Cinta Mita

Cinta Mita
Dongeng pengantar tidur


__ADS_3

Setiba nya di rumah Enin ia langsung membereskan beberapa barang-barang pribadinya untuk diangkut ke mobil. Tidak banyak karena ia pun hanya 2 malam disana.


"Cepat amat pulangnya, tiiseun lagi Rama pulang." (tiiseun : sepi)


"Mau ngurusin visa dulu sama beberapa syarat administrasinya Nin."


"Kaboghna ditinggal atuh?" (kabogoh : pacar)


"Belum jadi kabogoh, Kakak nya aja yang ngebet." Sena menimpali, mungkin sedang mengeluarkan kekesalannya karena masih dilarang dekat dengan laki-laki.


"Cucu Enin kasep na teungteuingeun kieu masih ditolak? Enin merasa harga diri Enin jatuh." terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Rama. (teungteuingeun : kelewatan)


"Lagian suka sama anak asuh Mama, nggak setuju lah Papa."


"Bener?"


Ia sudah tidak bisa menutupi lagi hubunganya dengan Mita. Se-rapi apapun ia menutupi pasti akan terbongkar juga.


Jika cinta bisa memilih kepada siapa akan berlabuh, ia akan tetap memilih Mita untuk hatinya. Hatinya sudah terpaut dalam pada seseorang yang baru dikenalnya beberapa bulan. Non sense seperti yang pernah Andri bilang, tapi nyata adanya.


"Ternyata yang sering di agungkan Papa bahwa derajat manusia itu sama cuma dongeng pengantar tidur yang nggak berlaku buat keluarga kita."


Begitulah kenyataannya, kita bisa dengan mudah menggurui ini itu orang lain padahal kita sendiri pun belum tentu mampu menjalankannya. Papa dan Mamanya yang memang memiliki komunitas orang tua asuh


selalu bilang bahwa setiap manusia apapun status sosialnya memiliki kesempatan yang sama dalam hal apapun. Tapi mungkin tidak berlalu jika urusan cinta dengan anaknya sendiri.


"Dia ngga nolak aku. Dia cuma sadar, siapa dia siapa kita. Emang kita siapa Nin? Sesultan apa kita sampai meremehkan orang lain, walaupun orang itu kita yang biayain kuliahnya? Emang boleh begitu?"


Rama terus berbicara tanpa menatap Neneknya maupun Sena. Kecewa nya sangat dalam sampai harus memutuskan ke US agar bisa melepaskan Mita dengan lebih tenang.


Melepaskan meskipun tidak yakin bisa melupakan.


"Aku pulang ya Nin. Enin jaga kesehatan, jangan terlalu capek." Diciumnya tangan Nenek nya yang tinggal satu-satu nya itu. Memeluknya yang ia harap bisa melepaskan rasa kecewa nya barang sedikit.


"Sena, boleh tinggalkan Enin sama Kakak sebentar?"


Sena mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


"Rama, kamu kan sudah dewasa. Sudah waktunya memilih yang serius, yang bisa menemani kamu membangun rumah tangga. Bukan untuk main-main."


"Di agama kita, dibolehkan memilih pasangan yang sekufu atau setara. Jadi boleh orangtua memilihkan anaknya untuk mencari pasangan yang sepadan, kalau di Indonesia bibit bebet bobot. Di Islam juga ada namanya sekufu."


"Iya aku ngerti, Papa seperti itu buat kebaikan aku. Makannya aku ngalah, biar aku yang pergi jauh. Nanti aku pulang kalau udah ikhlas nerima semuanya atau mungkin saat dia sudah sekufu dengan kita seperti yang Enin bilang tadi.''


Enin memeluknya erat, diciumnya puncak kepala cucu laki-laki nya itu.

__ADS_1


Apa namanya ini? Kehilangan meski belum sempat saling memiliki. Patah hati meskipun ia yakin perempuan yang ia cintai, merasakan hal yang sama dengan dirinya.


Rama meninggalkan Bandung sebelum adzan Magrib. Ia percepat kemudinya agar segera mendarat di tempat tujuannya.


Kini ia bisa meninggalkan Mita dengan lebih tenang, keluarga nya sudah tau kisah sebenarnya seperti apa. Setidaknya ia tidak ingin Mita di cap buruk oleh keluarganya. Karena memang tidak begitu adanya.


Setelah sempat mampir di rest area untuk shalat Magrib dan membeli sedikit buah tangan, ia melanjutkan kemudinya kembali. Sampai di Bogor sudah sedikit terlalu malam. Jarum jam di jam tangan nya menunjuk hampir menunjuk angka 9.


Namun tak disangka, di depan gerbang Mita sedang sedang berbicara dengan seorang laki-laki muda. Seperti akan pamit karena pria tersebut sedang mencoba memakai helm nya di kepala.


Diperjalanan tadi ia membayangkan akan menemui Mita dengan pakaian tidurnya karena sudah malam, namun nyata nya pemandangan di depan matanya membuat hatinya terasa panas yang sulit ia padamkan.


