Cinta Mita

Cinta Mita
Posesif


__ADS_3

"Kamu ngga malu bilang aku suami?"


Adit menyeruput ramen terakhir di sumpit yang ia genggam.


"Malu kenapa? Biasa aja."


"Di kampus ngga mau ngaku."


"Beda, pokoknya beda. Jangan ditanya lagi titik."


Adit tersenyum mengangguk.


"Enin suka bunga ngga?"


"Suka. Kenapa?"


"Aku mau beliin Enin bunga. Mau ngga?"


Adit tidak mendengar jawaban dari Sena yang sedang menghabiskan sisa ocha dingin di gelas. Selesai makan, Adit dan Sena kembali menaiki motor kesayangan.


"Beli knalpot racing ya, Non."


"Biar apa?"


"Biar makin seksi suaranya."


"Boleh."


"Asik."


Semudah itu meminta izin membeli sesuatu kepada Sena. Berbeda dengan Mita dulu, yang harus menjelaskan secara detail barang yang ingin ia beli.


Dengan senyuman, Adit mampir ke toko bunga terdekat hasil melihat maps. Satu buket bunga lili Adit pilih untuk Enin. Adit teringat Amih, orangtua bu Retna yang menyukai Lili.


Setelah mendapatkan yang ia inginkan, Adit menjalankan kembali motornya menuju kediaman Enin. Hatinya berdebar karena pertama kalinya bertemu Enin.


Tadi saat menunggu Sena pulang kuliah, Sena meminta menunggu di rumah Enin. Namun karena khawatir canggung, Adit memutuskan menunggu di hotel sambil istirahat.


Lama tidak riding, membuat tubuhnya sedikit kaku hingga membutuhkan rehat barang sebentar. Dengan harapan bertemu Enin dengan wajah yang lebih segar.


Adit menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang asri. Rumah dengan halaman yang luas namun tidak mewah, terkesan vintage, dan terlihat terawat.


"Enin lagi apa Wa?"


Wa Ideng yang membukakan pagar. Setengah kaget karena Sena naik motor dengan laki-laki.


"Lagi ngerajut di dalam, Neng."


Sehari-hari Enin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyulam, merajut, menjahit, membaca ataupun menyiram tanaman. Sesekali keliling komplek di pagi hari menikmati udara Bandung yang belum tercemar asap kendaraan.


"Hebat Aden, bisa dapet restu Bapak Ibu di Jakarta."


Wa Ideng tersenyum ke arah Adit.


"Dukun saya yang hebat, Wa."


Adit membalas dengan candaan.


"Bisa wae. Mangga Den, masuk."


"Mas, sini."


Sena menarik tangan Adit untuk dikenalkan kepada Enin.


"Siapa ini teh?"


"Adit, Nin."


Adit mencium tangan Enin.


"Alah meni kasep kieu. Ini yang suka ngirimin coklat, bunga sama boneka buat Sena?"


Boneka? Seingatnya Adit belum pernah mengirimkan boneka. Ah, mungkin Enin salah ingat, batin Adit.


"Ini buat Enin."


Adit memberikan buket bunga lili yang cantik.


"Duh, ya Allah. Tos lami Enin ngga dapet bunga. Sekarang dapet bunga dari calon incu. Nuhun ya, Cep." (Tos lami : udah lama, incu : ucuc, Cep : Acep : Kasep : tampan, panggilan kepada anak laki-laki di suku sunda)


"Sami nuhun." (terima kasih kembali)


"Enin aja ini teh yang dapet bunga? Sena ngga dapet?"


Sena melirik Adit dengan penuh arti. Sedetik kemudian Adit baru menyadari kebodohannya.


"Enin kan spesial."


Jawaban Sena terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Adit.


"Sena mah udah sering ya. Meni geulis bunganya."


"Iya, aku mah udah sering."


"Makan Neng, ajak Aa nya makan. Lagi disiapin Cucun."


Enin mengisyaratkan dengan tatapan dan bahasa tubuh agar Sena mengajak Adit ke meja makan. Lalu masuk kamar ingin menyimpan bunga pemberian Adit.


"Enin mah mau ke kamar, simpen bunga. Biar kamar Enin wangi."


"Duh, yang dapet bunga seneng banget."


