
"Belanja apa aja tadi?"
Rama mengambil air putih dari dispenser berlampu merah lalu mencampur dengan air yang keluar dari dispenser berlampu hijau. Terasa hangat untuk cuaca yang dingin seperti sore ini.
"Sepatu doang."
"Mana kartu aku? Kok ngga ada notif masuk ke sms?"
"Aku ngga pake card kakak."
"Pake uang sendiri? Tumben amat anak kecil."
"Pake kartu Adit, dia maksa."
Sena yang sedang bersantai akhirnya bangun karena malas diintrogasi.
"Adit? Dia minta macem-macem ngga?"
Rama duduk sambil menguliti Sena.
"Macem-macem apa sih kak? Orang dia baik kok, sopan."
"Bagus, emang udah seharusnya."
Begitu Adit datang ke apartemen Rama, Rama langsung menodong Adit dengan pertanyaan absurd menurut Adit.
"No rekening lu berapa? Gua ganti sepatu nya Sena tadi."
Nanya nomor rekening? Enggak banget.
"Ngga usah. Jatahnya Sena."
"Hah jatah gimana maksudnya?"
Kata jatah di kepala Rama berkonotasi dengan makna yang lain.
"Eh bukan jatah itu maksudnya. Duh gimana sih bahasanya."
Sena diam-diam tersenyum melihat Adit kebingungan.
"Sena bayar ke lo dengan jatah yang lain gitu maksudnya?"
Tatapan Rama kini sudah tidak santai.
"Astagfirullah ngga gitu. Yoga juga sama, tadi beli pake kartu gua. Itu jatah Yoga."
"Bahasa lo berbelit-belit."
"Gua kemarin-kemarin hemat karena pengen beliin Sena sepatu. Jadi udah jatahnya dia, ngerti ngga maksud gua? Anggaran bukan jatah, iya anggaran khusus buat Sena. Gua ngga minta imbalan apapun, sumpah."
"Tapi lo ngarep kan?"
"Ya Allah... Nggak Kak, suudzon terus. Coba Sen tadi aku minta ganti nya pake apa. Kata-kata yang tadi aku ucapin jangan di tambah jangan dikurangin."
Adit menyerah menghadapi sifat posesif Rama terhadap Sena, ia memilih duduk did dekat Sena. Sena yang tadinya hendak ke kamar, begitu melihat Adit duduk kembali di sofa.
"Aku lupa persisnya. Intinya aku gantinya pake kesetiaan. Adit pernah sakit dan mati rasa, jadi minta aku untuk setia."
"Mual dengernya pasti gombalan maut buaya. Hoekkk."
Rama pura-pura muntah dengan wajah acuh.
"Bangkee." umpat Adit dalam hati.
Adit memainkan jemari Sena untuk menetralkan perasaannya yang kesal. Duduk bersandar di sofa dengan pandangan tidak lepas dari wajah Sena.
"Cape ngga? Aku pijitin."
Adit memijit-mijit pergelangan tangan Sena.
"Kaki aku yang pegel, Bi Imas sama Wa Cucun ngga ikut sih."
"Kaki mah ngga boleh lah aku pegang."
"Modus lu, pengen pegang-pegang. Udah khatam gua, paham."
"Ya Allah... mijitin tangan doang."
"Kakak jadi nyebelin gini ih."
Adit mencoba tidak menghiraukan Rama yang sesekali menatap ke arahnya.
"Nanti malem teteh ngajak keluar. Mau ikut ngga?"
"Sama Kakak kan? Kalau girls night out aku ngga ikut. Kacang garing, kalau cewek udah rumpi."
Adit menyisir rambutnya dengan tangan yang ia rasakan sedikit berantakan.
"Sama Kakak pastinya. Dia mana ngebolehin istrinya diculik. Kenapa rambutnya? Sini aku rapihin rambutnya."
Sena mengusap rambut Adit sambil merapikan anak-anak rambutnya. Rama mencuri pandang dengan ujung matanya.
