
Mita
Rama mengendari motor menuju salah satu mall terbesar di Bogor. Baru pertama kali ia naik motor besar seperti milik Rama. Terasa aneh karena ia merasa menjadi pusat perhatian.
''Kenapa orang-orang ngeliatin kita sih?'' ia tak mengerti dengan tatapan beberapa mata, ada yang terlihat berbinar seolah motor itu keren, ada juga yang nenyelidik.
''Masa sih? Perasaan kamu aja.'' Rama tersenyum dari kaca spion ia melihat.
''Kamu suka motor?'' tanyanya.
''Iya. sama kamu juga suka.'' Rama berusaha menggoda.
''Sama mobil lebih suka mana?'' namun ia tak menanggapi godaan Rama.
''Motor, cuma kalau ke kantor lebih nyaman di mobil. Karena nggak harus panas-panasan dan nggak kena asap. Tapi kalau sama kamu lebih suka sama kamu.'' Rama mengusap lutut Mita yang menempel pada betis kakinya.
Usaha terosss
Tanpa sadar dua pasang mata memperhatikan mereka dari dalam mobil.
Pagi ini mall belum terlalu ramai, mungkin karena baru buka. Mereka pun menuju supermarket yang tersedia di mall tersebut.
Aroma wangi roti menyeruak dari toko roti yang mereka lewati seolah meminta untuk dicicipi.
''Roti yang kemarin kita beli kamu suka?''
''Aku suka yang abon.''
''Kemon kita mampir. Temen deket kamu siapa aja?''
''Rani sama Citra aja.''
Rama pun mengambil beberapa buah roti sampai nampan tempat menaruh roti penuh.
''Banyak banget, buat siapa?''
''Nanti kasih temen kamu, kalau nggak ada Rani kamu sendiri keluyuran semalam.''
''Masih dibahas....'' ia kesal masih saja Rama membahas soal semalam.
''Besok-besok nggak ada lagi kamu keluyuran malem-malem. Kita belanja stok buat makan malam.''
''Iya tuan...''
''Dibilangin...''
Ia tertawa melihat Rama jika sedang kesal, ekspresinya menggemaskan.
Mereka pun masuk ke dalam supermarket yang didominasi warna hijau tersebut.
ddrrrr drrtttt
''Kamu pilih buah, aku angkat telepon dulu.''
''Iya halo Pah.''
Tumben sekali pikirnya Papa nya telepon.
''Kamu dimana? Kuliah gimana? Kamu jangan main terus.''
''Tau dimana Papa kalau dia ada di luar.'' batinnya aneh.
''Di Bogor Pah, kuliah beress tinggal nunggu pengumuman minggu besok.''
''Nanti malam, makan di rumah.''
__ADS_1
Sambungan telepon pun di putuskan begitu saja oleh Papa nya. Ia baru sadar siapa yang menurunkan kebiasaan mematikan telepon duluan, kebiasaan yabg seringkali membuat Mama nya ngomel.
Rama mendekat ke arah Mita yang sedang asik memilih buah.
''Kalau belanja mata kamu selalu berbinar-binar, ketemu Sena cocok deh.''
''Masa sih?'' Ia tak mampu menyembunyikan wajah merah nya.
''Berarti aku matre ya?'' khawatir Rama berpikiran buruk tentangnya.
''Selama aku mampu nggak masalah. Yang ngomong cewek matre biasanya karena si cowok ngga mampu aja.''
''Luar biasa anak Bu Lia ini...'' Goda Mita.
''Awas ya berani godain aku.''
Setelah puas memilih buah, mereka pun memilih sayur, bumbu dapur, ayam, daging dan tidak lupa frozen food.
Ia yang terbiasa menemani Mama nya belanja bulanan menjadi tahu apa saja yang di butuhkan.
Sudah lumayan banyak pikirnya, benar-benar perbaikan gizi anak kos.
''Ngga usah banyak-banyak, aku anak kosan bukan ibu rumah tangga.''
''Detergen, telur, minyak gimana?''
''Nanti aku beli di warung.''
Ia pun menarik tangan Rama ke kasir.
''Bentar, aku ambil susu.''
Mita memperhatikan Rama yang memasukan susu, dan beberapa jajanan ke trolley yang dibawanya.
''Rama kenapa harus gini'' ia membatin. Namun ia tak kuasa menolak segala kebaikan dan perhatian yang Rama berikan. Bahkan ia menikmati semua perhatian itu, ia senang tatkala sedang bersama Rama, namun perasaan takut seringkali muncul tiba-tiba.
