Cinta Mita

Cinta Mita
Supervisi yang tidak disangka


__ADS_3

Sidang nya berjalan lancar hari ini, dengan tiga dosen penguji bergelar professor. Sebelum Rama mengikuti sidang hari ini, ia harus mengadakan seminar sidang yang harus di hadiri oleh teman-teman sesama mahasiswa MBA (Master of Business Administration) minimal 5 orang, juga harus menghadiri seminar sidang mahasiswa MBA lainnya minimal 5 orang.


Setelah selesai sidang, ia bersiap membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarganya dan keluarga calon istri tentunya. Ehmmmm, batin Rama begitu senang hari ini setelah semalaman ia panas dingin menyiapkan mental untuk sidang tadi.


Mita sayang, aku pulang, batinnya sumringah.


Tempat pertama yang ia kunjungi tentunya kedai kopi Starbucks di Seattle. Rama teringat Sena yang mengoleksi tumbler Starbucks dari berbagai negara. Jika Pak Romi atau Bu Lia kunjungan luar negeri, maka oleh-oleh yang tidak boleh tertinggal adalah tumbler.



Koleksi tumbler nya sudah berjejer dari berbagai negara. Sena dapatkan hasil oleh-oleh dari keluarga yang sedang keluar negeri.


Kemarin saat Sena dan Bu Lia mengunjungi apartemennya, Sena melupakan tumbler karena mendadak ikut Adit ke New York. Karena hal itu pula membuat Rama seperti diteror karena Sena terus-menerus membahas tumbler edisi Seattle yang ia lupakan.


"Mama kenapa ngga ngingetin aku tumbler? Aku kesel ih."


Saat itu Rama paham akan tumbler yang Sena maksud. Karena ia tahu, Sena belum membeli edisi Seattle sehingga Rama pura-pura tidak mendengar ocehan Sena.


"Kita balik lagi ke Seattle aja kali ya?"


Wah Rama tidak bisa tinggal diam, ngapain balik lagi ke Seattle setelah penerbangan Seattle - New York yang memakan waktu 5 jam lebih di pesawat hanya untuk membeli sebiji tumble, enak aja!


"Gih kamu aja sana balik, kita nunggu disini." Sena hanya terus mencibir. Begitupun saat Sena sampai Jakarta, masih mengingatkan untuk tidak lupa membeli tumbler. Tobat !


"Ini tumbler buat kamu, adik bawel. Semua bentuk Kakak beli" pesan yang Rama ketik untuk Sena berikut foto tumbler



.





Rama juga tidak melupakan oleh-oleh untuk orangtuanya dan keluarga Mita. Rama juga membeli coklat, tumbler, kaos hingga tas goodie bag bertuliskan nama kota yang tentu saja "Seattle".


Selesai belanja yang sebenarnya tidak seberapa banyak, tapi entah mengapa bagi Rama terasa lelah karena ia tidak biasa berbelanja. Bahkan makanan sehari-hari, ia menggunakan jasa belanja online yang bisa diantar sampai ke apartemen.


Kamis malam Rama sudah menyiapakan barang-barang bawaannya untuk pulang besok. Penerbangan nya besok pukul 1 siang menggunakan Japan Airlines, yang akan transit di bandara Narita, Tokyo.


Di Tangerang sana ternyata Mita sedang kedatangan dosen yang sedang supervisi, mengecek mahasiswa yang sedang magang di perusahaan.


"Aduh dosenku tiba-tiba datang ke pabrik, lagi supervisi mahasiswa magang yang di Tangerang."


Ia tersenyum, pastinya Mita sedang sibuk.


"Dosen kamu artinya tamu perusahaan, minta tolong Fery atau Sesar untuk menjamu dengan baik."


Supervisi seperti ini bagus untuk bahan latihan Mita, karena perusahaan harus siap setiap saat Jika BPOM, MUI, atau badan pemerintahan lainnya sewaktu-waktu datang untuk sidak (inspeksi mendadak).


