
Rama senyum-senyum sendiri mengingat obrolan nya semalam sebelum Mita tutup karena malu.
"Kamu suka di atas apa di bawah?"
Mita merasa tau arah pembicaraan Rama, tapi ia tidak mengerti maksud perkataan Rama.
"Kamu pasti ngeres kan? Otak Abang lagi konslet kan? Harus di ruqyah biar rada bener !"
"Lah kok ngeres? Emang kamu kira apa?"
"Aku ngga ngerti, tapi aku tau maksud Abang pasti yang jorok-jorok."
"Kamu su'udzon aja. Aku tanya kamu lebih seneng di kantor atas apa di pabrik bawah. Lebih nyaman mana? Wah kamu otak kamu nih yang udah konslet, astagfirullah Mita istigfar sayang."
Saat itu wajah Mita berubah merah karena malu. Rama tertawa puas, akhirnya Ia bisa memutar balikan fakta. Xixixi.
Semangatnya sudah kembali terisi, satu bulan ini akan ia gunakan sebaik mungkin untuk revisi.
Namun kabar tidak enak sedikit mengganggunya di suatu malam saat sedang fokus menyelesaikan tesisnya. Ada masalah di line produksi.
"Bos, sosis se batch pecah." Fery mengirimkan pesan ke ponselnya.
What? Kok bisa?
Perusahaan Rama memproduksi sosis sapi berjenis frankfurter. Sosis jenis ini berukuran lebih panjang dari sosis biasanya dan lebih tipis dengan rasa smoky (asap) yang ringan.
Sosis ini menggunakan selongsong alami yang terbuat dari kolagen, sehingga tidak perlu di kupas saat mengkonsumsinya. Namun entah mengapa, saat proses pengasapan di smokehouse, sosis-sosis sapi yang sedang diproduksi di line sosis pecah selongsong kulitnya hingga tak berbentuk dan tidak layak jual.
Tanpa berpikir panjang Rama menghubungi Fery melalui Skype.
"Gimana ceritanya bisa meledak gitu smokehouse?"
"Ini kita lagi investigasi. SPV nya lagi introgasi operator jaga."
Setelah kurang dari 15 menit akhirnya diketahui menyebab smokehouse meledak adalah kesalahan setting suhu. Smokehouse seharusnya di setting pada suhu 400⁰ Fahrenheit lalu beberapa jam setelah panas, suhu smokehouse harus diturunkan. Namun operator yang bernama Riyanto tidak teliti dalam menurunkan suhu, karena nyatanya suhu tidak ia turunkan.
"Kamu ngapain aja di line? Ngobrol?"
Riyanto di tegur oleh Rama menunduk karena merasa bersalah.
"Satu batch sosis itu berapa kilo?" lanjut Rama bertanya.
"150kg adonan sosis Pak."
__ADS_1
Rama mengambil kertas kosong dan pulpen untuk menghitung kerugian perusahaan.
"Mau dikemanain 150kg sosis yang ngga layak jual? Berapa rugi perusahaan?"
"Kita pakai komposisi 30% daging Pak jadi sekitar 5 juta." Wahyu buka mulut, supervisor yang bertugas menjawab pertanyaan Rama.
"Bukan gitu ngitungnya. Supervisor nya saya atau kamu sih?" Rama mendengus kesal.
"Satu batch sosis itu harusnya jadi 750 kemasan sosis siap jual ukuran 200gr. Kalau 1 bungkus kita jual 20 ribu, artinya 1 batch itu seharga 15juta. Karena kejadian ini setidaknya ada 2 batch yang terganggu artinya 30juta. Dan bukan cuma nominal nya, tapi waktu produksi jadi kacau. Kita lagi dikejar produksi karena banyak permintaan, bisa tercapai ngga target tim kalian?"
"Lu cek ulang harusnya kerjaan anak buah lu." Tegur Rama pada Wahyu kesal karena konsentrasi nya menyelesaikan thesis terganggu.
"Bikin nambah kerjaan gua aja."
"Fer, Mita mana? Dia ada di line ga tadi?"
"Ada Pak, tapi Mbak Mita lagi di line nugget pas kejadian." Jika di depan karyawan Fery bersikap seformal mungkin agar tidak menimbulkan prasangka yang tidak-tidak karyawan lain.
"Panggil sini, dia aja yang ngurus. Gua udah pusing. Kalau kata Mita suruh pecat, pecat aja terserah. Jaga sikap lu semua sama Mita. Dia magang sampai Februari."
Fery melakukan panggilan telepon ke ruangan produksi untuk meminta Mita naik ke ruangan atas.
"Kenapa Bang?"
"Kamu bantuin aku ngurus ini nih, bikin masalah aja. Terserah mau diapain, rugi perusahaan 30 juta."
