Cinta Mita

Cinta Mita
Sidang


__ADS_3

Hari ini jadwal sidang Mita. Setelah dua minggu kemarin sibuk bolak balik kampus, akhirnya hari ini tiba juga.


Sebelumnya, Yoga yang menemani Mita ke kampus karena perintah dari bos besar yaitu Rama.


"Ga kalau kamu ngga ngapa-ngapain, temenin Teteh ke kampus ya."


Yoga dan Bu Rini masih di apartemen, menemani Mita yang masih merasakan morning sickness hingga tidak nafsu untuk makan.


"Siap, Bang."


Meski dalam hati, menurut Yoga berlebihan. Karena Mita ke kampus sudah diantar Pak Yanto. Tapi apa bisa menolak permintaan bos besar Rama?


Tak jarang sepulang kuliah, Mita mampir ke toko buku untuk menambah referensi bahan sidang. Yoga pun seringkali meminta jatah karena sudah mengantar, sekedar komik atau buku otomotif.


"Beli buku yang nyambung sama kuliah Ga..."


"Nanti kalau udah masuk kuliah aja kalau itu mah."


Setelah puas di toko buku, Mita mencoba segala jenis makanan yang dijual di food court mall. Segala jenis makanan ia beli, namun yang menghabiskan tak lain adalah Yoga.


"Udah atuh Teh, Oga kenyang."


"Penasaran, Ga. Mumpung ke sini."


Lapar mata, kata yang cocok untuk Mita.


"Habisin atuh, kenyang banget."


Mulai dari croffle, mentai, toast, hot pot hingga Tteokbokki sudah mendarat di perut Yoga. Begitupun dengan segala jenis minuman yang menurut lidah Yoga rasanya sama saja.


"Teteh pengen foto aja sebenernya."


Yoga melipat bibirnya kesal.


Dua hari sebelum sidang, perasaan Mita tidak karuan. Fokus dan waktunya ia habiskan dengan membaca tugas akhir dan semua buku referensi yang terkait dengan judul tugas akhirnya, yaitu Proses Penentuan Kehalalan Pangan.


Bahkan Mita belajar hingga larut di H-1 sidang.


"Tidur, Sayang."


Rama mengagetkan Mita dengan pelukan dari belakang saat sedang duduk di meja kerja Rama. Sebuah pelukan yang memiliki arti bahwa Rama siap menjadi pelindung Mita, apapun kondisinya.


"Ngga bisa, Abang. Aku nervous banget. Temenku ada beberapa yang ngga lulus."


"Masa istrinya Rama ngga lulus? Mustahil. Tidur ya? Ngga sesusah itu, aku kan udah pernah sidang. Dibawa santi aja."


"Santaiii, masa santi."


"Bagus, artinya kamu masih fokus. Tidur ya?"


Rama melihat jam di meja kerja sudah menunjukan pukul 11 malam. Kamar yang ditempati Bu Rini dan Yoga bahkan sudah gelap.


"Adek, sehat kan?"


Rama mengusap perut Mita yang sudah mulai terlihat perubahan bentuknya.


"Sehat dong, Papa."


"Mama nya adek nakal, ngga mau bobo. Padahal Adek kan ngantuk, pengen istirahat. Papa juga ngantuk, Dek."


Mita tertawa menatap Rama.


"Yaudah ayo tidur."


"Wah jadi sholeha nih Mama Mita karena Adek."


"Papip nya berisik, Dek."


"Eh kok lucu Papip."


"Iya dong, biar beda sama orang."


"Oke, Mamim Mita kita bobo."


Rama menggendong Mita dengan bride style (gaya pengantin). Melihat Rama tertidur pulas dalam hitungan menit, akhirnya Mita meletakan ponselnya berusaha untuk memejamkan mata. Dengan susah payah akhirnya ia tidur.

__ADS_1


Pagi hari, Rama sudah siap dengan polo shirt berwarna navy. Dengan celana bahan slim fit yang semakin membuat Rama terlihat sebagai calon hot daddy.


Rama sudah izin tidak masuk pabrik hari ini, karena ingin menemani Mita sidang.


"Abang kerja aja, aku bisa sendiri."


