Cinta Mita

Cinta Mita
Dekgem


__ADS_3

Rama


Mereka pun menuju lantai 3 area food court berada. Saat memasuki area dood court, ia menghentikan langkah karena melihat sepasang muda mudi yang tengah menikmati makan siang mereka.


''Kayak kenal.'' batinnya dalam hati.


Setelah yakin dengan apa yang dilihat, ia pun menarik tangan Mita keluar area food court untuk mencari tempat makan lain. Namun akhirnya,


"Bro bro."


Ia pun mendengus kasar.


"Shittt mimpi apa gue semalem sampe ketemu cecunguk disini."


Rama merutuki nasib nya siang ini.


"Bener kan mata gue masih sehat." yang tak lain adalah Andri, teman kantor Rama.


"Ngapain lo disini? Gue liatin itu tangan nggak lepas-lepas, pegangan terus kaya mau nyebrang."


Mita pun menyadari tangannya masih di genggaman Rama, lalu ia mengibaskan tangan Rama agar terlepas.


Ia sebenarnya tidak percaya dengan hari sial, namun hal menjengkelkan sejak pagi tadi seolah tidak usai. Membuat ia berpikir ulang tentang hari sial.


"Nganter belanja."


Sebenarnya ia tidak pernah ada masalah dengan Andri. Di kantor ia sangat profesional, untuk urusan pekerjaan Andri juara sangat bisa diandalkan. Kemampuan analisi dan berpikir cepat sangat memudahkan pekerjaannya.


Tapi untuk urusan perempuan, cuih orang ini paling ia tidak diinginkan tahu kisahnya dengan Mita. Anehnya, dulu saat ia ghosting cibi-cibian yang memang ingin didekati olehnya, Andri tak semenyebalkan sekarang. Yang paling ia tidak sukai adalah sebutan dedek gemes untuk Mita. Terlalu gitu lah. If you know what I mean.


Mau tidak mau ia duduk di meja yang sama dengan Andri. Dan Mita di duduk di sebelah pacar Andri yang tak lain adalah sherly, cinta mati nya Andri sejak SMA. Berat, untuk kalian yang jomblo nggak akan paham.


******


Mita


Sepertinya ada yang tidak beres, sampai-sampai Rama menghindar dari laki-laki yang memanggilnya.


Saat ini ia sedang duduk bersama ketiganya, sedikit canggung karena ia tak mengerti dengan apa yang dibicarakan. Termasuk "dekgem" yang sejak tadi dibicarakan teman Rama, yang ternyata bernama Andri. Namun Rama lebih sering memenggilnya ''Le'' entah apa maksudnya.


"Ini dekgem-dekgem itu ternyata. Wow amazing.''

__ADS_1


Apa coba maksudnya? Namun ia berusaha tetap berbaur dengan apa yang di obrolkan.


''Parah lu, resign ngga bilang-bilang.''


Rama resign? kok ngga bilang-bilang. Hanya manik mata milik Rama terus melihat ke arahnya.


''Gua jadi parno nih. Masa karena gua suka cengein lu, lu jadi resign. Ambekan lu mah.''


Rama memesan 2 porsi cakwe untuk dimakan bersama, selain nasi timbel komplit ayam bakar dan sayur asam.


''Ternyata seleranya nggak jauh beda denganku.'' pikirnya, karena ia pun sering makan cakwe dan odading Mang Oleh depan SMA dulu. Namun rasanya lebih enak yang ia makan sekarang. Mungkin karena harganya juga lebih mahal. Cakwe Mang Oleh harganya Rp1.000 sedangkan ini 25rb isi 4. Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan Mang Oleh. Jika saja Rama tau ia memikirkan harga cakwe ini mungkin Rama akan bilang ''worth it'' slogan nya selama ini. Ia jadi mencibir tipis.


''Najis gua ngambek sama lu Le.''


''Gua lanjut S2, udah di ultimatum bos besar.''


''Bokap lu?'' yang dijawab dengan anggukan Rama.


Ahh itu. Ia belum pernah bertemu langsung ayah Rama, hanya melihat sekilas di foto tempo hari. Semenyeramkan apa sampai Rama yang ngeyel gini menyerah.


''Kenapa bokap lu nggak langsung bombardir aja Dut, ultimatum segala.''


''Kam prettt.''


''Gua tau, jangan-jangan lu kuliah nya di kampus Mita juga lagi lu makanya lu mau. Ketebak ini sih.''


Uhuk uhukkk...


Mita kaget sampai tersedak.


''Duh kamu tuh makan pelan-pelan. Air abis lagi.''


Rama berdiri lalu berjalan menuju stand penjual minuman.


''Tuh kan jadi bucin dia.''


Andri terlihat senyum-senyum sambil berbicara pelan setengah berbisik dengan Sherly yang sejak tadi lebih banyak pegang HP.


''Ini minum.'' Ia ambil segelas teh bertuliskan ''es teh indonesia''


''Bucin kan lu sekarang. Kemakan omongan ke gua juga kan lu. Bede bah lu.''

__ADS_1


Sepertinya sikap ceplas-ceplos Andri yang membuat Rama tidak nyaman.


''Serah lu mau ngomong apa. Gua ngga peduli.''


''Udah enakan?'' Rama bertanya kepadanya dan dijawab anggukan Mita.


''Gua cabut duluan, masih ada yang harus dibeli lagi.''


''Ngeri, sugar daddy lu sekarang.''


''Bang sat. Lama-lama sama lu, takut masa depan gua suram. Aura gue menghitam.''


''Lu kawinin cepet-cepet, takut keburu abis pelet nya. Mumpung dia masih mau sama elu.''


Rama melihat ke arah Sherly sambil memakain kembali jaket yang ia lepaskan tadi.


''Udah kali kawin mah, tinggal nikah aja yang belom. Endorse gua dong bos.''


''Ih kamu ngaco aja kalau ngomong.''


Sherly mencubit pinggang Andri kencang.


''Aduh-aduh sakit yang bercanda doang. Kita pacarannya kan syariah. Pantang lah coblos duluan.''


''Breng sekkk lu.'' Rama mendengus kesal.


Menyenangkan juga gaya perteman mereka, ia sejak tadi senyum-senyum melihat interaksi keduanya. Vul gar sekali.


''Dia tuh mulutnya ember, lebih parah dari Sena.''


Begitu keluar dari food court Rama bercerita tentang Andri.


Mereka ternyata sekolah di SMP yang sama namun saat SMA Andri pindah ke Bandung. Lalu takdir mempertemukan mereka kembali bekerja di tempat yang sama. Sebuah perusahaan yang dilabeli dengan big four . Perusahaan impian lulusan ekonomi seperti Rama dan Andri saat itu.


*****


By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini 🌺🌺


Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back πŸ€—πŸ€—


Semoga kita bisa berkawan rapat 🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2