
Keesokan harinya Ditya berangkat ke Rumah sakit besar yang mempunyai peralatan medis lebih canggih. Ia mengikuti berbagai rangkaian tes yang telah disarankan oleh dokter.
Dokter melakukan pemeriksaan fisik terhadap Ditya, terutama pemeriksaan sistem saraf. Di antaranya dengan menguji kekuatan otot, mengecek bagian tubuh yang terasa kaku, mengetuk lutut dengan palu khusus untuk menguji refleks, pemeriksaan kondisi mata, dan mengevaluasi kemampuan pasien dalam menjalankan perintah, membaca, atau menulis.
Setelah pemeriksaan fisik dilakukan, dokter masih harus menjalankan pemeriksaan penunjang untuk memastikan apakah benar pasien menderita kanker otak. Pemeriksaan penunjang tersebut di antaranya adalah Tes darah, yang meliputi hitung darah lengkap, tes fungsi ginjal, tes ureum dan elektrolit, serta tes penanda tumor dan kimia.
Dokter juga melakukan CT scan, MRI (tes pencitraan yang paling baik untuk mendeteksi kanker otak dan PET Scan. Dokter dapat memindai otak dengan metode-metode ini untuk mengetahui lokasi tumor dan tingkat penyebarannya..
Pemeriksaan selanjutnya adalah biopsi otak.yaitu pengambilan sampel jaringan untuk diteliti menggunakan mikroskop, guna menentukan jenis tumor serta penanganannya.
Berbagai rangkaian pemeriksaan telah diikuti oleh Ditya hingga sore hari. Dokter mendeteksi ada sel tumor yang berkembang di otak Ditya. Namun, untuk mengetahui perkembangan selanjutnya Ditya diminta menunggu seminggu untuk hasil tesnya keluar.
Bagai petir menyambar setelah dokter. menyampaikan hasil nya. Orang tua Ditya lemas mendengar hasil pemeriksaan. Terutama ibu Ditya, ia tak lagi mampu menahan kekecewaannya. Tubuhnya terasa lemas di kursi yang didudukinya. hingga tak mampu menjaga keseimbangan. Suaminya dengan cepat memegang kedua bahu istrinya. Ditya hanya terdiam menunduk memikirkan nasibnya nanti.
"tenang dulu ibu, pasien bisa tetap sembuh asal mau mengikuti pemeriksaan dan pengobatan yang disarankan dokter. kita lihat dulu saja nanti setelah hasil tesnya keluar. Jadi kita bisa menentukan langkah yang harus ditempuh" kata dokter menenangkan mereka
"dan anda mas Ditya, anda harus banyak istirahat dan tidak boleh stress" imbuhnya
Ditya hanya mengangguk. Kemudian mereka berpamitan kepada dokter untuk kembali pulang.
*****
Malam ini Devan sampai di tanah air yang ia rindukan. jadwal keberangkatannya lebih maju dari yang direncanakan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Devan. Kebahagiaan dapat menikmati pemandangan indah ibu kota bertemu dengan kawan-kawannya dan juga wanita idamannya.
Devan mengenakan kaos oblong putih dengan celana panjang dan jaket yang disampirkan di lengannya. tak lupa kacamata hitam yang melingkar di kepalanya. Wajah tampan dengan kulit yang putih bersih serta tubuhnya yang atletis membuat kesempurnaan bagi kaum hawa yang melihat.
Ia tumbuh menjadi pria tampan dan gagah. Tak heran saat berjalan menyeret kopernya banyak mata para gadis menatapnya kagum.
__ADS_1
Sampai di bandara ia dijemput oleh ayah dan bunda yang sudah menunggunya. Dia menghampiri orangtuanya dan memeluk mereka.
Sesampainya di rumah, Devan langsung menuju kamar dan membaringkan tubuhnya yang lelah karena perjalanan yang begitu panjang.
"Aden tidak makan dulu?" tanya bi Sumi saat membawakan koper Devan ke kamarnya.
