Cinta Mita

Cinta Mita
Love Bird


__ADS_3

Sena


Saat sedang asik nonton TV di ruang keluarga ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Rama. Orang yang kemarin mengatakannya anak kecil. Enak saja.


''Sen, lagi ngapain?''


''Kenapa? Mau ngatain anak kecil lagi?!''


Damar yang belum memberi nya kabar, memperburuk suasana hatinya.


''Yaudah maaf. Aku udah otw ke Bandung, mau nitip sesuatu nggak?''


''Bagus nyogok! Gua peres aja sekalian'' pikirnya picik.


"Aku masih mau sepatu yang kemarin Aku bilang."


S.U.K.U.R.I.N


Ia hafal betul, kakak nya satu ini tidak mungkin menolak permintaanya ketika marah.


"Harganya berapa?" Rama melemah mengalah.


"Ceban kembalian goceng."


"Sepatu apaan harganya 10juta dek? dipakenya di pantat hah?"


Rama yang tidak paham barang brended, merasa 10juta hanya untuk sebuah sepatu merasa tidak masuk akal.


"Running shoes buat kuliah, itu edisi khusus. Mau beliin nggak?"


Kalau sudah bawa-bawa kuliah, baik Rama, Mama, maupun Papa nya tidak akan mampu menolak.


"Sama laptop Mita masih mahalan sepatu kamu. Bisa-bisanya minta barang mahal kaya minta gorengan, aku aja nggak punya. Suami kamu harus sultan kalau punya istri macam kamu."


Jadi teringat Damar lagi belum membalas pesannya.


"Besok ya, Aku mau reimburse ke Mama gini caranya.''


''Aku mau nya pakai uang Kakak.''


''Anak manja ini. Mau dibawain yang lain nggak? Enin mana Mau pesen nggak Enin?''

__ADS_1


''Kakak mau langsung kesini apa main dulu? Kalau main dulu mending nggak usah, kelamaan nunggu nya.''


''Aku mau ke Fery. Yaudah kalau gitu udah ya.''


Fery, sahabat kakaknya yang pernah ia sukai saat SMP dulu. Kalau main ke rumah ia akan bersembunyi namun diam-diam memperhatikannya.


Ia kembali melihat aplikasi pesan nya, Damar belum juga memberi kabar padanya.


''Nin, aku ke kamar ya mau belajar.''


''Iya mangga Neng.'' ditinggalkannya Enin yang sedang mengisi hari-hari nya dengan merajut.


Belum tiba di kamar, terpampang foto Damar di ponselnya. Panggilan video. Dua kali ia biarkan hingga mati sendiri. Panggilan ketiga akhirnya ia angkat.


Buru-buru ia masuk kamar.


''Sen....'' Damar tersenyum manis.


''Hmmmm...'' Tak ingin bicara banyak.


Direbahkannya tubuhnya di atas kasur empuknya itu sambil memejamkan mata.


Tak ada jawaban.


Namun wajah Sena yang memejamkan mata memenuhi layar ponselnya malam ini.


''Aku tau kamu nggak lagi tidur, kamu lagi ngambek. Kamu nggak mau liat aku?''


Ia masih diam.


''Yaudah nggak apa-apa, aku gini aja liatin kamu merem dari sini. Kamu dengerin aku aja biar kamu nggak salah faham. Tadi tuh aku mau balik ke flat (housing yang dibangun pemerintah singapura untuk disewakan). Cuma temenku ngeburu-buru terus karena kita mau ngadain acara seminar, lagi prepare. Aku jadi ngga bisa balik ke flat. Jangan ngambek ya Sena sayang....''


Seolah tidak terganggu dengan ia yang ambekan, Damar terus menatap nya rindu.


Mau ngambek lebih lama, apa daya ia pun sama rindunya.


''Aku kayak yang kangen sendiri. Gini rasanya kangen seseorang, tapi orang nya nggak kangen sama aku. Pasti kamu belum pernah kan?"


"Aku yang kangen sama kamu. Tapi kamu nya jahat ninggalin HP segala. Yang ngga kangen disini udah jelas kan siapa?"


Damar tersenyum namun diam, tidak berniat menjawab Sena.

__ADS_1


"Tuh kan kamu ngga bisa jawab. Biar aku nggak marah kan ngomong gitu. Asli nya kamu enjoy your life without me."


"Ehhh ngga ada kayak gitu, jangan kejauhan ngomongnya. Aku cuma seneng ngeliat kamu yang lagi ngomel-ngomel bikin gemes. Hiburan banget buat aku. Ngomel lagi nggak apa-apa, aku dengerin daripada kamu diem.''


Anehnya Damar, ia menikmati omelan Sena.


Sebenarnya ia pun lelah, namun untuk mendebat dan menjelaskan lebih banyak energi nya sudah habis. Ia hanya ingin charge dengan hanya bicara dengan gadis pujaannya.


"Nggak apa-apa kamu bilang aku nggak kangen, yang penting kamu kangen sama aku aku seneng buanget."


Ia pun tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"You like an angel."


"Mulai gombal lagi..." bahkan semu merah di wajahnya pun tak mampu ia sembunyikan.


"l'm swear. Sayangnya aku nggak punya sayap, aku nggak bisa terbang nemuin kamu. Padahal aku pengen banget liat kamu langsung.''


''Diliat doang?" Sena iseng bertanya


"Kamu pengennya diapain? Aku pengen juga bisa mmmuahh kamu. Kamu pengen nggak?" malah menjadi blunder baginya.


"Mmmuahh itu apa?" tanyanya sok polos, seru juga menggoda Damar.


"Ah nggak deh, aku bisa habis sama Kakak kamu kalau ketauan. Ketauan pacaran sama kamu aja aku bisa jadi perkedel."


Ia tertawa membayangkan Damar yang jadi perkedel.


"Kamu tau ngga dulu yang bikin aku semangat datang ke sekolah itu apa? Dan aku males banget kalau pas libur panjang."


"Aneh kok bisa? aku malah seneng kalau libur."


"Aku nggak bisa lihat kamu."


Nyessss adek meleleh bang


********


Halooo aku seneng banget baca komen-komen walaupun belum banyak, karena karyaku juga baru segini πŸ˜†πŸ˜†


Komen dan like kalian selalu jadi mood buat akuu 🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2