Cinta Vania

Cinta Vania
Tetaplah seperti ini


__ADS_3

"Karena aku tidak akan mungkin mencintaimu" katanya pelan. Vania beranjak dari duduknya, "Maafkan aku, aku harus pergi" lanjutnya sambil meninggalkan David tanpa persetujuan darinya.


David diam mematung mendengar pernyataan Vania. Wanita itu menolaknya dengan alasan yang tidak bisa ia terima. "Kenapa harus tidak mungkin? Jika permasalahannya hanya cinta, bukankah cinta bisa tumbuh dengan perlahan asal ia mau belajar? Maafkan aku yang terlalu mencintaimu, Vania. Selagi kamu masih milik orangtuamu, aku tidak akan berhenti untuk berusaha mendapatkan cintamu" batinnya dalam hati. Ia meyakinkan dirinya sendiri jika Vania adalah jodohnya.


Langit mulai sore. Para pegawai saling membubarkan diri karena sudah waktunya jam pulang kantor. Vania turun kebawah menggunakan lift bersama pegawai yang lain untuk menemui pak Amin yang sudah menunggu untuk menjemputnya.


"Sudah lama ya pak?" tanya Vania saat memasuki mobil dan duduk di kursi belakang.


"Tidak juga, nona. Saya baru sampai lima menit yang lalu" jawab pak Amin tanpa menoleh karena pandangannya sudah fokus untuk mencari jalan untuk keluar gedung.


David yang merasa tak seperti biasanya melihat Vania pulang dijemput oleh mobil segera bergerak mengikuti arah mobil yang ditumpangi Vania.


Hanya dalam lima belas menit saja mobil yang membawa Vania masuk ke dalam kawasan perumahan yang cukup elit. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang mempunyai halaman yang cukup luas. Rumah itu tidak begitu besar namun terkesan mewah tampak dari furniture dan eksteriornya.


Sopir mobil itu turun membukakan pagar dan memasukkan mobilnya. Tampak Vania turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan santainya. Wanita itu terlihat sudah terbiasa dengan bangunan rumah itu.


David mengernyit heran karena melihat Vania turun bukan di rumahnya. Ia ingat betul alamat rumah dan model rumah Vania saat ia mengantarkan wanita itu pulang tempo hari lalu.


David segera turun dari mobil dan berjalan mendekati Pak Amin yang sedang akan menutup kembali pagar rumah.


"Pak..pak...maaf permisi" panggilnya sambil berlari kecil.


"Iya mas, ada apa ya?" tanya pak Amin mengurungkan niatnya untuk menutup kembali pagar besi yang dipegangnya.


"Wanita tadi yang barusan masuk itu...."


"Oo...maksudnya Nona Vania?"


"iya kenapa dia bisa ada disini?"


"Nona Vania memang tinggal disini mas. Apa mas ada perlu sesuatu?" tanya pak Amin.


"Oh tidak ada pak... Saya hanya tidak sengaja melihatnya. Mau nyapa aja tadi tapi takut salah, jadi saya coba tanyakan ke bapak" kata David pura-pura berbohong.


"Iya mas, tadi bener nona Vania. Ya sudah mas, kalau tidak ada lagi saya tutup dulu ya mas" kata Pak Amin.


"Iya pak...makasih banyak, maaf ganggu" katanya dan pak Amin hanya tersenyum.


David pergi meninggalkan rumah Vania dengan menyimpan banyak pertanyaan. Ia akan berusaha mencari tahu tentang kehidupan Vania sekarang yang tidak diketahuinya.

__ADS_1


Vania sudah menghabiskan makan malamnya sendiri tanpa suaminya. Bu Tini dan Pak Amin masih berada di rumah itu menemani Vania sampai Majikannya pulang sesuai pesan yang sudah Devan sampaikan.


Namun Vania yang merasa kasihan dengan sepasang suami istri sudah lelah itu terus mendesak agar mereka meninggalkannya dan pulang.


"Tidak, Nona. Kami akan menemani anda sampai tuan pulang".