"Devan masih kenyang bi, tadi udah makan juga di pesawat"
"ya sudah bibi keluar dulu kalau gitu ya" pamit bi Sumi yang diangguki oleh Devan.
Devan mengeluarkan benda pipih dari dalam kantong celananya untuk mengirim pesan ke sahabatnya.
Devan: "gue udah pulang"
tak lama kemudian pesan whatsapp yang ia kirimkan di baca oleh Andre. Andre pun membalasnya.
Devan: "nggak percaya ama gue?"
Andre: " oke besok gue sama anak-anak ke rumah"
Devan mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Tanpa butuh waktu yang lama, ia tertidur di atas ranjang empuknya.
*****
Satu minggu berlalu. Hari ini Devan dan ibunya akan berangkat ke rumah sakit untuk melihat hasil tes. bapak Ditya tidak bisa ikut karena harus bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, mereka menunggu antrian dengan cemas di euang tunggu depan ruangan dokter.
__ADS_1
Tak lama kemudian, suster memanggil nama Ditya. Ditya dipersilahkan masuk bersama ibunya. Mereka bersalaman dengan dokter dan duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter.
"mas Ditya ya?" tanya dokter sopan
"iya benar dok"
Dokter menghela nafas nafas berat sebelum membuka amplop hasil tes. Ditya dan ibunya yang melihat ekspresi dokter seolah bisa menebak apa yang akan disampaikan.
Ibu Ditya sudah meneteskan air mata. dia menggenggam erat tangan putranya. Ditya melihat ibunya dengan tatapan sedih.
"bagaimana dok?" tanya Ditya
"begini mas Ditya, ibu.." kata Dokter menggantung
"berdasarkan yang saya sampaikan kemarin bahwa ada sel tumor yang berkembang di kepala anda, dan hasil tes mengatakan bahwa anda sudah mengidap kanker otak stadium tiga. Kita butuh penanganan ekstra terhadap anda, mengingat sel kanker ini cepat sekali penyebarannya. Kita akan melakukan berbagai rangkaian pengobatan termasuk terapi dan lain-lain. Bisa dibilang kita sedikit terlambat. Tapi mukjizat Tuhan kita tidak ada yang tahu, kita hanya mampu berusaha dan berdoa saja semoga sel kanker ini bisa hilang dan mas Ditya bisa sehat kembali seperti sebelum-sebelumya. mungkin kalau sejak awal mas Ditya merasakan gejala-gejala seperti sakit di kepala dan sebagainya itu anda segera periksa kesehatan, dari kami juga penanganannya bisa cepat dan tidak akan sampai berlanjut seperti ini. Saran saya kita ikuti prosedur yang ada untuk melakukan terapi sesuai yang sudah saya jelaskan" kata dokter
Tangis ibu Ditya semakin pecah mendengar penjelasan dokter. Ia tak mampu lagi menutupi kesedihannya.
"kira-kira biayanya habis berapa untuk melakukan semua terapi itu dokter?" tanya Ditya pelan
"kalau masalah biaya, mungkin anda juga sudah tahu kalau biayanya cukup besar. Tapi jika anda belum mampu untuk itu, anda bisa menggunakan asuransi dari pemerintah berupa BPJS agar tidak terlalu berat"
"baik dok terima kasih banyak" kata Ditya sambil berdiri untuk pamit. Ibu Ditya juga ikut berdiri meski masih menangis
"sama-sama, ingat jaga kesehatan dan jangan stress, kalau ada apa-apa hubungi saya di nomor yang tertulis di amplop ini, minggu depan saya harap anda sudah mulai terapi" kata dokter sambil menyerahkan amplop putih hasil tes kepada Ditya
Ditya mengambil amplop itu dan berjalan keluar dari ruang dokter sambil merangkul pundak ibunya.
__ADS_1
Ditya pulang ke rumah dengan perasaan yang cukup kacau. ia menunggu bus di halte dekat rumah sakit. Ia sudah menduga semua ini akan terjadi. Hingga dari awal dia memutuskan untuk berangkat dengan angkutan umum.