Cinta Mita

Cinta Mita
Hari Bahagia


__ADS_3

Pagi ini seisi rumah sibuk dengan segala persiapan menuju acara lamaran Rama untuk Mita.


Hantaran lamaran beraneka isi dan bentuk yang berisi tas, sepatu, make up, pakaian, skincare, aneka buah hingga kue sudah siap untuk dibawa.


''Ma, gini udah oke?"


Pak Romi terlihat bolak balik melirik cermin dengan model standing mirror.


''Ya ampun Papa, dari semalem repot amat. Udah oke buanget Pah tenang."


Sena menepuk-nepuk bahu Pak Romi, di selingi tawa Enin yang nampak cantik dengan kebaya merah marun dan selendang nuansa gold.


"Tau ini Papa heran, kaya Papa yang mau lamaran. Buat Rama, bukan buat Papa."


Bu Lia mencibir melihat ke-riweuh-an Pak Romi.


''Kirain buat Papa. Padahal papa udah ngga bisa tidur dari semalam karena mau ngelamar anak orang."


Uwa Dodi, Kakak tertua dari Pak Romi beserta istri hari ini juga hadir. Uwa Dodi yang nantinya bertindak sebagai perwakilan keluarga.


Rombangan keluarga yang berangkat ke Cianjur terdiri dari tiga mobil. Mobil keluarga Uwa Dodi, mobil keluarga Rama, dan mobil Rama yang berisi hantaran lamaran.


Begitu sampai di kediaman Mita, di depan rumah sudah terpasang tenda berwarna gold dan putih dengan dekorasi berikut backdrop lamaran di salah satu sudut rumah.



Ternyata Rama sudah mempersiapkan semuanya. Sabtu siang seorang laki-laki bernama Sesar yang mengaku karyawan Rama datang dengan sebuah mobil pick up berikut alat-alat dekorasi. Sesar datang mendekor rumah Mita untuk acara hari ini. Lengkap dengan screen proyektor yang nanti nya akan digunakan untuk menampilkan Rama dari Amerika secara virtual melalui sambungan aplikasi Skype.



Mita yang saat itu baru datang dari Bogor langsung menghubungi Rama.


''Kamu nyuruh anak buah kamu kesini?"


''Maaf aku lupa bilang, soalnya aku lagi riweuh. Ibu Bapak disana pasti ngga ada persiapan apa-apa, karena kamu bilangnya ngedadak. Jadi aku suruh Sesar kesana bantuin. Tadinya mau Fery, tapi dia jatah libur nya ngga bisa diganggu gugat, udah pulang ke Bandung. Aku cuma ngga mau lamaran aku ngerepotin keluarga kamu.''

__ADS_1


Luar biasa, jarang sekali laki-laki yang berpikir se-detail itu, Mita dibuat kagum oleh Rama. Rama bahkan menyampaikan tanpa menyinggung keluarga nya.


Begitu sampai, keluarga Mita langsung mempersilahkan keluarga Rama duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Sesar. Bahkan saat itu Sesar yang dibantu beberapa orang masih ada, entah menginap dimana.


''Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh... Selamat pagi hadirin sekalian, terima kasih telah berkenan hadir di acara ini. Perkenalkan saya Dodi Mulyadi Rachman, kakak dari adik saya..."


Tamu yang hadir tertawa. Jelaslah kaka dari adiknya. Rama menyimak serangkaian acara lamaran dari Skype di laptop yang di simpan di atas pangkuan Uwa Dodi hanya memegang kepalanya.


Di acara serius ini Uwa Dodi masih bisa bercanda, padahal hatinya sudah berdebar tidak karuan meski hanya bisa melihat secara virtual.


''Adik saya ini, Pak Romi, Ayah nya Rama.'' Uwa Dodi menepuk pundak Pak Romi di sisi kanannya pelan.


"Disamping kanan adik saya, ada Bu Lia, istri beliau, yang tidak lain adalah Ibu nya Rama. Dan Ibu berkebaya merah marun adalah Ibu dari Bu Lia, sekaligus Enin nya Rama dari Bandung yang semakin hari semakin cantik.''


''Ini Shenafia, adik perempuan Rama yang sedang menempuh pendidikan di Bandung. Dan ini istri saya tercinta. Alhamdulillah kami bisa berkumpul disini, bersilaturahmi dengan keluarga Pak Zainal dalam keadaan sehat."


"Saya di sini, ditunjuk sebagai perwakilan keluarga besar Pak Romi datang untuk bersilaturahmi kepada keluarga Bapak Zainal dan Bu Rini, untuk memperkenalkan keluarga kami. Saya dengar infonya, anak Bapak dan Ibu sudah memporak-porandakan hati keponakan saya tercinta yang bernama Rama Yudha Rachman. Oleh karena itu kami datang untuk bersilaturahmi hari ini.''


Semua mata yang hadir melihat ke arah Mita yang berkebaya krem. Mita hanya menunduk malu saat keberadaan nya disinggung.


"Ananda Rama memohon maaf tidak bisa hadir karena masih menempuh pendidikan di Amerika. Mohon doa hadirin sekalian agar pendidikan Rama bisa cepat selesai agar bisa segera meng-halal-kan Neng Paramitha.''


