi kembali piringnya dengan sosis.
"Yaudah kita beresin masalah motor."
__ADS_1
"Bentar, saya minggir dulu. Ngga mau ikut campur masalah rumah tangga orang."
Raffi merasa tidak enak jika harus ikut campur.
Adit masih terdiam.
"Makasih udah mau denger aku. Mau adaptasi sama kehidupan aku."
"Udah seharusnya. Makasih juga mau nerima kehadiran aku. Kasus motor udah beres. Aku udah ngga mau."
"Kalau aku bolehin Mas masih mau beli?"
"Ngga mungkin, pasti kamu mikirnya buang-buang uang."
"Emang buang-buang uang kan?" ia memancing.
"Setiap orang kan punya hobby nya masing-masing Neng. Neng suka masak, Mas suka motor. Kaya Ibu Mas di rumah suka nya juga masak. Peralatan dapurnya bahkan lebih mahal dari harga tas yang Ibu punya. Mbak Putri suka nya make up. Harga bedak nya ada yang 5 juta, kalau buat Ibu, Ayah, aku ngga masuk akal harganya. Buat Mbak masuk-masuk aja karena suka. Ngga salah kan? Namanya kesukaan." Adit menjelaskan dengan berapi-api. Sesuka itu dengan motor.
"Yaudah beli."
"Yakin? Kalau kamu ngga mau naik percuma juga Mas beli."
"Aku mau naik, mau tau perbedaan motor gede sama motor beat." mereka tertawa bersama, tapi ia lupa menanyakan harganya.
"Asik, bener ya." Senyum bahagia nya terlihat.
"Harganya berapa?"
"Murah, beneran yang ini murah." Adit menjauhinya berusaha menghindar mendekat ke arah Raffi.
"Mas, berapa harganya?"
"Kak Raffi, harga motornya berapa?" ia setengah berteriak memanggil Raffi.
"300 lebih dikit."
"300 apaan??"
"300juta, ngga usah dikasih beli si Adit. Ngebut-ngebutan nanti dia." Raffi tertawa puas.
"Kamu udah bolehin tadi, aku beli nya sama Raffi aja. Sama kamu nanti ngga jadi yang ada."
"Mas mahal banget 300jut harga motor."
"Kamu jangan PHP atuh Neng. Aku udah seneng tadi."
Ia kesal, motor apa 300 juta?? Tapi melihat Adit kembali lesu ia tak tegaaa.
******
Mohon maaf Tim Mitra (Mita Rama) kali ini harus kecewa 🙏🙏😆
__ADS_1
Aku mau crazy up hari ini, yang mau ngasih sajen ditunggu 😂😂