
"Cukup untuk yang pertama sekaligus yang terakhir, jangan ada lagi setelah ini."
Story yang Sena baca, berisi foto boneka bola disertai peringatan keras dari Adit. Meskipun tanpa mention namanya, tapi ia tahu story tersebut ditujukan untuk siapa.
Adit post dengan fitur close friend, sehingga yang dapat melihat story nya hanya orang-orang yang telah ia atur. Hanya keluarga, teman dan orang yang ia kenal saja. Tanpa klient dan sponsor dalam lingkup pekerjaan.
Sisi lain dari Adit yang baru Sena tau. Dingin jika sedang cemburu.
"Iya, Mas."
Sena membalas story Adit, sesaat setelah mengakhiri panggilan video tadi.
Se-fatal itukah kesalahannya?
Mungkin iya, karena Sena pun tidak ingin Adit pergi berdua dengan perempuan lain.
Tapi Sena suka cara Adit menunjukan perasaannya.
Manis namun gentleman, di matanya.
"Ciyeee. Akhirnya jalan sama sepupu gue juga !"
Setelah membalas story Adit, balasan Sarah untuk story nya tadi siang masuk ke ponsel Sena. Ia lupa, belum di take down (tarik atau hapus).
"Kok tau?"
Apakah Sarah sejenis dengan Adit? Tau bahwa ia bersama Ricky hanya dengan melihat kunci motor? Amazing kalau memang demikian.
"Lo belum liat story A Ricky?"
Apa yang sudah Ricky post?
Sena memang jarang melihat status atau story orang lain. Terlebih Ricky, ia takut Ricky berharap lebih.
"Akang... Kenapa muka aku terpampang nyata begitu? Boleh di take down aja ngga? Seharusnya Akang izin ke aku dulu sebelum post."
Sena membalas story Ricky yang berisi fotonya yang dengan pose candid yang natural.
"Kan instagram Akang. Masa ngga boleh?"
"Tapi Akang kontenin aku, kurang sopan sih kalau sembarang post foto orang lain tanpa izin."
Sena berusaha menegur tanpa ingin menyinggung. Ia ingin menepati janji kepada Adit, bahwa ia bisa menolak apapun yang berhubungan dengan Ricky. Pun sama, saat akun dengan nama @M.Ky milik Ricky post foto dirinya dengan keterangan,
"Sempurna dari segala sisi."
Memang hanya tulisan kecil, namun warna huruf yang digunakan kontras dengan warna background hingga terbaca dengan jelas.
Sena bersyukur Ricky tidak menggunakan nama asli di instagramnya. Karena hal di luar dugaannya bisa saja terjadi jika Adit menemukan instagram laki-laki lulusan Magister Ilmu dan Rekayasa Nuklir tersebut. Terlebih jika melihat story yang sedang ia minta untuk dihapus. Entah akan semarah apa Adit.
"Sekarang Akang minta izin, boleh di post?"
__ADS_1
"Ngga, take down aja."
Ricky memeriksa akun Sena, foto tadi siang yang Sena upload ternyata sudah tidak ada. Karena langsung Sena hapus begitu Sarah membalas.
Memang sulit mendekati perempuan eksklusif, Ricky meratapi perjalanan cintanya. Sekalinya jatuh cinta, tapi pada perempuan yang sulit untuk digapai.
Kenapa pula harus Sena yang ia inginkan?
Lebih rumit dibanding rumus-rumus yang ia pelajari di dalan kelas.
*****
Sehari setelah sidang, Mita tumbang. Bahkan untuk pergi ke dokter, Mita tidak bisa. Akhirnya Pak Romi datang bersama rekan dokter, seorang spesialis kandungan salah satu Rumah Sakit di Tangerang untuk datang ke apartemen Rama.
"Habis ngapain bisa down gini kondisinya?"
Pak Romi hanya bisa melihat Mita, yang tengah diperiksa dr. Hendrawan.
"Kecapean persiapan sidang, Pah."
"Ibu hamil memang disarankan banyak beraktivitas, tapi harus tau batas kemampuan kita. Kita harus paham alarm tubuh kita."
Mita dan Rama tidak berani menjawab nasehat dr. Hendrawan. Terlebih dengan wajah khawatir Pak Romi.