Uwa Dodi mengarahkan laptop yang sudah dilengkapi dengan webcam ke arah Mita. Rama yang wajahnya terpampang nyata di screen proyector terlihat mengangguk dan tersenyum. Bu Rini dan keluarga Mita lainnya baru kali ini melihat wajah Rama terpesona melihat Rama. Terdengar bisik-bisik dari sekumpulan sepupu perempuan Mita mengagumi Rama.


''Masya Allah cantik gini Neng Mita nya. Pantes Rama minta segera melamar takut di pepet Uwa dan Ayahnya."


Seluruh hadirin tertawa mendengar candaan Uwa Dodi. Wajah Mita memerah seketika menjadi pusat perhatian seluruh keluarga yang hadir.


Sedangkan dari pihak keluarga Mita, Om Toni, suami dari ateu Ina, adik dari Pak Zainal bertindak sebagai perwakilan keluarga Mita memberi sambutan, menerima kedatangan keluarga Rama.


''Terima kasih kami ucapkan untuk keluarga besar Pak Romi yang telah berkenan datang ke kediaman kami yang sederhana ini. Perkenalkan saya Tomi, adik ipar dari Pak Zainal, Ayahnya Mita. Kami mohon maaf jika banyak kekurangan dalam menjamu keluarga besar Bapak, karena segala keterbatasan yang kami miliki. Sejujurnya kami kaget, karena Mita baru memberi tahu hubungan Mita dengan Nak Rama sekaligus acara ini Jumat sore kemarin. Jadi persiapan kami sangat terbatas."


Bu Lia dan Pak Romi tersenyum mengangguk pelan, melihat sekilas ke arah Mita.


''Kami merasa terhormat atas kedatangan keluarga Bapak dari Jakarta ke sini dengan maksud yang sudah Pak Dodi sebutkan tadi. Semoga dengan acara ini, keluarga Bapak dan keluarga kami bisa menjadi lebih mengenal satu sama lain."

__ADS_1


Acara pun sempat hening sesaat, lalu Sesar mengambil alih acara.


''Baik, mungkin kita langsung ke acara inti saja. Saya langsung persilakan Pak Rama untuk menyampaikan langsung maksudnya dan tujuannya hari ini.''


Dengan sigap orang bawaan Sesar, menaikan volume speaker yang sudah di sambungkan ke laptop agar suara Rama terdengar oleh seluruh keluarga yang hadir.


''Assalmualaykum. Selamat malam hadirin sekalian yang sudah hadir, karena disini memang masih malam." Rama tersenyum, demi mengurangi rasa nervous nya ia sedikit bergurau. Rasanya memimpin rapat besar dengan calon client dan investor tidak segugup ini pikir Rama.


''Saya mohon maaf tidak bisa menghadiri langsung acara hari ini, karena keterbatasan yang saya miliki. Namun keterbatasan ini tidak mengahalangi niat baik saya hari ini.'' Ia tersenyum dengan senyum khas nya yang jahil.


Seketika suara bisik-bisik tidak terdengar lagi. Semua mata dan telinga fokus ke layar dimana wajah Rama ditampilkan.


''Semoga keluarga besar Bapak dan Ibu bisa memaklumi segala keterbatasan saya."


"Bismillah, dengan menyebut nama Allah. Papa, Mama... hari ini Rama meminta restu kepada Papa dan Mama untuk melamar Mita untuk menjadi istri Rama. Rama juga meminta doa Papa dan Mama untuk niat Rama kepada Mita. Semoga Papa dan Mama ikhlas memberi restu dan doa untuk kami."


Bu Lia dan Pak Romi terlihat menyeka sudut mata nya yang sudah basah karena rasa haru yang mereka rasakan. Anak laki-laki kini meminta restu ya secara resmi untuk menikahi Mita.


''Bapak, Ibu... Rama meminta izin kepada Bapak dan Ibu untuk meminang anak Bapak dan Ibu. Meskipun Rama belum sempat bertemu Ibu, insya allah sepulang nya Rama dari sini Rama bisa silaturahmi ke Bapak dan Ibu. Semoga Bapak dan Ibu ikhlas mengizinkan Rama menikahi Mita."


"Paramitha... izinkan aku yang banyak kekurangan ini jadi satu-satu nya laki-laki di hidup kamu, selain Bapak dan Yoga tentunya. Izinkan aku jadi suami kamu, jadi Bapak dari anak-anak kamu, jadi seseorang yang berharga dan selalu ada buat kamu."


''Paramitha, kamu mau jadi istri aku?"


Semua mata kini berpindah ke arah Mita, yang sejak tadi sesegukan menahan haru atas semua yang sudah diucapkan Rama.


Microphone yang berada di tangannya Ia dekatkan ke mulutnya. Sambil mengangguk Mita berkata,


"Iya aku mau. Aku mau menikah dengan kamu, aku mau jadi istri kamu, jadi ibu dari anak-anak kamu, jadi seseorang yang selalu menemani kamu dalam suka dan duka."


Akhirnya Rama mendengar dengan telinga nya sendiri bahwa Mita mau menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak nya.


Rasa lega kini Rama rasakan. Ia resmi melamar Mita. Hatinya masih berharap Mita mau segera menikah dengannya.


******

__ADS_1


Author terharu gais di part ini, jadi pengen dilamar lagi kaya lamarannya Rama 😂😂


Tuntas sudah janji ku hari ini. Update sehari 3 Bab warbiazahhh. Silakan absen di komen dan like nya ya bestie 🤗🤗


__ADS_2