Cinta Mita

Cinta Mita
Berbela sungkawa


__ADS_3

Selamat siang pembaca setia, terima kasih atas support yang sudah diberikan untuk novel ini.


Mohon maaf jarang update karena kesibukan di dunia nyata huhu.


Semoga episode Kali ini sedikit mengobati kangen yaa. Happy reading 🌺🌺


*****


Adit masih saja uring-uringan. Hatinya menjadi tidak karuan, seminggu ini tidak berkomunikasi dengan Sena. Karena beberapa bulan ke belakang ia intens komunikasi dengan Sena.


"Dia dimana sih? Kuliah di ITB berarti sekarang di Bandung?"


Reychan terus menjadi tempat curhat Adit.


"Orangtuanya di Jakarta. Gue ngga tau dia lagi di Jakarta atau di Bandung."


"Bandung pasti, belum waktunya libur semester kan?"


Adit mengangkat bahu sebagai arti bahwa ia tidak tahu.


"Minta alamatnya ke siapa gitu, kirimin bunga, coklat atau gofood ke kosannya."


"Dia tinggal di rumah neneknya, gila kali ngirim bunga ke rumah neneknya."


"Terserah lu dah, nikmati aja tuh galau. Lu tungguin sampe ada keajaiban dunia, atau lu tidur dulu biar bisa mimpi dia mau chat lu duluan."


Reychan kesal, sarannya tidak ada yang masuk di otak Adit.


"Balik ke kamar gih, gua mau video call cewek gua."


"Gua disini aja lah, ngga bakal ganggu."


"Ntar lu mupeng, gua mau ambil jatah. Jomblo ntar ngiler."


"Bangsat ngambil jatah apaan lu."


Reychan tertawa sambil mendorong Adit keluar dari kamarnya.


Di kamar akhirnya Adit memberanikan diri chat Sena. Daripada tersiksa karena pesaran, pikir Adit. Benarkah Sena menyukai nya? Namun yang pasti, Adit merasakan ada sesuatu yang kurang setelah selama seminggu tidak berkomunikasi dengan perempuan bergigi kelinci itu.


"Sen, udah seminggu aku nunggu chat kamu. Katanya mau ngabarin kalau ngga sibuk. Kamu sibuk 7x24jam kan ngga mungkin. Aku jadi mikir kalau kamu marah. Aku bikin salah apa?"


Perbedaan waktu Jakarta dan Tokyo yang hanya 2 jam, tidak membuat perbedaan waktu yang berarti.


"Sorry Mas, aku emang sibuk. Selesai nugas atau kuliah aku langsung istirahat."


Adit jadi menerka-nerka bahwa Sena sedang dekat dengan laki-laki lain, atau mungkin balikan dengan mantannya. Beberapa kali Sena membicarakan mantannya yang ngajak balikan, Adit harus bagaimana?


"Kamu udah bales chat aku berarti lagi ngga sibuk kan? Aku video call boleh? Semoga kamu sudi liat wajah aku yang ganteng banget ini."


Sena tersenyum membaca pesan dari Adit. Ia tidak tahu bahwa laki-laki itu jungkir balik hidupnya seminggu ke belakang.


"Iya."


"Marah kenapa?"


Adit memberanikan diri menatap Sena, langsung menodongnya dengan pertanyaan alasan Sena marah.


"Aku ngga marah."


Sementara Sena pura-pura sibuk dengan pulpen dan bukunya.


"Jujur dong... aku bukan peramal. Aku tau kamu marah atau kesel, tapi aku ngga tau salah aku dimana."


Sena membuang muka, hatinya berdetak tidak karuan.


"Mas ngerasa salah ngga? Kalau ngga ngerasa salah, ngga usah dibahas."


"Kamu bikin aku bingung."


Sena tidak berniat menjawab ucapan Adit. Keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing cukup lama.


"Lagi ngapain? Di Bandung atau di Jakarta?"


"Di Bandung."