Mita tidak enak jika Rama sering izin di pabrik. Ia tidak mau di cap manja oleh Fery dan karyawan pabrik.


"Ngga mau ditemenin suami? Pabrik mah biarin aja, aku bos nya. Mereka bisa apa?"


"Aku ngga enak aja."


Akhirnya Rama video call Fery agar Mita tenang.


"Fer, gua jadi izin ya. Nyonya ngga enak gua izin terus katanya."


"Bebas bos, bebasss. God luck Nyah sidangnya."


Rama mengarahkan kamera pada Fery yang sudah tiba di pabrik.


"Iya, Kak Fery. Makasiihh udah diizinin."


Rama tertawa. Atasan minta izin ke bawahan? Cuma Mita.


"Saya mah bisa apa atuh, Nyah. Kamprett emang bos satu, ganggu aja lu bantuin kaga. Bye ah gua mau gawe."


Percakapan tersebut terjadi di ruang makan saat sedang sarapan bersama Bu Rini dan Yoga.


"Bawahan Abang ngomong gitu ke Abang? Ngga sopan banget."


Yoga terlihat bingung.


"Dia sahabatnya Abang, emang begitu kalau ngomong."


"Ohh pantes."


Di kampus, Rama menjadi perhatian mahasiswa. Menemani Mita sampai ke dalam gedung tempat sidang di laksanakan. Menunggu di depan kelas bersama mahasiswa lainnya. Ada yang kebagian jadwal sidang bersama Mita, ada yang sekedar menemani teman dekatnya untuk memberi support.


Sampai saat ini, hanya segelintir orang dan beberapa dosen yang tahu bahwa Mita sudah menikah. Sehingga Rama ditatap penuh kagum oleh beberapa mahasiswi.


"Mita, lo sibuk banget sekarang."


Mita memberi isyarat kepada Vera, teman sekelasnya.


"Eh hamil lo ya? Gendutan tau."


"Sstttt. Ntar anak-anak denger."


"Mau sampe kapan ditutupin lagian?"


"Habis sidang nanti aku post deh."


"Ih lo mah betah. Kalau gue udah bikin pengumaman kali dapet suami kaya gitu."


Rama pura-pura tidak mendengar percakapan yang terjadi di belakang nya. Terlihat fokus pada ponsel padahal memasang telinga penuh.


Tiba mahasiswa ketiga yang dipanggil masuk ke dalam ruangan. Mahasiswi bernama Dwi, teman sejurusannya. Namun sayangnya Dwi keluar ruangan dengan wajah murung.


"Gimana Wi?"


Teman-teman dekat Dwi mengahampiri perempuan asli Medan tersebut.


"Gue belum lulus."


Deg. Mita semakin nervous. Rama menguatkan lewat genggaman tangan.


Sidang di mata Rama biasa saja, meski memang mendebarkan. Mungkin karena Rama terbiasa berdiskusi dan persentasi, hingga sidang tidak semenakutkan itu. Berbeda dengan Mita yang bukan anak organisasi.


"Mamin bisa dong. Aku nunggu di sini."


Rama mencium kening Mita. Ingin lebih sebenarnya untuk mentransfer energi, namun ia tau diri.


Begitu masuk, hawa dingin ruangan langsung menusuk. Ruangan dengan 2 AC sementara di dalam ruangan hanya ada 2 orang dosen penguji, 1 orang dosen pembimbing dan mahasiswa peserta sidang.


"Maaf Pak, Bu. Boleh Saya izin ambil jaket dulu di luar?"

__ADS_1


"Itu kamu pake jaket."


"Tapi masih dingin. Tapi kalau ngga bisa, ngga apa-apa Bu."


"Silakan. 2 menit."


"Terimakasih."


Mita berlari ke luar ruangan, membuat Rama kaget karena belum ada 5 menit Mita masuk ruangan.


"Lho kenapa?"


"Pinjem jaket kamu, di dalem dingin. Ayo cuma 2 menit waktunya."


Rama dengan terburu-buru melepas jaketnya hingga ponselnya yang jatuh ia biarkan. Lalu memakaikan jaket tersebut ke tubuh Mita.


