
Devan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Begitu banyak aktifitas yang hari ini ia kerjakan.
Malam semakin larut. Namun begitu susah sekali matanya terpejam. Bayangan sosok Vania selalu menari indah di otaknya.
Ia membuka layar ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp untuk melihat nomor Vania. Dan Vania sedang online. Karena di Indonesia sekarang adalah siang.
Devan mengetikkan sesuatu untuk ia kirim ke Vania. Namun kemudian pesan itu ia hapus lagi sebelum dikirim. Dan itu dilakukannya berulang-ulang. Nyalinya benar-benar ciut saat berurusan dengan Vania.
Baginya, Vania adalah kekuatan sekaligus kelemahannya. Ketegasan dan sikap dingin Devan, seorang presdir baru SA Group luntur seketika saat terdengar kata Vania. Rasa sayang yang ia tanam ke gadis itu memang begitu besar. Namun, ia begitu hebat memendam dan menyimpannya dalam hati. Ia selalu berharap nantinya kesabaran yang dimilikinya akan membuahkan hasil.
Bermain ponsel sambil mengotak-atik sosial media untuk melihat foto-foto Vania membuatnya menjadi mengantuk. Hinga ia tidak sadar sudah tertidur dengan ponsel yang masih di tangannya.
Pagi harinya bunda Dewi dan suaminya bersiap-siap untuk berangkat ke hotel tempatnya mengadakan pesta. Mereka akan menemui pihak organizer untuk melakukan pengecekan pesta nanti malam.
Bunda Dewi dan ayah Satria berangkat tanpa membangunkan Devan yang nampak begitu pulas dengan tidurnya karena sampai jam 09.00 waktu setempat putranya itu belum juga keluar kamar.
Bunda Dewi hanya mengirimkan chat pesan ke putranya agar saat bangun nanti tidak mencarinya karena kondisi apartemen yang sepi.
Devan bangun tidur satu jam setelah ayah dan bundanya berangkat. Ia melihat jam dinding yang terpasang diatas pintu kamar. Waktu sudah begitu siang. Ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan aktifitasnya, ia meraih ponselnya yang masih tergeletak diatas ranjangnya. Ada dua pesan chat masuk. Yang satu dari Ronald yang memberikan kabar pertemuan klien di jam makan siang dan chat dari bundanya.
"bunda berangkat dulu ke hotel, sudah ada makanan di meja. Sarapanlah dulu sebelum ke kantorš" isi chat dari bunda
"oke bundaš¤"
__ADS_1
.
Devan menghabiskan sarapan buatan bundanya dan kemudian keluar apartemen menuju mobilnya yang terparkir.
Ia menuju ke kantor dulu sebelum menemui klien di alamat restoran yang telah dikiririm oleh Ronald.
Devan sengaja menemui Ronald karena ingin mengajak berangkat bersama.
"tumben, biasanya juga kita berangkat sendiri-sendiri boss" celetuk Ronald
"enggak apa-apa, lagi males aja nyetir sendiri terus"
Mereka berdua berangkat bersama dengan mengendarai mobil Ronald menuju restoran X tempat akan bertemu dengan klien. Mereka datang lebih awal karena Tidak ingin terlambat bertemu dengan klien pentingnya. Terlambat sedikit saja bisa menurunkan minat klien untuk bekerjasama. Prinsip itu selalu diterapkan Devan dalam setiap pekerjaan. Tak heran Deva selain dikenal suka membantu para pekerja, ia juga dinilai sangat dingin dan tegas kepada para pekerjanya.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, klien yang ditunggunya datang juga. Ia adalah seorang perempuan muda sukses. Wajah cantik dan tubuh seksinya menambah nilai plus dalam dirinya. Namanya Stella. Ia datang bersama asistennya Kate. Stella berjalan memasuki restoran diikuti oleh Kate di belakangnya dengan membawa beberapa berkas.
Devan yang melihat wajah penuh nafsu asistennya segera menepuk paha Ronald untuk menyadarkannya.
"turunkan pandanganmu, ingat sebentar lagi kamu menikah" kata Devan
"lumayan boss, pemandangan gratis" sahut Ronald
"mau aku bilang ke Lea?" ancam Devan
"jangan boss....bisa brabe nanti" kata Ronald cepat. Ia langsung menurunkan pandangannya karena takut dengan ancaman bossnya.
__ADS_1
"Good afternoon Mrs. Stella" kata Devan berdiri sambil menjabat tangan kliennya setelah berhadapan diikuti oleh Ronald
"good afternoon too Mr." jawab Stella membalas uluran tangan Devan.
"sit down please" lanjut Devan sambil mengarahkan pada kursi dihadapannya yang terhalang meja.
"thank you"
Stella dan Kate duduk di kursinya. Ronald segera memesan minuman dan makanan. Mereka mulai berbasa-basi sebelum mengarah ke pokok pertemuan.
Mereka saling membicarakan tentang asal usul dan keseharian masing-masing.
Stella merupakan putri dari pemilik perusahaan besar di Inggris. Ia menggantikan posisi ayahnya yang telah meninggal. Karena statusnya yang sebagai putri tunggal, maka mau tidak mau dia yang harus mengambil alih perusahaan ayahnya meskipun di usianya yang begitu muda.
Mereka kemudian membicarakan tentang kesepakatan bisnis yang akan mereka jalankan. Stella begitu kagum dengan cara Devan menyampaikan kinerjanya. Menurutnya Devan merupakan pria muda yang kharismatik dan berwibawa.
Begitu pula Devan, ia menilai sosok Stella sebagai wanita pintar dan smart. Soal pakaian ia tidak terlalu mempermasalahkan. Di negara itu seperti sudah terbiasa bekerja dengan penampilan seksi seperti Stella karena yang mereka lebih mengutamakan isi otak tanpa mempermasalahkan penampilan.
Stella menyetujui kesepakatan bisnis dengan perusahaan Devan. Mereka akan saling membantu dalam menjalankan bisnis.
Cukup lama mereka berada di restauran itu hingga kemudian Stella memohon pamit untuk undur diri setelah saling bertukar nomor telepon. Tak lupa Devan juga mengundangnya hadir ke pestanya nanti malam. Dan Stella menyetujuinya.
"we will send a letter of agreement to your company tomorrow (kami akan mengirimkan surat perjanjian kerjasama ke perusahaan anda besok)" kata Stella sambil berdiri dan mengulurkan tangan ke Devan
"oke", Devan menjabat uluran tangan Stella.
__ADS_1
Ronald memanggil pelayan setelah punggung Stella dan asistennya tidak terlihat lagi.
Kemudian mereka melajukan mobilnya kembali ke kantor karena mobil milik Devan tertinggal disana.