Cinta Mita

Cinta Mita
Gombalan pagi


__ADS_3

"Kamu kenapa sama Sena?"


Perlahan emosi Pak Gunawan mencair, mencoba memahami bahwa ini bagian dari proses kematangan emosi dan cara berpikir putra tunggalnya.


"Aku udah lama putus, sampai kemarin aku masih mau mempertahankan dia. Karena aku kira kita bisa balik lagi, tapi kayaknya ngga bisa."


Damar menautkan kedua tangan di belakang kepalanya, pasrah dengan hubungannya dengan Sena, cinta pertamanya. Perempuan yang ia kira akan selalu menemani hari-harinya.


"It's oke, bukan masalah besar. You smart, cool, ngga mungkin disini ngga ada yang suka. Mahasiswi Indo juga disini banyak."


Damar tidak merespon ucapan Pak Gunawan, hanya menjawab dengan jawaban yang emosinya tersulut kembali. Meski yang dikatakan ayahnya benar, tapi tidak ada yang


menarik di hatinya.


"Pulang aja bisa Yah? Aku disini untuk dia, tapi buat apa sekarang dia nya udah sama cowok lain. Jadi ngapain lagi disini?"


Pak Gunawan menarik nafas nya pelan, berharap tambahan kesabaran dari oksigen yang ia hirup.


"Kamu kacau banget kayak gini."


"Aku kacau karena Sena."


"Jangan menyalahkan orang lain, kendali kamu ada di tangan kamu. Kamu begini karena kamu yang ngga bisa kontrol diri kamu sendiri."


Dengan berani Damar mengeluarkan rokok nya, bahkan di hadapan ayahnya yang tidak merokok.


"Maaf aku sambil ngerokok. Pusing, kepalaku mau pecah. Ditinggal pas sayang-sayangnya sakit banget rasanya."


Sang kapten meperhatikan setiap inci tingkah laku Damar sekarang. Tidak bertemu langsung selama tujuh bulan, banyak perubahan yang baru ia sadari. Kulit Damar menjadi lebih gelap, mungkin karena banyak kegiatan kampus. Bahkan rambunya sudah menutupi telinga.


"Sejak kapan kamu ngerokok? Dari di Jakarta sudah ngerokok? Cuma Ayah aja yang ngga tau?"


Damar menggeleng.


"Sejak ada masalah Sena."


"Hidup kamu kayaknya berputar di dia aja."


"Rotasi hidup aku cuma Sena."


"Minum? Sejak kapan kamu minum? Siapa yang membolehkan?"


Kesalahan terbesarnya, kurang memberikan pendidikan agama kepada Damar. Hal yang baru ia sadari beberapa menit lalu, ia sesali sekarang.


"Belum lama, kalau pusing aja."


"Tadi minum berapa banyak? Masalahnya jadi selesai kalau kamu minum? Ayah mau coba kalau minum bisa menyelesaikan masalah. Masalah di kantor juga banyak."


Damar hanya mengeluarkan asap tanpa menjawab sindiran keras ayahnya. Angin malam di salah satu restoran yang terletak di sebuah rooftop sedikitnya menyumbangkan oksigen ke kepalanya.


"Mar, Mar... Lain kali kalau kamu mau minum bilang Ayah, biar Ayah temenin. Jangan minum sendiri."


Damar tertawa untuk pertama kalinya, setidaknya hari ini.


"What the heck." (Apa-apan)


Damar mengerti bahwa itu adalah sebuah larangan dari Ayahnya yang paling ia segani.


"Rokok boleh kan berarti? Aku udah 20+."


"Kalau Ayah larang emang kamu bakal berhenti?"


"Kalau rokok kayaknya ngga."


Senyum tipis yang Pak Gunawan lihat di bibir Damar mengurangi sedikit rasa khawatirnya.


"F*cking you both, I hate you ****."


Ingatan Damar kembali pada percakapan terakhirnya dengan Sena dua hari lalu.


"Aku boleh ngga nangis?"


Damar mengangkat kakinya ke atas kursi. Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.


"No problem."