"Ganteng ngga?"
Adit mendongakan kepalanya tersenyum jahil menggoda Sena.
"Ini nanya beneran apa mau sombong?"
Adit tersenyum sambil mengambil kedua tangan Sena.
"Dua-duanya. Hehehe."
"Ganteng kok." Adit tersenyum mendengar pujian dari Sena.
"Nanti ajak Yoga juga ya biar aku ada temen ngobrol. Ngga enak dicurigain terus aku serba salah."
"Gua bukan temen lo maksudnya?"
Rama yang sedang makan buah potong menimpali omongan calon adik iparnya.
__ADS_1
"Mana ada temen curigaan."
"Wajar dong gua curiga. Laki-laki normal mah liat Sena pasti doyan. Yoga yang kalem gitu aja suka, apalagi lo."
"Gua tau batas Kak. Lo ngga denger tadi gua ngga mau mijit kaki nya Sena? Bukan males, tapi karena ngga sopan."
Sena mengerti, Adit merasa tidak nyaman selalu disudutkan.
"Tau nih Kakak, julid terus ke Adit."
Ada perasaan sedikit tidak rela di hati Rama melihat Sena dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Meskipun senang melihat Sena tumbuh dewasa, namun tetap ada perasaan sedikit cemburu di hati Rama menyadari Sena menyukai Adit.
"Kakak tuh cemburu liat kamu gede, sayang sama cowok lain. Dia tuh kaya ngga rela ngeliat adiknya punya pacar."
Mita menengahi. Sementara itu Rama masuk kamar, membawa buah dengan garpu di mangkok kecil, memilih makan di kamar. Ingin menutupi kenyataan bahwa memang ia cemburu.
"Jadi aku ngga boleh deket sama cowok gitu maksudnya? Biar aku jadi perawan tua? Tega banget."
Sena ngomel.
"Jadi aku harus gimana? Papa tadi nitip kamu ke aku."
"Siapa nitipin siapa?"
Rama bertanya dari dalam kamarnya, ternyata tetap menyimak omongannya. Tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Papa nya menitipkan Sena ke Adit?
"Bokap lo nitip Sena ke gua."
Semudah itu?
"Oh."
Ternyata kedua orang tua nya juga menyukai Adit.
"Maksudnya Papa nitipin kamu ke aku itu gimana? Coba perjelas biar jelas, supaya aku ngga kepedean. Jadi aku tau posisi dan batas aku dimana."
Adit sengaja mengencangkan suaranya, agar Rama mendengar.
"Ya kamu kan pacar aku, laki-laki yang deket sama aku sekarang. Papa percaya sama kamu untuk jagain aku."
"Selama ini aku pernah macem-macem ngga sih Sen? Yang aku lakuin ke kamu masih tahap wajar dari laki-laki yang sayang kamu. Aku ngga mungkin ngelus-ngelus, mijit-mijit kalau bukan karena sayang. Tapi aku juga tetep tau batasnya. Masa harus aku perjelas sih?"
"Papa sama Kakak kontradiksi, bertentangan. Papa percaya sama aku, tapi kakak kamu masih ngga percaya sama aku. Bingung ngga? Harusnya kalau percaya, jangan nanya macem-macem berkali-kali. Itu namanya meragukan aku."
"Gua bukan ngga percaya, gua memastikan."
Kini Rama keluar dari kamarnya kembali.
"Lu kan belum suami istri sama Sena. Ngapain pake jatah-jatahan segala. Sena masih tanggung jawab bokap dan gua kakaknya."
"Lo pernah ngga sih sebelum nikah beliin Mita sesuatu? Itu berharap jatah dari Mita juga? Sumpah gua ngga ngerti. Ngga ada korelasinya antara gua ngasih Sena sesuatu sama gua berharap sesuatu dari dia."
"Omongan lo yang minta gua untuk ngga menye-menye gua inget sampe sekarang. Jadi gua ngomong gini bukan karena gua ngga hormat ke lo Kak. Gua mau diskusi. Jadi gua harus gimana menurut lo?"
