Cinta Vania

Cinta Vania
Suatu Kebanggaan


__ADS_3

Matahari baru saja terbangun dari tidur malam yang panjang. Langit yang menyapa dengan harapan barunya. Angin yang berbisik menyampaikan semangat pagi bagi penikmatnya. Burung-burung ikut bernyanyi bagai musik alam.


Pagi ini Devan sudah bersiap untuk pergi ke kantor dengan baju favoritnya. Ia sudah tampak rapi dengan celana hitam panjang dan kemeja warna biru terang yang dipadu padankan dengan dasi bermotif salur dan jas yang senada dengan warna celananya.


Devan dijemput oleh Ronald menuju kantor. Seperti biasa, Semua mata para gadis yang bekerja disana menatap kagum atasannya yang selalu tampil sempurna. Muda, tampan dan sukses, tiga kata itulah yang selalu diucapkan oleh mereka saat mendengar nama bossnya yabg terkenal begitu tegas.


Devan memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.


Ronald yang dari pagi mengekor bossnya itu segera menyusun beberapa pekerjaan untuk hari ini.


"panggil Lia kemari" perintah Devan yang langsung diangguki oleh Asistennya.


Ronald segera menghubungi Lia lewat telepon yang ada di meja bossnya. Ia meminta sekretarisnya presdir itu untuk menemui mereka sambil membawa jadwal untuk agenda hari ini.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar. Lia segera membukanya dan masuk setelah mendengar perintah dari dalam.


"permisi pak" kata Lia sopan


"apa jadwal saya untuk hari ini, Lia" tanya Devan


"Hari ini hanya ada dua pertemuan yang harus anda temui. Jam sepuluh siang nanti anda ada pertemuan dengan pemilik PT. Mekar Jaya untuk penanda tanganan kontrak di kantor ini dan yang kedua pertemuan dengan salah satu perusahaan cabang SA Group yang dipimpin oleh Pak Broto untuk membahas proyek baru perusahaan yang ada di Kalimantan, dan mereka meminta pertemuan diadakan di Lime Cafe dekat kantor ini di jam makan siang" kata Lia menjelaskan satu per satu agenda yang ia catat untuk hari ini.


"itu artinya setelah pertemuan dengan pak Broto sudah free?" tanya Devan


"betul pak"


"baiklah terimakasih banyak... kamu bisa kembali bekerja" kata Devan mempersilahkan Lia kembali ke ruangannya.


"baik pak, saya permisi" pamit Lia sedikit membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruangan bossnya.


"apa ada yang harus saya kerjakan sebelum PT Mekar Jaya sampai kemari?" tanya Ronald pada bossnya.

__ADS_1


"tidak ada. Kau bisa kembali ke ruanganmu. Dan hubungi aku saat klien kita sudah datang" kata Devan


Ronald mengangguk dan kemudian meninggalkan ruangan bosnya.


Devan segera meraih benda pipihnya yang ia letakkan di atas meja. Dengan cekatan ia mencari salah satu nama kontak dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya.


"hallo assalamualaikum"


"hallo waalaikumsalam oom, bisakah nanti sore pukul empat tepat kita bertemu di kafe sebelah kantor oom?"


"bisa nak Devan, saya tunggu kedatangan anda"


"baik terimakasih oom... assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Devan mengakhiri sambungan teleponnya dan meletakkan kembali benda pipihnya diatas meja. Ia membuka dan mempelajari berkas-berkas di atas meja yang sudah dua hari ia tinggalkan.


Devan segera bersiap dengan membenahi pakaiannya agar tetap terlihat rapi untuk menyambut kedatangan kliennya.


Tak lama kemudian Ronald kembali bersama seorang lelaki berumur sekitar 40an bersama sekretarisnya.


Devan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sofa ruangannya. Mereka saling bertutur sapa dan memperkenalkan diri karena belum saling mengenal dikarenakan pertemuan yang kemarin di hadiri oleh ayahnya pak Satria dan Ronald.


