
Mita
15.25 Pak Cahyo menyudahi kuliah hari ini.
Rama menunggu di depan, ia harus segera ke pintu 3 tempat dimana ia dan Rama janji bertemu.
"Mit, nitip absen simpen di akademik. Gua kebelet boker." Deni, sang komti meninggalkan absen begitu saja. (komti : komandan tingkat)
"Ish ngagawekeun." ia kesal karena pasti Rama sudah menunggu di pintu 3.
Dengan tergesa-gesa ia mengembalikan absensi kelasnya kepada Pak Muchtar, bagian akademik jurusannya.
"Pak Muchtar kasep, haturnuhun." ia mengintip loket akademik jurusannya. Memberikan absensi di atas meja loket.
"Eh Neng geulis, sami nuhun Neng."
ia pun sedikit berlari menuju pintu 3, tapi tunggu kenapa ia sesenang ini? Harusnya ia biasa saja.
"Rama."
Ia memperhatikan Rama dari atas hingga bawah. Rambut Rama yang masih basah, menegaskan ia yang baru selesai mandi. Aura ketampanannya naik berkali-kali lipat. Menawan.
Rama menyadarkan dari lamunannya. Mereka pun bicara empat mata di dalam mobil. Mungkin Rama merasa risih menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lalu lalang. Ada juga teman-teman kelasnya dengan senyum menggoda saat melihat Rama.
Rama yang masih keukeuh ingin tetap menjalin hubungan, minimal komunikasi. Namun ia tidak mau, karena perasaan bersalah terus menghantuinya. Ia selalu merasa dihantui perasaan bersalah karena mengkhianati kepercayaan Bu Lia, keluarga Rama, Dan keluarga nya sendiri. Meskipun menurut Rama jika mereka berhubungan pun tidak ada yang salah.
Rama terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan bahkan jauh dari sebelum Rama lahir. Kecukupan harta dan ketampanan menjadikan Rama tidak pernah paham artinya penolakan.
Mungkin karena kebaikan keluarga Rama pula, membuat Rama tidak menyadari bahwa ada benang tipis dalam status sosial. Seperti perbedaan status sosial antara ia dan Rama.
Hingga akhirnya ia harus berbohong bahwa ia telah berjanji bertemu dengan laki-laki. Pertemuan Rama dan Adit kemarin membuat ia sedikit lebih senang, karena bisa manjadikan Adit sebagai alasan bahwa ia sedang dekat dengan laki-laki itu.
Namun di luar dugaan, Rama kembali membuatnya jatuh hati karena merasa menjadi perempuan yang sangat dicintai. Saat ia merasa bisa pergi sendiri untuk bertemu dengan laki-laki lain, Rama merespon lain. Ia meminta laki-laki tersebut sendiri yang harus datang menjemputnya, bukan membiarkan ia pergi sendiri.
"Kenapa dia nggak jemput kamu kesini aku tanya? Apa aku pernah bersikap kaya gitu sama kamu. Laki-laki macam apa ngebiarin perempuan jalan sendiri. Aku nggak ikhlas kalau kamu sama dia. Kamu boleh ninggalin aku, tapi untuk laki-laki yang lebih segala-galanya dari aku. Harus lebih baik memeperlakukan kamu dari aku memeperlakukan kamu."
"Aku anter kamu pulang ke kosan. Bilang ke dia untuk jemput kamu. Kamu jangan mau pergi sendiri nemuin laki-laki. Siapapun laki-laki itu dan apapun alasannya. Harus dia sendiri yang jemput kamu. Kamu ngerti?"
Rama terus berbicara sepanjang perjalanan, ia mendengarkan Dan meresapi setiap kata yang Rama ucapkan. Karena besok Dan seterusnya mereka tidak akan lagi bersama. Seperti yang Rama katakan, ini yang terakhir kali. Namun sesungguhnya, ia tidak rela.
Namun kebohongannya yang secara spontan ia ucapkan tadi harus terbongkar secara memalukan, saat Rama melihat Rama dengan jelas bahwa Adit ada di kosan sedang mencuci mobil.
"Kamu bohong sama aku? Kamu mau janjian sama siapa tadi? Kalau yang kamu maksud orang itu, dia lagi nyuci mobil."
Ia yang merasa wajahnya terbakar karena malu, merasa harus segera masuk ke dalam melewati Adit yang sedang mencuci mobil sport miliknya.
"Aku tunggu kamu disini sampai kamu masuk." Rama berkata setengah berteriak.
Sepertinya sengaja agar didengar Adit. Ide iseng kembali muncul, ia memperlambat jalannya ketika melewati Adit.
"Mas pasti lupa tadi ngajak aku makan untung aku langsung pulang." ia mengedipkan matanya sebelah, berbicara pada Adit dengan membelakangi Rama.
Adit yang semula bingung, nampaknya mulai paham situasi.
"Aduh aku lupa, untung kamu langsung pulang. Habis aku cuci mobil kita kesana bareng, belum makan kan?" Bagus, cerdas.
__ADS_1
****
Rama
Drama apalagi yang dibuat Mita? Bocah centang biru rasa es kepal Milo bukan lawan gua, batin Rama.
Ia mendekat ke arah gerbang yang tidak terlalu tinggi, sehingga terlihat dari luar.
"Mita udah makan. Kamu masuk."
Mita mencibir sinis.
"Iya."
Matanya tak luput memperhatikan Mita sampai Mita benar-benar masuk.
"Lo jangan macem-macem sama Mita. Walaupun gua ngga ada disini, mata gua banyak lo ngerti? Meskipun gua tau bapak lo siapa, gua ngga takut. Lo macem-macem sama Mita. Lo abis saat itu juga."