"Ngga gimana-gimana. Yang tidur yuk, nanti malem keluar kan?"
Rama menarik tangan Mita ke dalam kamar.
"Kakak emang nyebelin gitu ya? Kadar ngeselinnya parah banget asli. Astagfirullah harus banyak istigfar."
Adit menggerutu di hadapan Sena. Tapi kini ia lega, sudah mengatakan yang sejak siang tadi mengganjal di hatinya.
"Heh gua denger ya."
Rama berteriak. Adit dan Sena tertawa pelan agar tidak terdengar.
Sementara Sena hanya tersenyum, merasa menjadi perempuan paling beruntung. Karena ada tiga laki-laki baik yang mencintainya, yaitu Pak Romi, Rama dan Adit.
Sena lalu bangun mengambilkan buah untuk Adit, demi menyegarkan mood nya.
"Ngga usah didengerin. Kakak tuh lagi kesel, jauh-jauh ke Amerika eh istrinya haid jadi sensi."
"Terus aku yang jadi tumbal kena getahnya? Aneh banget."
Adit mengambil piring kecil berisi buah yang Sena berikan untuknya.
"Makasih ya."
"Ngga usah diambil pusing."
Sena dan Adit diam cukup lama, larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Adit merasakan kantuk. Sesekali Rama mengintip dari pintu, jaga-jaga Adit melalukan sesuatu kepada Sena.
"Aku tiduran di sofa sini boleh ngga sih? Males banget balik ke kamar. Bapak-bapak obrolannya aduh ampun."
Sena terseyum.
"Boleh..."
Sementara di dalam kamar Mita mendekati Rama, merasa perlu menasehati suaminya.
"Menurut aku, kamu berlebihan. Terlalu over ke Sena, jadi kasian Aditnya juga."
"Berlebihan gimana? Wajar namanya juga kakak ngelindungin adiknya."
"Tapi Adit baik kok. Dia juga ngga pernah macem-macem waktu sama aku."
"Itu karena kamu nya berprinsip, ke Sena aku ngga percaya bisa sekuat kamu. Aku juga lebih paham cowok."
"Karena kamu juga gitu kan ke aku?"
"Ya wajar cowok ke cewek yang dia suka."
"Adit juga gitu, biarin lah mereka bikin cerita mereka sendiri. Yang penting kita udah kasih tau, ngingetin, mereka juga udah dewasa."
Rama termenung. Sena sudah dewasa. Benarkah? Rasanya ia belum rela.
"Nikah juga Sena udah bisa, mereka udah cukup umur Bang."
Nikah? Nanti dulu.
__ADS_1
Rama keluar kamar, memandangi Adit dan Sena yang tertidur di sisi sofa yang berbeda.
Meyakinkan diri bahwa Adit memang laki-laki baik yang bisa menjaga Sena.
"Udah tidurnya?"
Begitu membalikan badan, Adit kaget dengan kehadiran Rama di dekatnya.
"Hah? Kenapa?"
"Gua mau ngomong."
"Bentar, ini Sena ikut tidur disini?"
Adit melihat Sena yang ikut tertidur, lalu Adit bangkit mengambil selimut di kamar yang Sena tempati.
"Katanya kakak nya, Adek nya tidur ngga pake selimut didiemin."
Rama mematung melihat semua yang terjadi di hadapannya. Hingga termenung melihat Adit yang begitu detail memakaikan Sena selimut.
"Gimana?"
"Sesayang apa ke adek gue?"
Rama selalu menekankan, bahwa yang Adit pacari adalah adiknya, jarang menyebut nama Sena.
"Ya sayang aja pokoknya. Harus banget gua jabarin."
Rama diam, seolah meminta penjelasan lebih. Sementara Adit tifak suka di tanya detail.
"Adek lo adalah obat buat gua. Dia yang udah nyembuhin hati gua."
