Cinta Mita

Cinta Mita
OTW halal


__ADS_3

Selamat siang...


Maaf kemarin izin xixixi.


Btw aku baru sadar kalau cover novelnya berubah otomatis di kasih NT nya 😁😁


******


Untuk pertama kali nya Rama menampakan diri di pabrik setalah hampir tiga tahun lamanya. Dan untuk pertama kalinya juga Mita diantar kekasih. Jujur, Mita gugup.


"Kamu mau ikut turun?"


Begitu menyadari Rama memarkirkan mobil bukan di tempat biasa Pak Tarjo parkir.


"Kenapa memangnya? Ngga boleh?"


Rasanya percuma melarang Rama ikut turun, siapa yang bisa menahan keinginan Rama? None, alias tidak ada satupun.


Rama membuka seat belt miliknya sendiri, dan secara tiba-tiba membuka seat belt milik Mita saat Mita belum siap. Mita menahan napas nya, fuihhh.... hampir saja.


Mita kini paham perbedaan tempat parkir. Karena tak lama, satpam yang bernama Karman membukakan pintu untuk Rama. Seperti yang biasa ia lihat di sinetron.


"Pagi Pak." Pak Karman memberikan hormat.


Mita teringat pesan Ibu nya, harus bisa membawa diri. Kini ia di samping Rama, sebagai pemilik perusahaan. Status nya berbeda saat Mita yang kemarin, kini bukan sebagai anak magang.


"Pagi Pak. Betah di sini Pak?"


Pak Karman adalah satpam senior kantor.


"Betah Pak." Pak Karman tersenyum.


"Pacar Pak Rama?" tatapan Pak Karman kini seolah menggoda.


"Calon istri. Doain."


Penilaian Mita untuk Rama? Nyari tanpa celah. Sosok bos yang menghargai karyawan, bahkan satpam sekalipun.


Bos mana yang minta di doakan bawahannya?


"Selamat bertugas Pak." Rama menepuk bahu satpam berusia 50 tahunan itu.


Mita merasakan aura hari ini yang terasa berbeda. Biasanya setiap pagi Mita hanya di sapa sekena nya saja oleh karyawan, meski karyawan sudah tau hubunganya dengan Rama. Namun pagi ini berbeda, semua karyawan menghentikan aktivitasnya begitu melihat Rama.


Tentunya Mita pun turut menjadi perhatian semua orang di kantor karena tangan Rama tak melepas tangan Mita barang sedetik.


"Selamat pagi Pak. Sudah pulang dari Amerika Pak?"


Seorang staff perempuan yang Mita kenal sebagai staff pajak menyapa Rama.


"Pagi Nira. Nyampe kemarin malam langsung kesini."


Rama dan Mita berjalan menuju ruangan Rama.


"Aku keluar dulu ya."


Begitu sampai di ruangan Rama, Mita duduk di kursi milik Rama. Sedangkan Rama setengah berlutut di hadapannya.


Bukan hanya suasana kantor yang berbeda, aura Rama di kantor dan di luar kantor juga berbeda. Persis seperti yang pernah Mbak Isma bilang, luar biasa. Detak jantungnya sejak di parkiran tadi tidak karuan.


"Kemana?"


"Ke hati kamu. Boleh ngga?" Rama mencoba menggoda. Hatinya semakin berdetak kencang, karena jaraknya dan Rama begitu dekat. Ditambah berada di ruangan tertutup hanya berdua. Mita berdoa dalam hati, berharap Rama tidak melakukan seperti hal kemarin. Khawatir hatinya terbawa suasana seperti kemarin, ia tidak bisa menolak.


"Boleh." Mita mencoba bersikap se-biasa mungkin. Rama tersenyum, lalu bangkit dan mencium keningnya. Nafasnya seakan berhenti.


"Aku mau ke Cianjur."


"Ngapain?"


"Mau silaturahmi ke rumah calon mertua. Mau nikahin anaknya yang ini."


Entah dorongan dari mana Mita mendekatkan kursinya untuk memeluk Rama. Rama yang sudah berdiri membalas dengan mengeratkan pelukannya.


Mita jatuh cinta kepada bos baik hati ini. Pelukannya kali ini menegaskan bahwa Rama miliknya.


"Tumben kamu gini." Hari ini Rama merasakan sikap Mita yang berbeda.

__ADS_1


"Nggak boleh aku peluk kamu?"


Mita melepas pelukannya, menatap Rama.


"Boleh... karena kamu sayang aku, aku juga sayang kamu." Rama menariknya kembali ke dalam pelukannya lalu mencium bibir Mita singkat.


"Tapi kalau gini terus aku ngga bakal bisa berangkat. Ninggalin calon istri aku yang lagi manja."


Pintu terbuka, Fery masuk disaat posisi wajah Rama dan Mita saling memandang sangat dekat.


"Ram, mobil..."


Fery kikuk sepagi ini melihat pemandangan kebucinan terpampang nyata di depan matanya.


