Cinta Mita

Cinta Mita
Pembicaraan yang mengarah


__ADS_3

Selepas dari ruang tengah, Rama scroll-ing explore instagram miliknya yang kebanyakan memuat akun-akun sepak bola, badminton, dan otomotif. Sambil menunggu Mita selesai shalat yang terasa lama, padahal saat melohat jam baru 10 menit ia menunggu. Beberapa kali melirik ke arah Mita, memastikan bahwa Sang Istri tidak tertidur, hingga ia sendiri akhirnya yang tertidur.


Belasan menit memasuki alam bawah sadar, Rama terbangun karena menyadari seseorang berbaring di sampingnya dengan wangi parfum yang khas. Parfum yang ia beli di mall bersama Mita saat menginap di hotel pertama kali setelah acara pernikahan dulu.


"Sayang, malah tidur."


Rama bergumam pelan.


"Kamu capek?"


Lalu mendekat dan memeluk Mita dengan ingin. Namun pertanyaannya tidak mendapat respon apapun, Mita sudah terlelap.


Dengan perasaan yang menggebu, Rama mengusap setiap inci wajah istri tersayang. Mengagumi rambut-rambut halus disekitar dahi, membelai dan menge cup tiap inci bibir yang terasa dingin dengan aroma mint.


Keinginan Rama sudah tidak bisa dibendung, namun Mita tak kunjung bangun juga.


Selelah apa? Pikir Rama.


Lima belas menit lamanya Rama meng-eksplor hingga akhirnya Mita mengalungkan tangannya di leher Sang Suami.


"Aku nungguin kamu selesai shalat sampai ketiduean, malah ikut tidur."


"Hmmmm..."


Rama tersenyum, rupanya Mita belum sadar betul.


Dengan gemas, setengah memaksa Mita untuk bangun gerakannya semakin liar.


"Abang... hmmm..."


"Aku pengen, kamu ngga kasian?"


Dengan berat, Mita membuka kedua matanya. Samar-samar terlihat wajah Rama berada dekat wajahnya, dengan posisi tubuh diatasnya. Sayangnya matanya terlalu berat untuk sekedar ia buka, akhirnya Mita membiarkan Rama melakukan hal yang suaminya itu inginkan dengan mata tetap terpejam.


Perlahan Rama membuka piyama tidur Mita yang berwarna marun, berbahan satin dengan model kimono two pieces. Sementara Mita hanya merespon kecil membuatnya semakin ganas. Mengangkat tubuh Mita ke atas tubuhnya.


"Dosa lho, cuekin suami."


"Aku ngga cuekin, aku udah bangun ini."


Tetap bersandar di atas dada Rama dengan mata terpejam.


"Matanya buka dong Sayang."


"Biarpun aku merem, aku tetep bisa merasakan Abang."


Merasakan? geli sekali pikir Rama.


Malam itu Rama betul-betul menikmati menu berbukanya, yang terasa lebih nikmat. Hingga mau tak mau Mita betul-betul terbangun karena sentuhan Rama yang membuatnya merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Bermain sambil tertidur.


Kegiatan suami istri yang tengah dibalut rindu malam itu terasa panjang karena keduanya ingin lagi dan lagi.


*****


"Ram, bangun belum? Siap-siap kita mau berangkat pagi."


Pak Romi terpaksa membangunkan Rama, karena laporan dari Sena kedua kakaknya tidak kunjung membuka pintu kamarnya.


"Semalam Kakak bilang mau buka puasa, masa jam segini belum selesai juga. Heran."


"Ini anak, dua-duanya belum bangun juga. Mama aja yang bangunkan Rama."


"Tengteuingeun ai Teteh, belum Subuhan sigana budak teh."


Bu Rini bersuara, gemas dengan tingkah laku anak dan menantunya yang tidak tahu waktu.


Dengan segala upaya akhirnya Mita tersadar, tertidur dengan tanpa benang sehelaipun dengan hanya berbalutkan selimut hotel.


"Sayang, itu pada rame banget di luar. Jam berapa ini?"


"Hmmmm."


"Abang bangun, kita belum mandi belum shalat."