"Bu, Aku nggak apa-apa sendirian. Aku justru kasihan sama kalian kalau nanti mas Devan pulangnya larut. Aku hanya cukup berada di kamar dan mengunci pintu. Itu sudah aman. Tapi kalau kalian harus pulang larut, itu justru membuatku tidak tenang"


"Tidak apa-apa, nona. Bagi kami anda lebih penting" kata Bu Tini bersikeras.


"Baiklah...begini saja. Aku akan mencoba menghubungi beliau. Aku akan menanyakan jam berapa pulangnya".


Vania menghubungi ponsel suaminya. Tak butuh waktu lama panggilan itu tersambung.


"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa?"


"Waalaikumsalam. pulangnya masih lama, mas?"


"Enggak...ini udah di jalan mau nyampe. Kenapa? kamu mau sesuatu?"


"Bukan. Kalau gitu biar Bu Tini sama Pak Amin pulang duluan aja nggak apa-apa ya, kasihan kalau mereka kemalaman"


"Ya udah hati-hati ya...Assalamualaikum"


"waalaikumsalam".


Vania memutuskan panggilan dan beralih menatap Bu Tini.


"Mas Devan udah hampir sampai, Bu. Kalian pulang dulu nggak apa-apa. Katanya udah mau masuk kompleks kok"


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, nona"


"Iya hati-hati ya Bu" kata Vania. Pak Amin segera mengambil motornya yang terparkir untuk membawanya pulang.


Belum lima menit kepergian Pak Amin dan istrinya, terdengar suara mesin mobil milik Devan memasuki halaman rumah.


Vania bergegas berjalan keluar menyambut kepulangan suaminya. Tampak lelaki gagah itu turun dari mobilnya dan berjalan mendekati istrinya


"Kenapa nggak di dalam aja sih, Yang. Diluar dingin lho" Kata Devan mendekati Vania.

__ADS_1


Vania segera meraih tangan kanan suaminya dan mengecup punggungnya diikuti oleh Devan mengusap lembut pucuk kepala Vania dan mencium keningnya.


"Nggak apa-apa, lagian cuma bentar doang. Didalam juga sepi"


"Ya sudah ayo masuk" kata Devan sambil memeluk pinggang istrinya.


Devan meletakkan tas yang dibawanya diatas meja ruang tamu. Sementara ia mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Wajah lelah dan kusutnya tampak jelas terlihat.


"Banyak pertemuan banget ya diluar?"


"Ada lima pertemuan yang harus aku selesaikan hari ini, aku sangat lelah" Jawabnya yang menyadari jika seharian ini ia tak sampai melihat wajah istrinya di kantor karena saking seringnya berada di luar.


"Apa mau aku bikinin kopi?" tanya Vania.


"Nggak usah, yank...makasih. Kemarilah" kata Devan pelan sambil menepuk tempat di sampingnya.


Vania menurut saja memenuhi permintaan suaminya. Ia menggeser duduk agar lebih dekat.


Devan menyelipkan tangan kirinya di belakang pinggang Vania dan memeluk tubuh itu sambil menyandarkan kepalanya diatas pundak istrinya.


"Aku hanya butuh ini untuk menghilangkan lelahku" katanya pelan sambil memejamkan kedua matanya menikmati kenyamanan sentuhan tubuh dari wanita yang ada di sampingnya hingga ia bisa mencium dengan jelas aroma wangi dari tubuh istrinya.


Vania mengangkat tangan kanannya agar menyentuh wajah Devan dan mengusap pipinya pelan.


"Tetaplah seperti ini, Jangan pernah meninggalkanku" lanjutnya merasakan pelukan hangat pada tubuh Vania.


Vania hanya diam tak berbicara. Hanya sesekali tangannya mengusap lembut sebagian wajah suaminya.


"Aku hanya butuh kekuatan dan semangat darimu. Jangan pernah bosan mendengarkan keluhanku" Pria itu masih saja berbicara.


"Yang..." panggilnya karena istrinya tak juga mengucapkan sepatah katapun. Ia masih tak bergerak dari posisinya.


"Hmmm" jawab Vania


"Apa kamu mendengarku?"


"Aku mendengar semuanya, Mas"


"Lalu kenapa hanya diam?"

__ADS_1


"Apa kau lupa? Bukankah kau hanya memintaku untuk mendengar keluh kesahmu" jawabnya membuat garis bibir Devan melengkung sempurna.


__ADS_2