Sena terbangun, mendengar dua orang laki-laki berbicara di dekatnya. Namun begitu menyadari bahwa Adot sedang bicara serius dengan Rama, ia diam.
"Dia ada di saat-saat sulit gua waktu itu. Meskipun kalau untuk cinta yang dalam gua belum yakin, tapi gua yakin gua sayang sama dia. Gua ngga mau kehilangan dia. Itu cukup ngga sih?"
Adit ingin berdiskusi dengan Rama, membuka pikiran Rama bahwa ia tidak akan mengambil Sena dari sisinya.
"Gua tau lo sayang Sena. Pastinya kadarnya lebih banyak lo dari gua, karena lo kakaknya. Tapi yang harus lo tau, gua ngga bakal ngambil dia dari lo. Dia tetep adik kecil buat lo."
"Harusnya lo bersyukur dengan gua sayang dia, nambah lagi pengawalnya Nona Sena. Iya ngga sih?"
Rama akhirnya mengangguk, Adit tersenyum. Akhirnya ucapannya ada yang masuk di otaknya Rama.
"Oke. Gua percaya."
Rama bangun menuju kamarnya, ternyata Mita sedang berdiri dekat pintu sedang menguping.
"Ngapain disitu?"
Dengan gelagapan Mita buru-buru keluar.
"Aku mau ke Sena."
"Sen, bangun dong. Berangkat sekarang yuk, aku bosen banget."
"Kemana jadinya?"
Sena menjawab tanpa bergerak sedikitpun.
"Space needle yuuuuk."
Mita mengguncang-guncangkan tubuh Sena agar segera bangun.
"Iya Teh ayo, aduh aku pusing jangan di gituin."
The boys and the girls bersiap untuk segera berangkat ke Space Needle,
sebuah menara yang berbentuk jarum setinggi 168m ini merupakan ikon kota Seattle.
Menara ini juga simbol utama Pacific Northwest. Space Needle juga sering ditampilkan dalam berbagai film dan acara TV, termasuk yang terkenal seperti Sleepless in Seattle (1993), Men In Black (1997) dan Austin Powers: The Spy Who Shagged Me (1999).
Di mobil menuju Space Needle, Adit duduk di kursi belakang pengemudi bersama Sena dan Yoga.
Rasanya Adit masih meragukan ucapan Rama tadi yang mengatakan bahwa Rama mempercainya. Karena nyatanya, Rama Masih memperhatikan gerak-gerik nya hingga ia merasa risih.
"Teh tuker tempat deh Teh, aku di depan."
Baru kali in Yoga mendengar Adit memanggil Mita dengan sebutan teteh. Yoga geli sendiri berada disituasi yang awkward (canggung) seperti ini.
"Kenapa emangnya disini?"
Sena tidak menyadari alasan dibalik ketidaknyamanan Adit.
"Itu ada yang ngawasin kita dari spion depan."
"Gua liat jalan belakang kok. Lu GR aja."
"Alasan kau bangsaaattt." ingin rasanya Adit meneriakan kalimat tersebut kepada Rama.
"Gua kalau mau ngapai-ngapain Sena di depan mata lu biar lu liat sekalian."
Adit menciumi tangan kanan Sena sambil memejamkan mata. Matanya masih terasa ngantuk minta dipejamkan.
"Masih jauh ngga Sen?"
"Ngga kok, ini udah deket."
"Aku ngantuk."
Adit bersandar di bahu dan memeluk lengan Sena. Sementara Sena mengelus lembut pipi Adit dengan tangan kirinya sambil tersenyum.
"Eh lu aja lah yang bawa mobil. Gua capek takut nambrak."
Rama melepas seatbelt lalu membuka pintu pengemudi.
"Bangsattttt kau." sayangnya tidak berani Adit ucapkan.
Sena, Mita dan Yoga tertawa melihat Adit membuka matanya dengan kesal.
__ADS_1
"Rese banget ya Allah tolong, gua ngantuk Kak."
"Udah deket. Cepet bawa."