
Devan mengendarai mobilnya pulang. Ditengah jalan ia melihat seorang ibu-ibu berjilbab seumuran bundanya sedang duduk di tepi jalan sambil memegang lututnya seperti kesakitan. Ia berfikir mungkin itu korban tabrak lari. Segera ia menepikan mobilnya dan berhenti tak jauh dari posisi ibu itu. Ia turun dari mobilnya dan menghampiri wanita paruh baya itu.
"ibu tak apa-apa?" tanya Devan
"tidak apa-apa nak"
"tapi lutut ibu berdarah, ibu korban tabrak lari?" lanjut Devan setelah melihat darah di tangan ibu itu
"ini cuma lecet nak....nanti di kasih obat merah juga baikan" jawabnya tersenyum
"ibu tadi mau kemana?"
"ibu tadi mau ke apotek itu. Pas mau nyebrang, tiba-tiba ada mobil lewat kencang sekali, ibu kaget dan jatuh, tapi nggak apa-apa"
"rumah ibu mana?"
"rumah ibu di jalan X nak.."
"boleh tahu obatnya apa biar nanti saya yang banyu ibu belikan, setelah itu saya antar ibu pulang"
"tidak usah nak, ibu terimakasih" jawab ibu mencoba bangun, namun ia kesusahan menopang kakinya untuk berdiri.
"lihatlah ibu kesulitan, sudahlah biar saya bantu bu"
Ibu itu putus asa dan tak bisa lagi menolak. Ia menyerahkan selembar kertas bertuliskan resep dan beberapa lembar uang kepada Devan.
"sebanyak ini bu?" tanya Devan setelah melihat sekilas resep yang yang tertulis sebanyak lima baris meski tak dapat membacanya karena tulisan yang cukup berantakan baginya
Ibu itu menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.
"baiklah ibu tunggu disini sebentar" kata Devan sambil berdiri dan meninggalkan ibu
Devan menyebrangi jalan menuju apotek yang terletak di seberang jalan. Ia memasuki apotek dan beediri di depan meja yang biasa digunakan untuk menyerahkan resep. Salah seorang apoteker menghampirinya dan menanyakan pesanan. Devan menunjukkan selembar resep kepada apoteker yang bertugas.
"tunggu sebentar ya mas, silahkan duduk dulu nanti kalau sudah selesai akan saya panggil" kata apoteker itu menunjuk ke kursi di belakang Devan yang kemudian masuk ruangan obat untuk mengambil pesanan.
Devan mengikuti perintah apoteker untuk uduk di kursi tunggu. Cukup lama ia menunggu apoteker itu kembali.
__ADS_1
Tiba-tiba apoteker itu keluar membawa sekantong plastik berisikan obat dan meletakkannya diatas meja.
"mas, ini sudah"
Devan segera berdiri menghampiri meja. Ia tercengang melihat sekantong plastik penuh obat lebih banyak dari yang ia bayangkan.
"maaf mb, kalau boleh tahu ini obat apa ya?" tanya Devan penasaran
"ini obat yang biasa dikonsumsi untuk penderita kanker mas, kalau dilihat dari dosisnya sepertinya pasien kanker stadium lanjut"
"kanker mb?" Devan terkejut mendengar kata-kata apoteker itu.
"iya mas"
"jadi totalnya berapa mb?"
Apoteker itu menyebutkan total jumlah obat yang dibeli oleh Devan. Jumlahnya tidak sedikit. Bahkan uang yang diberikan ibu itu tidak cukup untuk membeli setengah dari obat itu. Devan merasa sedih mengingat kondisi ibu itu.
"jadi gimana mas, mau cash atau gesek saja?" tanya apoteker itu karena melihat pembelinya hanya terdiam
"eh maaf pake kartu kredit aja mb" kata Sevan sambil merogoh dompet di saku celananya dan mengambil black card untuk ia serahkan ke apoteker.
Ibu itu menerima plastik dari tangan Devan. "apa uangnya kurang nak?" katanya penasaran karena melihat obat yang sangat banyak.