*****


Saat Mita sedang memantau proses defrosting (mencairkan) freezer IQF yang ada di line produksi, ponselnya bergetar. Begitu ia cek ternyata dari Bu Dewi, dosen pembimbing nya.


"Mita, Ibu sudah dekat RM Food."

__ADS_1


RM sendiri sebenarnya singkatan dari RaMa, namun entah mengapa bisa cocok dengan inisial namanya dan Rama? Suatu kebetulan yang menyenangkan, Mita tersenyum. Atau jangan-jangan Rama adalah Army yang nge-fans dengan salah satu member nya yaitu RM (Namjon). Xixixi.


Segera Mita keluar dari line produksi, lalu membuka seragam produksinya yang melapisi pakaian nya.


Begitu sampai parkiran, ternyata Bu Dewi datang dengan Bu Retno.


"Ibu ngga bilang dulu mau kesini?"


"Supervisi itu memang mendadak, jadi kita tau mahasiswa benar-benar magang atau tidak."


Mita mengangguk, untungnya kedua dosennya tidak datang saat Mita izin kemarin. Fuiihhh…


Mita pun mengajak Bu Dewi dan Bu Retno keliling resto dan RPH. Mita juga memperkenalkan dosennya dengan para supervisor dan operator yang tengah bertugas.


"Selamat siang Mbak Mita, tumben ke sini Mbak." Operator kandang yang bernama Deni menyapa, mendekat ke arah Mita.


"Siang Pak, ini dosen saya sedang supervisi. Bang Sesar mana ya Pak?"


Pak Deni mengangguk hormat kepada Bu Retno dan Bu Dewi lalu pamit hendak memanggil Sesar.


"Bang, ini dosen aku lagi supervisi mau lihat-lihat kandang."


Sesar lalu menjelaskan seluruh kegiatan kandang dan juga RPH. Sambil sesekali ngobrol dengan Mita yang menanyakan seluk beluk RPH yang ingin calon bos nya itu ketahui. Setelah puas keliling, Mita mengajak kedua dosennya untuk istirahat.


"Ibu mau istirahat di resto atau di ruangan? Tapi resto jam segini rame sih Bu, tapi kalau mau lebih nyaman istirahat nya bisa di ruangan, insya allah ruangan nya nyaman."


"Di ruangan boleh juga kalau memang diperbolehkan perusahaan."


"Boleh kok Bu. Setelah istirahat kalau Ibu mau lihat pabrik nanti saya ajak keliling line produksi."


Bu Retno berbisik kepada Bu Dewi yang sedikit heran karena melihat operator yang begitu menghormati Mita. Sangat berbeda dengan perlakuan para karyawan di perusahaan lain terhadap mahasiswa magang yang sudah ia datangi.


Begitu sampai di ruangan dengan label "Ruang Direksi" kedua dosen Mita kaget.


"Kita ngga apa-apa masuk kesini?"


"Nggak apa-apa Bu. Intruksi dari direksi, Ibu sebagai tamu perusahaan jadi boleh istirahat di sini. Silakan masuk Bu."


Mita membukakan pintu untuk Bu Dewi yang masuk pertama kali.


"Ibu mau teh atau kopi?"


"Boleh teh manis dingin kalau ada."


Mita segera ke pantry untuk minta dibuatkan teh dingin kepada Pak Agus.


"Pak Agus, tolong es teh manis dingin ke ruangan Pak Rama. Dua untuk tamu, satu untuk saya. Makasih ya Pak."


Tanpa menunggu lama, dua gelas es teh manis sudah siap untuk diantar oleh Pak Agus. Sedangkan Mita ke arah resto untuk memesan makan siang untuk 3 orang berikut cemilan yang biasanya disukai ibu-ibu yang kemungkinan akan menanyakan kegiatannya selama magang. Sebenarnya Mita biasa menggunakan telepon di ruangan Rama untuk memesan makanan. Namun saat ini di ruangan Rama masih ada dosennya, sehingga Mita merasa sungkan.


Sementara itu di ruangan direksi, Bu Retno menanyakan perihal Mita kepada Agus, office boy kantor.


