
Rama
Jumat 06.30
''Ram, mama baru dapet balasan dari akademik kampus.''
Saat hendak sarapan, Mama memanggil dari ruang tengah. Masalah kuliah pastinya.
''Kampus Mama udah tutup pendaftaran untuk mahasiwa magister. Kamu cari kampus mana -----tyang masih buka pendafataran. Kamu interest ngambil apa?"
Ia tampak masih menimbang-nimbang.
"Bisnis atau manajemen mungkin Ma."
"Kamu gerak cepat. Langsung daftar, karena sebentar lagi tahun ajaran baru.''
''Syiapp.''
Segera bangkit menuju meja makan.
''Bi, tolong bikinin roti saya mau bawa ke kantor ngga sempet sarapan.''
Obrolannya semalam membuatnya benar-benar buntu. Tidak terpikir akan ambil magister secepat ini. Akhirnya dia mulai mencari info kampus negeri terdekat dengan jurusan yang tersedia. Kampus mama jelas tidak mungkin, pendaftaran sudah tutup dua bulan lalu.
Iseng dia mencari tau magister IPB. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pendaftaran masih dibuka 4hari kedepan. Senin penutupan, last minute.
Sempat terpikir untuk ke Bandung, sekalian menjaga Sena. Tapi kalau di Bogor ada ngapain jauh-jauh ke Bandung ? Toh Sena tinggal di rumah Nini, aman terkendali.
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
__ADS_1
Kebetulan yang menyenangkan.
Tapi ia masih bingung menyampaikan ke Mama, khawatir Mama masih menyangkutpautkan dengan Mita.
Tapi untungnya tadi Mama sudah bicara begitu, sekarang persiapkan berkas, urus surat resign, bilang Mama terakhir.
Mungkin jodoh. Ihiy.
Di pilih nya nama Mita di chat aplikasi pesannya. Dengan posisi paling atas karena sudah di pin.
Maksudnya apa? Ia juga tidak sadar melakukannya.
Sejak pulang dari terminal setelah mengantar Mita kemarin, ia selalu menghitung tiap hari nya. Dan hari ini yang seharusnya menjadi H-2 dia putuskan untuk dipercepat menjadi H-1.
"Ke Bogor nya besok ya, ada sesuatu yang sekalian mau aku urus.''
Akal-akalan aja sebenernya sih, Minggu kelamaan!
Mita
Sejak kemarin Rama tidak mengirim pesan padanya. Mungkin sedang banyak urusan. Tapi memang dia siapa Rama sampai harus tiap hari berkirim pesan dan telepon?
Namun pagi ini saat sedang membantu Ibu merapikan warung sembako usaha kecil-kecilan Ibu, ponsel di saku celana nya bergetar. Rama kah?
Tanpa ia sadari senyum berkembang di bibirnya.
"Siap tuan komandan." tak lupa diikut emoticon senyum di belakang kalimatnya.
Urusan? Mungkin meeting lagi, luar biasa totalitas tanpa batas meeting saat weekend.
__ADS_1
Saat sedang bersantai menunggui warung, Randi teman SD nya dulu ke warung membeli mie instan.
''Tumben Mit jaga warung.''
Memang biasanya ia lebig banyak ditugaskan di rumah oleh Ibu. Beres-beres, memasak, dan membantu pekerjaan rumah lainnya. Tapi hari ini Ibu sedang ke sekolah Yoga, adiknya yang masih SMP.
"Ibu lagi ke sekolah Yoga, aku jagain warung bentar.''
"Kamu katanya kuliah ya Mit? Hebat kamu Mit bisa kuliah, selamat ya." Randi mengucapkannya dengan tulus, meski ia tidak seberuntung Mita melanjutkan kuliah. Biaya dari mana?
"Makasih Ran. Kamu mau kemana lulus sekolah?"
"Nyari kerja, ikut sama Mang Jaka ke Jakarta."
"Semangat Ran, semoga sukses."
Dibalas dengan senyuman dan anggukan ''Aamiin, makasih.''
Randi adalah temannya sejak kecil. Mereka sering bermain bersama di rumah, dan berangkat bersama ke sekolah juga madrasah tempat mereka sekolah agama. Randi pula yang selalu membela nya jika diganggu anak-anak lain. Karena itulah ia memiliki sedikit rasa suka pada laki-laki betubuh jangkung itu.
"Kalau kamu sudah gajian, jangan lupa traktir aku ya di Bogor."
Mereka pun berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Randi pamit.
Kehidupan manusia ke depan memang tak ada yang tahu. Randi yang sebenarnya keadaan ekonominya lebih baik dari Mita, tapi ternyata nasib Mita lebih baik. Namun entah ke depannya.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
__ADS_1
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