Cinta Vania

Cinta Vania
Buang gengsi jauh-jauh


__ADS_3

Pagi berikutnya seperti biasa Vania menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan kantor. Terlebih hari ini akan ada kolega dari London yang akan mengunjungi kantor SA Group untuk melanjutkan pembicaraan perjanjian kontrak kerja. Dan perusahaan itu adalah Royal Company, perusahaan Stella.


Devan yang mengetahui kedatangan Stella beserta rombongan sedang mempersiapkan timnya untuk menyambut mereka yang akan diperkirakan sampai kantor sebelum jam makan siang.


"Tuan, Nona Stella akan sampai setengah jam lagi" kata Ronald setelah mendapatkan informasi dari sekertaris Stella.


"Baiklah, kamu urus penyambutannya. Aku akan menghubungi istriku dulu" kata Devan


"Baik, Tuan" Ronald keluar dari ruangan Bossnya untuk melaksanakan perintah.


Devan menggeser layar ponselnya untuk menghubungi istrinya.


"Halo assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Yang, nanti jangan lupa makan siang ya... Sepertinya aku akan sibuk nanti"


"iya Mas, aku ngerti... Lagi pula kamu harus menyambut kedatangan para tamu dari London"


"iya sayang, makasih kamu bisa ngerti. Aku tutup dulu ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam".


Tak lama kemudian rombongan dari Royal Company yang berjumlah empat orang sampai di gedung kantor SA Group. Semua mata para pegawai menatap kagum pada sosok wanita cantik dan seksi yang mereka yakini adalah pemilik Royal Company itu.


Ronald mengantarkan Stella dan rombongannya menuju ruang meeting seperti yang sudah disampaikan oleh Devan. Dimana disana sudah ada Devan, pak Romi dan para petinggi lain yang sudah hadir menunggu.


Acara meeting hanya berlangsung satu jam. Setelah itu Devan mengajak Stella dan rombongannya untuk makan siang di luar. Mereka memakai lift khusus Presdir untuk turun ke lobby lantai bawah.


Vania dan Maya yang baru keluar dari lift melihat suaminya yang berjalan di depannya hanya mengernyit heran. Ia berhenti di depan lobby bersama pegawai lain yang juga penasaran dengan tamu dari London itu


"Mbak... pimpinannya yang mana?" tanya Vania karena hanya melihat seorang wanita muda yang cantik dengan penampilan minim berjalan beriringan dengan Devan diikuti oleh Ronal dan tiga bule yang salah satunya wanita yang Vania yakini itu adalah sekretarisnya.


"ih emang kamu nggak tahu? Ya wanita cantik itu pemimpinnya. Namanya Stella. Setelah kematian papanya, Royal Company dia yang pegang"


"Oo...gitu ya" jawab Vania muram. Tiba-tiba saja hatinya menjadi tak menentu. Ada rasa ketakutan dalam hatinya melihat suaminya berdekatan dengan wanita lain.


"Kamu kenapa?" tanya Maya melihat Vania sedih.


" Enggak apa-apa kok mbak" jawab Vania mencoba biasa.


"Kamu pasti mikirnya pemimpinnya laki-laki tua dan berumur ya?" kata Maya menggoda dan Vania hanya memaksakan senyumnya. "Tenang aja... Aku yakin pak Presdir tidak akan tergoda sama begituan" lanjut Maya berusaha agar sahabatnya tenang.

__ADS_1


Waktu mulai sore, Vania membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Hari ini dia akan diantar oleh Ronald pulang sesuai pesan suaminya karena ia harus menyelesaikan meeting lanjutan dengan Stella.


Vania mengiyakan meski dalam hatinya merasa kecewa. Sebenarnya ia bisa asana pulang sendiri agar tidak terlalu merepotkan suaminya. Namun karena Devan terus mendesak dengan alasan khawatir, akhirnya ia menurut saja.


Vania merasa gusar menunggu kepulangan suaminya yang mengatakan akan pulang terlambat. Waktu sudah menunjukkan pukul.sepuluh malam. Namun, belum juga ada tanda-tanda kepulangan suaminya.


Perasaan Vania diliputi rasa takut dan khawatir suaminya akan tergoda dengan Stella.


