Cinta Mita

Cinta Mita
Lagi lagi Dilan


__ADS_3

Adit


Setelah selesai mencuci mobil ia pun segera mandi, karena baju nya ikut basah terkena cipratan air.


Begitu selesai mandi ia menjemur handuk di depan kamarnya.


"Cit, anak-anak belum pulang apa ada di kamar?"


Begitu ia melihat Citra keluar kamar hendak ke warung. Beralibi "anak-anak" padahal yang ia maksud adalah Mita.


"Harusnya udah pada pulang Mas. Jadi barbeque nanti malam?"


"Jadi dong, panggil Mita deh bantuin saya nyiapin bahan-bahannya."


Akhirnya terucap juga nama Mita dari mulutnya. Ia merasa malu sebenarnya, tapi biarlah mumpung ada kesempatan untuk menikung.


Mendekati perempuan memang bukan yang pertama baginya, ia pernah menjalin hubungan pacaran dengan teman sekampusnya saat tingkat satu yang berjalan selama satu tahun. Namun harus kandas di tengah jalan karena ia dikhianati. Pacarnya saat itu berkhianat dengan seorang duda beranak satu yang mapan, saat ia belum memiliki usaha seperti sekarang.


"Mas, aku bantu apa? Bahan-bahannya dimana?" Mita datang mengagetkannya tatkala ia ingat dengan masa lalu. Masa lalu saat dikhianati.


"Di kulkas, bantu nyiapin bahan-bahan. Aku udah beli daging sama bakso seafood buat bikin shabu-shabu."


Tunggu, ia baru sadar. Saat berbicara dengan perempuan ia biasa menggunakan lo gue terkadang saya kamu. Namun kepada Mita, aku kamu? Apakah perempuan ini juga menyadari? batinnya geli.


"Wahh makan besar kita."


"Tadi kenapa dianter Rama lagi?"


Rasa penasaran nya terus menghantui, apakah mereka masih berhubungan?


"Terakhir katanya, besok dia ke US udah ngga bisa ketemu lagi."


Ia mengambil paprika dan bawang bombay untuk diberikan ke Mita. Sebenarnya ia bisa melakukannya sendiri, tapi memanfaatkan keadaan agar bisa banyak ngobrol dengan Mita. Xixixi


"Mau ngapain ke US? Kuliah lagi?"


Mita mengangguk. Secara tidak langsung Rama memberikannya celah untuk masuk.

__ADS_1


*****


Rama


Obrolannya semalam hanya dijawab secara diplomatis oleh ayahnya.


"Ya kan kalau perlu, kalau ngga perlu Papa beli sendiri." ayahnya yang berwibawa jika di depan pasien, namun berpembawaan santai jika di rumah. Maka tidak heran, jika sifat santuy mengalir deras padanya.


Ia yang mendengar itu hanya mencibir. Benar-benar ayahnya ini, sedikitpun tidak merasa bersalah atas kepergiannya ke Amerika. Padahal alasan terkuat ia berangkat adalah karena ayahnya tersebut. Jika saja ayahnya merestui, mungkin ia dan Mita sedang menjalani harinya sebagai mahasiswa di almamater yang sama. Tidak perlu jauh-jauh ke negara orang .


"Mohon maaf nih, bukan aku pelit ngga mau ngajak Papa. Tapi aku paham disini Papa sibuk, sangat dibutuhkan untuk menjadi perantara kesembuhan umat lebih baik disini aja ngurusin pasien. Ya kan Ma?" ia balas perkataan ayahnya ini dengan nada yang di buat-buat.


Bu Lia terkekeh mendengar balasan telak untuk ayahnya.


"Semprul." mereka pun tertawa bersama.


Keluarga nya memang begitu adanya, meskipun kedua orangtua sibuk namun tetap hangat dan harmonis.


"Hidup lu tuh enak banget, kaya ngga ada beban dan tuntutan. Jadi santuy banget lu ngejalaninnya." komentar Fery saat pertama kali tinggal di rumahnya, menjadi bagian dari keluarganya. Fery melihat ia nampak seperti tak memiliki masalah.


Memang jika dibandingkan dengan teman-temannya ia tergolong beruntung karena kemiliki keluarga yang kondusif minim konfilk.


"Pa, kenal sama Bambang Wiraguna?" ia teringat laki-laki yang sudah mengatakan bahwa ia minder.


"Bambang yang mana ya Ma?"


Mama nya nampak terdiam, seperti berpikir.


"Bambang Wiraguna anggota dewan itu maksudnya Kak?"


"Nah iya bener." ia semangat orangtua nya kenal dengan orangtua bocah rasa es kepal Milo.


Bu Lia nampak mau mengucapkan sesuatu namun tertahan tak mampu untuk mengucap.


"Oh Bambang Chandra Wiraguna? Loh ya kenal. Satu almamater sama Mama. Satu organisasi kan Ma?"


Ibunya nampak mengangguk kecil. Bu Lia dan Bambang menempuh pendidikan di universitas negeri di Jogjakarta. Kala itu mereka adalah adik dan kakak tingkat yang kenal di organisasi kampus.

__ADS_1


"Senior Mama zaman dulu. Kita manggilnya Bamwir, nama aslinya Bambang Chandra Wiraguna."


"Mentang-mentang mantan masih ingat betul."


Mama tersedak, ia pun tersentak. Tapi kenapa ayahnya terlihat biasa saja? Tidak ada perasaan cemburu?


"Wah seru dong. Papa ngga cemburu?"


Pak Romi bangkit sambil tersenyum ke arahnya Mamanya.


"Cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Papa yang menang ngapain cemburu." ucapnya santai.


Ia seperti tertampar. Persis, apa masih kata si Dilan? Ia buang nafas kasar. Jika ia dan Adit menyukai Mita, siapa yang akan menang? Bayang-bayang ucapan terakhir Adit masih terekam jelas di otaknya.


"Kenapa memangnya dengan Mas Bambang Kak?"


Ibu nya terlihat penasaran.


"Kosan Mita yang punya itu anaknya."


"Bukannya masih kuliah ya?"


"Mama kok tau?"


"Kita kan ada grup alumni. Kalau kondangan juga kadang ikut, anaknya tiga. Terakhir ketemu pas nikahan anaknya teman Mama yang dinas di Menperindag tahun lalu. Kamu sih kalau diajak suka nggak mau, kalau ikut kan bisa kenalan anaknya teman-teman Mama."


"Kita suka canda-candaan, mau jodoh-jodohin anak. Itu juga kalau pada mau."


"Sena aja Ma, aku mah No." ia langsung buka suara saat mendengar perjodohan, apa-apaan.


"Sena kan masih jauh, yang deket kan kamu. Tapi kamu nya mentok di Bogor. Mama juga udah pengen pensiun, cuma di rumah sama siapa kalau pensiun yang ada sepi. Kalau kamu udah punya anak kan bisa nemenin Mama. Iya kan?"


Ia terdiam. Tidak menyangka Mama nya telah berpikir sejauh itu.


"Doain aja Ma, biar hati aku terbuka. Mama pasti pengen aku juga ngejalinnya bahagia kan? Pernikahan kan seumur hidup, ngga mau sembarangan."


Ibu nya menggenggam tangannya tersenyum sambil mengangguk. Ibu nya sudah tidak muda lagi, meskipun masih segar bugar, namun usia tidak bisa berbohong. Maka benar jika ada yang mengatakan bahwa ada satu penyakit yang tidak memiliki obat, yaitu tua.

__ADS_1


Semoga ia bisa segera memberikan yang Ibu nya harapkan.


__ADS_2