
Sesampainya di sekolah, Nadya segera turun dari mobil Andre tanpa mengucapkan terimakasih. Ia berlari kecil menuju kelasnya. Andre yang terus memperhatikan gerak-gerik Nadya melihat jelas Nadya menangis.
Andre masih berdiam di samping mobilnya menatap punggung Nadya. Tak lama datang Devan memasuki gerbang sekolah dan memarkirkan mobilnya di samping mobil Andre.
Devan turun dari mobil dan mendekati Andre yang sedang melamun tidak menyadari kedatangannya
"lu pagi-pahi udah bengong" kata Devan menepuk bahu Andre.
Andre yang terkejut dengan tepukan tangan Devan kaget dan menoleh "Nadya minta gue nggak jemout dia lagi"
"kenapa?"
"gue juga nggak ngerti, dia nggak mau jawab. tadi dia juga nangis pas turun"
"gila lu... pagi-pagi udah bikin nangis anak orang" kata Devan meninju pelan lengan Andre.
"Gue bener-bener nggak bisa ngerti kepribadian Nadya ... juga cukup berbeda dengan cewek lain" kata Andre mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"udah ayo masuk dulu... nanti pulang lu bicarain lagi ama dia" ajak Devan memeluk bahu Andre mencoba menguatkan. Mereka berjalan memasuki kelas.
Selama berada di sekolah, Andre terus memperhatikan Nadya. Nadya yang menyadari sikap Andre merasa risih dan takut. Ia tidak ingin berhadapan dan berdekatan lagi dengan Andre karena tidak ingin membuatnya semakin sakit mengingat dirinya yang hanya menjadi sarana untuk mengetahui informasi tentang Vania. Ia mencoba mengalihkan ketakutannya dengan berkumpul dengan banyak orang. Dia berfikir dengan begitu Andre tidak akan mendekatinya.
Sampai pulang sekolah, Nadya melihat dari jauh sosok Andre sedang bersiri disamping mobilnya. Ia tahu Andre sedang menunggunya. Nadya buru-buru berjalan bergerombol dengan Vania dan teman lain agar Andre tidak mengetahui keberadaannya.
Andre yang sedari tadi menunggu tak juga menemukan Nadya. Ia benar-benar tidak menyadari kalau orang yang sudah ditunggunya sudah keluar melewati gerbang. Merasa sekolah semakin sepi dan tidak nampak sosok yang ia cari, Andre melajukan mobilnya keluar gerbang. Dari jauh ia melihat Nadya dan Vania akan menaiki bus yang tengah berhenti di halte.
"ah sial...dia benar-benar menghindari gue" umpat Andre di balik kemudinya.
Andre lalu melajukan mobilnya dengan sedikit cepat.
Dari dalam bus, Vania melihat Mobil Andre menduhului bus yang ia tumpangi.
"eh Nad, itu bukannya mobil kak Andre.. kok tumben dia ngebut gitu ada apa y" tanya Vania heran sambil terus memperhatikan mobil Andre yang semakin menjauh
"emmm....gu..gue juga nggak tahu Van" jawab Nadya gugup.
Vania tidak memperhatikan sikap dan raut wajah Nadya beberapa hari ini. Ia berfikir karena memang Nadya orangnya seperti itu. Ia anak yang diam dan jarang sekali mau menceritakan masalahnya.
__ADS_1
*****
Waktu terus berlalu, sudah hampir satu bulan Nadya tak memberi kabar dari Andre. Dan selama itu pula ia menghindari Andre yang terus mencoba mendekatinya dengan berkumpul bersama banyak orang. Ia memblokir semua akses telepon dan sosial media yang berhubungan degan Andre.
Nadya selalu berangkat sekolah melewati gang lain. Ia harus berjalan sedikit lebih jauh demi agar tidak bertemu Andre.
Sampai di suatu minggu, Nadya diminta ibunya untuk mengantarkan pesanan di rumah teman ibunya yang alamatnya cukup jauh dari rumahnya.
Nadya berjalan menuju keluar gang untuk mencari angkot. Sudah seperempat jam ia menunggu namun angkot belum juga kunjung datang. Ia terkaget saat tiba-tiba mobil Andre berhenti di depannya. Andre turun dari mobilnya. Nadya ingin lari menghindar namun sia-sia langkahnya di cegah, pergelangan tanganya sudah lebih dulu di raih oleh Andre.