"Aku kira bisa pulang bawa gelar ke Indonesia buat dia, dateng ke rumahnya dan bawa dia ke rumah. Aku suka sama dia dari awal SMA, tapi dia baru lirik aku saat mau lulus. Selama itu ngga ada siapa-siapa lagi bahkan sampai saat ini. Aku jaga semuanya buat Sena, aku semangat organisasi buat Sena, biar dia bangga punya cowok aktivis kampus. Aku bahkan pernah nekat nyamperin ke kampusnya karena dia marah padahal aku juga disini sibuk. Anything, semuanya buat dia. Sampai kita ada masalah, karena aku terlalu banyak kegiatan. I think we just need me time each other, tapi ternyata dia bener-bener pergi. Bahkan liburan ke US sama pacar barunya."


"Liburan berdua?"


"Dia sama keluarganya ke US wisuda kakaknya dan cowoknya ikut. Padahal selama tiga tahun kita bareng, aku ngga pernah ngerasain gimana rasanya jalan berdua di muka umum, apa itu pegangan tangan di mall, post foto berdua di instagram, aku ngga pernah merasakan itu. How do you feel if your were me?" (gimana perasaan Ayah kalau jadi aku?)


"Kenapa kamu seperti selingkuhan dia yang ngga boleh diketahui publik?"


"Dia ngga boleh pacaran, tapi sama cowok itu boleh."


"Siapa cowoknya?"


Pak Gunawan terbawa dengan curahan hati sang putra hingga membuatnya penasaran akan pacar baru Sena. Mendengar cerita dari Damar, pacar Sena sekarang tentu bukan orang sembarangan.


"Kalau Ayah tau anggota dewan Bambang Wiraguna, dia anaknya Bambang itu."


"Ohh damn."


"Ayah tau?"


"Bambang itu ketua Komisi V. Salah satunya membawahi kementerian perhubungan. Perusahaan Ayah termasuk BUMN, secara ngga langsung komisi Bambang berhubungan dengan kantor Ayah kerja."


Damar mengangguk, dunia sekecil itu.


"Pertanyaan aku tadi belum dijawab. Bisa ngga kalau aku kuliah di Indo aja? Swasta aja yang ngga ribet, aku mau keliling Indonesia dulu."


"Dari cara kamu menanggapi masalah seakan-akan kamu berpikir kalau masalah kamu itu gede banget. Masalah terbesar se-Indonesia raya. Tanggung lah berhenti di tengah jalan, tinggal 2 semester."


Pikiran yang juga terlintas di kepalanya. Hampir tiga tahun bertahan di negara orang bukan perkara mudah, terlebih Damar bukan tipe laki-laki yang suka keluyuran. Tanah air sebenar-benarnya rumah baginya.


"Ayah sudah terbang ribuan mil, bekerja keras untuk keluarga agar Ayah bisa kamu jadikan contoh, tapi nyatanya Ayah gagal jadi contoh. Siapa sebenarnya yang kamu jadikan contoh? Cuma karena perempuan pikiran kamu sekacau ini."

__ADS_1


Meski mencoba bersikap sebiasa mungkin, Damar tetap melihat kekecewaan yang terpancar dari tatapan dan ucapan sang ayah.


Damar menutup wajahnya, ternyata titik terendah dalam hidup nya hanya masalah perempuan.


"Ayah dulu mau sekolah itu susah. Jangankan untuk sekolah keluar negeri kayak kamu, bisa kuliah aja itu keajaiban. Jangankan untuk kuliah, bahkan les pun orangtua Ayah ngga mampu membiayai. Kalau bukan karena otak dan kerja keras, sekarang kita ngga akan ada disini."


"Dulu Yai itu petani dan Nyai buka warung, jualan sayur dan sembako di rumah. Tetangga-tetangga yang bekerja sebagai guru suka ngasih buku-buku bekas untuk dijadikan bungkus sayuran. Saking suka nya Ayah sama belajar tapi ngga punya uang untuk les, Ayah baca semua buku-buku itu di warung." (Nyai \= nenek, Yai \= kakek, panggilan untuk orang Palembang)


Pak Gunawan mengenang masa kecilnya dulu, saat masih hidup pas-pas an hanya cukup untuk makan. Masa-masa sulit, dimana hanya sanggup makan dua butir telur yang didadar dan harus cukup untuk dimakan sekeluarga bersama orangtua dan dua saudaranya yang lain.