"Selama magang bagaimana sikap mahasiswa saya Pak?"


"Maksudnya siapa ya Bu?"


"Mita Pak, mahasiswa yang magang disini."

__ADS_1


"Oh Mbak Mita baik Bu, meskipun calon istrinya bos besar tapi tetap sopan dan menghargai karyawan kecil seperti saya. Kalau Mbak Mita minta tolong itu sangat sopan, manggil selalu dengan nama lengkap. Dan selalu bilang terima kasih."


Dengan penyebutan nama lengkap biasanya seseorang merasa lebih diakui dan dihargai, seperti itu pula yang dirasakan Agus.


Bu Retno kaget. Calon istri bos besar?


"Bos besar itu siapa ya Pak?"


"Pak Rama Bu, pemilik perusahaan ini. Itu yang fotonya di meja dengan kedua orangtua nya."


Agus menunjukan sebuah foto kecil dengan bingkai yang di simpan di meja kerja Rama.


Bu Retno dan Bu Dewi menyelidik betul-betul foto Rama. Tampan. Xixixi.


"Sekarang beliau dimana?"


Bu Retno sama seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya, kepo abiezz.


"Pak Rama masih di Amerika sekolah lagi Bu."


"Oh begitu. Terima kasih ya Pak."


Bu Retno dan Bu Dewi jelas kaget mengetahui berita ini. Bagaimana bisa mahasiswa beasiswa seperti Mita menjadi calon istri pemilik perusahaan yang terbilang cukup besar. Bahkan restorannya ia ketahui memiliki beberapa cabang di Jabodetabek.


"Maaf lama Bu, tadi saya ke resto pesan makan siang."


"Oh iya ngga apa-apa. Tadi infonya kamu calon istrinya pemilik perusahaan? Bagaimana bisa?"


Bu Retno dengan tingkat keingintahuan yang tinggi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya kenyataan yang sebenarnya.


Mita kaget, dari mana dosennya bisa tau? Padahal ia sendiri sudah mencoba menutupi kenyataan yang ada.


"Kata siapa Bu?"


"Tadi yang antar teh manis."


"Wah Pak Agus ngga bisa jaga rahasia." Mita tidak ingin dosennya berprasangka buruk. Ia takut dosennya berpikir ia telah menggoda laki-laki kaya, seperti yang biasa Mita lihat di sinetron burung terbang. Xixixi.


"Saya kenal ngga sengaja Bu awalnya."


Bu Dewi dan Bu Retno menyimak cerita dengan serius. Mita mengambil jalan singkat menceritakan awal mula pertemuan nya dengan Rama.


"Tadinya Rama kerja di perusahaan keuangan sebagai konsultan lalu resign karena lanjut kuliah. Jadi saya cuma tau itu, dia sekarang mahasiswa magister dan punya usaha restoran. Pas saya bilang mau magang, disuruh disini. Jadi saya juga baru tau kalau Rama punya perusahaan nya sebesar ini."


Bu Dewi dan Retno mendengarkan dengan serius.


"Nasib kamu bagus, alhamdulillah. Pas juga sama kuliah kamu, jadi ilmunya bisa dipakai di sini." Bu Dewi berkomentar.


Acara supervisi dilanjutkan setelah makan siang, Mita mengajak kedua dosennya keliling line produksi melihat proses produksi berbagai macam frozen food.


Sebagai oleh-oleh Fery sudah menyiapkan bingkisan berisi produk frozen food yang diproduksi RM Food.


"Wah terima kasih Pak Fery. Biasanya kalau mau pulang saya akan bilang ke perusahaan untuk titip mahasiswa saya. Nah kalau Mita gimana bilangnya, wong secara tidak langsung nanti akan jadi milik Mita juga." Bu Retno berseloroh yang di ikuti dengan tawa Mita dan Fery.


Mita sudah tidak ingin memikirkan apa yang dosennya kira-kira pikirkan tentang dia, karena teringat ucapan Rama untuk tidak mempedulikan omongan orang lain.


Abang, aku kangen !

__ADS_1


__ADS_2