Sena tetap tidak melihat ke arah Adit.


"Kamu lagi ngerjain tugas? Aku ganggu?"


"Nanti aku disangka marah lagi, biar Mas tau kalau emang banyak tugas."


"Belum ada yang marah kan aku video call kamu?"


"Maksudnya?"


"Kamu ngga balikan kan sama mantan kamu?"


Kini Adit yang deg-degan, khawatir mendengar jawaban yang tidak ia harapkan.


"Kalau balikan gimana?"


"Serius? Aku ngga mau ganggu pacar orang."


Adit merasakan sedikit sesak di dadanya.


"Belum balikan, ngga sekarang. Ada yang lagi deketin aku juga, kakak tingkat di kampus."


"Maksudnya kamu PDKT sama kating kamu?"


"Aku mau prospek semuanya, ngga salah kan? aku mau lihat siapa yang serius."


Adit tersentak. Bagaimana dengan nasibnya?


"Termasuk aku juga lagi kamu prospek?"


"Gimana maksudnya?"

__ADS_1


"Aku ngga tau ini sayang atau cinta, tapi aku kehilangan kamu selama kamu diemin aku. Mungkin aku suka sama kamu."


"Iya, mungkin."


Sena tidak suka kata mungkin yang Adit sematkan dalam ucapannya.


"Kenapa harus pakai kata mungkin?" ucap Sena dalam hati.


"Pasti bukan mungkin, aku salah ngomong. Aku suka kamu, tapi aku udah siap kamu tolak."


"Tolak apa? Yang Mas suka kan teteh, bukan aku. Yang selalu jadi ada di pembicaraan Mas juga cuma teteh."


Sena tidak suka ucapannya barusan, yang terdengar seperti orang yang sedang cemburu.


Sepertinya Reychan benar, Sena tidak suka ia terus membahas Mita, pikir Adit.


Adit sudah menyerah, ternyata melihat Sena marah dan didiamkan rasanya tidak enak.


"Aku bahas Mita bukan karena masih ada perasaan ke dia, tapi karena aku ngga tau harus ngobrolin apa sama kamu."


"Banyak yang bisa dijadiin topik kalau memang Mas niat ngobrol sama aku. Kemarin-kemarin tuh aku ngerasa nya Mas ngga niat ngobrol sama aku, cuma mau nanya teteh. Tanya aja sendiri ke teteh atau ke kakak sekalian."


"Mari kita ngobrol hal lain. Maafin aku. Aku boleh tau alamat Enin dimana?"


"Buat apa?"


Adit teringat Sena mengkoleksi tumbler Starbucks, ia akan menggunakan tumbler sebagai alasan.


"Siapa tau nanti butuh. Tumbler Starbucks edisi Tokyo kamu udah punya?"


"Tokyo sama Nagoya aku udah punya."


Sena mulai menikmati obrolan lain di luar pembahasan Mita dengan Adit.


"Fukuoka belum punya berarti? Minggu besok aku mau kesana, nanti aku paketin."


Matanya kini berbinar-binar.


"Oke, makasih."


"Kating kamu ngedeketin gimana?"


Adit tidak mau kalah set lagi. Kating kini mengganggu pikirannya selain seseorang yang di Singapura.


"DM sama chat aja sih, belum berani deketin aku langsung."


"Kamu nya ngarep pengen di deketin?"


"Ngga juga, kayaknya aku udah bilang, kalau bisa milih aku mau komitmen sama orang yang udah keluarga ku kenal."


"Sama aku mau?"


Sena tetap tidak mau melihat ke arah Adit.


"Aku serius."


Kini Adit berhasil membuat Sena melihat ke arahnya. Adit tersenyum.


"Hati aku udah sembuh, boleh aku mulai sama kamu? seminggu kemarin bikin aku sadar kalau aku suka sama kamu."


"Sama aku ngga akan mudah. Sekarang aku adiknya teteh, kalau sama aku mungkin nanti Mas akan sering ketemu teteh. Itu bakal ngingetin lagi sama luka yang pernah Mas Adit rasa."