Entah apa yang sudah Adit perbuat, yang pasti dimatanya Adit perlu dibasmi. Ia berpotensi menjadi hama di hubunganya dengan Mita.
"Kata Dilan, kalau kita cemburu berarti kita sedang merasa tidak percaya diri. Gua sih main fair aja. Siapa yang dipilih dia yang menang. Takut gua ambil?" Adit meremas kanebo yang ia gunakan untuk ngelap mobil nya.
Ia mendengus kesal, tidak percaya Adit akan menjawabnya dengan telak. Apa benar ia sedang tidak percaya diri? Hah, yang benar saja.
Ia pun meninggalkan kosan Mita untuk segera pulang karena harus segera berkemas. Juga mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan Mama dan Papa nya.
Ia tiba di rumah bersamaan dengan jam pulang Pak Romi. Ia sempat istirahat shalat Magrib dan Isya di mesjid yang ia lewati. Juga berbelanja beberapa keperluannya untuk besok sebelum berangkat.
Mobil Pak Romi sudah terparkir cantik di garasi rumah. Keluarga memang memiliki 4 mobil, masing-masing memiliki mobilnya sendiri-sendiri. Begitulah horang kayah.
Ia pencet klakson mobilnya, tak lama Mang Ujang membuka pintu gerbang untuknya.
"Bapak lagi makan malam sama Ibu Den."
Ia menarik nafas dalam, lalu mengangguk.
"Iya makasih Mang, tolong tutup lagi gerbang nya."
Begitu masuk ke dalam rumah, ia sudah merasakan aroma ketegangan.
Tidak mungkin jika ia langsung masuk kamar begitu saja. Meski diliputi rasa kecewa, hormat kepada orangtua tetap kewajiban seorang anak.
Ia pun menuju meja makan untuk salam dan mengambil air minum.
"Makan belum Kak?" Bu Lia yang pertama menyadari kehadirannya.
"Belum, aku mau ganti baju dulu."
"Langsung makan, Papa tunggu."
Pandangan ayahnya tidak lepas dari piring di hadapannya.
Setelah berganti kaos dan celana pendek, ia kembali ke ruang makan.
"Tidur dimana semalam?" Pak Romi membuka jeruk dihadapannya, piring dihadapannya telah kosong.
__ADS_1
"Di hotel sama Fery." sabar jangan terpancing, bisiknya dalam hati.
"Teman datang bukan diajak ke rumah, malah ke hotel kaya ngga punya rumah."
Bu Lia mengambil tangan kirinya, lalu mengusap lembut. Mungkin untuk menenangkan.
"Belakangan ini aku selalu salah di mata Papa." ia mengambil nafas panjang.
"Aku besok mau berangkat Pah... Ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku mau belajar di sana dengan tenang, deal dengan diri aku sendiri."
"Usaha kamu disini gimana? Udah kamu urus?"
"Ada Fima, dia yang ngurus semua. Aku kontrol dari sana."
"Fima cantik, pintar, sepadan sama kamu. Papa lihat kamu deket sama dia dari kalian kuliah, ke sini selalu bertiga sama Fery." ia menghentikan makannya.
"Pah, come on..." Mama angkat bicara, tak ingin suasana buruk kembali. Baginya Rama sudah pulang dan tidak macam-macam ia sudah bersyukur.
"Papa mah bikin ngga selera makan terus dari kemarin." ia mengambil kembali sendoknya dengan malas.
"Loh salah Papa apa? Bener kan Fima cantik."
Seperti kebanyakan orangtua yang selalu ingin didengarkan, begitupun dengan Pak Romi.
"Rencana berapa lama kamu disana?" Mama mengambil alih pembicaraan.
"Aku short course dulu tiga bulan, Januari mulai S2. Setelah itu mungkin kerja, ngga tau sampai kapan. Mungkin sampai Mita sepadan sama kita baru pulang."
Ia menjawab secuek mungkin, sudah lelah berharap restu dari ayahnya.
"Tidur kamu salah bantal." celetuk Pak Romi santai.
Mama nya tampak memijat kening.
Ia tak menjawab, malas mendebat. Meskipun ia pandai untuk berdebat, tapi dengan orangtua ia anti melakukan itu. Rama terbiasa patuh akan ucapan kedua orangtua nya.
"Sering pulang dong Kak, kamu nanti nggak kangen sama Mama?"
"Nanti aku susah berangkat lagi Mah kalau sering pulang. Mama aja yang kesana ya, urusan tiket aku yang urus. Mama urus visa aja." ia menatap manja Mama nya, perempuan yang selalu membela dirinya.
Namun entah mengapa kemarin tanpa sepengetahuannya mendatangi Mita yang tentu saja membuatnya kecewa.
"Kelas bisnis ya?" Mama tersenyum menggoda.
"Buat Mama apa sih yang ngga."
"Sekalian tiket Papa. First class kalau perlu." dengan enteng Papa nya meminta tiket juga, first class pula.
"Dokter jantung, guru besar, minta dibayarin sama anak ingusan kaya aku yang masalah perempuan aja masih diatur-atur. Ngga salah?" sindir Rama dengan tatapan kesal. Bagaimanapun ia benar-benar kesal dengan ayahnya itu.
"Nah kan, anaknya udah pinter ngejawab. Mau jawab apa Papa?"
*****
Nahh jawab apa tuh Pak Romi ππ
__ADS_1
Aku mau ucapin makasih untuk pembaca aku yang sudah meluangkan waktu baca karya aku ini. Semoga tetap menarik untuk dibaca ya πΊπΊ
Tinggalkan jejak like & komen jika berkenan πΊπΊ