Bagi Rama angka 30 juta bukan angka besar, sehingga Rama ingin menguji Mita untuk membereskan permasalahan pabrik yang terjadi hari ini. Rama berharap Mita juga bisa membantu di perusahaan setelah lulus kuliah.
"Kok jadi aku? Ngga Abang atau Kak Fery aja yang menyelesaikan? Aku masih termasuk orang eksternal perusahaan." Mita merasa tidak berwenang menentukan hukuman untuk kelalaian operator hari ini yang menyebabkan terganggunya proses produksi.
"Ini perintah aku, coba gimana kamu beresin."
Mita nampak berpikir. Fery sepertinya mengerti maksud dari Rama.
"Abang ngga usah nangis. Ini pelajaran buat Abang karena ngga teliti, akhirnya proses produksi line lain juga ikut terganggu."
Mita melihat ke arah Riyanto yang menunduk hampir menangis karena takut.
"Maaf Mbak, saya janji akan lebih teliti dan hati-hati. Tolong jangan pecat saya."
"Pak Wahyu juga saya anggap ikut bersalah, ngga mendampingi Bang Riyanto dan ngecek ulang. Itu salah satu tugas supervisor kan?"
Riyanto mengangguk pelan.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ngga punya hak dan kewenangan menyelasaikan masalah ini, tapi Pak Rama memberi saya tugas ini karena beliau masih di Amerika."
Rama mengamati Mita dengan serius.
"Tadi kan sempat di cek juga alatnya yang rusak atau ada faktor lain. Tapi ternyata ini murni kelalaian, jadi mohon maaf gaji Bang Riyanto dan Pak Wahyu akan dipotong. Kalau alatnya yang rusak, saya ngga akan potong. Tapi ini juga musibah, Bang Riyanto dan Pak Wahyu pasti tidak menginginkan kejadian ini. Jadi saya anggap ini sebagai musibah perusahaan juga. Kalau kerugiannya sebagian ditanggung perusahaan, dan sebagai lagi menjadi tanggung jawab pihak yang lalai menurut Abang gimana?" Mita kini mantap Rama.
"Ngga perlu di berhentikan? Worth it ngga memepertahankan karyawan yang lalai?"
"Ngga perlu, dengan catatan Bang Riyanto dan Pak Wahyu lebih hati-hati lagi, dan menjadi pelajaran untuk kita semua termasuk karyawan lain supaya kejadian kaya gini cukup satu kali aja."
Rama tersenyum.
"Dipotong gaji itu berapa?" Tanya Rama.
"Kita bagi dua, antara perusahaan dan karyawan. Jadi Pak Wahyu dipotong 7,5 juta Bang Riyanto juga sama. Untuk 15 juta ditanggung perusahaan untuk bahan pembelajaran kita semua. Jadi pelajaran itu mahal, ngga gratis. Tolong di ingat baik-baik kejadian hari ini, kita masih beruntung karena ngga ada yang terluka. Coba meledaknya pas smokehouse dibuka, gimana?"
"Makasih banyak Mbak. Ganti rugi nya dalam bentuk potongan gaji kan Mbak bukan uang?"
Pak Wahyu khawatir diminta ganti rugi langsung.
"Iya, dipotong 500 ribu setiap bulan. Lumayan kan 500 ribu bisa untuk jajan tiap weekend tapi harus dipotong karena kelalaian. Deal kan Bang?"
"Oke." Rama tersenyum puas.
Mita, Pak Wahyu dan Riyanto kembali ke line untuk melanjutkan produksi yang tertunda.
"Wah gila, itu tadi yang ngomong si Mita Ram?"
Fery terkejut melihat keberanian dan kecepatan berpikir Mita dalam menyelasaikan masalah.
"Kenapa emangnya?" Rama memancing Fery, ingin mendengar pendapat Fery langsung.
"Semuda itu problem solving nya keren. Dia berani juga, gelo Mita gelo. Gua kira cupu ternyata suhu." (gelo : gila, cupu : culun punya)
"See? Gua salah orang ngga?" (see : liat kan?)
"Ngga, calon ibu bos yang keren."
Pilihan nya tidak salah. Abang tambah kangen, Neng !
Sejak kejadian itu karyawan semakin sungkan dan hormat kepada Mita. Riyanto dan Wahyu berpikir jika saja tidak ada Mita, mungkin mereka sudah dipecat.
Menurut perkiraan Rama, ia bisa pulang dua minggu lagi selesai sidang dan mengurus berkas wisuda. Meski wisuda Desember, Rama memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Dan kembali ke Amerika mengajak keluarga nya dan Mita menghadiri wisuda nya. Perfect planning! Semoga berjalan seperti yang sudah ia persiapkan.
__ADS_1
Gimana selanjutnya? Ikutin terus kisahnya Rama dan Mita ya bestie ❤️