Cinta Mita

Cinta Mita
Motor Baru


__ADS_3

Sabtu pagi Yoga sudah bersiap di ruang TV, dengan celana selutut berwarna krem dan kaos putih polos milik Rama yang sudah lama tidak digunakan. Yoga terlihat tampan, seperti remaja dari ibukota.


"Udah rapi aja, Ga."


"Dari semalam udah gelisah tau, Bang."


Kondisi Mita kini sudah membaik, ingin menyiapkan teh manis hangat untuk Rama, suami tercinta.


Semalam Rama menyempatkan cek kondisi Mita ke dr. Hendrawan, untuk memastikan bahwa Mita siap terbang. Dan kini surat rekomendasi dari dr. Hendrawan sudah di tangan, sebagai jaminan bahwa Mita diperbolehkan untuk terbang jarak jauh meski dalam kondisi hamil. Tentunya tidak lepas dari berbagai vitamin yang harus Mita konsumsi.


"Mau kemana pagi-pagi?"


Rama melupakan janjinya, karena di kepalanya saat ini begitu banyak hal yang ia pikirkan.


"Yaahh ngga jadi Ga, Abang nya juga lupa."


Mita tertawa, sementara Yoga mengkerut.


"Ngapain mandi pagi, kalau ngga jadi." batin Yoga kesal.


"Ohh ke dealer motor ya? Inget dong, sejam lagi lah kita berangkat, sarapan dulu."


Wajahnya murung Yoga langsung berubah ceria dalam hitunga detik.


"Oke, Bang."


"Siapa aja yang ikut? Ibu ikut kan? Sekalian belanja. Baru nanti pulang ke Cianjur diantar Tarjo."


"Hayu-hayu aja Ibu mah. Apalagi diajak belanja, beuki atoh." (tambah seneng).


"Anaknya payah ngga peka, ada Ibu ajak gitu keluar."


"Aku kan kemarin sakit, Ayang."


"Manis amat teh nya. Kayaknya gara-gara dipanggil Ayang."


Rama memainkan alisnya salah tingkah, sambil menyeruput teh manis yang masih hangat.


"Ibu mandi dulu atuh gitu mah."


Ponsel Rama di dalam kamar berbunyi.


"Aku aja yang ambilin."


Semangat 45 Mita mengambil ponsel Rama di atas kasur.


"Paling Fery."


"Bukan, dari Pak Tarjo."


Mita menyerahkan ponsel dengan logo buah apel kepada Rama.


"Oh iya. Sejam lagi berangkat, pake itu aja."


Hanya satu kalimat yang Rama ucapkan di telepon lalu menyimpan ponselnya di atas bantal sofa.


"Kenapa Pak Tarjo?"


"Mobil udah siap."


Gitu doang ngapain pake nelepon segala, Mita dengan pikirannya.


Setelah semua siap, Rama, Mita, Yoga dan Bu Rini turun ke basement apartemen. Mita, Yoga dan Bu Rini berjalan ke area dimana mobil Rama biasa parkir. Sementara Rama menuju mobil yang berbeda di sebelahnya.


"Yang, pake mobil ini aja."


"Itu mobil siapa?"

__ADS_1


"Mobil aku dong, masa mobil Tarjo."


"Abang beli mobil lagi? Buat apa?"


"Masa aku ngga punya mobil? Mobil aku kan buat Yoga."


Suasana hening, Mita dan keluarganya mencerna ucapan Rama.


"Mobil kamu buat Yoga? Buat apa?"


"Buat kuliah Yoga"


"Kan mau beli motor."


"Ngga mungkin tiap hari motor-motoran. Aku sekalian ganti mobil yang lebih nyaman buat bayi nanti."


Mita berpikir ini terlalu berlebihan, hingga ingin menyanggah ucapan Rama.


"Gimana kalau kita masuk dulu? Panas ini di luar."


Sementara Bu Rini dan Yoga tidak mampu berkata apapun. Hanya bisa mendengarkan obrolan, namun lebih terdengar adu argumentasi antara Rama dan Mita.


"Bu Mita mau ngomong apa? Suka ngga mobilnya?"


"Mahal ini pasti mobilnya."


Mita baru kali ini naik mobil mewah dengan ukuran yang besar. Mobil sebesar itu hanya terdiri dari 7 kursi hingga terasa sangat nyaman.


"Kalau ada uangnya ngga apa-apa mah ngga apa-apa, Teh."


Secara spontan Yoga berargumen.


"Nah, pinter nih Yoga. Adik Abang banget."