Berkali-kali setir mobil ia tinju tak tentu arah.


Begitu laki-laki itu pergi, ia membunyikan klakson mobil berharap Mita mendengar dan mendekat. Klakson ketiga yang ia bunyikan akhirnya disadari oleh Mita.


"Masuk." hanya itu yang ia ucapkan, tak berniat untuk turun menyapa.


"Dari kapan disini?" Mita menyapa nya dari luar jendela.


"Masuk ke mobil bentar." Mita masuk tanpa dibukakan pintu seperti biasanya.


*****


Mita


Mita duduk disebelahnya memandangnya, namun laki-laki disampingnya membuang pandangan keluar jendela seolah tak mau menatap.


"Itu kamu tau udah malem, kenapa nerima cowok dateng malem-malem?"


"Apaan sih, itu temen aku."


"Temen ngapain dateng malem-malem? Sore bisa."


Saat melihat Mita bersama laki-laki tadi ingin ia luapkan kemarahannya di hadapan Mita, tapi saat perempuan tersebut duduk disampingnya nyata nya tak bisa.


"Datengnya memang sore."


Ia pusing dihadapkan pada keadaan seperti ini.


"Dateng dari sore pulang jam segini? Jadi dia ngabisin 2 kali waktu shalat sama kamu. Aku kesini mau ketemu kamu, malah liat kaya tadi. Orang kalau ngeliatnya tadi tuh kaya perempuan lagi nganter pacarnya mau pulang naik motor. Nyesel dari Bandung langsung kesini, mending langsung pulang tadi."


"Aku capek, kamu juga capek. Mending kamu pulang daripada kamu marah-marah kaya gini."


"Ngusir?" Rama membalikan badannya menatap Mita

__ADS_1


"Aku mau keluar, mau tidur aku capek." Ia berniat membuka pintu mobilnya. Namun tangan Rama menghentikan tangannya membuka pintu.


"Jangan, aku mau sama kamu dulu. Satu jam sama aku disini sebelum gerbang dikunci."


Rama kenapa? Ia tidak pernah melihat Rama dengan sorot mata seperti ini.


"Iya aku disini, tapi kamu jangan marah-marah. Aku nggak ngapa-ngapain, itu temen aku dari Cianjur mampir kesini."


"Sini, aku mau meluk kamu boleh?" Rama menarik tangannya hingga bahu mereka bertemu. Menenggelamkan wajahnya di bawah dagunya.


"Aku nggak marah lagi, tapi diam disini. Nanti aku ngga bisa sering-sering kesini. Kamu jangan kaya tadi, jangan berduaan sama laki-laki apalagi malam. Aku nggak suka."


Rama selalu membuat posisinya tidak nyaman, serba salah. Namun berada di pelukannya membuat ya sungguh nyaman. Kenyataan lain bahwa ia menikmati kehadiran Rama di sisinya.


Rama yang mengusap puggung Dan rambutnya lembut, dan kelakuan anehnya hari ini membuatnya berpikir bahwa Rama tidak sedang baik-baik saja.


"Kamu kenapa? Kenapa ngga bisa sering kesini?" Ia tarik kepalanya untuk mencari kejujuran di mata laki-laki yang telah membuatnya berada dalam dilema.


"Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu. Kamu belajar yang serius sampai lulus, jaga diri baik-baik, jangan kecewakan orang-orang yang sayang sama kamu." Ia semakin yakin dengan pikirannya, bahwa ada sesuatu yang terjadi.


"Kamu kenapa? Kamu mau pergi?"


Rama menarik kembali kepalanya, memeluknya semakin dalam.


"Aku mau ke US, aku akan kangen kamu disana." Amerika yang menurutnya sangat jauh. Tidak akan bertemu Rama dalam waktu lama.


Ia tak mampu menahan airmatanya agar tidak jatuh, airmatanya sudah membasahi kaos polo milik Rama.


"Aku bikin kamu nangis ya?" didorongnya puggung Mita menjauh untuk menghapus airmatanya.


"Maaf..." ia tarik kembali puggung yang ia dorong tadi.


*****


Rama


"Kamu sayang sama aku?" terasa anggukan di dadanya. Diciumnya rambut perempuan yang membuat hidupnya jungkir balik ini.


"Jaga diri buat aku ya?" Mita terus mengangguk tanpa menjawab. Namun tangisnya semakin terdengar menyayat.


"Udah jangan nangis."


Rama mengusap wajahnya yang basah oleh airmata dengan tisu.


"Kamu mau pergi padahal belum nyobain masakan aku. Kamu pergi karena aku?" ia tercekat mendengar ucapan Mita. Hati mana yang tidak sakit meninggalkan seseorang yang dicintai karena keadaan yang tidak memihak?

__ADS_1


''Bukan, bukan karena kamu. Aku mau sekolah lagi disana, jadi orang yang hebat untuk kamu. Disini kamu sekolah yang baik, raih cita-cita kamu. Jadi orang hebat untuk aku."


Sekali lagi ia merasakan anggukan kepala Mita di pelukannya.


__ADS_2