
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rama menepikan kertas-kertas yang berisi data produksi, lalu menelpon seseorang.
"Dimana?"
"Di rumah Mama. Kenapa sih orang-orang pada nanya lagi dimana."
Sena sudah sampai rumah kala itu. langsung menuju kasur empuknya yang sudah tiga minggu ia tinggalkan.
"Pulang dianter siapa?"
"Sama Pak Karman. Apaan sih Kak?"
"Kamu post story ada kunci motor punya siapa?"
Meski kesal dengan Adit, tapi restunya tetap bersama laki-laki yang ia yakin mencintai adiknya.
"Kunci motor? Emang ada kunci motor di foto aku?"
"Gimana sih, kalau mau jalan sama cowok yang pinteran dikit. Sebelum upload cek dulu."
"Aku cuma makan sama Kakak tingkat yang kebetulan ketemu di JVAC."
"Berdua?"
"Apa aku harus ajak petugas JVAC?"
"Ya kamu mikir, orang nyangka nya gimana? Kalau keluarga nya Adit liat gimana?"
Rama kesal dengan kepolosan adiknya.
Deg. Ternyata ia salah.
"Apasih orang-orang jadi marah-marah ke aku. Adit juga kode-kode segala."
"Wajar dia gitu. Dia masih transferin kamu kan?"
"Iya mungkin."
"Itu tanda komitmen dia ke kamu. Kamu jaga amanah. Di gen kita ngga ada yang suka selingkuh. Ngerti?"
Sena memutuskan panggilan telepon dari Rama, karena kupingnya panas dengan omelan Rama.
Selingkuh ? Kejauhan !
Karena kesal, segera Sena mengirim pesan kepada Adit.
"Mas, ngga usah transfer aku lagi ya. Aku jadi ngga nyaman."
Adit yang masih stay di festival menarik nafas. Rumit. Namun ia belum ingin merespon pesan dari Sena. Adit masih harus menarik nafas panjang, meluaskan dadanya. Karena acara selesai masih 1 jam lagi.
Setelah acara selesai, Adit pulang ke apartemen. Ia langsung mengambil handuk yang digantung di jemuran kecil yang ia letakan di balkon kamar. Musim panas dan kegiatan di luar ruangan membuat kulitnya terasa lengket.
Setelah tubunya segar kembali, Adit memutuskan untuk video call Sena. Tiga kali ia coba hubungi tanpa henti namun tidak diangkat.
Adit memantapkan diri kembali untuk video call dambaan hati. Setelah tiga bulan lamanya tidak komunikasi.
Akhirnya dengan segala pertimbangan, Sena menerima panggilan video dari Adit.
"Ngga kangen?"
Mata Sena pedih, ingin menumpahkan airmatanya. Tiga bulan lalu ia galau, masih ditanya kangen atau nggak?
Bahkan sminggu lamanya Sena menangis jika teringat ucapan Adit. Kehilangan komunikasi dengan Adit membuat ia ikut kehilangan teman bicara. Karena tidak mudah bagi Sena untuk dekat dengan orang lain, bahkan dalam hal pertemanan.
"Bukannya Mas yang minta untuk istirahat dan lepasin aku?"
Sena mengangkat wajahnya, tak ingin airmatanya tumpah. Sementara Adit masih dengan posisi berbaring di atas tempat tidur karena lelah seharian di luar ruangan. Wajahnya bahkan memerah.
"Dan kamu jadikan alasan untuk jalan sama laki-laki lain?"
Sena diam. Ternyata Adit juga tau. Sepeka itu penglihatan laki-laki terhadap kunci motor. Hingga membuat Sena paham alasan Ricky membalas story nya dengan tanda hati.
"Aku ngga sengaja ketemu, makan bareng sebentar, terus pulang. Itu aja."
Adit terus memandangi Sena dalam diam hingga membuat Sena menunduk bak tersangka karena ada perasaan bersalah.
Pandangan mata penuh kekecewaan. Perempuan yang ingin ia ajak serius, tapi kini membuat hatinya kecewa.
__ADS_1
"Kamu ngga punya power untuk menolak? Keputusan kan ada di kamu, dan kamu menutuskan untuk menerima makan berdua sama laki-laki lain."
Sena masih menunduk, tidak tau harus menjawab apa. Karena ia tau, sekuat apapun Ricky meminta, harusnya penolakannya tidak boleh kalah. Seperti Adit yang tidak menghirukan DM dari para wanita. Meskipun akun instagram Adit sudah keluar dari ponselnya, namun Sena yakin Adit bisa menjaga hatinya.
"Ricky kan?"
Belum sempat Sena menjawab, Adit memotong dengan mengucapkan nama orang yang jelas tidak Adit suka.
"Aku salah, aku minta maaf."
Sena memberanikan diri menatap Adit.
"Maksud kamu ngga usah transfer lagi apa? Itu bentuk tanggung jawab dan komit aku ke kamu. Kamu menolak?"
"Buat aku transferan itu bukan komitmen. Komitmen itu dibentuk dan dijaga dengan komunikasi, bukan dengan transferan. Kalau Mas ngerasa dengan tiap bulan tetap ngirim aku uang, lantas aku ngerasa senang, Mas salah."
Akhirnya Sena menumpahkan isi hatinya selama tiga bulan ini.
Sena masih tidak mengerti maksud dari transferan Adit. Bukan untuk menggampangkan Sena dan menggantikan kehadirannya dengan uang.
Bukan itu, batin Adit membantah.
"Masih utuh uang dari Mas. Ngga aku pakai sepeser pun."
Hati Adit sakit mendengar ucapan Sena. Seolah pemberiannya tidak berarti.
