
New York
Kehidupannya hari ini sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani. Terhitung sejak Rama ke Amerika sekitar 1,5 tahun yang lalu, ia mulai dekat dengan Mita. Dan benar-benar menggantungkan hidup dan mood nya kepada perempuan itu.
Dalam pesawat saat berangkat, ia masih membayangkan akan memberi Mita surprise bahwa ia juga ikut ke Amerika untuk menjaganya dari laki-laki yang ia anggap brengsek, yang berniat mengambil Mita dari sisinya. Mengajak Mita keliling Amerika berdua selama yang Mita inginkan, kalau memungkinkan mengambil jatah libur alias absen.
Tapi nyatanya, Mita lah yang memberikan ia kejutan.
Semua bayangan itu perlahan hilang saat Rama mencium Mita di bandara di depan kedua matanya. Dan bayangan itu benar-benar hilang tak berbekas saat Mita menerima cincin pemberian Rama di pantai kemarin. Begitupun cara Rama memeluk Mita kemarin, adalah impiannya saat di Bali yang ia inginkan dari Mita namun sayangnya tak pernah berwujud.
Ingin rasanya berteriak saat itu, melihat kekasih mesra dengan laki-laki lain bagaimana rasanya? Rasa kecewa nya terlampau dalam hingga tak ada energi untuk bereaksi.
Mbak Putri adalah orang pertama yang melihat story nya yang berisi foto Rama dan Mita. Padahal saat itu di Jakarta sudah tengah malam, seharusnya Putri sudah tidur. Apakah tanda bahwa kakak nya memang sudah merasakan hal yang tidak baik tentang dirinya dan Mita?
"Kamu dimana?"
Energinya untuk menjawab bahkan tidak ada lagi, seperti habis bersama kekecewaan yang dalam.
"Mbak ngerti posisi mu, kamu langsung pulang apa gimana? Jawab Mbak, jangan bikin khawatir."
Keluarga memang tempat terbaik untuk kembali. Seterpuruk apapun, yang pertama menolong nyatanya adalah keluarga.
''Aku mau disini dulu. Mbuh lah karo skripsi ku.''
Ia belum ingin pulang, terlalu menyedihkan jika pulang dengan keadaan sakit di hati.
''Yowis, ikut wisuda berikutnya aja kalau gitu jangan memaksakan. Visa mu sebulan toh? Aku transfer buat bekal disana sebulan. Tapi ojo aneh-aneh, kasian Ayah Ibu. Ngerti ora?"
Perasaannya kini seperti di angkat ke atas lalu dihempaskan begitu saja. Sakit.
Beberapa hari lalu Mita masih di sisi nya. Bahkan ia yang mengantar Mita ke rumah Rama karena akan berangkat ke bandara bersama Bu Lia dan Sena.
Padahal hari itu, ia juga langsung ke bandara melakukan penyamaran agar tidak terlihat sebagai Adit. Ia yang biasa hanya memesan kelas bisnis, terpaksa memesan first class agar tidak diketahui Mita.
Masih jelas dalam ingatannya ketika ia merangkul Mita di pinggir pantai Bali. Menikmati ombak dan sunset saat makan malam berdua. Melihat pertunjukan tari kecak di Jimbaran, dan berbagi kehangatan yang mengalir saat saling bergenggaman tangan.
Melihat Mita dengan laki-laki lain, perasaan sakit dan sesak masih ia rasakan namun ia coba tahan.
Terlebih melihat interaksi mereka berdua saat makan malam di apartemen Rama kemarin. Siapapun akan menilai bahwa Mita dan Rama pasangan yang serasi. Semoga kamu bahagia, batinnya menangis.
Setidaknya kita pernah bersama, merasakan kasih sayang kamu yang menenangkan.
Ia memilih melepas Mita, semoga suatu saat kebahagian mau berpihak padanya. Daripada Mita terus di sisinya, tapi tetap hanya Rama yang cintai? Rasanya sama sakitnya.
"Mas, aku minta maaf secara pribadi."
"Ngga apa-apa, semoga kita masih bisa berteman. Semoga aku bisa ketemu perempuan yang kaya kamu lagi."
"Mas pasti ketemu perempuan yang lebih baik dari aku."
"Emang ada? Yang kaya kamu aja aku belum nemu, gimana yang lebih dari kamu.''
__ADS_1
"Ada Mas."
Rama yang melihat ia dengan Mita lantas mendekat.
"Kamu kok masih romantis sih manggil dia Mas. Manggil aku masih nama."
"Aku waktu itu manggil kamu Kakak tapi di suruh manggil Rama aja, jadi kebiasaan kan aku nya."
Mita yang sekarang terlihat lebih menggemaskan, seperti menjadi dirinya sendiri, lepas.
