
*DISCLIMER
Part ini khusus untuk yang sudah menikah yaaakk pembaca budiman 😚😚
Karena rada hareudang alias lumayan panas. Menggambarkan kehidupan remaja zaman now yang bukan untuk ditiru alias dosa.
Kata orang mah dosa terindah, tapi adakah dosa yang indah? 😂😂
Tulisan yang bagus untuk menu berbuka dengan yang di rumah 😂😂
Di luar itu resiko ditanggung masing2 yaa 😚😚
*****
Pukul 19.10 pasangan yang terpaut usia tiga tahun sampai di parkiran venue acara.
Adit mencari ponselnya, takut tertinggal di rumah Sena.
"Non, HP aku di kamu kan?"
"Iya, aku liat-liat boleh kan?"
"He'em. Temen-temen kamu udah dimana?"
Adit merapikan sepatunya.
"Udah di dalem kayaknya."
"Aku ngga apa-apa kan gabung?"
Begitu melihat keluar mobil, Adit seperti mengenali seseorang yang berada di depan mobil SUV berwarna hitam tidak jauh dari tempat ia parkir. Terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
Orang yang Adit maksud melihat ke arah mobilnya, lalu membuang muka memainkan ponsel.
"Kamu ngga bilang mantan kamu yang brengs*k dateng."
Sena melihat keluar mobil, mencari orang yang Adit maksud. sedetik kemudian ia melihat seseorang yang Adit panggil dengan sebutan brengs*k.
"Dia ngga gitu Mas, sebenernya dia baik."
"Baik tapi mulutnya isi sampah."
"Dia kayak gitu mungkin karena kecewa, aku langsung sama kamu."
"Salahnya dimana? Kamu udah selesai kan sama dia? Kita juga ngga selingkuh, aku juga ngga ngerasa ambil kamu dari dia. Harusnya yaudah, ngga usah ganggu lagi. Emang aku pernah ganggu Teteh dulu?"
Damar memperhatikan lekat-lekat dua orang yang berada di dalam mobil sport berwarna kuning. Mobil yang beberapa kali ia lihat di akun instagram pacar Sena sekarang.
"Iya, dia salah."
"Salah besar. Apalagi yang dia ganggu itu kamu, calon istri aku."
Sena yang semula menunduk karena tidak nyaman dengan omelan Adit, seketika menganggkat wajahnya dan mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Adit.
Adit melepas sabuk pengamannya, ingin segera turun. Lalu melepaskan sabuk pengaman Sena. Degup jantung Sena seolah berhenti karena berada pada jarak yang sangat dekat dengan Adit.
"Non... aku sayang kamu."
Wajah keduanya kian mendekat, tak peduli Damar di luar memperhatikan mobilnya. Karena sedalam apapun tatapan Damar, pandangannya tidak akan bisa menembus lapisan kaca film terbaik yang dipakai oleh Adit untuk mobilnya.
"Turun yuk."
Tiba-tiba Adit tersadar. Sebelum keadaan lebih menyulitkan untuknya menghindar.
Sena tersenyum,
"Aku juga sayang."
Lalu menarik tangan Adit untuk mendekat.
"I'm oke kalau Mas mau."
Lanjut Sena meyakinkan. Akhirnya Sena memperlihatkan kemampuan liarnya kepada Adit. Tentu Adit sangat menyukai. Laki-laki mana yang tidak suka dengan perempuan macam Sena?
Adit membalas dengan tumpahan rindu yang bergejolak. Tangannya memeluk pinggang Sena, agar lebih rapat.
"Non, jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku ya."
Kini ia merasa hatinya sudah seutuhnya untuk Sena. Namun ia tidak ingin kejadian lalu terulang kembali.
Sena kaget, melihat Adit mengeluarkan airmata.
"What's wrong with you?"
Sena menghapus airmata Adit. Rupanya Adit laki-laki berhati lembut. Sena kembali mengeratkan pelukannya.
"Never, Mas." (ngga akan pernah)
Setelah mendapat kepastian, Adit memeluk kembali semakin dekat. Merasakan dadanya dan dada Sena menempel kian dekat. Membuat Adit ingin memperlihatkan kemampuannya di hadapan Sena. Menikmati bibir gadis yang bayangannya tidak pernah hilang sejak pertemuannya di US.
Mengulum lembut bibir gadis pujaan, sementara Sena menghisap lidahnya dan memainkan. Adit menikmati kelihaian Sena. Lihai dengan pasangan sendiri tidak salah bukan? Demikian isi pikiran Sena.
"Good kisser."
Adit membisikan sesuatu yang membuat Sena semakin semangat mamainkan apa yang tadi ada di dalam mulutnya.
"You like?"
"I like the most, all about you. One more time please."
