
Rama
Sore itu setelah dari kosan Mita ia memberhentikan mobil di Lapangan Sempur. Hore hari lapangan yang sekarang bertransformasi menjadi Taman Kota menjadi salah satu ruang hijau terbuka yang hadir untuk masyarakat Kota Bogor.
Ia tertarik untuk membelokan mobil nya kesana karena banyaknya pemuda yang olahraga, bermain skateboard, hingga berjajarnya jajanan pinggir jalan yang ramai oleh pembeli.
Kejadian hari ini sungguh di luar dugaannya. Ia sudah membayangkan akan mengajak Mita nonton bioskop dan makan, namun kehadirannya ternyata ditolak.
Kehadiran laki-laki yang mengaku pemilik kosan tadi juga mengangguk pikirannya. Anak kecil mana yg punya kos-kosan sebesar itu? Dilihat dari tampangnya anak tingkat 2 atau 3. Paling cuma ngabisin duit orangtua. Sok-sokan mengancam Rama Yudha, pikirnya meremehkan.
Ia belum ingin kembali ke rumah. Mengingat Bu Lia pasti sudah berbicara dengan Mita tanpa memberi tahu nya terlebih dahulu.
Dibuka aplikasi travel agent online si burung biru, mencari hotel disekitar wilayah ia kini berada. Pilihan nya jatuh kepada hotel yang masih satu kawasan dengan Mall Botani Square. Melihat lokasinya yang berada di pusat kota dan tidak jauh dari pintu masuk toll menjadikan nya mantap memilih hotel tersebut.
"Lu balik belum?"
Begitu terhubung panggilan suara ke seorang teman di Bandung sana.
"Waalaykumsalam..." Fery menyindir nya dengan salam.
"Salam kek woy." sungutnya kesal.
"Assalamualaikum. Lu balik belum? kesini lah gua shareloc live."
"Lu dimana?"
"Di Bogor."
"Busettt, nggak sekalian ke Konoha aja lu." terdengar suara reseleting tas
yang di tutup dari sebrang sana. Mungkin Fery tengah bersiap pulang kantor.
"Enya lah sok shareloc, moal meunang urang debat ge." dengan suara pasrah Fery melanjutkan omongannya yang sempat ia jeda.
Tanpa salam perpisahan ia putuskan sambungan telepon tersebut. Ia masuk ke dalam mobil setelah meyelesaikan makan siang nya yang teramat telat. Niat makan siang bersama yang berakhir dengan kesendirian di antara puluhan pasangan di Taman Sempur. Amsyong.
Terpaksa ia makan mie ayam yang ada disana karena sudah lelah jika harus mencari makan di tempat lain. Meskipun rasanya tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kisahnya hari ini.
Ia kemudikan kembali setir mobilnya ke arah hotel yang terletak di samping Kampus Baranangsiang IPB. Hotel yang terdiri dari 10 lantai dan memiliki 153 kamar tersebut memiliki desain yang stylish.
__ADS_1
Kembali lagi ia teringat perempuan yang letak kosannya tidak jauh dari hotel nya berada. Namun sayangnya nasib baik sedang tidak memihak.
Ia menghempaskan tubuhnya di kasur hotel sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang. Setelah melepas lelah 10 menit ia putuskan untuk segera bangkit dan berendam air hangat. Sengaja ia memilih tipe suit room karena hanya kamar tipe itu yang dilengkapi dengan fasilitas bathub.
Sampai tanpa sadar ia ketiduran dan hampir melewatkan shalat Magrib. Segera ia menyelasaikan mandi nya lalu meminta sejadah untuk diantar ke kamarnya.
"Nyampe mana Fer?" Sehabis berendam air hangat otot-otot nya sedikit meregang, tidak sekaku tadi siang. Emosi nya pun sedikit bisa lebih di kontrol.
"Do you feel better?"
"Iya. Masih jauh ngga? Gua laper mau mesen makan. Lu mau sekalian ngga? Kalau udah deket gua tunggu."
"Pesenin aja dulu. Makanan dateng gua nyampe."
"Yaudah lu hati-hati."
"Siap babe."
"Najis lu." di sebrang sana hanya tertawa.
*****
Pekerjaannya hari ini selesai lebih cepat. Rencana yang tadi tiba-tiba ia susun mendadak kacau setelah mendapat telepon dari Rama, pemilik kegelapan.
Kalau Rama menghubungi nya duluan, dapat dipastikan dunia sedang tidak baik-baik saja. Yang awalnya ia akan menjemput Rena pulang kantor lalu menikmati makan malam di restoran favorite mereka sejak belum menikah yang letaknya di samping kantor Rena akhirnya batal. Ia akhirnya memberi kabar via chat bahwa ia akan ke Bogor menemui Rama sang ABG tua.