"Sekarang kan beda, panggil sayang coba belajar."
Ia dibandingkan Rama? Ternyata Rama memang memiliki pesona tersendiri. Tidak kaku seperti dirinya.
"Ihh ngga ah."
"Yaudah babe, baby, honey, sweety juga boleh. Sini kamu nya."
Tanpa risih Rama mengumbar kemesraaan di hadapannya, menarik tangan Mita untuk mendekat. Manghadeuuuhh.
"Iya nanti aku belajar. Ngga ah aku disini aja, takut kamu tuh sekarang kaya buaya suka nerkam."
"Dia dulu bawel ngga sih?" Rama bertanya padanya.
Ia hanya tersenyum menggeleng, sedikit menjauh dari Mita untuk mengepulkan asap.
"Sekarang kok kamu jadi bawel sih. Tambah gemes jadinya."
Mereka tengah duduk di taman kecil trotoar depan toko pakaian brand terkenal menunggu Bu Lia dan Sena belanja.
Ohh ... jadi selama ini memang Mita masih merasa belum pas dengannya. Ternyata begitu.
"Sama aku udah pas dong berarti? Ngga usah nyari-nyari yang lain lagi ya."
''Tau ah.''
Mita meninggalkan Rama masuk ke dalam toko.
''Tuh kan gemes.'' Rama tertawa, ia pun tertawa entah apa yang lucu.
*****
Mita
Ia memang memiliki kebiasaan makan yang terkadang suka belepotan kemana-mana.
"Kamu tuh kalau makan masih aja begini."
Reflek Adit mengambil tisu dan menggelap bibir Mita yang dipenuhi saos bolognese dari spaghetti yang ia makan.
Rama yang melihat berdehem dengan keras, mengagetkan Bu Lia yang baru tersadar dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Eh sorry, reflek Men. Nih, lap sama lo." Adit melempar pelan tisu kepada Rama, lalu meneruskan makan seperti tidak terjadi apapun.
''Susah sih ya kalau mantan yang masih sayang sama pacar ada dua-dua nya.'' Sena yang tengah menikmati apple pie merasa risih dengan yang apa yang ia lihat. Lebay !
''Kamu sebisa mungkin makan di rumah, jangan makan sama cowok. Makan kok kaya gini."
Rama ngomel melihat sekitar mulutnya dipenuhi saos bolognese.
''Aku bisa sendiri."
Ia mengambil tisu yang tersaji du meja.
''Tadi sama dia kamu ngga nolak."
Ya Tuhan... Rama cemburu ngga liat-liat orang, di depan Adit langsung bahkan ada Bu Lia.
''Belum sempet di lap-in nya juga.''
Ia mengalihkan pandangan agar Rama tidak dapat menjangkau wajahnya.
"Kamu diem, bisa diem ngga sih. Liat sini."
Adit yang tadi mulai terlihat acuh, kini memperhatikan ia dan Rama kembali.
Rama menyentuh tengkuknya, membersihkan saos di setiap inci bibirnya.
''Kalau ngga ada Mama, kamu udah habis aku makan."
Di hadapan orangtua se-frontal itu.
''Habis apa maksudnya?'' Bu Lia yang memperhatikan sejak tadi merasa Rama perlu menjaga tingkah laku di muka umum.
Namun Rama tak menjawab, mungkin masih kesal.
****
Rama
Selesai makan, mereka pun check in hotel mengingat waktu yang sudah malam. Mita, Mama dan Sena di Amerika hanya sampai lusa, tapi ia masih ingin bersama Mita.
Ia yang sekamar dengan Adit, menaruh tas ransel nya di meja hotel.
"Lo ngga tertarik sama adek gua? Dia jomblo."
''Yakin jomblo? Dia kayak nya sibuk sama HP nya. Punya pacar kali."
''Pacaran sama anak ingusan paling juga. Kalau nyokap tau ngga bakal setuju juga."
''Oh backstreet... Emang Sena manja gitu ya?''
Semoga umpannya untuk mendekatkan Sena dan Adit berhasil. Sejujurnya Adit memang laki-laki yang baik. Jika saja yang pacaran dengan Mita bukan Adit, ia tak akan biarkan. Ia membiarkan Mita dengan Adit agar Mita tidak didekati buaya-buaya yang tidak bisa dipercaya.
__ADS_1
''Anak cewek satu-satu nya, bungsu, bokap sama nyokap dari dia kecil udah sibuk jadi di rumah kebanyakan sama Bibi. Mungkin nyokap merasa bersalah karena waktu yang dia punya buat Sena sedikit, jadinya semua yang Sena mau ya diturutin. Jadi begitu lah anaknya. Tapi dia baik, cuma kadang nyebelin aja."
Ia hanya mengangguk-ngangguk. Tertarik dengan Sena? nanti dulu lah...