Sena memejamkan mata nya kembali, menikmati setiap sesapan yang Adit lakukan tanpa balasan. Membiarkan Adit menjelajah tiap inci bagian mulutnya. Hingga turun ke bawah, bagian leher. Tanpa menghisap, hanya mengecup.
Gila ! Adit tidak pernah merasakan sensasi seperti ini.
Ponsel di dalam tas kecil Sena bergetar. Pesan dari siapa?
"It's oke for you?"
Adit melepaskan ciumannya yang terasa memabukan.
Apa itu alkohol? Jika bersentuhan denganmu saja sudah sangat memabukan." batin Adit seolah melayang.
"It's oke. Cuma sampai situ, jangan berharap lebih."
Sena tersenyum lalu mengambil tissue untuk membersihkan kilaun lipstiknya yang menempel di bibir Adit.
"Makasih, Non."
Adit memperhatikan pantulan wajahnya di cermin mobil, lalu siap untuk turun. Di hadapan Sena, Adit merasa menjadi laki-laki seutuhnya. Perasaan yang kebanyakan laki-laki butuhkan ketika dekat dengan perempuan.
Sementara Sena rapikan jas dan dasi Adit yang sedikit berantakan karena ulah keduanua tadi.
Dengan sigap Adit membersihkan bagian leher Sena yang tadi ia absen. Lalu bersiap turun membukakan pintu mobil untuk Sena.
"Pelan-pelan turunnya. Awas jatuh."
__ADS_1
Meski hatinya masih berdetak, Adit mencoba biasa saja. Dengan penuh kesabaran dan perhatian Adit memegang tangan Sena agar tidak terjatuh karena menggunakan high heels.
"Temenku WA, mereka udah nunggu di dalam."
Adit merasakan tatapan tajam mengarah kepadanya. Tentunya dari sang mantan yang tidak bisa berhenti memandang karena ia bersama Sena.
Sengaja, Adit merangkul pinggang Sena agar bisa dilihat dengan jelas oleh Damar.
"Din !!"
"Senaa. Miss you banget !!"
Dinda melihat laki-laki di samping Sena yang tentu saja ia kenal. Siapa yang tidak kenal Aditya Wiraguna?
Dengan kemeja putih, celana coklat, das hit dan jas coklat terlihat serasi dengan Sena yang menggunakan dress berwarna coklat. Warna yang Adit tebak dengan tepat karena Sena penyuka warna soft.
"Masuk yuk Oliv di dalem."
Malam itu Adit menjadi pusat perhatian di resepsi Fahri. Selebgram terkenal dengan hampir 2 juta followers saat ini. Selama acara Adit tidak lepas dari genggaman tangan Sena.
"Berat men saingan lu."
Reno menepuk bahu Damar begitu Damar masuk. Orang yang ia tunggu di parkiran ternyata datang bersama orang yang tidak ia harapkan.
"Gua kira cowoknya di lagi di Jepang."
Damar kaget ketika melihat mobil yang ia tahu milik Adit di parkiran tadi.
"Pulang lah demi Ayang, ngambil jatah. Duit banyak, mau bolak balik juga bisa. Apalagi? Lu terlalu polos sih men jadi dikibulin betina."
"Bajing*n ! dia di dalam mobil tadi lama sama Sena di parkiran."
"Gua mah di dalam mobil di parkiran, udah traveling sama cewek gua. Lu ngerti ngecas ngga? Sena cantik gitu. Lu liat lehernya ada bekas cowoknya ngga."
"Bacott lu diem Ren. Fahri segala tobat, acara kaya gini ngga ada minuman."
Benar-benar berbeda dengan Damar saat SMA dulu. Reno kaget sekaligus prihatin.
"Chill aja yuk pulang dari sini."
Chill yang Reno maksud adalah clubbing. Sejak SMA Reno terbiasa dengan dunia malam dan perempuan.
"Dimana?"
"Dharmawangsa."
"Sekalian cariin gua cewek yang mirip Sena. Gua bayar."
"Anji*g laki-laki lurus kayak lu bisa belok karena cewek. Gila !"
Damar yang selalu menolak jika diajak ke club sejak SMA, hari ini dengan gilanya meminta perempuan bayaran? Sena benar-benar membuat Damar gila.
Sementara di sisi yang bersebrangan, Adit tengah asik memainkan ujung rambut Sena sambil memainkan ponsel. Ia tidak berniat gabung dengan teman laki-laki Sena, karena tatapan mengintimidasi yang ia terima.
Apakah semua makhluk disini, pro Damar semua? batin Adit sinis.
"Aku ngerasa aneh disini. Tatapannya ngga enak semua."
Adit membisikan sesuatu ke telinga Sena.
Interaksi kedua nya menjadi perhatian teman-teman Sena terutama Dinda dan Oliv.
