Cinta Mita

Cinta Mita
Pulang Kampung


__ADS_3

Adit


Setelah menempuh perjalanan sejauh lebih dari 70km dalam waktu hampir empat jam termasuk istirahat dan membeli buah tangan, mereka akhirnya sampai di salah satu distrik yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur pukul 12.30.


Rumah sederhana seluas kurang dari 100m tersebut didominasi warna hijau pandan. Di depan rumah terdapat ruangan yang digunakan sebagai warung dan juga sedikit pekarangan yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran dengan sistem tabulapot.


"Mas, ini agak susah ya ngelepasinnya."


Ia yang sedang melihat lingkungan sekitar secara otomatis melihat ke arah Mita yang kesulitan melepas helm yang kaitannya sedikit berkarat.


"Sini aku bantu." ia menunduk untuk membukakan helm Mita. Tinggi Mita yang hanya 155cm Dan ia yang lebih tinggi 22cm membuatnya sedikit kesulitan.


"Ini sudah agak karatan karena jarang dipake. Maaf, kamu nya coba lehernya ke atas agak tegak."


Mata mereka bertemu, hatinya berdesir halus, jantungnya berdetak cepat. Dia segera membuang muka khawatir Mita mendengar detak jantungnya dan tidak dapat bisa mengontrol ekpresinya.


"Makasih Mas."


"Assalamualaikum Bu Pak..." Mita mengalihkan wajahnya ke arah rumah.


"Huufft" ia merapikan kembali poni rambutnya yang berantakan, seolah mengerti detak jantungnya tadi tidak baik-baik saja.


Mita setengah berteriak, baru kali ini ia dengar suara keras Mita. Mungkin sebagai ekspresi kebahagiannya.


"Neng udah sampe?"


Keluar dari warung seorang Ibu muda yang masih tampak cantik, khas ibu-ibu desa. Kemungkinan besar ibu nya Mita.


"Sama siapa Neng?"


Ia mengangguk hormat saat Ibu tesebut menyadari kehadirannya. Dengan hormat ia mengulurkan tangan bermaksud untuk cium tangan.


"Ini Mas Adit, Kakak kosan Mita."


"Kamu kos di tempat laki-laki perempuan campur gitu Neng?" Ibu nya nampak mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Nggak Bu, saya yang punya kosan yang ditempati Mita. Jadi seperti Kakak kosannya. Kosan saya khusus putri." ia khawatir Ibunya Mita salah paham.


"Oh gitu... masuk atuh masuk. Bapak ini Eneng nyampe." terlihat sang ibu merangkul anaknya masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum, menunggu di teras rumah yang cukup luas lengkap dengan satu buah meja dan dua kursi plastik.


Ia teringat sesuatu, oleh-oleh yang ia cantol di pengait motor hampir terlupakan.


"Mas masuk sini." Mita menampakan wajahnya dari balik pintu.


"Ini siapa?" terlihat bapak-bapak berusia sekitar 50an bertanya penasaran. Ia pun memberikan bingkisan yang menurutnya tidak seberapa itu karena ia bingung harus membawakan apa. Sementara saat bertanya pendapat Mita, ia hanya mengatakan "terserah".


"Kakak kosan nya Neng Pak. Yang punya kosan."


Untuk kedua kali nya ia membungkuk an badan.


"Ngerepotin dianter segala. Ini apa bawa-bawaan segala." Bapak melihat plastik yang ia bawa.


"Nggak Pak, kebetulan sekalian saya mau ke Puncak. Sekalian lewat." ia tersenyum sedikit merasa canggung.


Bapak pun pergi ke belakang kembali, mungkin sedang mengerjakan sesuatu.


"Mas Adit Bu." Mita yang duduk di sebrangnya bersuara.


"Adit aja juga cukup." ia membungkuk merasa sungkan.


"Mas aja atuh ya, biar lebih sopan."


"Apa aja boleh." ia tersenyum malu.


"Ambilin minum sama kue di warung, Ibu masak dulu. Ngga apa-apa Ibu tinggal?" Ibu berbicara dengan Mita


"Silakan, ngga usah merepotkan saya ngga lama." ia berusaha se-sopan mungkin.


"Nggak merepotkan. Yoga mana ya anak teh." Ibu terlihat mencari seseorang


"Ga, jaga warung sebentar Ibu mau ke dapur." Ibu memanggil seseorang setengah berteriak ke arah kamar di balik badannya.

__ADS_1


Datang anak laki-laki di bawah usianya dengan ponsel dan airphone yang masih terpasang di telinga. Anak itu tersenyum, ia pun membalasnya.


Ia pun mengeluarkan ponselnya, melihat kembali story yang sudah ia post saat di Warpat tadi. Saat ia sedang melihat notification instagram nya, ia melihat salah satu pengikutnya yang baru ia lihat beberapa hari lalu. Nama tersebut selalu ada di list seen yang melihat story instagram nya.


Ia memang mengamati siapa saja followers nya yang mengikuti story nya karena ia terkadang melakukan sesi Q&A. Sehingga ia hafal followers baru yang mengikuti nya, meskipun tidak kenal di dunia nyata.


Setelah ia cek ternyata hanya akun fake yang biasanya digunakan untuk memata-matai seseorang, karena tidak ada postingan apapun di feed instagram tersebut. Ketika ia cek daftar akun yang diikuti, ia kembali tersenyum karena hanya ada dua nama disana yaitu dirinya dan akun Mita.


Ternyata ada seseorang yang memantau aktivitas mereka. Kedepan akan lebih seru, karena pastinya ia akan lebih sering bersama perempuan tersebut.


"Mas diminum, maaf ya apa adanya."


Sejak insiden melepas helm tadi, entah kenapa hatinya terus berdetak tak karuan jika melihat Mita. Jarak pandang mereka tadi begitu dekat, ia seperti kehabisan nafas.


"Emang harus yang gimana? Ini udah cukup, makasih ya. Aku jadi ngerepotin."


Yang dijawab dengen gelengan kepala, "N upgga ngerepotin apa-apa Mas."


Bapak Mita datang kembali ke ruang tamu, dengan rambut yang basah. Mungkin baru selesai mandi. Laki-laki tersebut duduk di sisi lain dari ruang tamu yang berbentuk huruf "U" itu.


"Ibu tau Neng pulang?" ia menatap anak gadisnya yang sekilas mirip dengannya. Namun warna kulit dan tingginya seperti ibu nya.


"Ibu mana yang dimaksud?" ia bertanya dalam hati.


"Tau, kemarin Neng sudah bilang ke Ibu."


"Rama tau diantar Adit?" ia melihat ke arah Mita, Mita pun menoleh ke arahnya. Bahkan Bapak pun ikut menoleh ke arahnya.


Ia sekarang paham, Ibu yang dimaksud adalah Ibu nya Rama.


Mita terdiam beberapa saat, ia memperhatikan Mita lekat.


"Kak Rama ke Amerika. Kayaknya hari ini berangkat."


Ternyata ayahnya sudah tau hubungan Mita dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Ia memperbaiki posisi duduknya, "Berat" saat nama Rama sudah disebut di keluarga ini.


__ADS_2