Devan menggelengkan pelan kepalanya sambil tersenyum "ambillah kembali uang ibu"
Devan menyerahkan kembali uang ibu yang tidak jadi digunakan untuk membayar.
"tapi nak"
"ini rejeki ibu, terimalah"jawab Devan memotong
"mari saya antar pulang" ajak Devan mengulurkan tangannya untuk membantu ibu itu berdiri.
Ibu itu membalas uluran tangan Devan dan mencoba untuk berdiri. Ia berjalan menuju mobil dengan dipapah oleh Devan. Devan membukakan pintu mobil dan meminta ibu itu untuk masuk dan duduk di bangku depan samping kemudi.
Setelah ibu itu duduk dengan baik, Devan berjalan memutari mobil untuk masuk mobil lewat pintu dekat kemudi.
__ADS_1
"makasih banyak ya nak" kata ibu itu setelah Devan menyalakan mesin mobilnya.
"sama-sama bu" jawabnya menoleh dan tersenyum. Devan menancapkan gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"ngomong-ngomong siapa namamu nak? kamu sudah banyak bantu ibu malah ibu lupa tanya siapa namamu"
"panggil saja saya Devan bu, kalau ibu?" jawab Devan sambil fokus menyetir
"saya bu Wati, kamu tinggal dimana nak?"
" saya tinggal di kompleks perumahan di jalan X bu, hanya saja saya jarang di rumah"
"kenapa?"
"saya harus menyelesaikan study di luar negeri bu, karena ada libur satu bulan jadi saya bisa pulang ke Jakarta"
"begitu ya...kamu hebat ya nak" puji bu Wati
"makasih banyak bu, saya merasa masih butuh banyak belajar"
Bu Wati tersenyum menoleh ke Devan.
"bu Wati, mohon maaf sebelumnya, kalau saya boleh tahu obat sebanyak itu buat siapa bu?" lanjut Devan
Bu Wati terdiam, ia menunduk dan bulir-bulir kristal jatuh dari pelupuk matanya.
"maaf kalau pertanyaan saya menyinggung ibu" imbuh Devan karena merasa bersalah telah membuat bu wati menangis.
"tidak apa-apa nak, ibu hanya belum bisa terima kenyataan. ini buat putra satu-satunya ibu, dia mengidap kanker otak stadium tiga" jawab bu Wati menangis tersedu-sedu
" anaknya masih kecil?"
"dia sudah besar. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan nak Devan. Dia masih kuliah nak. Dia anak yang baik, dia tidak pernah sekalipun menyakiti hati ibu, sudah terlalu banyak pengorbanan yang dia lakukan untuk ibu dan bapaknya. Bahkan dia sudah bekerja paruh waktu untuk membantu menutup kebutuhan kami sehari-hari. Ibu tidak tega melihat dia kesakitan saat penyakitnya kambuh, ibu takut terjadi apa-apa sama dia, ibu masih ingin lebih lama bersamanya. kami sebagai orang tua tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk kesembuhannya" tangis bu Wati semakin pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"ibu yang sabar ya bu, apapun yang terjadi, yakinlah kuasa Allah yang terbaik. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikutinya. Kita doakan semoga anak ibu segera sembuh dari penyakitnya" kata Devan sambil tangan kirinya mengelus pundak bu Wati untuk menenangkan, sedang tangan kanannya fokus memegang kemudi
"boleh saya ikut melihatnya bu?" imbuhDevan
__ADS_1
"boleh nak....dengan senang hati kalau nak Devan tidak keberatan. Nanti ibu kenalkan dengan putra ibu"
Mobil Devan menyusuri jalanan menuju alamat yang telah ditunjukkan oleh bu Wati. Ia memperlambat kecepatannya saat mendekati rumah bu Wati dan berhenti tepat di rumah sederhana dengan halaman yang tidak begitu luas namun bisa untuk menampung dua mobil terparkir.