Dengan tergesa Mita mengambil baju nya yang berserakan di kasur dan lantai.


"Maaf ketiduran, Mita siap-siap sekarang."


Memperlihatkan wajah bantalnya di samping pintu dengan tidak menampakan tubuhnya dari balik pintu.


Brakkk !!!


Menutup kembali dengan tergesa karena syok, ternyata semua anggota keluarganya sudah menunggu di ruang tengah yang posisinya tepat di depan kamarnya.


Pagi-pagi sekali rombongan sudah bersiap ke bandara. Mita sendiri sudah tidak sabar, karena ini adalah perjalanan pertama luar negerinya setelah menikah dengan Rama.


Trip beberapa waktu lalu ke Seattle tentu tidak sebebas sekarang, karena saat itu Mita masih berstatus kekasih Adit. Saat itu ia tidak menikmati perjalanan pertamanya karena perasaan bersalah memenuhi hatinya. Namun kini, Rama adalah suaminya.


Dengan terus menggandeng Rama, Mita seolah tidak ingin lepas dari Sang Suami.


"Sayang, kita lanjut disini berapa hari?"


Menghirup udara Seattle bersama orang-orang terkasih tentu sangat menyenangkan.


"Anything you want. Paling Fery yang kesel kelamaan ditinggal."


"Aku ngga enak atuh jadinya ke Fery."


"Ngga apa-apa mumpung disini. Bisa kesini lagi kapan kan belum tau. Fery nunggu tiga atau empat hari mah wajar."


"Oke, empat hari ya."


Rama mengangguk, mengapit tangan Mita di sisi ketiaknya untuk menghangatkan tubuh.


"Di Bandung jangan nakal."


Di sisi yang lain Adit mencubit hidung Sena. Melihat hidung Sena memerah, adalah kesenangan baginya.


"Sakit Mas, merah ini pasti."

__ADS_1


"Kalau boleh aku gigit, aku pengen gigit."


"Semacam pshyco."


Adit tertawa.


"Iya pshyco karena cinta."


Kini dagu Sena yang jadi sasaran cubitan berikutnya.


"Dagu kamu empuk, coba deh beda sama dagu aku."


Bentuk wajah Sena yang oval, dengan dagu yang panjang seolah memiliki daging dibagian bawahnya. Membuat Adit gemas sekaligus betah berlama-lama memandangi wajah Sena yang menjadi tidak membosankan di matanya.


"Udah ah, malu diliatin."


Sena melihat beberapa pasang mata yang juga sedang menunggu waktu boarding mengarah ke arahnya dan Adit.


"Cantik banget sih, jangan nakal ya."


"Yang lebih berpeluang untuk itu ya kamu. Di Tokyo apalagi musim dingin, diangetin sama cewek-cewek Jepang yang mirip-mirip di anime kan jadi enak."


Adit teringat ucapan laki-laki yang pernah ia temui di Singapura beberapa bulan lalu. Damn !


"Ngawur... Kamu juga amat sangat berpeluang."


"Aku setia, tapi itu juga kalau kamu setia sama aku. Tapi kalau jahat, aku bisa lebih jahat. Jangan ragukan itu."


"Ternyata kamu lebih psycho dari aku."


"Apalagi aku cantik, cowok ngga setia mah buang aja ke laut. Banyak kok yang antre."


Adit tersenyum kecil, memahami ucapan yang baru saja ia dengar tentu hanya bisa keluar dari mulut perempuan dengan tingkat kepercayaan diri tinggi.


"Tanya Teteh, apa ada catatan hitam aku tentang kesetiaan? Aku bersih, Non Sena tenang aja."


Adit merangkul bahu Sena, mencoba meyakinkan bahwa kesetiaannya sudah teruji.


"Dingin nggak?"


Adit mencoba mengalihkan pembicaraan.


Adit membetulkan letak syal Sena yang sedikit tersingkap, memperlihatkan sedikit bagian leher kekasihnya. Persis seperti yang pernah Sena lakukan untuknya saat di Space Nidle beberapa hari lalu.


Meski Pak Romi sedang berbincang santai dengan Pak Zainal, namun mata dan telinga nya mengikuti pembicaraan anak gadisnya dengan calon menantu.


