
Kedua pemuda pemudi itu masih saling diam. Nadya dan Andre memancing mereka dengan bermesraan di depan Vania dan Devan. Mereka makan saling menyuapi dan tertawa-tawa. Namun alih-alih tertarik, mereka berdua malah merasa risih dengan sikap sepasang kekasih itu.
Selesai makan mereka pergi ke sebuah wahana wisata. Awalnya Devan menolak dengan berbagai alasan. Namun, Andre terus mendesaknya agar tidak menolak karena ia tahu alasan itu hanya akal-akalan Devan.
Dengan terpaksa Devan mengikuti ajakan sahabatnya. Bahkan Andre memaksa Vania untuk ikut satu mobil dengan Devan. Mau tidak mau karena tidak ingin berdebat terlalu lama, Vania mengiyakan dan mengikuti perintah.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Tidak ada yang berani membuka obrolan. Devan fokus dengan kemudinya dan Vania membuang pandangannya ke luar jendela.
Sampai di tempat wisata, Andre dan Nadya merasa aneh karena dua sahabatnya itu masih bersikap acuh satu sama lain.
Andre dan Nadya selalu sengaja meninggalkan Nadya dan Devan sendiri. Namun tetap saja mereka tidak saling berdekatan. Mereka selalu memberi jarak masing-masing.
Akhirnya sepasang kekasih itu menyerah dengan semua usaha yang dilakukannya hari ini.
"heran, mereka masih aja pada egois" kata Nadya ke Devan yang duduk menjauh dari dia sahabatnya.
"tahu tuh... ya udah lah kita nyerah aja, mungkin mereka memang butuh waktu sementara untuk saling menikmati dunia mereka sendiri" jawab Devan
"huh.... iya kali ya" kata Nadya kecewa.
Mereka berempat terus berjalan mengelilingi tempat wisata hingga akhirnya menemukan wahana rumah hantu.
"eh, kita kesana yu'.." ajak Nadya sambil menunjuk ke arah uang dimaksud. Wajahnya nampak senang melihat ada wahana yang menantang.
"nggak...nggak mau..." jawab Vania cepat.
"sebentar aja kok, iya kan yang?" rengek Nadya memelas pada pacarnya.
Andre mengangguk dan tersenyum pada kekasihnya. Kemudian beralih menatap ke Devan "lo gimana, mau masuk?"
"gue ngikut aja gimana enaknya" jawab Devan enteng.
"eh tapi Vania gimana, dia nggak mau" kata Andre.
"kalian masuk aja, aku nunggu di luar aja nggak apa-apa kok" sahut Vania
"nggak...nggak... Vania harus ikut" kata Nadya menekankan kata-katanya seolah memberikan perintah.
Devan merasa kasihan dengan Vania. Sebenarnya ia ingin tetap tinggal di luar menemani Vania saja. Ia tahu gadis itu paling tidak suka dengan kegelapan. Tapi dia harus ingat dengan janjinya.
__ADS_1
"gue takut Nad..." kata Vania pelan sambil merapatkan giginya pada Nadya.
"udah lo tenang aja, nanti lo pegangan ama gue, biar cowok-cowok satu jalan di depan dan satu di belakang" kata Nadya.
"tapi..."
"udah nggak ada tapi-tapian. Sini lo gandeng tangan gue" kata Nadya enteng tanpa beban.
Vania tak lagi menggandeng tangan Nadya, melainkan mengaitkan lengannya pada lengan Nadya.
Mereka berempat mulai memasuki wahana. Saat melewati pintu utama, ruangan berubah gelap. Seperti yang sudah disampaikan Nadya, Andre berjalan di depan dan Devan di belakang. Vania mengeratkan pelukannya di lengan Nadya.
"Nad, gelap Nad, gue takut" kata Vania dengan suara bergetar.