Sena masih bicara sambil dilebih-lebihkan hingga membuat Adit tersindir.


"Jadi inget aki, suka beliin Enin bunga."


Adit mendekati Sena yang berjalan menuju meja makan. Ingin bicara menunggu Enin menghilang dari penglihatannya.


"Tadi kan aku tanya... kamu mau bunga ngga? Kamu nya ngga jawab, kirain ngga mau."


Adit bica pelan-pelan. Ingin menekankan kepada Sena bahwa ia tidak bermaksud melupakan Sena.


"Harusnya ngga perlu nanya. Enin juga suka marah kalau pas temenku kesini terus nawar-nawarin makan. Kata Enin langsung ajak ke meja makan. Eh bener semuanya kesempatan perbaikan gizi, dasar anak kosan."


Sena tertawa kecil menceritakan kebiasaan teman-temannya sambil menarik dua kursi makan untuknya dan juga Adit. Sementara Adit hanya merespon dengan senyum tipis.


"Maaf deh, aku ngga peka."


Adit mengambil tangan kiri Sena di atas meja makan karena merasa bersalah.


"Iya deh."


Tangan kanan Sena mengambil dorokdok alias kerupuk kulit di dalam toples lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Maaf, ngga pake deh."


Adit menyadari kesalahannya kembali. Kali ini dari ucapannya yang menggunakan kata "deh" terdengar tidak tulus.

__ADS_1


"Oke. Aku mandi dulu ya?"


"Ngga mandi juga tetep cantik. Sama bunga tadi, tetep cantikan kamu."


"Gombal, males."


Sena pura-pura membuang muka.


"Ngga dong, masa gombal."


Ingin rasanya memeluk, namun apa daya Adit hanya mampu menahan tangan Sena agar tidak meninggalkan dirinya.


"Aku mau mandi, badan aku udah lengket."


Biasa berada di dalam mobil ber-AC. Sementara hari ini, Sena banyak habiskan waktu di bawah terik matahari dengan hanya dilindungi helm.


"Ngga apa-apa. Jarang-jarang kamu kecut."


"Ih tuh kan. Aku bau asem kan?


Sena mengendus aroma tubunya.


"Mandi dulu ah. Mas juga udah mandi kan pasti?"


Adit tersenyum, melepaskan genggamannya di lengan Sena. Tidak lama Wa Cucun datang membawakan sepiring besar semur daging dan tumis brokoli dan buncis yang masih mengepulkan asap. Tercium aroma wangi menggoda menggoda selera.


"Ini makanannya Uwa simpen sini ya Neng."


"Iya Wa, aku mau mandi dulu. Tolong bikinin susu anget ya Wa."


"Coklat yang Neng?"


"Putih, buat Mas Adit."


Adit tersenyum mendengar instruksi Sena. Meski bukan Sena yang menyiapkan, setidaknya Sena memperhatikan kebiasaannya. Susu putih hangat.


Wa Cucun lantas kembali ke dapur membuatkan segelas susu sesuai permintaan Sena.


"Makasih, Non."


Adit kembali menggenggam tangan Sena.


"Keren kan, aku mah peka."


"Bahas lagi..."


Sena meninggalkan Adit dengan tersenyum.


Selang lima menit, Wa Cucun datang dengan nampan dan segelas susu.


"Pacar nya Neng Sena ya Den?"


"Sena pernah ngajak laki-laki selain saya?"


Bukan jawaban yang Wa Cucun dapat, melainkan pertanyaan juga. Bagi Adit, sekarang waktu yang tepat mengorek informasi dari Wa Cucun.


"Rame-rame paling Den. Ngga pernah laki-laki dateng sendiri kaya Aden."


"Oh gitu."


"Kalau paket mah banyak Den."


"Paket?"


"Iya kiriman dari laki-laki."


"Belum lama ada yang ngirim boneka ageung pisan." (ageung : besar)


Wait... rasanya belum pernah Adit mengirimkan boneka besar seperti yang Wa Cucun ilustrasikan. Ia teringat boneka yang Enin singgung.


"Boneka apa Wa?"


"Naon itu teh namanya ya, boneka yang coklat gening. Uwa mah taunya itu bacaannya I love you we pokona mah."


Fix, boneka bukan darinya. Dadanya seakan berpacu lebih cepat.


