Cinta Mita

Cinta Mita
Sabtu paling Indah di Seattle


__ADS_3

Ferry


Minggu pagi Rena mengajak hunting perlengkapan bayi. Sesuai saran dokter pula, Rena harus banyak jalan kaki.


"Jalan-jalan nya di supermarket aja ya Yang, sambil nyari buah sayur."


"Anything for you sayang."(apapun buat kamu). Rama yang jika mendengar gombalannya ini pasti akan "hueeeekk" pura-pura merasa mual.


Saat mencari Rena yang sudah menghilang entah kemana karena asik berbelanja, tiba-tiba ponselnya berdering dari Rama.


"Kampret habis berapa ronde lu semalam hah? Mana foto bunga yang gua minta."


Tanpa ba-bi-bu amukan langsung keluar dari Paduka Rama.


"Semalem gua udah di kasur. Ketiduran sorry."


Ngeles mode on.


"Alah ketiduran, alesan."


"Kalau ngomong lagi enak-enak kan ngga enak. Berkeprijombloan lah gua juga."


Di perhalus salah, frontal aja sekalian. Xixixi


"Bangsatt di perjelas."


Ia tertawa mendengar Rama yang masih saja mengomel.


"Ini gua mau langsung mesen bunga. Yang paling bagus, paling mahal buat Paramitha Zainal."


"Telat, ngga usah. Bokap gua udah ngerestuin gua Fer. Bener-bener emang bokap gua, biar dapet restu gua dibuang dulu kesini."


"Percuma sekarang sih, itu anak dua udah kaya perangko. Story nya udah macem anak alay titik titik saking banyaknya post story."


"Bodo amat. Pacaran boleh dah sama si cunguk. Kawinnya tetep sama gua. Tapi jangan sampe Mita di sentuh sama itu kampret lu inget baik-baik."


"Gimana gua mastiinnya. Eh udah dulu Ram, bini gua udah beres belanja, mau langsung ke baby shop. Daddy sama Mommy nya mau belanja buat utun." (utun : calon bayi)


"Najis, gaya lu daddy mommy segala."


"Made in USA boss." calon daddy shombong.


*****


Rama

__ADS_1


Sabtu sore ia menuju Pike Place Market yang ada di pinggiran teluk yang disebut Elliot Bay. Tujuan nya sore ini adalah kedai Starbucks pertama di dunia. Menikmati s gelas cappuccino panas di tengah hujan gerimis Seattle adalah pilihan yang terbaik.


Julukan Seattle sama dengan Bogor, yaitu kota hujan nya Amerika. Mungkin julukan itu sedikit dibesar-besarkan, mengingat banyak kota lain di Amerika yang juga punya curah hujan lebih banyak. Tetapi di kota lain, hujan yang turun seringkali hujan lebat namun langsung terang.


Berbeda dengan hujan di Seattle yang lama, sering gerimis akibat hempasan dari Samudra Pasifik, kadang-kadang langit mendung selama berhari-hari sebelum dan sesudah hujan. Sehingga di kota ini bahkan saat musim panas akan tetap terasa adem.


Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Seattle memiliki reputasi akan konsumsi kopi nya yang tinggi. Dan menjadi kota lahirnya brand kedai kopi dunia yaitu Starbucks.


Belum sampai di tempat tujuan ponselnya berdering, dari Sena.


Kenapa hari ini rasanya ia sibuk sekali?


Karena tidak memungkinkan mengangkat telepon saat hujan, akhirnya ia reject. Akan ia hubungi kembali jika sudah sampai, tekadnya.


Setelah ia duduk dengan segelas cappuccino panas ditemani almond croissant, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Sena. Namun ia teringat Mita, andai perempuan itu disini.


Cappuccino panas, almond croissant, dan hujan masih belum sempurna tanpa kamu.


Ia kirimkan foto kepada Mita dengan keterangan begitu adanya.


"Dek, kenapa?" ia pun menelepon Sena, tumben sekali pikirnya anak manja ini telepon.


"Kakak udah sehat? itu lagi ngopi ya?"


Sena melihat di belakangnya nya dipenuhi orang yang sedang minum kopi. Entah karena memang ingin ngopi seperti dirinya, entah meneduh dari hujan gerimis.


Gigitan ketiga pun mendarat dengan sempurna di mulutnya.


"Lagi heboh Papa sama Mama masalah Kakak sama Mita."


"Kenapa katanya?" ia penasaran, apa yang terjadi dengan ayahnya.


"Gitu deh. Siapa sih anaknya om Bamwir itu Kak? Dari pagi disebut terus."


"Adalah itu selebgram Aditya Wiragendeng."


"Wiraguna kali. Mita jadian sama dia? Gila kalah lah Kakak kalau sama dia mah."


"Enak aja, masih menang aku lah. Kamu belum balik ke Bandung?"


"Aku libur seminggu abis UTS sekalian mau ngurus visa. Kalau ada Kakak udah belanja kali aku sekarang."


"Visa kesini? Bawa sambel yang banyak, mie instan juga."


Ia terkadang membeli mie yang dijual di toko Asia, namun entah mengapa rasa yang ia tidak sama dengan mie instan yang ia makan di Indonesia.

__ADS_1


"Kirimin uang tiketnya kata Papa."


Sena yang sepertinya sedang di kamar terlihat seperti sedang mengulum permen.


"Papa bener-bener malah minta ke aku." ia mendengus kesal.


"Tiket Mita mah minta ke Kakak katanya."


"Hah gimana?"


"Tiket Mama sama Mita, Kakak yang bayar. Tiket aku Papa yang bayar."


"Mita ikut kesini?? Kapan kesini nya?"


Jika Sena tidak salah mendengar, mereka akan mengunjungi nya di liburan semester sekitar pertengahan Januari.


Ia pun tersenyum, rasanya bukan hanya bunga yang hari ini tersiram hujan. Tapi hatinya juga, ia berharap semoga bisa tumbuh subur.


"Kamu ke tempat Mita dong dek kl ngga ada kerjaan, kalau udah disana nanti aku mau telepon. Dia ngga mau ngangkat telepon dari aku."


"Kesian amat. Wani piro??"


"Mulai itungan kan." Ia menghempaskan diri di kursi kedai kopi tersebut.


"Uang bensin kan harus tetap ada Kak."


"Yaudah ajak Mita belanja sekalian, nanti aku transfer. Kabarin kalau udah di kosannya."


Serius, ini Sabtu paling Indah di Seattle.


*****


Sena


"Ma, aku ke Bogor sendiri ya."


"Ngapain?"


"Disuruh Kakak ke kosan Mita. Dia ngga mau ngangkat telepon Kakak."


Ayahnya yang sedang makan buah hanya ikut menyimak tanpa berkomentar.


"Ini kan gara-gara Papa. Mita jadi ngejauhin Rama." Ibu nya terlihat kesal. Ibu nya ini memang jarang sekali marah.


"Dianter Pak Karman." ayahnya bersuara.

__ADS_1


Ia mendelik, selalu saja harus diantar kemana-mana.


__ADS_2