"Jangan dulu beraktivitas. Kalau sekedar ke toilet tolong dibantu dulu."
"Selain ke toilet, aktivitas lainnya dari tempat tidur aja ya Dok?"
"Benar, Dok. Karena Mbak nya sedang mengandung. Kita jaga-jaga aja, daripada terjadi hal yang kita semua tidak inginkan. Bedrest total 3 hari, setelah itu boleh beraktivitas ringan. Ingat, jangan berat."
Setelah sidang kemarin, Mita begitu lincah dan tidak bisa diam. Bahkan memaksa menyiapkan Rama makan, pakaian kerja, sepatu dan segala ini itu nya.
"Papa nya belum boleh nengok juga ya Dok?"
Pak Romi seketika menatap Rama. Heran dengan isi kepala Rama. Kenapa bisa persis dengan isi kepalanya? Padahal di sana ada Yoga yang ikut melihat kondisi Mita.
"Kalau kata orang Sunda mah wayahna puasa dulu. Ngga lama Mas Rama, cuma 3 hari."
Rama lega, ia masih bisa bersabar 3 hari lagi. Masalahnya sudah seminggu ini ia puasa karena tidak tega menggangu Mita yang mempersiapkan sidang. Sidang selesai masih disuruh nunggu lagi?
Di pojok kiri Yoga mengerutkan alis. Tidak mengerti puasa apa yang sedang dibahas.
Kini, aktivitas Mita benar-benar Rama batasi. Memegang ponsel pun tidak boleh. Mita diperintahkan hanya tidur dengan hiburan menonton tayangan netflix dari TV oleh Tuan Rama.
Hingga pengumuman pendaftaran ulang wisuda pun ia lewatkan. Dan Mita baru tersadar akan hal tersebut saat masa bedrest selesai. Ia membuka grup whatsapp kelas yang tidak ia baca 4 hari lamanya. Dengan chat yang sudah mencapai 1000+.
Mita baru menyadari belum mendaftar wisudah saat membaca obrolan teman-temannya mengenai toga yang kebesaran hingga mencari MUA.
Saat itu Rama memeriksa lay out bangunan baru yang akan dibangun di lokasi RPH RM Food. (RPH : Rumah Potong Hewan)
"Abang, aku kelupaan belum daftar wisuda."
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Abang yang ngga bolehin aku pegang HP, aku jadi lupa. Gimana atuh? Aku mah da... Masa capek-capek kuliah ngga ikut wisuda?"
"Terakhir kapan?"
"Ngga tau, anak-anak juga ngga tau. Mereka setelah sidang langsung daftar."
"Harus daftar sendiri? Ngga bisa nyuruh Tarjo aja?"
"Sendiri atuh, masa Pak Tarjo yang daftar."
"Tapi besok aku lagi ngga bisa antar. Aku udah janji sama kontraktor."
"Ngga bisa sama Fery aja?"
"Sama aku dulu dong, Sayang. Nanti yang lanjutin Fery. Alurnya kan selalu gitu, deal nya semua ke aku dulu. Lalu Fery yang ngatur, lalu orang lapangan yang jalan."
"Aku sama Pak Tarjo aja kalau gitu."
"Sama kamu ya Ga?"
Rama menatap Yoga yang sedang main game dengan ponsel baru pemberiannya.
"Siap itu mah beres."
Namun pandangan Yoga masih terpaku pada ponselnya.
"Lusa kita ke dealer. Kamu ngga usah ikut ya Sayang?"
Rama iseng menggigit lengan Mita kecil.
"Au au. Abang sakit."
Paha Rama dipukul keras menjadi santapan empuk balas dendam karena sudah digigit.
"Dikit doang juga. Curang kamu mah balesnya sakit banget."
Hanya tawa ringan yang disunggingkan Bu Rini melihat tingkah laku anak dan menantu.
"Tega ih istrinya lagi sakit juga."
Selimut putih yang sudah tidak sempurna menutupi ranjang tidur, Mita tarik untuk melindungi diri dari Rama.
"Bercanda Sayang, bales aja bales."
Rama memberikan pergelangan tangannya. Seketika langsung Mita sambar dengan gigitan keras.
"Au sakit banget."
"Biarin, aku juga sakit."
__ADS_1
Mita berlindung di balik selimut dari serangan balik Rama.