Cinta Vania

Cinta Vania
Kau kah itu?


__ADS_3

Ada apa ini?" teriak pak Romi yang baru saja keluar dari ruangannya karena mendengar suara kekacauan di luar. Pak Romi melihat Vania yang tengah meringis kesakitan dengan rambut yang di Jambak oleh Alline. "Singkirkan tangan anda atau saya tidak akan tinggal diam, Nona" bentak Pak Romi.


"Diam kau, jangan ikut campur" Alline justru berani membentak balik Pak Romi.


Dengan sigap Maya memukul lengan Alline membuatnya kesakitan dan spontan melepaskan tangannya dari rambut Alline.


"aahhh" pekik Alline menahan sakit di lengannya. "Br*ngs*k kau" makinya pada Maya.


"Anda sudah kelewatan, Nona. Dan pak Devan harus tahu apa yang sudah anda lakukan pada istrinya. Pergi dari sini atau saya akan memanggil security untuk menyeret anda" Perintah Pak Romi emosi membuat Alline semakin marah. Namun Alline tak bisa lagi berbuat banyak karena lelaki paruh baya itu menyebut nama presdirnya.


Alline melirik Vania dengan tatapan yang tajam. Kemudian ia pergi meninggalkan gedung kantor milik Devan.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya pak Romi pada Vania.


"Saya baik-baik saja, pak... terimakasih" Kata Vania sedikit berbohong. Padahal rasa sakit di kepalanya masih terasa karena tarikan tangan Alline di rambutnya.


"Maaf, Nona. Pak Devan harus tahu ini semua"


"Pak, tolong jangan ceritakan ini padanya. Aku mohon... Saya betul-betul baik-baik saja" pinta Vania memohon pada atasannya agar tidak terjadi keributan yang bisa membuat suasana semakin panas.


"Maafkan saya, Nona. Saya disini juga ditugaskan untuk menjaga anda. Tidak akan mungkin saya membiarkan hal separah ini begitu saja tanpa menyampaikannya pada beliau. Lagi pula tanpa saya melaporkannya pun beliau pasti akan tahu sendirinya dari sana" kata Pak Romi sambil menunjuk salah satu kamera CCTV yang terpasang di sudut lantai ruangan Vania.


Vania menghela nafasnya pelan. Ia sudah pasrah jika nantinya suaminya akan tahu apa yang sudah terjadi padanya.


Pak Romi kembali ke ruangannya setelah memastikan asistennya baik-baik saja. Ia segera melaporkan kejadian yang menimpa Vania pada Ronald.


"Van, sebenarnya ini ada apa? Aku nggak salah dengar kan? Kamu istrinya pak Presdir?" tanya Maya penuh selidik.


"Mbak...jangan bilang sama siapa-siapa ya... ini rahasia kita. Aku nggak mau yang lain tahu" kata Vania cemas.


"Termasuk David?"

__ADS_1


"Biarkan dia tahu dengan sendirinya" kata Vania pelan.


"Lalu kenapa kau harus menyembunyikan identitasmu di kantor suamimu sendiri?"


"Aku hanya ingin bekerja tanpa embel-embel jabatannya, mbak... Aku tidak ingin orang-orang meremehkan hasil kerjaku" kata Vania meyakinkan Maya.


"Jadi kejadian saat istri pak Linggar itu_____"


"Belum mbak... Kami menikah tepat saat kematian Papa. Sebenarnya kami sudah dijodohkan jauh sebelum aku bekerja disini"


"Aku tak pernah menyangka akan sedekat ini dengan istri dari pemilik perusahaan tempatku bekerja" kata Maya masih belum bisa percaya.


"Mbak... Perlakukan aku sama seperti saat sebelum kejadian barusan terjadi" kata Vania menegur Maya agar tetap menganggapnya sebagai Vania, asisten dari managernya.


"Tapi______"


"Mbak...." Panggil Vania pelan agar Maya tak lagi menyangkal ucapannya.


"Baiklah...Aku mengerti" jawab Maya tersenyum kecil.