"Sorry bos, silakan dilanjut sarapannya. Pintu tolong kunci, nanti Agus masuk." Fery menutup pintu kembali.


Bangkeeee ganggu aja, Rama kesal.


Mita berdiri, malepaskan pelukannya merasa canggung.


"Kemana? Sini lagi." Rama menarik tangannya kembali.


"Nanti ada yang masuk lagi aku malu."


Rama menuju pintu, memutar kunci. Hatinya makin tak karuan. Mita semakin takut terbawa suasana.


"Udah di kunci."


"Abang mau apa?" Begitu Rama mendekat ke arahnya kembali.


"Mau peluk. Doain aku biar direstuin Bapak sama Ibu. Aku mau kita nikah secepatnya. Biar kamu ngga nolak aku lagi."


Rama mendekatkan wajahnya, menyapu halus bibirnya. Terasa dingin, lembut dan memabukan. Suasana kali ini mendukung.


"Tadi katanya peluk aja."


Rama tidak menjawab, merasakan kembali yang ia ingin rasakan. Sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


Mita ikut terlarut dalam permainan Rama, membalas setiap kecupan yang Rama berikan. Mita sudah tidak ingat apapun selain ikut mencurahkan perasaan nya pagi ini.


Mita melepaskan tautannya, rasanya sudah cukup lama.


"Makasih untuk sarapannya. Enak. Aku mau usaha dulu biar bisa sarapan ini setiap pagi. Aku berangkat sekarang." Rama mencium keningnya kembali.


"Nanti jemput aku ngga?"


Sebenarnya Mita ingin ikut pulang, namun pulang di saat hari kerja rasanya tidak etis. Mita merasa perlu bertanggung jawab dengan tugas magangnya.


"Kayaknya nggak keburu. Nanti Tarjo yang antar pulang. Dia sekarang bantuin gudang, nanti aku suruh anter kamu pulang."


Sebenarnya Rama sedang tidak ingin nyetir tapi jika meminta Tarjo membawa mobil, kemungkinan Mita akan pulang ke kosan sendiri. Meski ada Fery dan Sesar yang bisa membantunya, tapi jika berhubungan dengan Mita kedua pria tadi tidak masuk dalam hitungan. Rama tidak mempercayai laki-laki manapun selain supirnya.


"Kalau Pak Tarjo sibuk aku bisa naik taksi online sementara."


"Udah tugasnya Tarjo. Aku yang gaji Tarjo langsung, bukan perusahaan."


Mita merapikan kemeja Rama yang terlihat sedikit berantakan.


"Abang hati-hati. Kalau udah sampe kambarin aku."


"Iya sayang... Kirim nomer nya Yoga, aku mau minta shareloc."


"Menantu macam apa aku ini, kalah sama anak kemarin sore. Udah berapa kali dia ke rumah?" Rama bergumam pelan.


Mita tidak berniat menanggapi pertanyaan tidak penting Rama.


Selesai. Rama sudah siap berangkat.


Rama mengecupnya kembali sebagai salam perpisahan.


"Terakhir untuk hari ini."


Begitu Mita dan Rama keluar ruangan, banyak karyawan berkumpul tidak jauh dari pintu ruangan Rama. Tadi saat Agus hendak masuk membersihkan ruangan ternyata pintu terkunci dari dalam.


Bergegas Agus bertaya kepada staff keuangan ada siapa di dalam ruangan Rama.


"Ada Pak Rama sama Mbak Mita."

__ADS_1


Karena rasa penasaran karyawan yang kepo duduk-duduk manis dekat pintu sekat antara ruangan Rama dan ruangan staff.


"Lagi pada ngapain?"


Begitu menyadari Rama dan Mita keluar ruangan, karyawan yang berkumpul bergegas kembali ke ruangan masing-masing.


Kepo abiezz.


Perjalanan Tangerang Cianjur ternyata lumayan jauh, sedikit macet di ruas tol Cikupa. Setelah mengendarai mobil 4,5 jam lamanya ditambah 10 menit keliling mencari alamat yang Yoga kirimkan akhirnya rumah yang dituju dapat Rama temukan. Dan disana sudah ada Yoga yang menunggunya.


"Assalamualaikum."


Rama memarkirkan mobil tidak jauh dari rumah bercat hijau.


"Waalaykumsalam. Masuk Bang."


Sedikit rasa canggung Rama rasakan saat ini. Mungkin karena tujuannya bertamu kali ini untuk meminta anaknya secara langsung kepada kedua orangtua nya. Huuuft....


"Ini Ga, sedikit oleh-oleh." Rama memberikan buah tangan yang ia beli di Seattle Kamis lalu kepada Yoga. Yoga saat itu tidak masuk sekolah karena sudah dua hari diare.


Di dalam rumah sudah ada Bu Rini dan Pak Zainal yang menunggunya.


"Ngedadak banget Mita ngasih tau Ibu kalau Rama mau kesini."