"Aku mau nyoba. Boleh?"


Sena nampak berpikir lama.


"Gimana?"


"Oke. Let's try." (Ayo coba)


"Kita jadian?"


"Kalau Mas serius sama aku."


"Aku serius sama kamu."


Sena tersenyum mengangguk. Tidak menyangka video call nya pagi ini dengan Adit berakhir dengan komitmen.


Begitupun Adit yang tidak menyangka, ia akan mengungkapkan sebuah pengakuan yang sempat ia ragukan kemarin. Tapi ketika mendengar ada orang lain lagi selain mantan, Adit tidak rela. Meski belum bisa dibilang sayang, tapi Adit yakin bahwa ia tidak mau kehilangan Sena


Tadi saat video call dengan Adit, Sena sempat capture wajahnya dan wajah Adit di layar ponsel yang kemudian ia post di Instagram story.


"Let's try."


Dengan menutupi wajah Adit dengan stiker tanpa tag laki-laki yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Go public right now? Kenapa ngga tag aku?"


Adit membalas story nya, ia melihat story Sena dengan senyum merekah.


"Biarin Kakak sama Teteh penasaran."


Sementara itu Damar juga melihat story tersebut merasa kebakaran.


"Ini yang bikin kamu ngga mau balik sama aku? Berarti alasannya bukan karena LDR, karena kayaknya kamu juga LDR sama yang baru. Tapi karena di hati kamu sudah ada orang lain kan?"


"Sorry Mar, meski LDR tapi sama yang ini keluarga ku setuju. Keluarga kita kerabat dekat. Aku ngga bisa ngejalanin hubungan diam-diam, aku pengen jadi perempuan normal. I wish you happy too."


"I'm happy for you." meski hati Damar sakit luar biasa.


Sementara itu di dalam mobil ber plat B terdapat sepasang suami istri yang terpaksa mengakhiri honeymoonnya.


"Sayang, lihat deh."


Mita memperlihatkan IG story Sena yang berisi capture Sena yang sedang video call dengan laki-laki yang wajahnya Sena tutupi dengan stiker.


"Sama siapa itu?"

__ADS_1


"Kalau sama orang lain kayaknya Sena ngga bakal berani post, kemungkinan Adit."


"Cieee, congratulations sweety." Mita menuliskan balasan untuk Sena.


"Biarin kalau sama cowok itu." komentar Rama yang membuat Mita tersenyum lalu mencium pipi Rama karena gemas.


"Kamu mancing-mancing, ada Mang Kosim. Mang punten ya anak muda lagi beger." (beger : genit)


Mang Kosim terlihat tersenyum di spion depan.


"Iya Den, anggap aja saya ngga ada."


"Sebelum sampai rumah duka, kamu sini dulu."


"Aku disini dari tadi."


"Hotel lagi yuk? Transit bentar. Sebelum kepala ku pusing lagi."


Kita Mita sadar, tidak bisa menggoda Rama di sembarang tempat. Karena tegangan Rama selalu tinggi jika sudah digoda.


"Abang tidur, kalau udah sampe aku bangunin."


Mita mengambil ponselnya kembali, mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahas dunia ranjang, masalah pabrik kini masih menjadi fokusnya.


"Kamu PHP, males aku sama kamu."


Mita tersenyum, tidak menanggapi omelan Rama.


Perjalanan menuju rumah karyawannya dihabisi Rama dengan tidur, sementara Mita terus berkomunikasi dengan Fery dan Pak Aris, supervisor yang bertugas saat insiden terjadi.


"Kalian langsung ke rumah korban aja nanti aku nyusul, pabrik sama polisi udah aku urus sebentar lagi beres." pesan Fery kepada Mita.


Mira, karyawannya yang menjadi korban dalam insiden nahas karena ujung kerudungnya masuk ke dalam mesin penggilingan saat pertukaran shift. Saat itu teman-temannya sudah naik berganti pakaian, sementara ia hanya sendiri sehingga tidak ada yang menolong.