Di tempat lain, Devan yang tengah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja mansion sebelum kembali ke tanah air tiba-tiba dikejutkan oleh Ronald yang memberi kabar tentang percekcokan istrinya dengan Alline dari Pak Romi. Bahkan berita yang didapatkan begitu detail lngkap dengan adegan dimana Alline menarik kuat rambut Vania.


Devan merasa emosi dan marah mendengar istrinya menderita.


"Ronald, putuskan kontrak kerja dengan perusahaan orangtua Alline. Aku tidak Sudi bekerja sama dengan seorang pengacau seperti dia" perintah Devan penuh kemarahan.


"Baik, Tuan"


"Siapkan penerbangan saat ini juga. Aku akan membatalkan perjamuan dengan Royal Company" perintahnya yang dengan cepat diiyakan oleh Ronald.


"Apa Nona harus tahu jika kita pulang lebih cepat?" tanya Ronald.

__ADS_1


"Tidak perlu. Biarkan menjadi sedikit kejutan untuknya".


Devan mengambil ponselnya untuk memberikan pesan langsung ke Stella atas pembatalan perjamuan dengan alasan ada urusan yang mendadak. Mengingat saat itu masih menunjukkan pukul tiga pagi waktu London sehingga tidak mungkin baginya untuk menelepon.


Ronald keluar dari ruangan Devan untuk menghubungi pilot yang bertugas membawa jet pribadi milik atasannya untuk menyiapkan penerbangan sesegera mungkin.


Setelah berpamitan dengan Ayah Satria dan Bunda Dewi, Devan segera menyiapkan perlengkapannya sebelum pulang.


Jet pribadi yang ditumpangi oleh Devan berangkat siang hari pukul delapan pagi waktu setempat. Dimana di Jakarta sudah masuk pukul tiga sore hari.


Seperti malam sebelumnya, Vania duduk di atas tempat tidurnya sambil menunggu Devan menghubunginya. Namun ponsel milik Devan dan Ronald selalu berada di luar jangkauan.


"Mereka berdua susah sekali dihubungi. Ya sudah lah lebih baik aku tidur, lagi pula besok mereka sudah pulang" Vania berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya. Ia meletakkan kembali benda pipih itu diatas nakas kemudian memperbaiki tidurnya.


Devan sampai di Jakarta pukul tiga pagi kurang seperempat. Perjalanan dari bandara sampai rumahnya yang memakan waktu satu jam setengah membuatnya baru sampai rumah tepat setelah adzan subuh.


Langkah kakinya dengan cepat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menjemput wanita yang sangat dirindukannya.


"Tuan sudah pulang?" tanya Bu Tini senang saat melihat majikannya baru saja turun dari lantai atas dengan pakaian casual yang sangat rapi.


"Iya Bu, baru saja" jawab Devan sambil menuangkan air dari dalam teko kaca ke gelas lalu meminumnya.


"Saya jemput istri saya dulu ya Bu, sepertinya kita tidak akan makan dirumah. Siang nanti kami akan berangkat ke Bandung. Jadi Bu Tini masak untuk kalian sendiri saja ya"


"Baik, Tuan"


Devan bergegas menuju garasi untuk mengambil mobilnya yang terparkir disana. Ia begitu bersemangat dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.


Dengan mini dress tanpa lengan, Vania yang tengah cemas menunggu kabar dari suaminya berusaha menenangkan pikirannya dengan berdiri di atas balkon kamarnya sambil menikmati udara pagi yang begitu sejuk karena pemandangan dari balik balkon menampakan perkebunan sayur yang sangat luas milik warga setempat.


Dengan kedua lengan menopang pada pagar besi yang dijadikan pengaman balkon, Vania memejamkan matanya merasakan dalam-dalam udara sejuk yang sangat dirindukannya semenjak tidak lagi tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Hening... Hanya terdengar kicauan pagi burung-burung yang sangat merdu dan angin yang menggerakkan lembut dedaunan. Vania tak menyadari jika ada seorang yang sangat ia rindukan masuk ke dalam kamarnya dan berjalan ke arahnya. Ia baru menyadari saat ada dua tangan melingkar di perutnya dan wangi parfum yang sangat ia kenali.


"Mas, Kau kah itu?"


__ADS_2