
"Masih marah?"
Adit akhirnya video call Sena yang tidak mau membalas pesan whatsapp dari nya.
"Cuma sedih aja. Apa aku ngga penting? Kenapa kamu ngga mau jujur?"
"Maaf Sen. Jangan mikir gitu, kalau kamu ngga penting ngapain aku ada disini? Buat siapa aku jauh-jauh kesini kalau bukan buat kamu?"
Adit terus membujuk Sena untuk tidak marah, meski ia tetap tidak menyatakan alasan dibalik pemukulan Damar. Bagi Adit alasannya tidak penting untuk diketahui Sena. Haruskah ia bilang Damar sudah mengatakan hal yang menjijikan yang tidak sanggup ia katakan?
"Buat ego kamu mungkin."
"Ada hal-hal yang ngga perlu kamu tau Sen, cukup aku yang backup kamu."
"Iya yaudahlah, percuma dibahas kamu juga tetep ngga mau jujur. Kamu bisa ke Singapur, berarti bisa pulang juga?"
Sena menyerah, sulit untuk memaksa Adit.
"Bisa. Pengen aku pulang?"
Adit tersenyum penuh arti.
"Ngga juga."
Sena jual mahal, padahal di dalam hatinya ingin Adit pulang.
"Aku serius. Kalau kamu pengen aku pulang, aku pulang."
Sena diam, berpikir keras harus menjawab apa.
"Aku mau kamu pulang atas keinginan kamu, bukan keinginan aku. Kamu mau pulang ngga?"
"Kalau gitu aku ngga pulang."
Adit tidak ingin bertemu dengannya langsung? Jauh di dalam hatinya, Sena kecewa.
"Berarti kamu ngga pengen ketemu aku, jadi ngga usah pulang."
"Yaudah aku pulang."
Sena masih diam, merasa dipermainkan.
"Maksudnya gimana sih?"
"Fix aku pulang. Sekarang aku punya alasan untuk pulang, karena ada perempuan yang nunggu aku pulang. Kamu alasan aku pulang."
Sena tidak bereaksi, bingung harus berekasi seperti apa.
"Kenapa diem? Ngga suka aku pulang? Kamu kan yang ngga pengen ketemu aku?"
Sena ingin bertemu Adit langsung sebagai sepasang kekasih. Ingin meyakinkan diri bahwa Adit nyata untuknya. Saling menggenggam, membeli es krim di sore hari bersama seperti pasangan lainnya.
"Aku seneng tapi ngga tau harus ngomong apa. Tapi kamu ngga usah pulang."
"Kok gitu?"
"Ketemu di US bisa ngga? Kalau ngga bisa, yaudah pulang aja sebelum aku ke US."
"Kapan ke US?"
"Pertengahan Desember kakak wisuda, kita semua kesana."
"Ngga apa-apa aku gabung?"
"No problem."
Sena menjawab dengan yakin. Ia sudah malas pacaran sembunyi-sembunyi. Toh Adit juga bukan orang asing di keluarganya kan? Biar sekalian orangtua nya tau. Sena juga merasa sudah dewasa, ia kini tingkat 3 bahkan Mita saja sudah menikah.
__ADS_1
"Oke, kita ketemu di US."
Namun ada satu yang mengganjal di hati Adit. Apakah keluarga Sena tau hubunganya dengan Sena termasuk Rama?
Akhirnya dengan berbekal nomor ponsel Rama yang ia minta pada Sena, Adit memberanikan diri menelpon Rama. Untuk memastikan bahwa memang tidak masalah ia berada di tengah-tengah keluarga tersebut di Amerika nanti. Adit tidak ingin menjadi orang yang tidak diinginkan kehadirannya.
Panggilan telepon yang pertama tidak diangkat oleh Rama, mungkin karena dari nomor tidak dikenal. Akhirnya Adit chat terlebih dahulu. Demi Sena, Adit berusaha se- gantle mungkin.
Adit mengumpulkan keberaniannya.
"Malam Ram, ini Adit. Kalau lagi ngga sibuk bisa ngobrol sebentar?"
"Bisa."
Huh, belum bicara apapun tapi nyali nya sudah menciut. Bahkan Rama menjawab salamnya saja tidak. Tapi Rama adalah kakak dari kekasihnya sekarang, ia harus sebaik mungkin.
Selayaknya obrolan laki-laki, Adit memutar obrolannya tidak langsung ke inti, namun ternyata Rama bukan orang yang suka diajak berputar-putar.
"Lu ngapain ribut sama mantannya Sena?"
Adit mengambil nafas, mengumpulkan kembali keberaniannya yang tadi sempat tercecer.
"Sena cerita?"
"Cerita ke Mita."
"Dia psycho, sinting, brengsek, belagu." emosinya meluap kembali mengingat cowok brengsek yang tadi siang ia temui.
"Gua bela-belain datang mau ngomong baik-baik, dia malah ngomong ngga enak. Orangtuanya siapa sih?"