"Sekarang dengan semua kemudahan dan fasilitas yang Ayah kasih, jiwa juang kamu nol besar. Bukan jiwa orang Melayu yang pantang menyerah."


Pak Gunawan terdiam, tidak bisa mendidik Damar seperti dirinya yang tahan banting.


"Kamu mau balik? Silakan. Pikirkan matang-matang masa depan kamu. Masa depan kamu ada di tangan kamu, bukan di tangan Ayah atau Bunda. Ayah hanya bisa support sebisa yang Ayah mampu."


Pak Gunawan melirik jam di tangan kanannya.


"At least masih ada waktu 15 jam sambil nunggu pesawat Ayah yang lagi ke Sidney. Selama 15 jam ini kamu pakai untuk berpikir. Ayah daftarkan kamu di manifest penerbangan Ayah, kalau kamu masih mau pulang, Ayah tunggu di Changi." (Changi : bandara Singapura)


Pak Gunawan langsung berdiri bersiap meninggalkan Damar dengan menggeret koper yang selalu menemaninya terbang kemanapun. Koper yang ia bawa dengan rasa bangga dan perjuangan demi keluarga. Anak seorang petani dari desa terpencil di Palembang yang mampu membangun karir sebagai seorang kapten penerbangan saat ini. Yang memberikan fasilitas dan pendidikan terbaik untuk sang putra tunggal, agar Damar bisa sekolah tanpa susah payah seperti dirinya dulu.


"Ayah ngga istirahat di flat aku?"


Pak Gunawan menggeleng. Ternyata penolakan dari Ayahnya sama sakitnya.


"Ayah udah pesan hotel, gunakan waktu kamu untuk merenung dan berpikir."


Damar mengulang ingatan yang membuatnya bisa sampai Singapura hingga detik ini. Semua pengorbanan kedua orangtuanya terlebih sang ayah, juga ekspresi bangga Bunda saat tau ia diterima di NTU, menyadarkannya dari keterpurukan. Meski belum bangun, setidak lnya ia tahu harus segera bangkit.


*****


Selesai check in dari hotel yang hanya 2,5 jam, Mita ingin segera sampai Bandung. Semangatnya belanja kini menyala 45 kembali.


"Sabar dong sayang, ke mall bisa besok pulang Sena kuliah."


Mita merespon dengan bibir mengerucut.


"Kali ini aja kamu dengerin aku. Mau pulang jam berapa kalau belanjanya malam ini juga? Kasian Sena dia harus belajar."


"Iya."


Mita menjawab dengan lemah.


"Pinter, muahh."


Rama yang sedang menggunakan sabuk mencium kening Mita.


Atas permintaan Mita yang ingin berdua saja dengan Rama, terpaksa Rama harus menyetir sendiri tanpa supir.


"Pulang harus pakai supir Sayang."


"Ngga mau berdua aja sama aku?"


"Bukan gitu, maksudnya biar aku bisa sambil kerja. Kalau gini sayang waktu aku terbuang cuma buat nyupir."


"Baiklah..."


Jarak Tangerang - Bandung yang kurang dari 200km ditempuh Rama dalam waktu 3 jam. Tanpa kendala dan kemacetan yang berarti.


Tanpa memberikan kepada orang rumah di Bandung, Mita mengagetkan Sena yang sedang khusyu' dengan laptop.


"Bestieeee."


Mita membuka pintu kamar Sena yang sedikit terbuka.


"Ya Allah kaget. Kok bisa disini??"


"Bisa dong pake pintu doraemon. Lagi apa sistah?"


"Kesini ngga bilang-bilang. Sama siapa kesini?"


"Sama pengawal, tuh di pintu."


Rama sedang mengunyah apel yang ia ambil dari kulkas Enin. Apel berwarna hijau yang berasal dari Australia betuliskan "granny smith" oad lebelnya.


"Ih bosen liatnya, aku jadi kasian sama Teteh kaya ngga punya waktu me time, kemana-mana diintilin."


Ucapan yang menutupi kebenaran, karena nyata nya Sena iri melihat Mita selalu bersama Rama.


"Kamu jangan hasut Mita. Awas ngomong macem-macem. Wa Cucun masak apa? Laper euy."


"Tadi kan kita baru makan Bang."


"Beda, ini mah masakan Wa Cucun yang ngga ada dua nya. Kalau kata Sena mah endolita."


