
Rama
Jam di meja kamarnya sudah menunjukan 02.25 namun ia belum bisa memejamkan mata. Malam Minggu nya menjadi tak tenang, setiap jam ia chat Sena menanyakan posisi terkini.
"Ya ampun Kakak sabar kenapa sih aku masih di tol."
Chat terakhir dengan adiknya sekitar sejam yang lalu, mungkin sekitar 15.25 waktu Jakarta. Ia tak sabar ingin bicara dengan Mita.
"Kalau udah sampe kabarin nanti aku telepon, deketin HP kamu ke dia. Aku mau denger dia ngomong. Jangan sampe ketahuan."
Sena sudah pasti hanya geleng-geleng kepala. Biarlah dianggap gila, ia sudah masa bodoh.
"Mohon maaf Kakak sayang, karena ini susah mohon uang bensinnya ditambah. Sepatu dan fresh money, aku mau nabung."
Bagosss, peres aja. Hah! Adiknya itu memang paling bisa memanfaatkan keadaan. Darah bisnis sepertinya mengalir deras di darahnya. Keluarga ibunya adalah keluarga pebisnis Dan ekonom. Sehingga ketika Ibu nya memutuskan untuk mengajar, beliau memilih ekonomi sebagai jalan hidupnya.
Ayahnya yang berasal dari keluarga dokter sempat putus asa ketika kedua anaknya tidak ada yang mau meneruskan profesi nya tersebut.
"Anak Papa ngga ada yang menjadikan Papa sebagai role model? Sampai ngga ada yang mau jadi dokter." Harapan terakhir ada pada Sena, namun Sena tetap memilih Seni rupa ITB sebagai pilihannya.
"Sena atau Rama, cari calon pasangan yang dokter. Biar ada yang meneruskan perjuangan Papa. Bukan jantung tidak masalah, yang penting dokter."
Yang ada dipikirannya kala itu, menjadi dokter artinya mendedikasikan hidup untuk pasien. Jarang di rumah lebih banyak di rumah sakit, seringkali absen ketika acara kumpul dengan keluarga besar, sedangkan ia sendiri tipe laki-laki yang senang di rumah berkumpul dengan keluarga. Disuruh untuk mencari pasangan yang dokter? Terlalu berat, biar Sena saja pikirnya xixixi.
Ia sudah dengan kopi kedua nya sejak semalam. Waktu menunggunya digunakan untuk memeriksa laporan dari Fima. Ia tampak mengerutkan kening.
Memang tidak mungkin rasanya jika Fima bekerja seorang diri mengatur semua usahanya. Namun ia tidak memiliki kandidat lain yang ia percaya selain Fery. Memang selama ini Fery tidak pernah menolak permintaanya, tapi itu membuat ia semakin memikirkan posisi Fery saat ini.
Fery dan Rena akan segera menyambut kedatangan bayi mungil yang selama ini mereka nantikan. Rasanya terlalu egois jika ia meminta Fery untuk bekerja untuknya membantu Fima memonitori usahanya di jabodetabek yang artinya membuatnya harus jauh dari anak dan istrinya di Bandung.
Pikirannya langsung buyar begitu melihat pesan dari Sena bahwa ia sudah sampai.
"Kamu pakai earphone yang wireless kan? pake ya, dengerin intruksi aku." perintahnya pada Sena.
Sudah bawain lahir, Rama dengan sikap sedikit otoriter.
Begitu ia mendengar Mita akan mengajak teman, wajah bocah es kepal Milo yang memang lumayan melintasi di benaknya.
"Pacar kamu?"
ia mencibir pelan ''ngapain lu ikut kampret?" sepertinya laki-laki ini betul-betul menjaga Mita dari segala sesuatu yang menyangkut dirinya. Kemana-mana nempel.
"Kok bisa ada di dalam kosan? Disini cowok boleh masuk? Atau kosan campur?"
Kalau ingat hal ini ingin ia menghabisi Adit, bisa tinggal seatap dengan Mita meskipun berbeda kamar. Sedangkan ia harus terpisah belasan ribu kilometer.
"Ini kosan saya. Maksudnya saya yang punya, tinggal disini juga."
"Bangsat, gua beli kosan lu juga bisa." ia mengucapkan nya dengan jelas, tak takut ucapannya terdengar Sena.