Setibanya di kosan Mita, ia pun bergegas masuk untuk siap-siap ke kampus.
''Sebelum aku pulang kita makan siang dulu ya, keburu nggak?'' Rama sebenarnya masih ingin bersama Mita, tapi ia teringat pesan papa nya membuatnya berpikir untuk segera pulang.
''Keburu. Makan siang di sebrang kampus aku ada ayam bakar enak, mau nyoba?''
Siang itu Mita menggunakan kemeja berwarna orange motif garis, dipadukan rok hitam panjang dan flat shoes membuat nya terlihat segar.
''Aku takut.'' beberapa saat setelah motor mulai jalan Rama memperhatikannya dari kaca spion.
''Takut apa?''
''Takut ada yang suka sama kamu.''
''Gombal terus ih.'' bibirnya mengerucut gemas, pikir Rama.
Rama tertawa, ''Cewek lain tuh seneng aku gombalin, kamu kenapa sih kayak ngga suka aku gombalin.''
''Gombal nggak bikin aku pinter.''
''Aku sengaja, biar kamu kebal kalau ada yang gombalin.''
Hanya butuh 10 menit untuk sampai ke tempat makan yang dimaksud. Lumayan ramai mengingat ini jam makan siang, terlebih ayam bakarnya enak.
Begitu motor Rama berhenti di depan warung tenda tersebut, semua mata memperhatikan pria tampan itu membuka helm nya.
''Duh banyak temen aku di dalem. Ganti tempat makan gimana?'' ia lupa teman-temannya sering nongkrong di sana jika sedang menanti jam kuliah.
''Nanti kamu telat. Lagian bagus kalau temen kamu tau kamu udah ada bodyguard. Yang mana temen kamu? Aku mau minta nomor HP nya.''
__ADS_1
''Jangan macem-macem....'' Rama tersenyum menggoda saat Mita berhenti berjalan dan menatapnya tajam.
Tempat duduk yang tersisa hanya dekat etalse, tanpa pikir panjang mareka pun langsung duduk khawatir keburu diisi orang. Teman-teman yang baru dikenalnya seminggu yang lalu duduk di belakang memperhatikan mereka berdua.
Niken, perempuan paling cablak di kelasnya mencolek pinggangnya.
''Enak ya di anter yayang.''
Rama yang memang senang menjadi pusat perhatian tersenyum ke arah Niken.
''Ojek Ken, ojek....'' mendelik acuh, sebal di goda.
Rama pun mencubit pipi nya gemas.
''Nitip Mita ya kalau nakal.''
Semua yang hadir menatap Rama dengan pandangan semakin terpesona.
Selesai makan ia pun bersiap masuk kelas bersama teman-temannya.
''Kamu nggak pulang ?''
Heran melihat Rama yang seolah menikmati berada di tengah teman-temannya.
''Kamu ngusir? Jakarta kesini naik motor lho aku demi kamu.''
Cari muka, pikirnya sebal.
''Yaudah kalau kamu masih mau disini aku masuk ya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut.''
''Iya bentar lagi aku pulang.'' Ia mengacak-ngacak rambut Mita.
''Mau dong gue yang kaya gitu satu.'' Niken berbisik sesaat setelah meninggalkan Rama.
''Inget Aldi Ken.'' Ia teringat Aldi jurusan sebelah yang konon pacar Niken dari SMA dulu.
''Bisa gue museumin dia mah kalau dapet cowok kaya Rama.''
''Gila.'' mereka pun tertawa terbahak-bahak.
''Pacar lo anak kantoran? style nya keren, kek oppa-oppa uwuuu.'' tanya Irma yang sedari tadi menyimak pembicaraannya mereka.
''Baru resign kerja, sekarang ngambil master di SB (sekolah bisnis).''
''SB sini?''
''Ho'oh.'' ia pun mengangkuk.
''Pengusaha dong cowok lo. Ganteng, sopan, pengusaha, perfecto.'' Irma membentuk jari telunjuk dan jempolnya menyerupai huruf ''O'' sambil mengecup nya.
Ia tertegun, kemungkinan benar yang dikatakan Irma barusan bahwa Rama adalah pengusaha.
''Iya kali ya pengusaha, duitnya emang banyak sih.''
Niken dan Irma saling menatap heran.
''Lahh, pe'a cowok sendiri nggak tau.''
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1