Adit baginya sosok laki-laki lembut namun bisa dipercaya. Meski terlihat lebih manja dari Rama, namun tetap terlihay darah Jawa yang ulet dan pekerja keras.


"Kuliah cepat selesaikan, biar bisa fokus membangun masa depan."


Pak Romi sedikit menggeser posisi berdirinya agar lebih dekat dengan Adit.


"Kalau membangun rumah tangga belum boleh Pah?"


Adit iseng menanyakan pertanyaan yang absurd, tersenyum sambil melirik ke arah Sena yang terkejut mencengar pertanyaan Adit.


"Anjay gaskeun ceunah Dit."


Rama tertarik dengan pembicaraan yang dibangun oleh Adit dan Pak Romi


Adit tertawa. Rama geli sendiri mendengar Pak Romi menggunakan bahasa-bahasa anak zaman now.


"Yang pasti, semua rumah tangga pasti ada masalahnya. Orang pacaran aja ada masalahnya, apalagi suami istri yang ketemu setiap hari 24/7. Leres teu Pak Zainal?" (Benar ngga Pak Zainal?)


Laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah besannya, mengangguk tersenyum.


"Leres Pak, leres pisan. Teu kudu pasangan ngora, pasangan kadarluarsa ge aya wae masalahnya. Kadang-kadang mah, masalah leutik wae mah aya." (Betul Pak. Nggak harus pasangan muda, pasangan tua juga ada masalah. Kadang-kadang, ada aja meskipun masalah kecil.)


"Emang udah siap? Mau tinggal dimana?"


Rama fokus kepada obrolan terkait kehidupan masa depan adik semata wayang.


"Adit belum cek harga rumah standar pasangan muda di Jakarta sekarang berapa sih ? 5 M dapet yang kaya gimana?"


"Wahhh... Adit diam-diam sudah menyiapkan budget untuk rumah 5 milyar. Keren anak nya Mbak Retna."


Bu Lia yang sedang mengecek grup dosen ikut menyimak pembicaraan orang-orang terdekatnya.


"Budak ngora zaman ayeuna hebat-hebat. Nyari uangnya gimana itu teh?"


Bu Rini geleng-geleng kepala berkomentar. Melihat pencapaian Adit dan Rama, apakah semudah itu mencari uang di ibukota?


"Ya kerja Bu, melek investasi sedikit-sedikit."


Adit garuk-garuk kepala, bingung jika harus menjelaskan usahanya, terlebih kepada keluarga Mita yang awam dengan hal investasi modern.


"Kalau 5 M dapet rumah minimalis di pinggiran Jakarta Selatan 3 lantai luas tanah 250 meter, ya Cipete Jagakarsa dapet lah."


Berbekal pengalaman dan koneksi, membuat Rama mengerti harga tanah dan property di wilayah Jabodetabek.


"Alhamdulillah, aman berarti kan?"


"Tapi nikah itu bukan perkara rumah doang. Lu sendiri aja masalah udah banyak, ini ditambah masalah istri, pikiran makin banyak lagi."


"Abang curhat? Emang aku bikin masalah apa?"


"Bukan kamu, rumah tangga orang lain ini mah. Kamu mah haid udah beres juga masih sensi."


Rama memalingkan wajah ke arah lain agar raut wajah setengah mengejeknya tidak terlihat Mita.


"Terus rumah tangga siapa yang Abang omongin? Sampe bisa tau masalah rumah tangga orang?"


"Rumah tangga Fery, sayangku. Gemes amat sih Pak anaknya, pengen gigit."


Rama menggigit kecil bahu Mita.


"Ih Abang gosok gigi belum, main gigit aja?"


"Ya Allah cunihin pisan, istri siapa sih ini." (Cunihin : ngga sopan)

__ADS_1


"Cunihin juga tetep bogoh kan?" (bogoh : suka)


Mita berbangga.


"Duhh masalah rumah tangga jangan diumbar di khalayak ramai dong. Enak-enak aja di kamar, ribut disini."


"Apa sih? Kamu mau liat kita enak-enak? Kasih live nanti malem Yang."