Bu Rini tertawa. Kini Yoga sudah menjadi tim Rama.


"Daripada suaminya beli yang ngga jelas. Mobil kan jelas, ada bentuknya. Kerasa juga kalau mobil mahal ya nyaman. Aneh Teteh mah, dibeliin barang mahal ngga mau. Yoga aja seneng."


"Iya kamu mah seneng, dikasih mobil. Dulu Teteh pas kuliah ngga ada dikasih mobil."


"Tuh kan lupa. Dulu aku mau beliin motor aja kamu ngga mau. Inget ngga?"


Mita diam, karena Rama benar. Dulu ia sering menolak pemberian Rama. Kini, Yoga dengan mudah mendapatkan segalanya tanpa rasa sungkan.


"Dulu Teteh jual mahal, Ga. Nolak Abang, malah jadian sama Adit. Ngga bisa dapet yang lebih dari aku gitu, Yang? Malah sama Adit."


Yoga tersenyum. Baru tahu bahwa Rama memilili tingkat percaya diri yang tinggi.


"Tuh, sombong kan? Ngga boleh tau merasa lebih dari orang lain."


"Aku mah bicara fakta. Tanya Yoga, kalau disuruh milih Abang sama Adit milih siapa? Jujur aja, Ga."


"Abang sih."


Yoga realistis. Meski Adit juga tidak buruk, tapi Rama di matanya adalah dewa.


Rama tersenyum penuh kemenangan.


Begitu sampai di dealer, Mita seperti dejavu dengan kejadian beberapa tahun lalu saat menemani Adit membeli motor.


Mata Yoga berbinar-binar. Selama ini ia hanya bisa melihat dari tayangan youtube, sekarang ia akan membelinya. Meski dengan uang Rama.


"Pilih aja, Ga. Ngga usah liat harga."


Meski Rama sudah mewanti-wanti, namun pandangan Mita terasa menusuk ulu hati Yoga.


"Jangan yang mahal-mahal, kasian Abang."

__ADS_1


Bu Rini berbisik agar tidak terdengar Rama. Meski Rama akan memberikan, namun menurut ya Yoga tidak boleh aji mumpung. Dan jika Ibu nya yang bicara, Adit tidak berani membantah.


Begitu Bu Rini tau harga motor di dealer tersebut, ia kaget dengan harga satu buah motor sport mencapai harga satu rumah besar di kampungnya.


"Nyaan itu Teh harganya segitu?" (Nyaan : beneran)


"Makanya Teteh suka kesel, ngga masuk akal harga motor sama mobilnya."


Saat mengitari dealer, ponsel Mita bergetar. Telepon dari Sena yang sedang heboh dengan segala persiapan untuk ke Jepang.


"Apa Nona nya Adit?"


"Dimana Teh? Kesini atuh mumpung weekend. Bantuin aku prepare, takut ada yang belum masuk list."


"Kan kamu expert nya gimana deh?"


"Iseng aja ngga ada temen ngobrol."


"Aku lagi di dealer motor ini, pusinggg kepala aku. Mehong-mehong banget."


"Kakak jadi beli motor?"


"Jadi, dua tuh dia beli. Buat apaan coba. Kaya ada waktu aja motoran."


"Mana Kakak coba aku mau ngomong."


"Ayang, ini Sena."


Mita memanggil Rama yang berjarak 100 meter dari tempat ia berdiri.


"Ecieee Ayang."


"Sirik dehhh."


"Apa Sen?"


"Lagi beli motor bukan?"


"Iya. Emang kamu mau juga?"


"Papa yang mau."


"Serius?"


Rama tidak percaya.


"Iya kemarin Adit kesini bawa motor, Papa mau katanya."


"Ohh iya."


Meski ponselnya tidak di loud speaker, tapi Mita bisa mendengar ucapan Sena karena Sena bicara setengah berteriak.


"Beli 3 jadinya?"


"Dua aja dulu."


What? Rama lebih mementingkan Yoga dibanding orangtuanya?"


"Jahat ih, Papa mau juga katanya."


"Iya buat Yoga sama Papa dulu. Buat aku nanti lagi."


Meski ingin, namun Rama tidak ingin mendengar omelan Mita. Beli 3 motor sekaligus?


Rama pun harus memikirkan ulang.


"Bapak nanti bareng Rama ya Bu belinya."

__ADS_1


Bu Rini mengusap punggung Rama dengan perasaan sayang sekaligus bangga.


"Semoga rejeki nya semakin lancar ya, Nak. Rama sehat selalu."


__ADS_2