Adit tau orangtua Damar juga bukan dari kalangan biasa. Bisa menyekolahkan anak keluar negeri bukan dari beasiswa, artinya keluarga nya memang keluarga berada. Entah itu pejabat, pengusaha atau kalangan professional.
Rama mengerti meski Adit tidak menjelaskan secara rinci, Damar tidak beres. Laki-laki seolah mengerti bahasa sesama lelaki.
"Dia anaknya kapten Gunawan, pilotnya GA." (Garuda Airlines)
Rama tertawa mendengar Adit yang terlihat emosi.
"Anjir PD banget lu. Emang lu siapa?"
"Ram, gua pengen balik tapi Sena nyuruh ketemu di US. Keluarga lu ngga masalah?"
Adit tidak mengindahkan pertanyaan Rama.
"Emang lu siapa Sena nyuruh ikut acara keluarga gua?"
"Gua udah jadian sama Sena. Ngga masalah kan?"
"Sejak kapan?"
Rama pura-pura tidak tau, ingin menguji Adit.
"PDKT nya udah lama, jadiannya baru beberapa minggu lalu."
"Udah ada sebulan? Kenapa harus jadian?"
"Nanya nya harus se-spesifik itu?"
Adit merasa sedang diintrogasi.
"Harus. Lu tau siapa gua kan?"
"Iya tau."
Kini nyalinya menciut, Rama ingin menunjukan power nya kembali seperti beberapa tahun lalu.
"Apa yang lu tau tentang gua?"
__ADS_1
"Harus banget gua jabarin? Aduh ribet banget. Pokoknya itu lah, Rama pengusaha."
"Rama, Rama aja lu, panggil gua Kakak sama kaya Sena manggil gua."
"Gua belum nikah sama Sena, kita belum jadi kakak adik."
"Lu cuma mau pacarin adek gua doang hah? Ngga lu nikahin? Skip aja, cari yang lain. Bocah brengsek."
"Astagfirullah... Iya lah, Kakak."
Rama tertawa dalam hati, sungguh hiburan baginya. Mita yang sejak tadi mendengarkan ikut menahan tawa melihat kejahilan Rama.
"Tokyo Jakarta deket apa jauh?"
Pertanyaan macam apa lagi pikir Adit. Ini pasti jebakan, ia harus hati-hati dalam menjawab. Salah sedikit, usahanya sampai ke Singapur bisa sia-sia.
"Deket."
"Pinter. Lu denger baik-baik, kalau buat lo aja deket, artinya Tokyo Jakarta buat gua tinggal ngesot. Lu macem-macem ke adek gua, selingkuh, nyakitin, lu rusak adek gua, lecet walaupun cuma se-inci, gua cari sampe ke ujung dunia. Gua ngga bakal ragu ngabisin duit gua buat ngabisin lu kalau sampai itu terjadi."
Rama bicara dengan lantang dan penuh keyakinan. Hingga Mita terkejut mendengar ucapan suaminya sekeras itu.
Adit merasa sulit untuk menelan ludahya mendengar ancaman dari Rama. Kini ia berhadapan bukan dengan orang sembarangan.
"Gua bisa lo percaya."
Adit mencoba menyembunyikan rasa gugup nya.
"Bagus. Boleh ketemu di US. Tiket beli sendiri jangan minta ke Sena."
"Ya Allah... gua semiskin apa sih Ram."
"Apa lo bilang?" dengan nada ketus Rama bertanya, Adit merasa melakukan kesalahan tapi apa?
"Kakak." ia menyadari kesalahan ada pada kelancangan mulutnya.
"Shalat ngga lu disana?"
"Shalat lah astagfirullah."
"Bagus."
Bagus aja dari tadi, udah kaya dosen lagi nilai, gerutu Adit dalam hati.
"Jangan minta PAP macem-macem, awas lu."
"Iya Kak."
Adit harus membiasakan memanggil Rama Kakak.
"Lu dengerin omongan gue sebagai laki-laki, kalau ke cewek jangan menye-menye walaupun lu sayang banget sama itu cewek even itu adek gue. Tetep harus punya harga diri sebagai laki-laki, jadi cewek tetap hormat sama lo. Kalau salah kasih tau pelan-pelan, jangan lo iya in kesalahan dia. Geblek namanya, bucin buta ngerti ngga lo? Harus punya prinsip."
Adit seolah tertampar, kegagalannya yang sudah dua kali mungkin karena sifatnya yang terlalu baik dan menuruti kata perempuan.
Kini Rama baginya ada suhu dari segala suhu.
"Thank you ya Kak."
"Iya, kerja yang rajin. Adek gue barang-barang nya brended, mainnya jauh."
Mita tak bisa menahan tawanya untuk ucapan terakhir Rama yang memang sebuah fakta.
"Gila Mita dengerin ya dari tadi?"
"Istri gua lo panggil teteh."
Bangkeeee, Adit mengumpat dalam hati. Dosa apa yang telah ia lakukan sampai terjebak cinta dengan adik ipar dari mantan kekasihnya.
__ADS_1