"Sayang udah sampai."


Mita membangunkan Rama dengan ciuman di pipi, Namun Rama tidak merespon. Terpaksa Mita mencium bibir suaminya dengan panas dengan posisi membelakangi Mang Kosim. Rama menyambut, artinya sudah bangun.


"Yuk udah sampai."


"Kamu bangunin aku kaya gitu, semuanya ikut bangun terus kamu tinggal."


Omelan Rama sontak membuat Mang Kosim yang mendengar tertawa.


"Tadi aku bangunin biasa ngga mau bangun."


"Tas aku dimana?"


"Nyari apa di tas?"


"HP ku."


"HP sama dompet udah di tas aku."


"Makasih sayang."


Rama langsung tau rumah korban, begitu melihat karangan bunga besar bela sungkawa yang ia pesan sudah sampai terlebih dahulu sejak pagi tadi.


"Mohon maaf saya baru ke sini, karena saat kejadian kami sedang di Bandung."


Rama pun bertanya kronologis kejadian kepada Kakak dari korban yang kebetulan bekerja sebagai operator juga di line sosis.


Tidak lama Rama sampai, Fery juga sampai dengan berbagai macam produk RM Food dan berkarung-karung sembako.


"Saya sebagai perwakilan managemen dan perusahaan memohon maaf atas kejadian ini. Semuanya di luar kendali kami. Dan ini kejadian pertama di perusahaan saya."


Untungnya keluarga korban memahami dan sudah ikhlas atas musibah yang sudah terjadi.


"Iya Pak, kami juga sudah mengikhlaskan Mira, mungkin sudah jalannya begini."


"Betul Pak, jodoh, rejeki dan maut sudah ditentukan oleh Allah." Ferry ikut bersuara.


"Untuk asuransi jiwa Mira nanti kami bantu urus, Fer tolong urus."


Fery mengangguk.


"Dan ini ada sedikit dari saya, meski nyawa tidak bisa dibayar dengan berapapun uang tapi semoga ini bisa meringankan sedikit segala keperluan karena musibah ini. Tolong dibuka semoga cukup."


Rama meminta amplop coklat besar yang berisi uang cash yang sudah Mita siapkan.


Keluarga Mira menangis, merasa terharu atas kepedulian yang perusahaan tunjukan.


"Ini banyak sekali Pak."


Begitu melihat isi uang yang berjumlah 500 juta. Bahkan Fery pun tercengang begitu tau isinya.


"Alhamdulillah kalau memang cukup. Mungkin itu tidak bisa mengambalikan Mira ke rumah ini lagi, saya sangat merasa bersalah atas kejadian ini. Sekali lagi saya minta maaf."


Rama membayangkan jika Sena yang berada di posisi Mira, airmatanya meleleh. Meski menurut polisi kejadian ini murni karena kecelakaan kerja, Rama tetap merasa bersalah.


"Kami sudah ikhlas Pak. Terimakasih saya ucapkan atas perhatian yang perusahaan berikan, semoga kejadian seperti ini hanya terjadi pada Mira."


"Insya allah, setelah ini kami akan evaluasi."


Rama pun pamit segera langsung ke apartemen untuk istirahat. Begitupun Fery yang ikut kembali ke apartemen.


Rama masih kembali ke apartemen lama, karena apartemen yang baru ia beli masih belum siap until ditempati.


"Gila lu 500 juta."


Begitu Fery masuk apartemen dimana Rama dan Mita sudah sampai duluan.


"Kalau Sena yang kaya gitu, 500 juta ngga bakal gua ambil Fer. Nyawa gila lu."


Fery masih shock dengan nominal yang Rama berikan. Dengan 500 juta, ia bisa membuat 5 anak lagi di Amerika.


"Lu mau? Nyusul gih sana."

__ADS_1


Fery melempar kotak tisu yang ada di sampingnya.


__ADS_2