"Perasaan Mas aja. Makan yuk."
"Non laper?"
"Bangeettt. Terakhir makan pas sarapan."
Adit tersenyum, mengelus rambut Sena tanpa canggung.
"Yuk."
Sena menarik tangan Adit menuju stand makanan. Resepsi pernikahan yang katanya sederhana, tapi nyatanya banyak makanan yang terhidang.
Setelah Sena dan Adit pergi, Oliv merangkul Dinda yang notabene berada di sampingnya.
"Gua mau kesel ke Sena juga ngga bisa. Cowoknya kaya begitu modelnya Din."
Dengan setengah berbisik Oliv bicara. Takut terdengar banyak orang.
"Parah lu, kasian Damar tau liv. Lu liat Damar noh di sebrang, dari tadi dia ngeliat Sena terus."
Sena menuju stand kebab. Lalu meminta 2 buah kebab untuknya dan Adit.
"Aku mau dimsum juga."
Adit mengikuti kemana Sena berjalan, dengan tangan yang selalu menggenggam. Terkadang telapak tangan, pergelangan tangan, dan kini bahu Sena yang ia rangkul.
Kedua nya tengah menikmati kebab dan kopi hits yang tersedia di acara pernikahan Fahri. Kembali bergabung dengan grup cewek-cewek yang beberapa diantarnya membawa pasangan.
"Nanti kamu yang ke Tokyo ya?"
Gigitan kebab ke sekian sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Ngapain?"
"Kalau tabungan rindu aku habis."
Adit tidak mempedulikan beberapa telinga yang ikut mendengarkan pembicaraannya dengan Sena. Ia hanya memanfaatkan setiap moment bersama Sena.
"Maksudnya?"
Sena menatap dengan menautkan alisnya hingga bertemu. Membuat Adit tersenyum senang.
"Gemes banget adiknya Rama."
Adit mencubit gemas hidung Sena. Ia harus banyak-banyak mengingat bahwa Sena adiknya Rama jika tidak ingin terjadi kerusuhan kembali. Setidaknya tidak di ruang publik.
"Sekarang aku lagi nabung. Banyak-banyak liatin kamu, pegang tangan kamu kaya gini nih, buat stok nanti aku balik ke Tokyo. Tapi lama-lama kan abis juga tabungannya. Nanti kamu yang kesana ya? Ajak Teteh atau Kakak. Tapi aku booking tiket buat kamu aja. Uang kakak lebih banyak dari uang aku."
Adit tertawa tipis, sementara Sena tersenyum. Ia tidak pernah merasakan malam seindah ini, bahkan lebih indah dari malam terindah nya saat di US.
Ternyata kebahagian tidak ada korelasi nya dengan kemewahan. Hanya menikmati waktu bersama orang terkasih, bisa membuat perasaan di hatinya membuncah ruah.
"Mas ngga bisa pulang lagi?"
"Kerjaan aku banyak yang waiting list. Kemarin aku stop kerjaan yang masuk seminggu. Aku bilang nanti aja nunggu aku balik, tapi mereka tetap mau DP biar di duluin. Padahal kerjaan yang udah masuk juga belum beres semua. Tadinya aku mau refund uang mereka, biar ngga jadi beban buat aku. Tapi pada ngga mau. Jadinya pulang dari sini, aku lembur. Non jangan marah ya kalau pulang dari sini aku lebih sibuk...."
Adit melembutkan kalimatnya yang terakhir dan menatap Sena dalam. Betul-betul tidak ingin Sena marah.
Segitunya..."
"Demi Non coba aku gini... Kerja keras bagai quda."
Adit mengelus jemari tangan Sena. Sena mengangguk pelan.
__ADS_1
"Makasih ya Mas..."
"Ada brand yang minta aku shooting juga disini. Tapi terpaksa aku tolak."
"Kenapa ditolak? Bayarannya pasti gede kan kalau gitu?"
"Ya gimana, sayang sebenernya. Kalau aku ambil, nilainya setara sama kerjaan aku seminggu. Tapi aku cuma bisa pulang enam hari. Cuma pengen dihabiskan sama keluarga dan kamu. Tabungan rindu aku mahal kan nilainya?"
Sena menutup setengah wajahnya, merasakan sensasi salah tingkah di depan teman-temannya. Tapi bukan Sena namanya jika tidak bisa membalas lebih.
"Jadi kan ke KUA?"
Kini Adit yang salah tingkah mendapatkan senyuman dari beberapa tatapan ciwi-ciwi mendengar obrolannya dengan Sena. Lalu mengambil dimsum di piring kecil yang Sena pegang, demi menutupi rasa malunya.
"Kapan?"
"Tadi Mas bilang besok kalau KUA buka?"