"aku mau ngomong sama kamu" kata Andre menatap tajam Nadya
"maaf kak, aku buru-buru" sahut Nadya mencoba melepaskan pegangan tangan Andre.
Andre tetap tak mau melepaskan tangannya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bicara dengan serius. "aku antarkan dulu ke tujuanmu, setelah itu ikut aku"
"maaf kak, aku nggak bisa" tolak Nadya tegas"
"please jangan menolak". Andre menarik tangan Nadya dan memintanya untuk masuk mobilnya. Dengan berat hati Nadya mengikuti perintah Andre.
Andre melajukan mobilnya dan mengantarkan Nadya ke tujuannya. Mereka saling diam selama perjalanan.
Sesampainya di cafe, Andre memesan makan dan minuman untuk mereka berdua. Sampai pesanan datang, Andre belum juga membuka obrolan. Mereka masih diam dalam pikiran masing-masing.
Andre menyuruh Nadya memakan makanan yang telah dipesannya. Mereka menyantap makanan masing-masing. Andre sudah menghabiskan makannya. Sedang Nadya yang tidak begitu berselera makan hanya sedikit menyendokkan makanan ke mulutnya. Ia tampak lebih hanya mengaduk-aduk makanannya.
"kenapa? makanannya nggak enak?" tanya Andre melihat piring Nadya yang masih banyak makanan.
Nadya menggelengkan kepalanya "enggak...enak kok"
"kenapa cuma dimakan dikit?" tanya Andre
"aku masih kenyang" jawab Nadya pelan.
Andre menghembuskan nafasnya pelan. mencoba memulai kata-katanya.
"Nad, kamu mengapa menghindariku?" tanya Andre serius
__ADS_1
Nadya hanya diam dan menunduk tanpa menjawab
"jawab jujur Nad, aku punya salah sama kamu?" tanyanya lagi
Nadya menggelengkan kepalanya" kakak nggak punya salah kok, aku juga nggak mengindari kak Andre"
"kalau kamu tidak menghindari aku kenapa kamu blokir semua akses yang terhubung padaku?" tanya Andre mulai kesal.
"tolong jangan temui aku lagi kak" kata Nadya pelan
Wajah Andre memerah semakin kesal. tangan kanan Andre meraih dagu Nadya dan menggerakkannya agar kepala Nadya terangkat. Ia melihat air mata Nadya menetes.
"kamu kenapa?" tanya Andre lembut tanpa melepaskan tangannya dari dagu Nadya
"aku nggak apa-apa" jawab Nadya melengos menyembunyikan air matanya yang semakin mengalir
"terus kenapa kamu nangis?"
"maaf kalau aku mengganggumu. aku hanya ingin lebih dekat denganmu, apa aku salah?" tanya Andre menarik tangannya dari dagu Nadya
"buat apa kak?"
"aku ingin lebih mengenalmu. aku ingin...."
"enggak kak, tolong berhenti mengejarku" sahut Nadya memotong kata-kata Andre
"beri aku satu alasan. Jika alasan itu tepat, aku akan menurutinya" jawab Andre pelan dengan suara yang berat
Nadya terdiam dan tidak menjawabnya. Ia tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya. Ia tidak mungkin mengungkapkan perasaannya yang ia yakini akan bertepuk sebelah tangan.
Cukup lama ia terdiam karena tak bisa menyebutkan alasan yang Andre minta.
"karena kamu nggak bisa ngasih alasan yang tepat, itu artinya aku tidak akan menyerah"kata Andre memecah keheningan
" plese berhenti menemuiku kak" mohon Nadya
"kamu tak punya alasan untuk melarangku Nad" tegas Andre
__ADS_1
"jangan semakin membuatku sakit dengan mempermainkan perasaanku kak" kata-kata itu spontan kekuar dari bibir Nadya. Air mata Nadya semakin membasahi wajahnya. Ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Andre. ia berjalan cepat menuju jalan raya dan menyetop angkot yang saat itu tengah lewat. Dengan cepat Andre mengejarnya namun sia-sia Nadya sudah lebih dulu masuk ke angkot.