"Kamu ngga ngerasa butuh aku gitu Non?"
Kini Adit yang menunduk. Harga dirinya seakan hilang ditelan bumi.
"Jelas, aku butuh Mas. Aku juga butuh komunikasi, perhatian. Tapi aku ngga butuh uang kamu, Mas."
Hati Adit kembali teriris.
"Aku paham kamu punya segalanya. Kamu anak siapa, keluarga kamu."
"Mas, sumpah ngga ada hubungannya sama background keluarga aku."
"Mungkin uang segitu kecil buat kamu. Tapi apa kamu ngga bisa ngehargain pemberian aku?"
Adit mengangkat wajahnya kembali. Dengan mata Adit memerah dan mulai berair.
"Mas, kalau omongan aku ada yang salah aku minta maaf. Aku juga minta maaf soal Ricky. Aku ngga ada maksud untuk menyinggung."
Di luar dugaan Sena, permintaan maaf nya membuat airmata Adit tumpah. Sengaja Sena memanggil Ricky tanpa embel-embel Akang, agar Adit tau bahwa Ricky tidak spesial di matanya.
"Mungkin aku nya yang lagi sensitif."
Adit menyeka airmatanya dengan ujung ibu jarinya.
"Aku minta maaf, I'm really sorry."
"Aku mau kamu pakai uang dari aku. Apa terlalu berat permintaan aku?"
Suara Adit melembut. Ia tersadar kembali, bahwa ia mencintai Sena sedalam itu.
"Aku bukan ngga menghargai pemberian dari Mas. Aku cuma ngerasa belum pantas untuk itu."
"Pantas, kamu pantas pakai uang dari aku."
Raut wajah Adit berubah serius dengan menautkan kedua alisnya.
"Boleh peluk ngga?"
Sena begitu merasa bersalah. Setelah pergi berdua dengan Ricky, kini ucapannya menyinggung laki-laki yang ia sayangi dan hormati.
"Peluk? Ini peluk."
Adit mengambil boneka berbentuk bola pemberian Sena. Memeluk dan mencium dengan mata terpejam sebagai tanda bahwa perasaannya dalam untuk Sena.
"Curang bisa peluk. Putih ada di Bandung, aku ngga bisa peluk."
Sebagai gantinya, Sena memeluk guling yang ada di sampingnya.
"Mulai sekarang pakai uang dari aku, kalau kurang bilang atau boleh pakai uang dari Papa Mama atau Kakak. Ngerti?"
Sena mengangguk. Adit membahas kembali masalah uang. Hal yang menyangkut harga dirinya.
__ADS_1
Saat laki-laki lain senang jika perempuannya hemat, namun tidak berlaku bagi Adit. Dengan Sena memakai uang dari nya, artinya Sena menghargai dan membutuhkan ia sebagai laki-laki.
"Aku mau beli sepatu kalau gitu."
Sena tersenyum, teringat sneakers yang ia lihat di intagram.
"Harganya berapa?"
Wajah Adit masih datar, masih ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Cukup kok, tapi nanti aku liat dulu."
"Non, aku mau ngomong serius dulu biar kamu paham."
Kini Adit duduk di atas tempat tidurnya. Bicara dengan Sena harus selembut dan selogis mungkin.
"Aku dengerin dari tadi."
Setelah kejadian ini, membuat Adit berpikir ulang tentang ucapannya beberapa bulan lalu.
"Aku bilang ngelepasin kamu, bukan artinya aku bolehin kamu jalan sama laki-laki. Bukan juga artinya kita putus. Kamu tetap bisa chat aku, video call kaya gini kalau aku lagi free."
Ternyata rasa takut kehilangan Sena melebihi perasaan takut Sena didekati laki-laki lain. Dan benar ketakutannya kemarin, semakin ia melihat Sena, semakin sulit untuk menghilangkan perasaan ingin memiliki Sena seutuhnya.
"Aku cuma mau mempersingkat masa tinggal aku disini, jadi sementara aku berusaha lebih fokus disini. Tapi aku juga butuh perasaan bahwa kamu butuh aku. Kamu ngerti?"
Sena mengangguk.
"Beneran ngerti? Coba kamu jawab apa yang kamu ngerti."
"Aku di sini akan fokus dengan kuliahku juga. Aku akan menguatkan power yang aku punya untuk menolak. Apalagi?"
"Tambah sayang sama aku."
"Pasti. Apalagi?"
"Nurut sama aku."
"Baik. Apalagi?"
"Belanja yang banyak."
"Asik. Apalagi?"
"Jadikan aku satu-satunya."
"Selalu. Masih ada yang lain?
"Kapan kesini?"
"Hmm?"
"Nothing. Aku belajar dulu ya, kamu baik-baik."
"Ngga mau cerita dulu tadi habis ngapain aja? Kayaknya seru banget di story aku lihat."
"Ngga seseru kalau ada kamu. Udah ya Non, aku..."
"Mas dari tadi ngga senyum, sadar ngga? Masih marah?"
Sena memetong ucapan Adit, sesaat sebelum Adit mengakhiri panggilan video call.
"Mau tau?"
"Kenapa?"
"Kehilangan kamu, liat bahkan cuma tau aja kamu pergi sama orang lain, bikin hati aku sakit, hidup aku ngga tenang. Mana bisa aku senyum apalagi ketawa?"
Seserius itu di mata Adit.
"Mas butuh tidur, belajarnya besok aja."
"Iya kayaknya aku juga kurang tidur."
"Maaf bikin khawatir, bikin marah, bikin kesel."
"Aku maafin. Peluk jauh."
__ADS_1
"Peluk dan sun jauh."
Akhirnya Adit tersenyum melihat ekspresi sun ala Sena.