"Santai, kepintaran aku udah aku simpan di jaket ini."


Tidak sempat menjawab gurauan Rama, Mita kembali masuk ke dalam ruangan.


"Jaket cowok? Pinjem punya siapa?"


Bu Dewi, dosen pembimbingnya yang kepo akut.


"Iya Bu, punya Abang Rama."


Bu Dewi salah satu dosen yang tau pernikahannya. Mita berharap Bu Dewi tidak meneruskan pembahasan mengenai jaket atau Rama. Karena dua orang dosen penguji berasal dari dosen kelas lain yang tidak mengetahui ia dan Rama.


"Oh, suami kamu itu menenin ya. Silakan dimulai."


Mita mengangguk. Setidaknya pembahasan mengenai Rama tidak berlanjut.


"Assalamualaykum. Selama pagi Bu Dewi selaku dosen pembimbing Saya, Pak Arif dan Bu Sri sebagai dosen penguji. Khususnya, Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Saya, karena telah membantu Saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Terima kasih Ibu."


Mita menjelaskan secara gamblang dan rinci mengenai isi tugas akhirnya yang membahas tentang proses penetapan kehalalan pangan. Di mulai dari proses sertifikasi, hingga penerapan standar kehalalan di perusahaan tempat ia magang.


"Di perusahaan tempat Saya magang, dari hulu hingga hilir sangat diperhatikan mengenai kehalalan produk. Karena produknya hewani, proses ini dimulai dengan penyembelihan hewan sesuai syarian Islam."


"Pada prosesnya, saat sebelum operator pemotong hewan masuk ke dalam kandang, operator tersebut sudah berdoa dan berniat memotong hewan sembelihan dengan niat karena Allah dan dengan bismillah. Sehingga tidak perlu lagi mengucap bismillah satu per satu karena sudah di awal kandang tadi."


Perlahan rasa gugup Mita menguap. Berganti dengan rasa percaya diri karena jaket yang ia kenakan sedikit banyak menyumbang energi positif.


"Demikian pemaparan Saya mengenai isi tugas akhir Saya. Dengan segala hormat, Saya persilakan jika ada kritik, saran atau pun pertanyaan dari Bapak ataupun Ibu."


"Baik, terima kasih saudari Mita atas pemaparannya. Bagaimana Bu ada masukan atau pertanyaan? Mungkin dari Pak Arif?"


"Saya mau tanya yang dasar aja, karena keliatannya kamu sangat mengusai materi kamu. Kenapa kamu memilih tema halal?"


"Terima kasih Ibu, atas pertanyaannya. Saya muslim, sehingga Saya sangat concern terhadap halal dan haram. Karena hal tersebut berpengaruh terhadap amalan kita di mata Allah. Doa seseorang juga akan tertahan jika di dalam tubuhnya mengalir sesuatu yang haram."


Pak Arif tersenyum, sementara Bu Dewi dan Bu Sri mengangguk.


"Kalau Saya puas dengan pemaparan dari Saudari Paramitha. Bu Sri dan Pak Arif bagaimana?"


"Cukup."


Hanya jawaban singkat yang keluar dari Pak Arif, dosen mata kuliah pengolahan pangan.


"Saya juga cukup."


Mita tercengang. Sudah?


Hebat sekali pengaruh jaket Rama, pikir Mita.


"Tapi baru 15 menit ya. Ngga fair dengan mahasiswa lain. Bahkan ada yang sampai 60 menit."


Bu Sri melanjutkan ucapannya.


"Tadi saya dengar kamu sudah menikah? Bagaimana kehidupan pernikahan?"


Mita bertambah kaget dengan pertanyaan yang sangat pribadi dari Pak Arif.


"Mita ini menikah dengan pemilik perusahaan tempatnya magang Pak."


Bu Dewi mengkonfirmasi yang seharusnya tidak perlu menurut Mita. Hingga kedua dosen pengujinya kaget.

__ADS_1


Pembahasan selanjutnya adalah acara gosip dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu komplek. Mita hanya bisa tersenyum salah tingkah karena pembahasan sidang berbelok menjadi acara gosip.


Tobat!


__ADS_2