"Belum lama?"


Adit meminum susu hangat yang masih hangat untuk menurunkan hawa panas di dadanya.


"Belum ada sebulan kayaknya. Ah si Aden saya takut kebanyakan ngomong, takut Neng Sena ngomel."


"Sena suka ngomel?"


"Ngomel-ngomel dikit."


Wa Cucun tersenyum sambil membungkukan badan tanda pamit.


"Uwa ke belakang lagi ya Den."


Sekitar dua puluh menit Sena pamit mandi. Lalu menampakan diri dengan celana training dan kaos panjang dan rambut yang ditutupi handuk. Wangi sabun dan shampo tercium menggoda keimanan Adit.


"Mau liat dong boneka coklat gedenya."


"Boneka apa?"


"Ngga tau, terakhir kamu dikasihnya boneka apa? teddy bear?"


"Tau dari mana?"


"Yang pasti bukan dari kamu, karena kamu ngga ngomong. Aku baru tau ternyata akang-akang itu serius sama kamu."


"Susunya belum dihabisin? Dingin atuh. Makan ya, aku ambilin."


Sena mengalihkan pembicaraan, namun Adit tidak menjawab.


Mengambilkan Adit makan bukan kali pertama untuk Sena. Di Amerika beberapa kali Sena menyiapkan makan Adit.


Lima menit berlalu tanpa suara. Adit fokus pada piring berisi semur dan tumis sayuran. Sena pun sama, sesekali mencuri pandang ke arah Adit.


"Ngga ada yang lebih serius dari Mas."


"Seenggaknya bilang."


"Terlalu remeh untuk laporan hal-hal ngga penting buat aku."


"Aku yang ngga penting?"


Wajah Adit mendingin tanpa menatap Sena.


"Pemberian mereka yang ngga penting. Mas mau liat? Ada tuh di kamar. Nilainya ngga sama dengan pemberian Mas, sebesar apapun pemberian mereka."


Enin tiba-tiba datang ke ruang makan.


"Nambah kasep."


"Udah Nin. Alhamdulillah enak semurnya."

__ADS_1


"Cucun tea atuh."


Enin membesarkan suaranya agar Wa Cucun GR.


"Rumah makan juga kalah."


Adit melebih-lebihkan agar Wa Cucun bertambah GR.


"Istirahat dulu, meni jagoan Jakarta Bandung momotoran."


"Iya, Nin. Pegel sebenernya."


"Kalau zaman sekarang disebutnya remaja jompo."


Sena menambahkan ucapan Adit, mencairkan suasana yang sebelumnya sedikit kaku.


"Aya-aya wae remaja jompo. Boleh istirahat, di kamar Rama mau? Biar diberesin dulu."


"Ngga usah Nin, di ruang tengah aja."


"Meni sholeh, lebih aman nya. Bukan Enin ngga ngebolehin istirahat di kamar. Pararaur, syaiton teh berkeliaran." (pararaur : takut)


Keragu-raguan dirasakan Enin sejak tadi. Dilema antara ingin menyuruh Adit istirahat di kamar namun khawatir terjadi yang dilarang agama. Terlebih banyak di berita mengenai pergaulan bebas anak zaman sekarang yang mengerikan.


"Iya Enin. Enin mah sok hariwang teu paruguh." (suka khawatir ngga jelas)


Adit tertawa mendengar pengucapan bahasa sunda Sena yang sempurna.


"Bukan hariwang teu paruguh. Tiap pagi Enin nonton berita, Sena suka lihat ngga? Aborsi, anak sekolah hamil, pemerkosaan, pelecehan seksual. Sararieun." (sararieun : takut)


"Nah kan katanya aku teh bawel, Mas Adit udah tau kan turun nya dari siapa?"


"Dari Mama kamu eta mah."


"Iya Mama dari Enin."


"Aki yang banyak omong mah."


"Hor aneh, ngga mau ngaku."


Sena dan Adit tertawa bersama melihat Enin kembali masuk kamar.


Sementara Sena mengajak Adit ke sudut favoritnya. Sudut baca dengan sofa besar yang empuk dan ayunan rotan. Tempat dimana Sena banyak menghabiskan waktunya ketika ingin membaca.


"Kamu berdua aja sama Enin tiap hari?"


