
Jika cinta itu buta, aku memilih buta untukmu.
Jika cinta bisa memilih, aku memilih tetap mencintaimu.
Buta dengan sadarku, bahwa kamu memang sesorang yang membuatku tidak dapat lagi melihat indah mekarnya bunga tanpa kehadiranmu di sisi ku.
*****
Rama
Setelah pembicaraan pagi itu dengan Papa nya, selepas shalat Magrib ia lantas menghubungi Fery sahabatnya semasa kuliah dulu. Sedikit lebih waras dari Andri.
"Fer, lu di dimana?" ia biarkan TV menyala, padahal kaki bergerak ke balkon untuk menyalakan rokok. Benda yang sudah beberapa tahun tidak disentuh, namun saat ini ia membutuhkannya.
"Di Bandung. Disana gledek apa gimana tumben-tumbenan nelepon gua?''
''Gua lagi sial. Sibuk ngga? Gua mau ke sana, spesial nemuin lu yang sudah lama kurindukan.''
''Najis ****** hahaha. Sial kenapa ? usaha lu lagi pait? Kehormatan banget buat gua pengusaha muda nelpon gua langsung gila, luar biasa.''
''Penjilat.''
Terakhir kali bertemu Fery saat pesta pernikahan sahabatnya itu 2 tahun lalu di Bandung. Fery menikah dengan Rena, teman kantornya saat mereka sama-sama bertugas di Semarang. Padahal kedua nya sama-sama warga Bandung. Yang kemudian dijadikan senjata untuk melakukan pendekatan sampai bisa menikah. Mulai dari mudik bersama, hingga titip menitip sesuatu ke rumah orangtuanya di Bandung saat Rena harus pulang namun ia tidak bisa pulang. Buaya darat tobat juga !
Sambungan telepon sudah berubah menjadi panggilan video.
''Heh, sejak kapan lu ngerokok lagi?''
''Baru ini.'' matanya menerawang.
''Wah lagi pusing banget Mas Yuda.''
__ADS_1
Ia terseyum, Feri masih ingat panggilan kesayangan anggota Bem zaman kuliah dulu. Ia yang banyak diidolakan adik tingkat, seringkali dipanggil dengan ''Mas Yuda''.
''Cewek ini mah, no debat.'' tebakannya selalu jitu.
''Cerita dong cerita, cewek mana yang udah bikin Mas Yuda kita komuk nya mengenaskan gini.''
''Gua deket sama anak asuh nyokap gua. Lu tau sendiri nyokap gua anak asuhnya segambreng. Anehnya dia bisa bikin gua kaya orang gila dari hari pertama ketemu.''
Fery mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia terseyum mendengarkan penuturan Rama. Tidak pernah menyela ucapannya, membiarkan Rama mengungkapkan semua yang ia rasakan.
Begitulah Rama, terkadang hanya butuh teman untuk didengarkan. Seperti Mita yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik untuknya.
''Jangar sirah.'' (pusing kepala) dibuangnya puntung rokok yang sudah mengecil.
Ia sadar betul sifat ayahnya, sulit merubah yang sudah menjadi keputusan hidupnya.
''Ke weh harim mah , gas tipis-tipis kadieu atuh mang. Urang nongkrong.'' (Nanti aja cewek mah, kesini bro nongkrong) (mang-panggilan dekat seperti bro).
Seketika obrolan berubah seperti mendengar dua orang berbicara di alun-alun Kota Bandung.
"Isuk lah ka Bandung, Enin Sono nanyakeun wae. Tong ngekepan pamajikan wae siah urang datang." (Besok ke Bandung, Enin nanya terus. Jangan meluk istri terus kalau gua datang.)
"Sagala isuk, ayeuna we atuh." (segala besok, sekaranga aja)
''Edan, ku kitu ti Dago ka Lembang.'' (Gila, emangnya dari Dago ke Lembang)
terdengar suara tawa lepas keduanya.
"Ehhh ieu mah, buru mumpung beurang keneh. Di dagoan ku urang, di riau nya aya tempat alus."(Jl. riau bandung)
Ia melihat jam yang terletak di sisi depan tempat tidur nya. Jam 18.40 perkiraan bisa sampai Bandung paling tidak pukul 10 malam.
__ADS_1
Segera is berkemas menbawa keperluannya untuk dua atau tiga hari ke depan. Menghirup sebentar udara Bandung mungkin bisa jadi pilihan terbaik untuknya saat ini.
Melepaskan sejenak kepenatan beberapa saat sebelum akhirnya berpikir ulang untuk kedepannya. Ia tidak mungkin melawan ayahnya, namun tetap berat jika harus melepas Mita.
Lengkap dengan tas ransel ia turun ke bawah. Namun tidak terlihat siapapun di ruang TV Dan meja makan.
''Mah, aku berangkat ke Bandung ya.''
Ia membuka pintu kamar ibu nya yang sedang membaca buku tebal tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
''Ada apa ke Bandung? Kabur dari masalah? Nggak mau ketemu Papa?''
Banyak sekali pertanyaannya.
''Mau ketemu Fery udah lama nggak ketemu.''
Malas sekali harus mengatakan alasan utama perginya is hari ini ke Bandung.
''Aku juga butuh waktu untuk berpikir. Aku nggak mau jadi anak durhaka, tapi aku juga udah dewasa bisa memilih yang aku inginkan dan aku butuhkan.''
Akhirnya terucap juga. Akhirnya ibu nya pun mengerti.
''Salam buat Enin, Sena juga suruh jaga kesehatan jangan main terus. Mama belum bisa kesana. Tau kamu mau ke Bandung tadi Mama beli oleh-oleh buat Enin sama Sena.''
''Nanti aja di jalan aku yang tanya Sena sama Enin mau apa.''
''Good boy. Always be my boy.'' Bu Lia mengucup puncak kepala anak laki-lakinya itu.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
__ADS_1
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