__ADS_1
Sena yang mendengar omongannya menghembuskan nafas kesal, seolah menyuruhnya diam. Xixixi
"Ohh gitu.. tadi lagi tidur ya Mas? Maaf jadi ganggu waktu tidur nya."
"Lumayan."
"Anjay ngga nyambung lu." omelnya sinis.
"Kalau mau lanjut saya ngga apa-apa sendiri juga."
"Oh ngga. Ngga apa-apa, cuma agak ngantuk doang tapi lumayan udah agak seger. Berangkat sekarang?"
Di perjalanan, terdengar Mita dan Sena yang seru membicarakan kegiatan kuliah mereka.
Sesekali ia bicara sendiri
"Bilangin dek, aku kangen." namun adiknya itu tidak kunjung mengatakan perintahnya. Ia yang sedang tiduran menggerutu.
Terdengar Adit menanyakan keluarganya.
"Ternyata dia penasaran sama keluarga gua." ucapnya dalam hati.
Ia dengarkan semua ucapan Adit dengan baik, tak terlewat sekata pun.
Begitu Adit menanyakan hubungan orangtua nya mereka, ia dengan cepat memotong.
Sena pun menuruti.
Enak aja mau cari info keluarga nya dengan mudah, pikirnya.
Ia jadi berpikir mengutus adiknya menjadi intel, jangan sampai membocorkan informasi tentang keluarganya. Sayangnya ia lupa, Sena sudah memberikan nama lengkap ibunya, yang artinya membuka pintu untuk Adit mengetahui keluarganya lebih jauh.
Sepanjang berada di mall, lebih dari satu jam Sena mengajak Mita keliling. Destinasi pertama tentu saja toko sepatu, dan Mita masih ingat bahwa Sena menyukai sepatu. Artinya gadis itu mendengarkan ucapannya.
"Tau aku suka sepatu dari Kakak pasti."
Bagus Sena menyebut namanya di depan laki-laki itu. "Bagus, sebut nama aku sesering mungkin. Bonus menanti."
"Kak diem aja kenapa sih, komen aja." Sena berbisik kesal.
Ia tertawa mendengar omelan Sena yang pastinya sedang menjauh dari Mita.
"Aku pengen ngomong bentar sama Mita dek."
"Ada cowoknya ini ngeliatin terus, aku ngga enak."
"Ngga masalah, biar dia tau aku ngga takut dengan apapun."
Sena memutuskan sambungan telepon, tak lama pesan pun masuk dari Sena.
__ADS_1
"Aku naik ke atas dulu cari makan. Hubungi aku 20 menit lagi."
"Lama amat naik ke atas 20 menit" batinnya.
Di menit ke 15 ia sudah menekan telepon kembali.
Awalnya Sena tidak mau memberikan ponselnya kepada Mita, namun akhirnya dengan sedikit gertakan anak ini berhasil luluh.
"Fresh money 2x lipat dari harga sepatu."
Sepatunya kali ini bukan edisi khusus, jadi masih masuk budget. Xixixi.
Terdengar laki-laki itu meminta nya untuk menyalakan load speaker. "Bagus, dia harus tau siapa gua." batinnya menantang.
"Mit, kamu denger aku ngga?"
Belum terdengar suara Mita.
"Iya."
"Kamu apa kabar? sehat?"
Sebenarnya ia ingin segera mengatakan "aku kangen" tapi tahan, ia mesti tetap cool apalagi bocah ingusan itu ikut mendengar.
"Sehat alhamdulillah."
"Pacar kamu sehat?"
Hueeeekk pacar? dalam hatinya ia muak.
"Sehat juga."
"Bagus jadi ada yang jagain kamu selama aku ngga ada. Sampein salam dari aku."
"Nanti Sena kasih syarat-syarat pengurusan visa, kamu siapin. Papa Mama nyuruh kamu ikut kesini nanti liburan semester. Ketemu disini ya biar ngga ada yang ganggu, aku kangen."
Ia tidak peduli dengan Adit di samping Mita, karena ia hanya mengambil apa yang menjadi miliknya.
Agar laki-laki itu sadar siapa yang sudah merebut.
Agar yang dipanggil pacar juga sadar, dengan siapa dia berhadapan.
"Have fun, kartu aku unlimited di Sena. Aku tunggu disini, jaga diri."
Ia bukan tipe yang suka mengumbar kekayaan, tapi sekarang waktu yang tepat untuk pamer.
Telak.
Puas sudah.
__ADS_1