"Ngaco !"


"Bahasannya jadi kemana-kemana sih ini. Kita kan lagi bahas pernikahan secara umum."


"Idih, siapa yang mulai siapa yang protes, ngga jelas banget."


"Jadi ya gitu Dit. Sena jajannya banyak, mahal lagi."


Bingung harus membawa pembicaraan kemana, Rama akhirnya membahas kebiasaan belanja Sena.


"Bentar."


Rupanya Adit tipe orang yang memikirkan matang-matang segala sesuatu sebelum memutuskan. Tipe laki-laki yang well-prepared.


Adit mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi mobile banking.


"Coba kamu inget ngga password yang kemarin aku kasih?"


"Inget kayaknya. Tanggal pernikahan Ayah Ibu kan?"


"Luar biasaaa."


Rama berkomentar.


Mita tersenyum senang, semenyenangkan itu hubungan Sena dan Adit terlihat di matanya.


Sena mengetik password yang terdiri dari 6 digit.


Langsung terbuka.


"Bener kan aku inget?"


"Ini. Segini cukup ngga? Ada dua rekening lagi, memang ngga segini. Cuma lumayan lah."


Sena meneliti kembali barisan angka di layar ponsel Adit, merasa tidak percaya.


"Ini berapa sih? Banyak banget angkanya?"


"Berarti cukup. Beres kan buat jajan kamu yang mahal dan banyak itu?"


Sena tersenyum bahagia, Adit sangat sweet dimatanya.


Mita seperti mengingat sesuatu. Selama ini ia belum pernah melihat isi rekening Rama !


"Sayang, Sena udah lihat isi rekeningnya Adit, aku belum lho. Mana HP Abang?"


"Eits jangan, nanti kamu kejang-kejang kalau liat isi rekening aku."


"Kejang-kejang gimana? Emang aku se-norak apa?"


"Pokoknya ngga usah. Yang penting jatah kamu selalu aku kasih, ngga pernah kurang kan?"


Mita diam.


"Cukup kan?"


Masih terdiam.


"Aman kalau gitu, iya ngga Dit?"


Rama mengangkat alisnya, menegaskan kekuasaannya.


"Seperti yang pernah gua bilang, sebucin apapun lu tapi jangan semua yang diminta perempuan lu turutin. Emang tujuan lu ngasih tau duit yang lu punya buat apa?"


"Biar Sena belajar ngatur keuangan. Jadi kalau pengen beli sesuatu ngukur dulu kemampuan gua kaya gimana. Karena gua tipe cowok yang ngga mau mengecewakan perempuan, sebisa mungkin yang Sena pengen gua kasih. Jadinya Sena yang harus bisa ngerem keinginan. Ngerti ngga maksud gua?"


Rama terdiam, sedikit kagum dengan isi kepala calon adik ipar.


"Kayaknya aku salah pilih..."


Mita menggoda Rama.


"Maksudnya? Tolong perjelas."


Aura wajah Rama berubah.


"Salah pilih, kenapa ngga dari dulu nikah sama kamu."


Sedikit kecupan di pipi, Mita berikan untuk Rama karena Sang Suami terlihat kesal dengan candaannya barusan.


"Jadi niat aku biar kamu tau uang aku segini, kamu jangan ngidam private jet, ngga akan kebeli. Sengidam-ngidamnya kamu tetap harus ngukur kemampuan suami."


"Cieee suamii. Papa Mama mau hajat kayaknya sebentar lagi."


*****


Selamat malam, ai miss yuuu


Pa kabar semua? Sehat-sehat ya semuanya.


Maaf baru nongol lagi, hapunteeuunn.


Sebenernya yang di kepala itu banyak yang pengen di tulis. Cuma merangkai kata kan bukan perkara mudah ya teman-teman huhu.


Saya lagi nyusun kerangka-kerangka, biar nanti ngga ilang-ilang lagi. Biar teratur updatenya, tapi dengan alur yang tetap enak dibaca.


Doakan ya semuanya, biar bisa terus produktif disini.


Terima kasih yang sudab setia.


Terima kasih support dan DM di instagram yang minta update. Haturnuhunn ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2