"Kadang ada Kakak nya Mama sama sepupu ku nginep. Tapi seringnya berdua aja. Besok Mas balik ke Jakarta, bakal kangen aku ngga?"


"Aku mah ngga ada siapa-siapa yang deket."


"Maksudnya?"


"Pasti kangen."


Adit mengusap kepala Sena. Satu-satunya wanita yang kini ada di hatinya.


"Aku ngantuk. Tidur bentar boleh ya."


Tangan Adit tak lepas dari rambut Sena.


"Jangan sibuk sama akang-akang. Kalau nanti ada yang keterlaluan, aku bakal datengin. Sama kaya waktu itu aku datengin cowok yang di Singapur."


Dengan mata terpejam Adit masih bicara. Sena hanya mendengarkan dengan buku tangan. Novel fiksi yang sudah berulang kali ia baca, namun masih setia ia buka lembar per lembar saat bingung hendak melakukan apa.


"Kamu tau, waktu itu hati aku belum buat kamu sepenuhnya, tapi kamu pacar aku. Jadi aku memperjuangkan kamu."


"Sekarang aku ngga tau bagian mana dari hati aku yang ngga ada kamu nya. Semua nya sudah full kamu. Entah gimana jadinya kalau ada yang ganggu kamu lagi."


Sena menutup bukunya. Membalas usapan Adit dengan usapan di kepala laki-laki yang begitu ia cintai juga, hingga ia yakin Adit tertidur. Laki-laki beruntung yang mendapatkan restu keluarganya. Seperti yang Wa Ideng katakan.


Tring. DM masuk dari Kang Ricky, alumnus kampus yang mendekatinya. Membalas fotonya dengan Adit di restoran tadi.


"Cie... Pacar ya Dek?"


Malas rasanya Sena membalas DM tersebut, namun rasanya Sena perlu menegaskan bahwa ia sudah memiliki Adit. Terlebih Sena tidak ingin Adit marah.


"Iya, Kang."


"Kirain kamu masih single."


"I'm taken, sorry." (taken : sudah punya pasangan)


"No problem, selama janur kuning melengkung."


Sena menghela nafas. Bingung dengan cara apa lagi ia harus menolak.


Sena mengambil ponsel Adit, menghapus notifasi DM yang masuk lalu membuka instagram miliknya yang masih log in di ponsel Adit.


"Kursinya pewe banget."


Adit membuka matanya sambil menggeliatkan tubuh. Sena memperhatikan setiap detail yang Adit lakukan.


"Kalau bisa ngga usah balik ke Tokyo. Kalau di Jakarta ngga apa-apa, seminggu sekali bisa ketemu di Jakarta atau di Bandung."


Sena mengusap kembali kepala Adit. Sadar, besok Adit sudah kembali ke Jakarta.


"Kamu yang ke Tokyo. Kamu udah janji."


Adit mencium tangan Sena. Begitu ingin memeluk tapi tak bisa.


"Masa aku udah janji?"


"Jangan pura-pura amnesia. Bilang ke dosen kamu jangan kasih banyak tugas."


Sena tersenyum. Bersama Adit, ia bisa merasakan kebahagiaan sederhana yang ia sering bayangkan. Menikmati sore berdua, duduk di salah satu sudut rumah, bercerita hingga mengantuk.


"HP ku mana ya? Tadi aku pegang."


"Ini."


Sena memberikan ponsel Adit yang tadi ia ambil.


"Abis liat apa? Cek whatsapp?"


"Ngga kok. Liat IG doang."


"Tukeran HP dulu ya? Sebelum besok aku balik."


"Perlu segitunya?"


Terkadang Sena merasakan sikap Adit yang kadang seperti anak kecil, over protective cenderung posesif.


"Aku pengen tenang aja."


Adit memaki dirinya sendiri. Ia kenapa? Akan kembali ke Tokyo dengan perasaan yang bertambah untuk Sena. Bahkan lebih dari yang ia rasakan sebelumnya.


"Aku WA temenku dulu buat besok."

__ADS_1


Dengan helaan nafas, Sena menuruti permintaan Adit yang menurutnya berlebihan namun tidak mampu ia tolak. Karena ia pun merasakan hal yang Sama, ia mencintai Adit.


__ADS_2