"Yang bener? Senin aku jemput ya."
Adit mencubit pelan pinggang Sena.
"Lho bener kan tadi Mas bilang besok di mobil?"
"Non jangan PHP."
"Aku ngga PHP."
"Tapi ikut balik ke Tokyo ya?"
Adit menarik Sena ke dalam pelukannya. Mencium rambut Sena yang wanginya sama seperti wangi shampo Mbak Putri.
Sementara Oliv dengan fokus penuh mendengarkan obrolan Sena mengirimkan chat kepada Dinda.
"Meleyot gue Din. Lakinya model gini gue juga mao 😭"
Bukan hanya ciwi-ciwi, beberapa anak laki-laki memperhatikan Sena dan Adit. Tidak terkecuali Damar.
"Jangan lu liatain ege." (ege \= ego \= begoo)
Reno meninju pelan bahu Damar.
"Mumpung dia di depan mata gua."
"Lu mah nyiksa diri sendiri."
Rizal yang sudah tau cerita yang terjadi dari Reno turut prihatin.
"Terus gimana?? Lu colok aja mata gua biar ngga bisa liat. Orangnya di depan mata, mau ngga mau keliatan."
Meski emosi, Damar mengontrol suaranya agar tidak terdengar orang banyak.
"Sebat dulu lah di luar. Ngenes gua liat lu." (sebat \= sebatang \= sebatang rokok \= merokok)
Rizal menarik tangan Damar. Naluri nya sebagai ketua kelas masih mendarah daging. Menyaksikan anak buahnya patah hati di depan mata, membuat hatinya ikut teriris.
Grup whatsapp menjadi ramai, karena Oliv salah mengirim pesan. Bukan ke nomor Dinda, tapi ke grup SMA.
"Parah lu Liv."
Rizal membalas chat Oliv di grup.
"Ya Tuhaaaann gue salah kamar 😭😭."
"Kebiasaan, riweuh si lu."
Dinda kesal dengan Oliv yang tidak tau kondisi.
"Woy disini ada jomblo ngenes, ngga ada yang mau apa cewek-cewek??"
Rizal mengambil foto Damar sedang merokok di parkiran lalu ia post di grup.
Damar yang sedang tidak memegang ponsel hanya sedang menikmati sebatang rokok yang ia hisap tanpa merasa aneh. Sementara teman-temannya tertawa dengan ponsel masing-masing, terkecuali Reno.
"Ngenes amat cogan kita satu ini." (cogan \= cowo ganteng)
"Gua aja laki seneng liat Damar. Disini cewek-cewek ngga ada yang tertarik?"
"Lu nya aja yang demen batangan ! Sesat lu, bukan golongan kita !!"
"🤣🤣🤣"
Rizal selalu sukses membuat suasana menyedihkan terasa lebih baik.
"Kenapa sih pada ketawa?"
Beberapa saat kemudian Damar baru menyadari keanehan terjadi pada teman-temannyan dimana semuanya memegang ponsel.
"Liat hp lu, lagi pada nge-ghibah di grup."
Reno memberikan informasi yang sangat berguna.
"Bangkeee !!!"
Damar menendang Rizal si biang kerok.
"Hiburan men, biar ngga stres. Ngeri lu gila."
"Gila belom, mabok udah. Lu liatin aja terus gih, ntar juga gila."
Reno satu-satunya orang yang tidak tertawa sejak tadi. Reno adalah saksi mata perjalanan Damar dan Sena. Ia yang tahu kebucinan Damar, yang bahkan lebih mementingkan Sena dibandingkan dirinya sendiri.
"Masuk ah, gua laper."
Sindiran Reno seolah menampar. Lalu membuang rokok yang baru setengahnya ia hisap lalu meninggalkan teman-temannya.
"Makan yang banyak. Patah hati butuh energi."
Teriak salah satu temannya.
"Dia segitu nya sama Sena?"
"Yang lu liat gimana?"
"Tapi realistis lah. Walaupun Damar juga kaya, pinter, anak NTU, tapi laki nya yang sekarang ganteng men, artis, anak pejabat. Susah lah dari sudut mana juga."
"Itu lah gua bilang, jangan bucin-bucin amat ke cewek. Ada yang lebih mah disikat, lu dilepeh. Ngga inget perjuangan Damar dulu dapetin dia gimana, temen gua selalu ngalah buat itu cewek. Sekarang Mesra-mesraan di depan mata, kan gila ! Gua benci sama Sena sekarang. Muna. Cuih."
Reno meludah karena ikut merasakan sakit hati yang sahabatnya rasakan.
*****
Selamat berbuka pembaca budiman, jangan lupa absen ya. Like, komen, vote juga boleh.
Rekomendasikan novel ini juga yaa 😍😍😍
__ADS_1