"Kata Kakak itu sih, enak aja."


"Besok kuliah sampe jam berapa?"


Mita kembali fokus kepada Sena, fokus kepada tujuan awal.


"Kenapa emang nya?"


"Shopping yuk bestie."


"Dihh kesini karena pengen shopping? Oh my gosh ckckck."


"BM nya nyusahin kan Sen?" (BM \= banyak mau)


Rama menguping pembicaraan dari luar kamar


"Abang ngga ikhlas bukan? Tadi kan kita udh transit di hotel."


"Ikhlas kok Sayang."


Sena geleng-geleng kepala. Kamarnya terasa tiba-tiba ada kericuhan.

__ADS_1


"Tong lalawora ngomong sama anak gadis, jangan frontal begitu." (lalawora \= sembarangan)


"Kita ngga ngomong apa-apa Nin sayang. Xixixi."


Mita membela diri.


*****


"Sen, aku mau nanya boleh?"


Tiba-tiba Adit mengirimkan pesan saat sedang duduk di meja makan bersiap untuk sarapan.


Nanya? Membuat penasaran.


"Nanya apa, Mas?"


Tidak langsung dijawab, Adit malah melakukan panggilan video call.


"Sarapan apa?"


"Cereal pake susu, mana deh susu nya. Wa Cucun, punten susu putih dingin."


Anak manja, masih saja. Pikir Adit.


"Pagi Sena, udah mau ngampus?"


"Iya lah aku ngampus. Kok bisa hari kerja pada kesini sih? Kakak ngga ngantor?"


"Izin sehari mah, bosen liat Abang kerja terus. Sibuk urusan dunia terus."


Cieleh...


"Gokil lho Mas, kesini cuma buat minta ditemenin belanja. Kaya disana ngga ada mall aja."


Sena menatap layar ponsel di hadapannya.


"Ohh sarapan ditemenin Ayang. Dit apa kabar?"


"Baik Teh. Kakak mana?"


"Abis Subuh tidur lagi."


Pembicaraan kini melibatkab tiga orang.


"Eh tadi katanya kamu mau nanya, nanya apa?"


"Hah nanya apa?"


"Tadi di chat kamu bilang mau nanya boleh ngga."


"Oh tadi, nanti aja nanya nya."


"Kok nanti, aku jadi penasaran gini. Jarang-jarang kamu nanya pake izin dulu."


Adit tertawa malu, ragu untuk menjawab atau tidak.


"Beneran pengen tau? Tapi ada Teteh aku malu."


"Kenapa malu? Nanya mah nanya aja. Sans aja aku mah. Anggap selai kacang yang selalu ada di meja makan lah, hanya pelengkap."


"Aku ngga jadi nanya."


Adit memotong ucapan Mita yang kini terdenger lebih "berisik".


"Kenapa?"


"Karena aku udah tau jawabannya "


"Apa jawabannya?"


"Kamu jawaban dari doa aku."


Wajah Sena memerah karena malu, belum pernah Adit gombal sesukses ini.


"Ceileeehhhh di gombalin dong pagi-pagi. Oke bye, aku sarapan di kamar aja. Gerah euy denger yang pacaran."


Sena semakin memerah. Sementara itu Mita bangun membawa piring berisi dua tungkup roti berisi selai cokelat dan kacang.


"Muka kamu merah gitu."


Adit menggoda Sena.


"Masa sih? biasa aja."


"Gemes, jadi pengen pulang."


"Sini pulang, ada yang kangen."


"Kalau aku pulang, jangan sibuk sama kuliah ya."


"Ya tergantung, kalau emang lagi sibuk gimana?"


"Mending ngga pulang daripada aku dicuekin."


"Ngga dicuekin juga, jadi supir aku aja ngga mau?"


"Boleh aku supirin?"


"Boleh lah buat Aditya Wiraguna mah."


"Nanti fans nya di kampus kabur kalau aku supirin."


"Ngga apa-apa. Apalah arti fans kalau ada kamu."


Kini wajah Adit yang memerah. Setiap pujian bahkan gombalan dari Sena untuknya terdengar tulus.


"Nanti aku pulang, beresin kerjaan disini dulu. Biar bisa kosongin jadwal dua minggu."

__ADS_1


"Oke."


__ADS_2