Mereka saling berbasa-basi membicarakan kontrak kerja. Kemudian Lia masuk ke ruangan bossnya dengan membawa sebuah dokumen yang berisi surat perjanjian kontrak yang akan ditanda tangani oleh kedua belah pihak antara pimpinan SA Group dan PT Mekar Jaya.


Selesai dengan pertemuan yang pertama, Devan dan Ronald berangkat menuju Lime Cafe untuk menemui pak Broto karena sudah masuk waktunya jam makan siang.


Sesampainya di kafe, kedatangan Devan dan Ronald susah ditunggu oleh pak Broto dan asistennya bersama seorang pria muda yang umurnya sedikit dibawah Devan.


"maaf kami terlambat, kami baru saja selesai pertemuan dengan klien" kata Devan sambil menjabat tangan pak Broto yang baru saja berdiri diikuti oleh yang lainnya.

__ADS_1


"tidak apa-apa pak Devan, lagi pula kami baru saja sampai" kata pak Broto sambil tersenyum, "iya mari silahkan duduk pak Devan" lanjutnya sambil mengarahkan tangannya ke kursi kosong yang ada di sebelah Devan.


"terimakasih pak" kata Devan sopan.


Semua orang yang ada di bangku itu duduk diikuti oleh Devan dan Ronald.


"oh iya pak Devan, perkenalkan ini putra saya namanya Alex, dia nanti yang akan membantu saya menjalankan proyek di Kalimantan untuk tahun depan, karena kebetulan ia masih kuliah dan tahun depan baru lulus" kata pak Broto memperkenalkan putranya pada Devan.


Devan menanggapinya dengan tersenyum dan mengangguk sebagai tanda ia menghargai lawan bicaranya.


Alex mengulurkan tangannya yang kemudian dibalas oleh Devan.


"saya Alex"


"saya Devan"


"senang bisa bertemu dan bekerja sama dengan orang sukses seperti anda tuan" kata Alex tersenyum ramah, ia menyadari posisinya sebagai bawahan Devan.


"jangan terlalu berlebihan tuan Alex, saya masih merasa harus belajar dengan dunia bisnis" kata Devan merendah


"Tidak tuan, nama dan kesuksesan anda sudah diakui di dunia perbisnisan. Bahkan saya sering melihat wajah anda terpampang di beberapa majalah bisnis" kata Devan mengagungkan lelaki yang ada di hadapannya. Ia begitu kagum dengan kharisma yang dimiliki oleh Devan. Tenang dan santai dalam menghadapi persoalan bisnis.


Ya, beberapa hari ini memang wajah Devan sering wara-wiri di salah satu stasiun Televisi dan surat kabar sebagai pebisnis muda dan sukses sekaligus pewaris tunggal perusahaan besar. Minggu depan bahkan Devan diundang untuk mengisi seminar kewirausahaan yang diadakan oleh salah satu lembaga sebagai narasumber untuk mengisi sambutan terkait kesuksesannya dalam berbisnis.


Merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya. Namun, semua itu tidak membuat pria itu menjadi sombong ataupun angkuh. Ia tetap menjadi Devan yang dikenal memiliki pribadi yang ramah dan tidak banyak bicara.


Mereka makan siang terlebih dulu dan kemudian saling bertukar pendapat mengenai pembangunan proyek yang sedang dijalankan.


Pertemuan berlangsung selama dua jam lebih hingga akhirnya mereka saling berpamitan karena sudah tidak ada lagi yang dibicarakan.


Devan dan Ronald kembali ke kantor setelah berpamitan dengan pak Broto dan putranya.

__ADS_1


Devan segera mengemasi barang-barangnya sebelum meninggalkan kantor. Ia mengatakan pada Ronald untuk mengantarkannya ke kafe yang menjadi tujuannya dan tidak perlu menunggu bossnya sampai selesai.


__ADS_2