Urusan izin domestik selesai, segera ia menuju kota hujan.
Akhirnya ia sampai di alamat yang Rama share. Hanya saja ia bingung restoran mana yang Rama maksud pesan makan tadi. Karena ia kini berada di hotel.
"Ram lu dimana?"
"Di kamar 513.''
Sekitar 10 menit ia sampai di depan kaar dengan nomor yang Rama sebutkan tadi.
''Bangsat, jangan bilang tadinya lu mau nginep disini sama itu cewek."
Begitu Rama membukakan pintu untuknya, ia langsung memeluk teman terbaik nya ini. Namun begitulah bahasa laki-laki jika sudah berkawan lama, bahasa yang terkesan kasar namun biasa saja bagi mereka.
__ADS_1
"Sembarangan lu ngomong, boro-boro gua bungkus dideketin aja licin banget nggak pernah dapet." Rama menutup kembali pintu kamar setengah membanting.
"Kalau dia nya mau?'' Fery menatap tajam.
"Ya ngga tau juga. Namanya laki-laki dewasa normal, gua normal.'' Ia menatap balik sambil terkekeh, tidak mau kalah dengan tatapan intimidasi Fery.
"Bangsatt. Gua kira kemarin masalah lu udah beres. Kirain lu ke Amrik mau lupain dia." Ia membuka sepatunya Dan mengganti dengan sandal bertuliskan "Santika Indonesia".
"Gua mikir juga gitu awalnya, tapi pas gua balik dari Bandung gua nggak bisa Fer. Anying hese Fer. Hidup gua kayak, mau ngapain lu kalau nggak ada dia?"
"Bucin." ia menyalakan pemanas air Dan manuangkan air mineral botol ke dalamnya karena tiba-tiba saja ingin air putih hangat.
"Terserah lu mau ngomong apa. Lu pernah ngerasa gini ngga sih Fer?"
"Nggak, gua sama Rena biasa aja ngga segitunya."
"Mungkin karena lu bisa bareng terus sama Rena jadi ngga ngerasain apa yang nggak gua rasain. Gua juga laki-laki dewasa Fer, semua organ tubuh gua berfungsi dengan baik. Setelah ketemu Mita keinginan untuk nikah itu ada. Ngerti ngga sih lu?"
"Maksdnya lu mau kawinin Mita?" Ia merebahkan tubuhnya setelah kurang lebih 3 jam menempuh perjalanan Bandung Bogor malam ini sambil menunggu air nya menghangat.
"Pengennya gitu, tapi gua tau gua ngga bisa egois. Dia, keluarga gua, keluarga dia juga bisa jantungan kalau gua bilang mau nikahin dia."
"Bagus, otak lu masih berfungsi."
Rama pun menceritakan kejadian tadi siang di kosan Mita. Lengkap dengan drama bertemu laki-laki yang mengaku pemilik kosan yang membuatnya naik darah.
Terdengar suara ketukan dari pintu kamar. Dua set paket kota hujan telah ia pesan sebagai menu makan malam nya hari ini. Terdiri dari nasi liwet kuning, ayam bakar, tahu, tempe, urap dan juga sambal sebagai pelengkap. Dengan segelas bajigur lengkap sudah menemani dingin nya kota hujan di malam hari.
"Tapi kalau dia disini sama cowok lain gua ngga rela. Sementara gua disana setengah mati ngelupain dia? Mana bisa bang ke. Gua tadinya mau berangkat setelah gua make sure disini dia aman nungguin gua balik. Tapi tadi liat dia tangannya ditarik sama cowok darah gua kayak mendidih. Tengil banget gayanya anying pengen gua hih aja tadi. Kalau gua ngga inget mah udah baku hantam.''
"Gua pengennya gua lulus master, short course, kerja kali disana sampe dia lulus baru gua balik and happily ever after."
"Kebanyakan makan mecin lu. Makan dulu, laper gua."
"Mau lu apa sih Ram? Si Mita udah bener, lu nya doang yang dableg. Udahlah fokus sama keadaan masing-masing dulu. Buat sekarang, lu sama Mita kaya ini nih." ia mengangkat garpu dan pisau makannya.
"Teu cocok aingah nasi liwet make peso. Ribet, ku leungeun we lah." lalu menyimpannya di meja kamar makan di kamar hotel tersebut.
"Ntar.... kalau sekolah master lu udah beres dia juga udah lulus, ketemu lah lu berdua di atas. Saling memantaskan. Kolot mah moal nyusrukeun budak Ram, saking ku nyaah.'' Ia menikmati makan malamnya kali ini, setelah tadi siang ia hanya sempat memesan segelas vanilla latte less sugar dan belum sempat makan siang.
__ADS_1