Cinta Vania

Cinta Vania
Maafkan aku


__ADS_3

Semua orang terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Suasana Lobby saat itu semakin riuh. Para Karyawan saling berbisik-bisik membicarakan istri manager yang arogan itu.


"mama, stop... kamu sudah kelewatan" bentak Linggar pada istrinya. Ia merasa geram dengan tingkah istrinya yang selalu berbuat tidak baik di tempatnya kerja.


"Vania, tolong maafkan istri saya" kata pak Linggar memohon pada Vania. Namun gadis itu hanya diam dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Maya


"apa? papa bela wanita ini lagi? Jadi wanita ini lebih penting dari mama? huh?" teriaknya menatap tajam suaminya.


"hey kalian, lihatlah bagaimana perangai wanita ini, berpura-pura lugu padahal sebenarnya dia itu wanita penggoda" teriak wanita itu seperti memberikan pengumuman.


"kamu keterlaluan. aku nggak akan maafkan kamu kali ini" marah Linggar pada istrinya.


Sepasang suami istri itu saling adu mulut di hadapan para karyawan kantor. Mereka tak menyadari adanya suara langkah kaki berjalan memasuki gedung.


"ada apa ini" tanya Devan dengan wajah dinginnya karena melihat ada yang tidak beres di kantornya.


Semua orang yang ada disana diam tak ada yang berani menjawab.


Ronald memperhatikan satu persatu orang yang ada disana. Dan saat tatapannya berhenti pada seorang gadis yang sedang berpelukan, ia segera menghentikan bossnya.


"biar saya yang membereskannya tuan, anda bisa kembali lebih dulu ke ruangan" kata Ronald mengalihkan perhatian Devan agar tidak bertemu Vania.


"baiklah" kata Devan sambil membalikkan badan hendak pergi.


"tunggu pak Presdir" panggil istri Linggar menghentikan langkah petinggi perusahaan itu.


"iya" jawab Devan sambil membalikkan badannya menghadap ke wanita yang memanggilnya.


"saya ingin protes dengan kelakuan pegawai anda yang ganjen sama suami saya"


"Ma, kamu ini ngomong apa" bentak Linggar pada istrinya.


"diam kau" bentak istrinya balik.


"tunggu, apa maksud anda bicara seperti itu" tanya Ronald.


"bagaimana mungkin anda memperkerjakan wanita ja**ng di kantor anda" teriak istri Linggar.

__ADS_1


"nyonya, jaga bicara anda. Ini kantor saya. Saya tidak suka anda membuat keributan disini" marah Devan sambil menunjuk istri Linggar dengan jarinya.


"saya bicara yang sesungguhnya"


"saya tahu apa yang sudah anda perbuat. Ini sudah kesekian kalinya anda membuat keributan di kantor saya. Selama ini saya hanya diam karena saya yakin pak Linggar dan anda mampu menyelesaikan masalah pribadi anda" kata Devan


"tapi ini benar. Wanita ini sudah menggoda suami saya" katanya sambil menarik paksa tangan Vania yang sedang ada di pelukan Maya.


"Mama" bentak Linggar pada istrinya.


"Nyonya, anda benar-benar mencari masalah" kata Ronald marah karena tahu gadis yang ditarik adalah Vania.


Devan terkejut mendapati Vania tengah menangis dengan pipinya yang memerah.


"Vania..." panggil Devan. Sementara Vania hanya menunduk dengan wajah sendu karena menangis.


Wajah Devan memerah disertai rahang yang mengeras. Ia begitu marah melihat gadisnya menangis dan kesakitan karena sudut bibir yang berdarah.


"Ronald, urus wanita itu. Aku tidak mau melihat mukanya lagi" kata Devan dengan dinginnya.


Devan segera menarik lembut tangan Vania ke pelukannya dan membawa gadis itu pergi dari sana.


"sudah saya bilang, anda benar-benar membuat masalah nyonya, ingatlah pekerjaan suami anda dipertaruhkan disini" kata Ronald dingin.


"tolong maafkan istri saya pak Ronald" kata Linggar memohon.


"yang lain, silahkan bekerja kembali. Dan kalian ikut ke ruangan saya" kata Ronald yang kemudian membalikkan badannya berjalan meninggalkan kerumunan diikuti oleh Linggar dan istrinya.


Didalam ruangan Ronald, sepasang suami istri istri itu menghadapi atasannya.


"saya menyayangkan sikap anda nyonya. Mungkin sebelum-sebelumnya, kami bisa mengampuni kesalahan anda. Tapi tidak untuk sekarang. Anda sudah keterlaluan. Terlebih anda berhadapan dengan orang yang salah. Sebelum anda melakukan hal yang jauh lebih buruk disini, maaf dengan berat hati saya tidak bisa mentolerir lagi. Saya tidak bisa menerima suami anda lagi bekerja disini".


"tapi pak...." kata istri pak Linggar.


"pak Linggar, mohon maaf sekali saya harus melakukan ini sebelum pak Presdir bertindak lebih. Kami menghargai kinerja anda disini. Tapi karena kesalahan istri anda yang sudah sangat fatal dengan selalu membuat onar di kantor, kami tidak bisa mengampuninya"


Pak Linggar sedih mendengar pemecatan dirinya langsung dari atasannya. Ia tak bisa berbuat banyak karena menyadari kesalahan istrinya. Ia pun menerima keputusan dari asisten presdir itu dengan lapang dada.

__ADS_1


Sementara di ruangan sebelah, Devan mendudukkan Vania di sofa. Ia mengambil air untuk Vania minum


"minumlah dulu" kata Devan menyerahkan segelas air putih pada Vania.


Vania menerima gelas itu dan meminumnya.


Kemudian Devan mengambil kotak obat yang ada di sebelah meja kerjanya. Pria itu dengan telaten membersihkan dan mengobati bibir Vania yang berdarah karena bekas tamparan. Hatinya sedih melihat gadis yang dicintainya terus menangis menahan sakit.


"Tidak adakah yang ingin kau jelaskan padaku?" tanya Devan lembut setelah gadis itu mulai tenang.


Vania hanya diam tak berani menjawab pertanyaan pria di depannya.


"baiklah jika kamu tidak ingin cerita. Aku yakin Ronald tahu sesuatu" katanya dingin dan beranjak dari duduknya hendak pergi menghubungi Ronald


Vania mencegah Devan dengan memegang pergelangan lelaki itu hingga ia berhenti dan mengurungkan niatnya.


"Maafkan aku" kata Vania pelan.


Devan kembali duduk dan menatap lekat wajah gadis yang dicintainya.


"aku sengaja memaksa asistenmu untuk tetap menyembunyikan posisiku disini" kata Vania menundukkan wajahnya karena tak berani menatap mata Devan.


Devan hanya diam dan menunggu Vania menjelaskan.


"apa kau akan memecatku sekarang?" tanya Vania masih menunduk


Devan mengarahkan tangan kanannya menyentuh dagu Vania untuk membuat gadis itu mengangkat wajahnya.


"kenapa aku harus memecatmu jika kamu tidak salah" kata Devan lembut.


"benarkah?" tanya Vania dengan mata yang berbinar, ia merasa senang Devan tak memecatnya setelah kejadian tak mengenakkan yang baru dialaminya.


Devan mengangguk dengan senyumnya. Ia melepaskan tangannya dari dagu Vania.


"sudah berapa lama kamu jadi asisten manager"


"sudah tiga bulan"

__ADS_1


"Jika tahu kamu bekerja sebagai asisten pak Linggar, aku pasti akan melarangnya" kata Devan sambil berdiri mengembalikan kotak obat ke tempatnya.


__ADS_2