Baru lima langkah jalan, Mereka di kejutkan oleh suara-suara uang menyeramkan membuat Nadya terkejut dan melepaskan pegangan tangan Vania. Ia berlari beralih mendekat pada Andre yang ada di depannya dan memeluk lengannya.
Vania yang merasa ketakutan langsung menjerit karena meras sendirian. Ia menangis dan memanggil nama Nadya.
"Nad, jangan pergi, gue takut" isak Vania sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dengan cepat Devan menghampiri Vania dan mendekap tubuh gadis yang tengah ketakutan itu.
"tenang, nggak akan ada apa-apa. Kita percepat aja jalannya biar cepet sampai" kata Devan menenangkan gadis yang dicintainya.
Vania yang ketakutan terus memeluk lengan Devan sambil berjalan. Selama perjalanan Vania teris memejamkan matanya . Ia tidak berani membuka matanya karena terlalu ketakutan.
Saat hampir sampai di pintu keluar, Devan memberitahu Vania. Vania melepaskan kembali pelukannya pada lengan Devan.
"jujur aku ingin selalu seperti ini, tapi aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak mau dianggap sebagai pria munafik yang tak bisa menepati janjinya. Aku harus ikhlas. Aku nggak mau memaksakan diri terhadap gadis yang tidak mencintaiku" batin Devan dalam hati.
"makasih kak" kata Vania pelan sambil menunduk.
"iya" jawab Devan singkat.
Vania berjalan mendahului Devan menyusul Nadya dan Andre yang sudah melewati pintu keluar.
"ya ampun Van, keringet lo sampai kaya gitu banget" kata Nadya terkejut saat melihat Vania keluar dari pintu dengan keringat mengucur di wajahnya.
"gara-gara siapa coba, udah tahu gue takut gelap malah ditinggal" kata Vania cemberut dengan muka yang di tekuk.
__ADS_1
"hehehe... sorry deh, habisnya gue kaget tadi pas denger ada suara kaya kuntilanak ketawa" kata Nadya cengengesan.
Sesaat kemudian Devan muncul dari pintu dengan santainya. Ia ikut bergabung bersama tiga temannya yang sudah berada di luar.
"kita kemana lagi?" tanya Andre
"pulang aja gimana?" tanya balik Vania yang masih nampak pucat.
"kok pulang sih, kan baru bentar doang" jawab Nadya.
"iya juga yang, kasihan Vania udah pucat gitu wajahnya" kata Andre sambil mengarahkan dagunya ke Vania bermaksud menunjuk.
"ya udah kita pulang aja" kata Devan tiba-tiba.
"ya udah lah ayo" kata Nadya.
Mereka berempat berjalan menuju parkiran mobil. Sepanjang perjalanan Nadya memutar otak untuk mencari cara agar Vania bisa pulang bersama Devan.
Saat sudah sampai di depan parkiran. Nadya memutar badannya menoleh ke Vania.
"eh Van, lo pulang ama kak Devan aja gimana? gue lupa baru inget, ibu nyuruh gue harus mampir ke toko kue dulu beli pesanannya" kata Nadya berpura-pura.
"nggak apa-apa kok, gue ikut lo aja" jawab Vania
"eh jangan.... nanti kesorean lho... pesanan ibu agak banyak soalnya" kata Nadya berusaha mencegah.
"tapi..."
"ya udah bareng aku aja" jawab Devan tiba-tiba karena sudah mengerti maksud dari Nadya.
Nadya tersenyum penuh kemenangan karena rencananya berhasil. Devan yang mengetahui itu hanya menggeleng pelan sambil senyum. Devan tahu Nadya sengaja berbohong agar Vania bisa pulang bersamanya.
"emmm....beneran nggak apa-apa? tanya Vania ragu-ragu
Devan mengangguk.
"ya udah kalau gitu kita berpisah disini ya. lo hati-hati bro" kata Andre.
"iya, lo juga" jawab Devan senyum.
__ADS_1
Mereka beralih ke mobil bersama pasangan masing-masing.
Devan menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.