Diciumnya kedua tangan orang yang sudah melahirkan Mita. Rama teringat percakapannya dengan Mita di Golden Gardens Beach Park lalu.


"Aku ngga tau kebaikan apa yang Bapak dan Ibu lakukan, sampai aku yang biasa-biasa ini bisa dicintai dua laki-laki baik kaya kamu dan Adit."


"Kebaikan Bapak dan Ibu itu melahirkan sudah kamu untuk aku. Yang kaya gini dibilang biasa? Kamu luar biasa buat aku sampai bikin aku jungkir balik."


Lamunannya dikagetkan dengan suara Pak Zainal yang menyuruh nya duduk.


"Saya jadi kepikiran Mita. Maaf Pak." Rama salah tingkah.


"Bukannya baru pulang? Ngga istirahat dulu meni langsung ke sini." (meni \= sampai)


"Iya Bu baru sampai Jakarta Sabtu malam. Kemarin pagi langsung ke liat Mita ke Tangerang, alhamdulillah Mita sehat. Semalam tidur di apartemen dekat pabrik langsung kesini, kepikiran terus soalnya." Rama tersenyum. Ia merasa seperti bukan Rama yang biasanya. Di hadapan orangtua Mita, Rama bingung harus bicara apa.


"Ibu nya Rama sudah telepon semalam, minta acara pernikahan di percepat. Kami di sini sebenarnya bingung, karena Mita masih kuliah."


Rama menunduk lesu mendengar ucapan Pak Zainal. Ternyata setelah Mita setuju untuk segera menikah, masih ada dua orang lagi yang harus ia dapatkan persetujuan nya yaitu kedua orangtua Mita.


"Apa Rama ngga bisa bersabar sampai Mita wisuda? Mita kan tingkat akhir, tinggal menunggu satu semester lagi."


Bingung, apa yang harus ia jawab. Di hadapan ayahnya, Rama bisa menjawab dengan dalih kebutuhan laki-laki. Di depan orangtua Mita apa harus mengatakan hal yang sama? Termasuk an incident on Sunday morning? (kejadian di Minggu pagi)


"Rama sudah menunggu Mita dua tahun Pak... Selama masa itu mungkin Bapak tau ada satu laki-laki yang mendekati Mita. Rama ngga mau itu kembali terjadi. Karena bulan depan harus ke Amerika lagi menghadiri wisuda."


"Setelah Rama dan Mita pertimbangkan, kami berpikir pernikahan ini ngga akan menggangu kuliah Mita. Mita akan kuliah seperti biasanya. Hanya bedanya, nanti ada Rama yang selalu menjaga Mita. Kalau Mita mau lanjut kuliah lagi juga silakan, mau bekerja di kantor juga boleh. Rama hanya bisa meyakinkan Bapak sama Ibu, bahwa Rama akan terus support Mita, Rama tulus menginginkan Mita jadi istri Rama. Karena maaf... Rama butuh Mita sebagai istri yang bisa menemani Rama."


Huuuft... akhirnya ucapannya yang terakhir keluar juga dari mulutnya.


"Rama mau kapan?"


"Secepat yang Bapak dan Ibu setujui."


"Lebih cepat lebih baik, kalau bisa besok silakan."


Bu Rini dan Rama tersentak dengan jawaban dari Pak Zainal. Besok?


Rupa nya kalimat terakhir Rama menyadarkan Pak Zainal bahwa Rama begitu menginginkan anak gadisnya. Mengingat anaknya kini di Tangerang dan Rama sudah pulang, Pak Zainal tidak menginginkan kedua insan yang sedang dimabuk cinta salah jalan.


"Rama bisa menikah dengan Mita di KUA, untuk resepsi Bapak minta nanti aja setelah Mita lulus kuliah. Pernikahan ini hanya untuk membantu kalian, Bapak cuma bisa bantu ini."


Jawaban dari Pak Zainal bagai oase di tengah gurun pasir. Penantiannya kini berakhir dengan pernikahan berkat doa orang terkasih.


"Terima kasih Pak, Bu. Restu Bapak dan Ibu sangat berarti untuk Rama dan Mita."


Pertemuan siang itu ditutup dengan lelehan airmata dari Pak Zainal dan Bu Rini yang menitipkan anaknya kepada Rama.


"Meski begini adanya keadaan Bapak dan Ibu, tapi kami tidak pernah sekalipun memukul Mita. Bapak cuma titip, jangan menyakiti badan dan hatinya."


Dengan persiapan seadanya Bu Rini dan Pak Zainal ikut ke Tangerang setelah mengurus persyaratan menikah di desa. Dengan bantuan Firman, tetangga kampung yang bekerja di desa semua persyaratan rampung tepat sebelum adzan Ashar berkumandang.


Tak hentinya Rama bersyukur, kepulangannya kali ini dari Cianjur membawa kabar yang begitu membuat hatinya bahagia. Hingga ia tidak ingin melihat Mita seorang diri lagi, besok aja langsung gaaassss


Ayaeee Mita & Rama otw halal gais ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2