Selang sepuluh menit kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Vania langsung beranjak dari duduknya dan keluar menyambut suaminya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Devan.


"Nungguin kamu mas" jawab Vania sambil mencium punggung tangan suaminya.


Devan merangkul pundak istrinya dan mengajaknya masuk ke rumah.


"Kok sepi, Bu Tini sama pak Amin?" tanya Devan


"Aku suruh mereka pulang, Mas. Kasihan kalau mereka harus nungguin aku disini dan pulang larut"


"Kan aku udah bilang. Biar temenin kamu dulu biar kamu nggak sendirian"


"Enggak apa-apa mas, aku berani kok sendiri"


"Iya, maaf"


"Ya sudah ayo naik" ajak Devan.


"Mas nggak makan dulu?"


"Aku udah makan tadi sebelum kesini"


"Sama Stella?" tanya Vania intens


"iya, sama rombongannya dan Ronald juga" kata Devan sambil melonggarkan dasinya.


"Oo" Vania membulatkan bibirnya. Ada rasa sakit dan kecewa mendengarnya. Padahal ia sudah rela menunggu suaminya pulang untuk mengajaknya makan malam bersama. Namun justru ia harus menelan kekecewaan.


"Kamu sudah makan, kan?" tanya balik Devan. dan Vania mengangguk pelan berbohong.


"Ya sudah ayo" ajak Devan menggandeng tangan Vania.

__ADS_1


Mereka beristirahat di kamar. Seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada aktifitas suami istri yang mereka lakukan sebelum tidur. Mereka hanya tidur dengan Devan memeluk istrinya.


******


Hari ini tepat dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh Devan.


Mereka bersepakat akan menyampaikan jawabannya nanti malam dimana Vania akan mengajak Devan untuk makan malam di luar setelah pulang kantor.


Hari ini pekerjaan kantor tidak begitu menumpuk sehingga membuat waktu berjalan terasa begitu lama bagi Vania. Ia mulai bosan dan tak sabar menunggu malam datang.


"Hari ini kenapa kebanyakan melamun?"tanya Maya tanpa menoleh karena masih sibuk mengetik.


"Enggak apa-apa mb...cuma sedikit bosan aja karena pekerjaanku udah beres, jadi nggak ada yang perlu dikerjain. Mbak Maya perlu bantuan?"


"Enggak Van, aku tinggal ngetik ini doang"


"kalau gitu Aku cari angin dulu di luar ya mbak" pamit Vania yang diiyakan oleh Maya.


Vania mengambil ponselnya dan berjalan ke arah taman samping gedung selagi menunggu pak Romi selesai meeting bersama Devan dan rombongan dari London.


Vania menghubungi Nadya untuk menghilangkan kebosanan.


"Apa sayangku... Tumben jam segini telepon. Lo nggak kerja?" Tanya Nadya dari seberang telepon tiba-tiba setelah panggilan tersambung.


"Kerja kok, tapi udah beres. Gue mau curhat nih"


"Appa sayyyaannggggg" jawab Nadya dengan Nadya menggoda seperti sedang bicara dengan anak kecil.


"Iissh... malu sama umur mak" ledek Vania membuat keduanya tertawa.


"Mau curhat apa sih..."


"Nanti malam gua janji mau ngungkapin perasaan gue. Tapi gue ragu"


"Ragu kenapa? Lo sendiri kan tahu gimana sayangnya kak Devan sama Lo. Terus apa yang perlu diraguin sih"


Vania menceritakan tentang kehadiran Stella yang dua hari ini membuat suaminya sibuk dan hampir tak punya waktu untuknya.


"Gue kan udah pernah bilang sayang... Sekarang tuh musim pelakor. Kita sebagai perempuan kudu pintar. Apalagi suami Lo itu bukan orang biasa. Secara siapa sih yang bakal nolak dia. Makanya buruan Lo ungkapin. Udah buang aja tuh gengsi jauh-jauh, yang penting rumah tangga Lo bahagia"


"Makasih ya Nad, gue jadi lebih tenang sekarang"

__ADS_1


"Ya udah gue tutup dulu ya... Masih jam kerja soalnya. Nggak enak sama yang lain. Da... Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam."


__ADS_2